
Hari ini adalah hari pertama Alula pergi ke sekolah. setelah kemarin Ayah dan Alula yang juga ditemani oleh Mama Indri mencari sekolah terbaik untuk Alula. meskipun Alula meminta agar dicarikan sekolah yang biasa saja, tapi bukan Mama Indri namanya jika ia tidak bisa membujuk Alula untuk menuruti kemauannya. dengan terpaksa karena merasa tidak enak hati menolak keinginan Mama Indri, akhirnya Alula setuju dengan sekolah pilihan Mama Indri.
SMA Putra Bangsa, salah satu sekolah yang berisi siswa-siswi dari golongan ekonomi menengah ke atas. bukan sekolah bergengsi, namun biaya yang di keluarkan untuk sekolah disana pastilah tidak sedikit. itulah yang menjadi pertimbangan terbesar Alula jika ia harus masuk ke SMA tersebut. namun Mama Indri meyakinkan Alula dan Ayah, jika semua biaya telah beliau lunasi. bahkan sampai Alula lulus nanti. hmmm Baik sekali bukan?
Alula bersiap-siap didalam kamarnya, baju seragam putih dan rok span abu-abu selutut yang kini ia gunakan telah terpasang dengan rapi. Alula memperhatikan kembali penampilannya didepan cermin, rambut panjangnya ia kuncir kuda, poninya ia sisir sebegitu rapi. wajah putihnya kini telah terolesi bedak tabur beraroma bayi. bibir mungilnya merona kemerahan tanpa menggunakan liptint sekalipun. sungguh, penampilan anak SMA yang sederhana, tapi tetap terlihat cantik sempurna.
Meski penampilannya sudah terlihat sebegitu sempurna, tetap saja ada rasa minder dalam dirinya. bagaimana tidak, ia kini sekolah ditempat orang-orang dengan perekonomian yang cukup tinggi, bahkan lebih. sedangkan ia hanya seorang anak supir yang bahkan biaya sekolah nya pun di lunasi majikannya. sengguh, ia harus benar-benar menyiapkan diri jika sewaktu-waktu ada orang yang tidak menyukai keberadaannya disana, hanya karena status sosial. karena ia yakin, tidak semua orang kaya sebaik dan serendah hati keluarga Mahesa.
Alula berjalan keluar paviliun setelah sebelumnya ia menggunakan sepatunya dengan rapi. lalu ia menyampirkan ransel hitam pemberian Mama Indri. dilihatnya Ayah sedang menunggunya diteras luar.
"Ayah.. "panggilnya pada Ayah yang sedang berdiri memunggunginya. Alula mengulas senyum.
Ayah ikut tersenyum melihat penampilan putrinya kini
"Putri Ayah cantik sekali.. " Ayah mencubit gemas pipi Alula.
"Kan Ayahnya juga ganteng" kelakarnya yang berhasil membuat Ayah terkekeh.
"Ayah udah tua, mana mungkin masih ganteng." jawab Ayah sekenanya.
"Ayah tetep ganteng ko' dimata lula. " Ayah tertawa mendengar godaan putrinya.
"Ya iyaa, kamu kan putri Ayah." jawabnya.
"Sudah, ayo kita ditunggu Ibu Indri." lanjut Ayah sambil berjalan menuju halaman depan.
"Lohh? " dahi Alula mengerut demi mendengar Mama Indri menunggunya.
"Iyaa, beliau ngotot pengen anterin kamu." Alula tersenyum. sungguh ia merasa sangat bahagia kembali menemukan kasih sayang dan perhatian seorang Ibu dari Mama Indri.
Setelah sampai dihalaman depan, terlihat Mama Indri sedang mendudukan dirinya di kursi luar bersama Pa Sanjaya. bertepatan dengan keluarnya Mirza dari dalam rumah.
"Nah, ini anaknya. Masyaalloh.. makin geulis(cantik) pake seragam mah. meni seger gitu Mama liatnya." Alula hanya tersenyum pada Mama Indri dan juga Pa Sanjaya.
"Udah siap?" tanya Pa Sanjaya pada Ayah dan Alula. yang di balas anggukan oleh Ayah.
"Gini deh, Mama yang nganterin Lula aja ya Pah. Biar Pa Abhi ke kantor sama Papa."bukan hanya Pa Sanjaya , Mirza dan Ayah pun terkejut mendengar ucapan Mama Indri. bukan kenapa, pasalnya sejak kecelakaan 10 tahun lalu, Mama Indri tidak pernah membawa mobilnya sendiri. mungkin hanya terhitung beberapa kali saja , itupun jika terpaksa, karena tidak ada yang mengantarnya.
"Mama yakin?" tanya Pa Sanjaya dan Mirza bersamaan.
__ADS_1
"Iya bu, saya juga takut."Pa Abhi ikut menimpali.
"Gak usah khawatir, Mama bisa ko. " ucapnya yakin. namun Pa Sanjaya tidak bisa begitu saja membiarkan istrinya membawa mobilnya sendiri.
"Biar bareng sama Emir aja Ma. sekolah Lula sama kampusnya Emir kan searah." usul Pa Sanjaya.
Ingin rasanya Mirza menolak, namun titah tak bisa terbantah. Ia juga khawatir jika sang Mama mengendarai mobilnya sendiri.
"Emir sih gak masalah. emang dia mau, naik motor?"tanya Mirza menunjuk Alula dengan dagunya.
"Eumm... aku gak apa-apa ko." jawab Alula pelan.
"Ya sudah. kamu anterin Lula dulu ke sekolahnya yah. nanti pulangnya jemput lagi." ucap Mama Indri yang mendapat anggukan malas dari Mirza.
"Biar kalian juga makin akrab. kakak-adek biar lebih deket." tambahnya.
Akhirnya hari pertama Alula berangkat sekolah dengan diantarkan oleh Mirza dengan motor hitam kesayangannya. setelah berpamitan pada Mama Indri, mereka pun segera berangkat ke sekolah, disusul Ayah dan Pa Sanjaya yang berangkat ke kantor.
Selama perjalanan, tidak ada satupun yang berbicara. - ini bukan kali pertama Alula berboncengan dengan Mirza, ia mencium aroma tubuh yang sama-
Jantungnya bedegup dengan kencang, berada sedekat ini dengan Mirza sungguh bukanlah hal yang baik untuk jantungnya.
"Pegangan nanti lo jatoh!" ucap Mirza, meskipun suaranya bercampur dengan suara bising angin dan kendaraan lain, namun Alula bisa mendengarnya dengan jelas.
Alula mengangguk sebagai jawaban, meskipun tidak bisa terlihat oleh Mirza.
"Hey, gue bukan kang ojek. " Mirza mengedikan bahunya ketika Alula berpegangan pada bahunya. suara Mirza tak asing ditelinganya. suara yang sama dan kalimat yang sama yang pernah ia dengar.
"I..iyaa maaf." ucap Alula dengan terbata.
Ini adalah pengalaman pertama untuk seorang Mirza membonceng seorang perempuan -seingatnya sih- .ada saja yang ia keluhkan, seperti posisi duduk yang bergeser, posisi tangan Alula yang terus berpegangan pada ransel, hingga akhirnya dengan terpaksa Alula kini berpegangan pada pinggang Mirza. sungguh, ini posisi yang tidak benar.
Tidak lama berkendara, akhirnya Mirza dan Alula sampai di SMA Putra Bangsa, yang menurut Mama Indri bukanlah sekolah elit namun cukup menjadi pavorit. tapi tidak untuk Alula, baru ia sadari ternyata sekolah ini bukanlah sekolah biasa. lihatlah beberapa murid datang diantar dengan menggunakan mobil-mobil mewah. bahkan tak sedikit pula yang membawa kendaraan pribadi, roda empat maupun roda dua dengan harga yang tidak biasa.
Alula turun dari motor, sedikit kesusahan memang. karena Mirza menggunakan motor ninja. Alula sedikit berpegangan pada bahu Mirza sebelum turun. ia membuka helm yang dipakainya lalu menyodorkannya pada Mirza.
"Titipin disatpam aja buat nanti dipake pas pulang. lo tunggu disini lagi. nanti gue jemput pulang dari kampus." Alula hanya mengangguk. Mirza kembali menyalakan motornya hendak pergi, sejurus kemudian Alula menghentikannya.
"Ka.. " panggilnya ragu-ragu.
__ADS_1
Mirza diam lalu menoleh pada Alula "hemmm..?"
"Terima kasih.." ucapnya tulus.
"Gak masalah"
Alula menggelengkan kepalanya, "bukan untuk ini, tapi terima kasih karena Kak Emir udah nolongin aku. karena Kak Emir juga aku bisa ketemu sama Ayah. maaf aku baru ngucapin terimakasih sekarang." Alula menunduk tak berani menatap wajah Mirza.
Mirza tersenyum meski hanya sedikit saja, untuk pertama kalinya ia mendengar kalimat panjang yang diucapkan gadis itu.
"Jangan dipikirin!" jawabnya singkat.
"kalo ngomong sama orang tuh jangan nunduk, siapa tau orangnya udah pergi." seketika Alula mendongkangkan kepalanya.
"Maaf.. " ucapnya lirih
"Udah masuk sana ! ntar telat lagi." Alula hanya mengangguk.ia tersenyum menatapi kepergian Mirza.
Alula melangkahkan kakinya kearah pintu gerbang, ketika ia sudah berada dekat dengan pintu gerbang, suara seseorang menghentikan langkahnya.
"Dari sekian banyak sekolah kenapa kamu harus sekolah disini sih." suara itu, ia sangat mengenalinya. Alula menoleh ke arah suara itu. matanya membulat sempurna demi melihat seseorang disana.
"Risma... "
.
.
.
Happy readding.. 😊
Maafkan jika ceritanya sedikit hambar.
aku ini tak pandai berkata-kata, hanya pandai berhalu-halu ria 😀
karena susah memang merangkaikan 1K kata.
Jangan lupa like and coment nya ya 🤗
__ADS_1