
Assalamualaikum temen-temen semua, apa kabarnya?
Mohon maaf banyak-banyak, karena otor baru muncul lagi sekarang π₯ Banyak hal di yang harus otor kerjakan di Real life. Jujur, Otor kangen berat sama readers semua.
Mudah-mudahan kalian gak bosen baca cerita Neng Peri sama Kang Semir yang sudah lama gak up ini.
Terima kasih banyak sudah setia menunggu.
Peluk cium onlen untuk readers semua π€
Semoga sehat selalu, dan selamat membaca!
...****************...
Udara Ibu kota Jakarta pagi ini terasa sejuk, usai hujan deras yang mengguyurnya semalaman. Buliran air bening masih menggelayut di dedaunan, begitu tenang dan menyejukkan. Udara pagi terasa begitu segar, karena belum tercemari oleh polusi.
Seorang pria, tengah duduk menikmati sarapan paginya seorang diri dimeja makan. Sedangkan seorang wanita paruh baya tampak sibuk di dapur, entah tengah melakukan apa.
Tidak ada siapa-siapa di sana, hanya mereka berdua. Hingga kemudian, seorang anak laki-laki berusia empat tahun turun dari tangga dengan wajah yang ditekuk. Anak itu berjalan, menuju meja makan dengan lesu, wajahnya cemberut, seperti tidak ada semangat untuk memulai harinya.
"Kenapa, pagi-pagi sudah cemberut?" tanya Mirza pada anak laki-laki itu.
"Oma kapan pulang?" bukannya menjawab pertanyaan Mirza, anak itu malah balik bertanya. Ia mendudukkan diri di hadapan Mirza.
"Lusa mungkin, kenapa?"
"Aku kangen sama Oma." Anak laki-laki dengan paras rupawan itu memanyunkan bibirnya, lirikan matanya begitu tajam pada Mirza.
"Dari semalem nanyain nyonya terus Den." Mbak Sri yang tengah sibuk di dapur menghampiri kedua laki-laki beda usia itu. Ia menyodorkan sebuah piring berisi roti sandwich selai kacang di hadapan anak laki-laki itu.
"Iya, Shaka kangen Oma. Papa sama Opa sibuk terus," omelnya sambil memasukkan potongan roti sandwich kedalam mulut.
Mirza tersenyum meledek, "Oya?"
Anak laki-laki itu mengangguk yakin, "Iya, Papa kerja terus, gak pernah temenin Shaka main."
"Shaka mau kemana ? besok Papa temenin."
Anak laki-laki itu mendongak, menatap penuh harap pada pria dengan setelan jas rapi di hadapannya.
"Beneran? Papa gak boongin Shaka 'kan?" tanyanya dengan mata menelisik.
Mirza hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Shaka mau jalan-jalan ke mall, Shaka mau keliling kota, Shaka mau ke ... rumah Mama...," tiba-tiba raut wajahnya terlihat murung, ketika menyebutkan kata 'Mama'.
Mirza beranjak mendekati putranya, ia usap kepalanya dengan penuh kasih sayang.
"Iya, nanti Papa anterin juga kerumah Mama," ucap Mirza menenangkan. "Shaka kangen Mama?"
__ADS_1
Shaka hanya mengangguk sebagai jawaban, mata sendunya membuktikan bahwa Shaka benar-benar merindukan sang Ibu.
"Sudah jangan sedih! kamu jelek kalo sedih," goda Mirza.
"Ish enggak, siapa yang sedih." Anak laki-laki itu lagi-lagi mendelik pada Mirza, merasa kesal karena selalu saja menggodanya.
"Hahaha." Mirza tertawa melihat raut wajah Shaka yang menggemaskan. "Anak siapa sih ini?" ucapnya sambil mencubit pipi Shaka, lalu mengacak rambutnya yang sudah di sisir rapi.
"Maaf Den, tapi menurut Mbak, semakin kesini Den Shaka makin mirip sama Den Emir." Mbak Sri yang sedari tadi sudah kembali ke dapur terkekeh dengan ucapannya.
"Masa sih Mbak?" Mirza menelisik anak berusia empat tahun itu. Wajahnya tampan, matanya bulat dengan bulu mata sedikit lentik, hidungnya mancung dengan pipi yang menggemaskan, membuat siapapun ingin sekali mencubitnya.
Ya benar, Shaka sangat mirip sekali dengannya, bedanya Shaka tidak punya lesung pipi seperti dirinya. Mengapa bisa seperti itu? Padahal mereka sama sekali tidak ada hubungan darah. Mungkin, karena sejak bayi Shaka sudah tinggal bersama dirinya.
Setelah Gweny mengetahui penyakit yang dideritanya, ia terus mendesak Mirza untuk mengadopsi seorang anak. Mirza sudah berusaha meyakinkan Gweny untuk menjalani pengobatan, namun Gweny tetap menolaknya.
Gweny bilang, "Aku cuma mau hidup normal Mir, aku gak mau jalani semua pengobatan itu, terutama histerektomi. Aku mau jadi perempuan yang utuh, walaupun pada akhirnya aku tetap tidak akan bisa memberikan anak untukmu."
"Ini demi kebaikanmu Gwen." Mirza tetap membujuk, bagaimanapun juga, kesehatan Gweny tetaplah yang utama.
"Aku gak mau Mir, biarkan aku menikmati rasa sakit ini. Sebagai balasan untuk kesalahanku dimasa lalu."
Enam bulan berlalu, Gweny membawa pulang bayi mungil yang masih merah. Bayi laki-laki itu sangat menggemaskan untuk Gweny, ia ingin membesarkan anak itu dengan Mirza. Karena Gweny tahu, ia tidak akan pernah bisa memberikan seorang anak untuk Mirza.
...****************...
Hari ini, Mirza benar-benar meluangkan waktunya untuk Shaka. Ia akan menemani kemanapun Shaka mau pergi.
"Shaka senang, Shaka sayang Papa." Anak kecil itu menggoyang-goyangkan tubuhnya, sebagai ekspresi dari rasa bahagianya.
Matahari mulai meninggi saat Mirza dan Shaka tiba di sebuah tempat pemakaman umum. Deretan tanah berbentuk persegi panjang berbalut rumput hijau memenuhi pandangannya.
Mirza berjalan di belakang Shaka, anak kecil itu sangat antusias untuk bertemu dengan sang Ibu. Dengan membawa satu buket bunga segar, Shaka berjalan dengan begitu riang.
"Assalamualaikum Mama," ucap Shaka ketika tiba di salah satu makam dengan batu nisan bertuliskan nama sang Ibu.
"Shaka sekarang datang sama Papa." Shaka menoleh dan tersenyum pada Mirza yang hanya dibalas usapan tangan di kepala.
Lama mereka di sana, Shaka begitu gembira. Entah apa saja yang anak itu ceritakan pada Ibunya, namun ekspresi wajah anak itu begitu bahagia.
Apakah mungkin karena seharian ini ia akan jalan-jalan berdua dengan Papanya? hanya Shaka yang tahu.
Shaka memang baru berusia empat tahun, tapi kemampuan bicaranya melebihi anak seusia itu. Mirza sendiri sampai heran dengan kepintaran Shaka.
"Pa, aku mau ke time zone!" seru Shaka saat Mirza memarkirkan mobilnya di salah satu Mall ternama.
"Iya, kemana pun Shaka mau, Papa ikut Shaka. Shaka 'kan rajanya hari ini."
Mereka turun dari mobil, saking semangatnya Shaka sampai berlari menuju pintu Mall.
__ADS_1
"Shaka, pelan-pelan!" teriak Mirza mengingatkan.
Namun Shaka tak mendengar, Mirza dengan cepat menyusul dan langsung meraih tangan Shaka untuk membuatnya berhenti.
"Jangan lari-lari Nak, kalau kamu hilang gimana? Repot nanti Papa nyarinya," omel Mirza.
Bibir Shaka mengerucut, rupanya ia tak sabar untuk naik ke lantai paling atas, di mana time zone tempat pavoritnya berada.
Setelah naik lift, Mirza dan Shaka tiba di tempat yang dituju. Karena hari ini adalah hari libur, suasana time zone terlihat begitu ramai. Banyak anak-anak yang datang bersama orang tua mereka. Awalnya Mirza melihat raut sedih di wajah Shaka, mungkin Shaka berharap jika ia bisa datang ke sana ditemani dengan Ibunya. Namun, pada akhirnya Shaka bisa tertawa setelah mencoba berbagai macam permainan.
Mirza membiarkan Shaka bermain hingga merasa puas. Ia menunggu putranya di area tempat duduk yang telah di sediakan.
"Shaka, minum dulu!" seru Mirza ketika melihat dahi Shaka penuh dengan keringat. Shaka menurut, anak itu menghampiri sang Papa untuk mengambil air minumnya.
"Udah puas belum?" tanya Mirza, saat Shaka duduk disampingnya.
Shaka mengangguk, wajah putihnya memerah karena kelelahan. "Shaka laperl Pa," ucapnya kemudian.
"Yuk kita makan. Shaka mau makan apa?"
"Spageti?" Shaka menatap sang Papa, meminta persetujuan.
"Boleh." Mirza mengangguk, lalu mengacak rambut Shaka seraya tersenyum.
"Punya Shaka gak pedes 'kan Pa?" tanya Shaka saat pesanan mereka baru saja di antarkan oleh pelayan. Mereka memilih makan di Mall yang sama, hanya turun satu lantai, sampailah di salah satu tempat makanan.
"Enggak dong."
Dengan lahap, Shaka memakan makanannya. satu suapan, dua suapan, sampai disuapan ketiga Shaka tersedak makanannya sendiri.
"Shaka, pelan-pelan makannya! Minum dulu!" Mirza menyodorkan satu gelas air putih pada Shaka.
"Pa, itu Pa." Shaka begitu heboh menunjuk arah belakang Mirza.
"Apa sih, Nak?"
"Pa, dia ... itu aku!"
"Kamu kenapa?"
"Itu aku, bukan! aku ini, kenapa dia mirip aku." Shaka masih menunjuk-nunjuk arah punggung Mirza.
"Siapaβ?" Mirza membalikkan badannya. Ia melihat seorang anak kecil yang mirip sekali dengan Shaka, anak itu datang bersama dua orang perempuan dan satu orang laki-laki.
Namun, tatapan Mirza justru tertuju pada seorang perempuan yang menuntun tangan anak kecil itu. Perempuan yang sudah lama tidak pernah ia temui, perempuan yang menghilang tanpa adanya jejak, perempuan yang sampai detik ini masih ada dalam hati kecil Mirza.
.
.
__ADS_1
Happy Reading π
Jangan lupa like and comment π