Panggil Aku Rain

Panggil Aku Rain
Merelakan


__ADS_3

"Stop Bang !" seru Alula, seketika Marko menghentikan mobilnya. "aku turun disini saja."


Marko yang duduk dibalik kemudi menoleh dengan dahi yang mengernyit,


"Loh, bukannya tadi bilang mau ke butik ? ini masih jauh kan."


Marko terlihat celingukan, memperhatikan situasi sekitar. mereka baru saja sampai disebuah taman yang tak jauh dari perumahan tempat tinggal Mirza.


Alula hanya diam tak menjawab,


"Lagi butuh temen curhat ?" Marko membalikkan badannya manghadap Alula, yang tengah duduk termenung memandangi luar jendela.


"Aku ... cuma lagi pengen sendiri bang." ucapnya dengan bibir yang tersenyum. seraya membuka pintu mobil lalu keluar dari sana.


Dari awal ia memang tidak berniat pergi ke butik, ia hanya ingin pergi ketempat yang bisa menenangkan hatinya yang kini tengah gelisah.


"Terima kasih buat tumpangannya." Alula menundukkan kepalanya, ia tersenyum meski samar pada Marko yang masih duduk di dalam mobil.


Setelah mendapat anggukkan, Alula masuk kedalam area taman. ia berjalan dibawah rimbunnya pohon ketapang yang tumbuh disepanjang jalan.


Teriknya matahari tak begitu terasa, karena angin yang berhembus begitu kencang menerpa dedaunan membuat suasana terasa sejuk meski ditengah terik.


"Sayang ... tunggu dulu ! dengarkan aku." ia melihat seorang laki-laki yang tergesa beranjak dari tempat duduk sambil berteriak mengejar seorang perempuan yang tengah menangis. bisa dipastikan mereka adalah sepasang kekasih yang sedang memiliki masalah.


Diujung taman, ia melihat segerombolan muda mudi tengah membuat suatu lingkaran. ditengah lingkaran nampak dua orang laki-laki dan perempuan dengan wajah yang tersipu malu ketika laki-laki disampingnya berjongkok lalu berkata,


"Will you marry me?" laki-laki itu mengulurkan kotak kecil berwarna merah dengan cincin kecil didalamnya. perempuan itu semaki tersipu, karena orang-orang disekelilingnya mulai bersorak sorai.


"Terima ... "


"Terima ... "


"Terima ..."


Dan suara jeritan, siulan juga teriakan histeris dari beberapa muda-mudi itu semakin terdengar riuh ketika sang perempuan menerima lamaran kekasihnya itu.


Yah, begitulah cinta. terkadang kedatangannya membawa suka cita dan bahagia, namun kepergiannya juga meninggalkan luka.


Alula mendudukkan dirinya di atas bangku kayu yang berada tak jauh dari segerombolan muda-mudi itu. ia tersenyum getir, merasakan hati yang berada dalam kebimbangan.


Ia menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi, matanya terpejam, dengan kepala yang menengadah. ia menghirup udara dalam-dalam, seolah oksigen telah lama tak ia dapatkan. lalu menghembuskannya secara perlahan.


Ia masih memejamkan mata, merasakan sejuknya udara dibawah pohon ketapang dengan diiringi petikan gitar yang dimainkan oleh laki-laki yang baru saja melamar kekasihnya itu.


Namun telinganya kini justru mendengar suara musik dari seseorang yang duduk disampingnya.


Aku tak mengerti, apa yang kurasa


Rindu yang tak pernah begitu hebatnya


Aku mencintaimu lebih dari yang kau tau

__ADS_1


Meski kau takkan pernah tahu


Alula merasakan matanya kini mulai memanas. entah mengapa, bait didalam lagu itu begitu menyentuh relung hatinya.


Aku persembahkan hidupku untukmu


Telah ku relakan, hatiku padamu


Namun kau masih bisu, diam seribu bahasa


Dan hati kecilku bicara


Baru kusadari cintaku bertepuk sebelah tangan


Kau buat remuk sluruh hatiku


Ia kini tersenyum getir, meski dengan mata yang terpejam. belum sempat cintanya tercurahkan, namun harus kandas ditengah jalan. ia menghela napas panjang, merelakan hatinya begitu saja.


Semoga aku akan memahami sisi hatimu yang beku


Semoga akan datang keajaiban hingga kaupun mau


Aku mencintaimu lebih dari yang kau tau


Meski kau takkan pernah tau


Dan ia terperanjat ketika mendengar suara seseorang yang tak asing ditelinganya.


"Neng peri, jangan tidur disini !"


"Bang Marko?" lalu ia menyeka sudut matanya yang terasa basah "ngapain disini ? ngikutin aku yah." tuduhnya dengan dahi yang mengkerut.


Marko mengangguk, sebelum berkata "Nungguin seseorang yang lagi gegana." ucap Marko dengan setengah menyidir dirinya yang kini menjadi salah tingkah.


"Ish, apaan sih." sanggah Alula dengan bibir yang mengerucut.


"Nah, itu buktinya, dikasih lagu 'pupus' aja netes air matanya." Marko menunjuk sudut mata Alula yang masih terlihat basah.


"Berasa banget dihati ya neng ?" goda Marko yang gemas melihat raut wajah Alula.


"Apaan sih bang, orang cuma silau kena matahari." gerutunya pada Marko yang memasang wajah jahilnya.


"Dih, ngaku ajalah." Alula diam, tak menimpali ucapan Marko.


"Kenapa harus disembunyikan ?" namun pertanyaan Marko selanjutnya membuat dahi Alula kembali mengernyit tak mengerti.


"Kalau suka, bilang suka !" serunya tegas. yang jelas tengah memintanya untuk jujur pada perasaannya sendiri.


Alula tertawa sumbang "Abang ini ngomong apaan sih."


"Masih belum mau ngaku ?" kini dahi Marko yang mengkerut. tak menyangka jika kedua orang ini benar-benar keras kepala, tidak mau jujur pada perasaan mereka sendiri.

__ADS_1


Alula menghela napas panjang sebelum berkata "Kak Gweny lebih pantas mendampingi bang Emir, bang." ucap Alula yang menatap nanar bangku kosong diseberangnya.


Marko hanya diam mendengarkan.


"Tahu gak sih bang," Alula menoleh pada Marko, ia kini tersenyum meski hati terasa teriris sembilu.


"Terkadang kita harus merelakan seseorang agar dia bahagia, tanpa kita sadari kitalah yang terluka." ia menunduk menahan air matanya agar tidak meluruh.


...****************...


"Apaan sih kamu La, seenaknya aja mau pergi." protes Marsha ketika Alula membicarakan perihal keinginannya untuk kembali ke tempat tinggalnya yang dulu.


"Sa," namun ucapannya terpotong karena Marsha menyelanya.


"La, aku gak suka kamu yang kaya gini. kamu dari dulu gak pernah berubah."


"Selalu mementingkan kebahagiaan orang lain dari pada kebahagiaan kamu sendiri." ucap Marsha dengan nada kesal. tak menyangka jika Alula akan membuat keputusan seperti itu.


Yah, yang Marsha tahu, sejak kecil Alula memang selalu seperti itu. ia lebih suka mengalah, demi orang lain. ia lebih suka merelakan apa yang dia punya, untuk kebahagiaan orang lain. bagaimana bisa ia memiliki sifat seperti itu.


Marsha tak habis pikir, sahabatnya ini selalu menempatkan dirinya diposisi yang sulit. jika saja ia mau lebih jujur pada dirinya sendiri, semua akan berjalan dengan mudah.


"Kamu gak ngerti Sa, kamu gak ada di posisi aku." sedangkan Mulan hanya diam, memperhatikan kedua sahabatnya yang kini tengah berseteru. ia bingung harus menempatkan diri diposisi yang mana. jadi lebih baik, ia hanya diam.


"Kamu tinggal bilang, kalau kamu suka sama abang kamu, beres kan La. kamu gak perlu pergi."


"Gak semudah itu La." Mulan kini mengusap-usap lengan Alula, mencoba menenangkan. Tapi bagaimanapun, ia juga tidak mau kehilangan sahabatnya.


"Kamu udah janji sama Aku La, kita akan menggapai mimpi kita sama-sama. tapi kenapa kamu memilih pergi?" ia sudah pernah kehilangan Alula, ia tidak mau hal itu terjadi lagi. tidak akan pernah.


"Aku cuma tinggal diBandung Sasa, kamu bisa kesana kapanpun kamu mau." kedua tangan Alula meraih bahu Marsha, mencoba memberi pengertian pada sahabatnya.


Marsha terdiam, berat rasanya harus terpisah jauh dari sahabat yang sudah ia anggap seperti saudara sendiri.


Kebaikan hati Alula yang tidak pernah ia dapatkan dari siapapun, membuatnya sangat menyayangi Alula. terlebih, sejak kecil hanya Alula dan Dwi saja yang mau berteman dengannya.


"Ada Mulan juga disini." ucap Alula lagi karena Marsha hanya diam saja.


"Dia juga mau pergi La, dia mau kuliah diluar negri." Alula beralih memandangi Mulan yang tersenyum kikuk, merasa tak enak hati karena belum membicarakannya dengan Alula.


"Maaf belum cerita, Papi aku nyuruh aku kuliah diluar." ucap Mulan sambil mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah membentuk huruf V.


Alula menghela napas panjang, Marsha dibesarkan dengan kesederhanaan dan hidup seadanya dengan sang Bunda, sehingga membuat Marsha terkadang merasa tidak memiliki kepercayaan diri.


Padahal sekarang, keadaan Marsha sudah berubah seratus delapan puluh derajat. ia tentu bisa dengan mudah bergaul dengan siapa saja. tapi Marsha tetaplah Marsha, ia jelas memilih Alula untuk menjadi sahabat sejatinya.


.


.


.

__ADS_1


Happy Reading... 😊


Jangan lupa like and comment nya ... 👍


__ADS_2