Panggil Aku Rain

Panggil Aku Rain
3 Sahabat


__ADS_3

"Emiiiiir.. "suara merdu Mama Indri yang membangunkan putra tercintanya. namun yang dipanggil masih asik dengan mimpinya dan tak berpindah posisi malah semakin erat memeluk gulingnya.


"Ampuuun gusti, boga bujang jam sakieu masih peureum" perempuan asli sunda itu mulai berceloteh dengan bahasanya yang tidak dimengerti sebagian netizen.


(ampuun gusti, punya pemuda jam segini masih tidur)


Sang Mama dengan sekuat tenaga merebut guling yang dipeluk anaknya.


"Bangun ngga, katanya ada kuliah pagi, ini jam berapa Emiiir " teriaknya lagi membuat telinga siapapun yang mendengarnya berdengung.


Rupanya sang anak mulai sadar dengan jadwal kuliah paginya, sontak langsung terduduk dan mencoba membuka matanya lebar-lebar.


"Jam berapa ini Mah?" matanya yang masih merah dan terasa berat mengerjap dengan cepat.


"Jam tu-juh Emir !" jawab sang Mama dengan penuh penekanan.


"Ya ampun, kenapa ga dibangunin sih Mah" Mirza bergegas menuju kamar mandi, diambilnya handuk yang tergantung ditempatnya lalu masuk kedalam kamar mandi.


"Makanya tidur tuh jangan kaya kebo. jelas-jelas yang dibangunin malah makin asik pelukan sama guling, dikira tu guling ga engap apa sama bau asemnya dia."sang Mama menggerutu sambil merapikan kasur anaknya yang berantakan seperti telah terjadi gempa bumi.


Tak lama kemudian pintu kamar mandi terbuka, saat sang Mama belum selesai merapikan kasur anaknya. ia menoleh kearah pintu, ternyata Mirza sudah keluar dari sana dengan lilitan handuk dipinggangg.


"Laah.. kamu mandi atau apa sih di dalem, perasaan belum ada 5 menit deh." Mama Indri melirik jam yang tergantung didinding kamar anaknya itu.


"Mandilah Mah, dengan kecepatan ekstra." jawabnya sambil membuka lemari pakaian dan memilih pakaian yang akan dikenakannya ke kampus.


"Mama curiga kamu ga pake sabun yah."sang Mama mendekat kearah anaknya, dengan sebuah bantal yang masih di pegannya.


"Elaah Mah, nanti cakepnya luntur kena sabun." jawab Mirza sekenanya.


"Jorok siah ih." Mama Indri melemparkan bantal yang dipegangnya.


"Ga sempet Mah ih, udah deh Mama keluar dulu berisik banget. Emir mau pake baju. buru-buru nih."dasar anak durhaka.


"Yaudah sih tinggal pake baju aja, dari kecil Mama juga udah liat kamu telan jang" dengan santainya sang Mama kembali merapikan kasur sang anak.


"Mamaaa.."

__ADS_1


"Iyaa.. iyaa cepet sarapan dulu." Mama Indri melangkah keluar dari kamar anaknya.


...****************...


"Gila mimpi apa gue semalem, udah bangun telat. ban motor pake kempes segala lagi, kan gue jadi kena semprot dosen tadi" Mirza kini tengah berada dikantin kampus bersama Marko dan semangkuk bakso.


"Mimpi kawin sama.. peri kali" jawab pemuda yang tidak pernah singkron antara mulut dan otaknya itu.


"Yakali masih ada peri di dunia modern gini. elu sama aja kaya Mama" Mirza menjawab perkataan non logis sahabatnya itu.


"Bukan, ini bukan peri. tapi .. seperti bidadari". tatapan pemuda itu berbinar seolah melihat sesuatu yang berkilau disana,


"Apaan si lu".


Menyadari sahabatnya mulai aneh, dan emang terbiasa aneh. Mirza membalikan badan dan mengikuti tatapan sahabat sengkleknya itu. dilihatnya seorang wanita tinggi , putih, dengan rambut yang panjang menjuntai, badannya ramping, wanita itu memakai celana jeans dan kaos lengan pendek. meski posisi duduknya membelakangi sepasang sahabat itu, tapi Marko sangat yakin wanita itu sangat cantik dilihat dari rambutnya yang berkilau.


Mirza kembali membalikan badannya, belum sempat ia mengomentari, dilihatnya Marko sudah berjalan mendekati sang wanita, mungkin dia sudah menemukan kata-kata rayuan yang entah kapan didapatkannya. didekatinya wanita itu, Marko sudah memulai jurus rayuannya. ia duduk disebelah wanita itu, sementara Mirza terus memperhatikan kelakuan sahabatnya itu , ia berada tak jauh dari keduanya.


"Hai boleh duduk disini ngga ?" tanya Marko pada sang wanita. meski sedikit ada jarak, namun kata-kata Marko terdengar jelas ditelinga Mirza.


Wanita itu menoleh "Boleh" jawabnya dengan suara yang lembut, tepatnya dilembut-lembutkan.


Wanita cantik? bukan !


Marko memang sedang merayu seseorang yang berbadan tinggi berkulit putih mulus dan bersuara lembut. tapi... nyatanya ia adalah wanita setengah pria atau pria setengah wanita? dan entah sejak kapan berada dikantin kampus.


"Ban cii.. " pekiknya.


"Mau kemana bang, katanya mau duduk disini, sini temenin Merry." wanita setengah jadi itu cekikikan dan menepuk-nepuk bangku disebelahnya. senyumnya merekah pada Marko.


"Ih ogah gue" Marko bergidik , ia merasa geli sendiri dengan kelakuannya "kayanya gue yang mimpi buruk tadi malem deh" lanjutnya.


"Kenapa lu ga bilang elahhh." Marko menepuk bahu Mirza.


"Yang langsung nyelonong nyamperin tu orang siapa? " Mirza tak henti menertawakan sahabatnya yang kini wajahnya mulai berubah pucat. "Makan tuh bidadari" ucapnnya kemudian sambil melemparkan tisu bekas yang ia remas.


"Ah sialan." umpatnya

__ADS_1


Mirza masih memegangi perutnya yang masih terasa sakit akibat tawanya tadi.


"Lu besok dateng kan kerumah Ko, awas lu jangan lupa."setelah tawanya reda, Mirza mengingatkan Marko dengan acara dirumahnya.


"Gak janji ya Emir sayang.." Jawab Marko dengan mencubit pelan pipi Mirza dan menggerakannya ke kanan dan ke kiri.


"Heh Markonah ketularan si Merry lu ya, geli gue." Mirza menepis kasar tangan Marko.


"Ih najis gue. besok gue harus jemput nyokap dibandara, tapi kalo sempet gue mampir deh, sekalian numpang makan."Marko menusukkan garpu kedalam mangkuk bakso dan mengambil satu bakso berukuran paling besar lalu melahapnya.


"Bakso guee ah elah..."Mirza yang tidak rela baksonya diambil lagi memilih menjauhkan mangkuknya dari Marko.


"Bagi dikit ngapa, pelit amat dah" dengan mulut penuh bakso Marko melemparkan garpu dari tangannya. "kalo ada yang cantik gue pasti dateng deh." lanjutnya sambil mengunyah bakso tersebut.


"Ini acara pengajian woy, bukan pesta piyama. yang dateng pasti anak rumah singgah bukan anak abege."


"Apa salahnya, denger-denger anaknya yang punya panti udah gede kan." Marko menyeringai.


"Baru lulus SMP Markonah, mau jadi fedopil lu" Mirza jadi gemes dengan sahabat sengkleknya ini.


"Bagus dong, mayan dong dapet dede gemesh."


"Serah lu dahh" ia memilih acuh.


"Pada ngomongin apan sih, ko gue ga diajak"satu orang sahabat Mirza bernama Martin datang dengan kotak nasi bermerk emperware.


Mirza dan Marko saling berpandangan, sebelum Martin duduk dikursinya,mereka berdiri dan berkata


.


.


.


"Bubaaaaar"


"Ga ada yang like " lanjutnya...

__ADS_1


ketiga laki-laki bernama 3M itupun membubarkan diri.


Ibu kantin: baksonya woyy belum bayar ! 😁


__ADS_2