
Pagi yang tenang untuk jiwa yang tegang.
Jeni dan Tata terbangun dari tidur, namun ada yang berbeda dari biasanya. Jeni melirik pada jendela kamar "kenapa jendelanya kebuka?" pikirnya dalam hati. ia mengedarkan pandangannya tak menemukan Alula disana.
"Ta, kak Lula kemana?" sambil mengucek-ngucek matanya yang masih mengantuk ia bertanya pada Tata.
"Gak tau, aku aja baru bangun kan?" Jawabnya sambil menuruni tangga ranjang,lalu mendekati Jeni.
"Biasanya kak Lula belum bangun,selalu duluan kita."
Yah, akhir-akhir ini Alula memang tidak pernah merasa tidurnya pulas. ia akan tertidur jika sudah lewat tengah malam dan kembali terbangun ketika Jeni membangunkannya. entah apa yang dipikirkan Alula sebelum tidur hingga sulit sekali untuk memejamkan matanya.
"Kita cari dulu diluar, mungkin lagi pup?" meski sedikit aneh, Jeni hanya mengangguk.
Mereka menyusuri setiap ruangan, dan bertanya pada anak-anak yang lain tidak ada satupun yang tau keberadaan Alula. mereka menuju ruang makan dan dapur, mengetuk setiap pintu kamar mandi, bahkan mereka mencari hingga keluar rumah. tapi Alula tetap tidak mereka temukan.
"Apa dirumah Ibu yah?" Jeni bergumam.
"Apa Kak Lula pergi yah?" pertanyaan Tata membuat Jeni dengan cepat menoleh. Jeni memang merasa akhir-akhir ini Alula sedikit aneh, apalagi setelah ia melihat Alula berbicara dengan Risma. entah kenapa ia jadi berpikir jika Risma mengatakan sesuatu yang membuat Alula berubah.
"Kita balik ke kamar yuk !" Jeni beranjak pergi dengan Tata yang mengekor dibelakangnya.
Jeni kembali ke kamar, ia memeriksa barang-barang milik Alula. kosong, tidak ada satupun barang milik Alula disana. ia melirik pada meja disamping tempat tidur, terdapat dua buah kertas, yang ia yakini adalah surat. satu buah surat bertuliskan "Untuk Ibu" dan satu lagi bertuliskan "Jenitaku".
Tubuh Jeni menatung, tangannya bergetar. hingga tak terasa bulir-bulir bening meluncur bebas dari matanya. ia meyakinkan diri Alula kini telah pergi.
"Kamu kenapa Jen?" Tata menepuk bahu Jeni "Kamu kelilipan?" Tata melihat mata Jeni yang memerah dan berair.
"Eh, kamu nangis Jen, kamu kenapa Jen?" Tata panik karena Jeni tidak merespon pertanyaannya.
"Jeni jawab aku, kamu kenapa?" Tata mengguncang-guncang bahu Jeni.
"Ka Lula pergi Ta." Jeni menghamburkan memeluk Tata yang kini mematung. mereka menangis dalam pelukan. meskipun hanya hitungan minggu kebersamaan mereka dengan Alula, tapi mereka sangat menyayangi Alula seperti kakak mereka sendiri. sifat Alula yang ceria dan periang membuat mereka nyaman satu sama lain. dan kini Jeni dan Tata kembali kehilangan sosok seorang kaka.
Jeni dan Tata berlari menuju rumah utama Ibu Indah dengan membawa sepucuk surat bertuliskan "Untuk Ibu" itu.
__ADS_1
"Bu... Bu.. " Jeni dan Tata berteriak memanggil-manggil Ibu Indah.
"Ada apa, kenapa masih pagi begini kalian sudah lari-larian sambil teriak-teriak gitu?" tanya Bu Indah yang baru saja keluar dari kamar.
"Bu.. " Jeni tak kuasa meneruskan kalimatnya, ia hanya menagis.
"Kalian kenapa Jen, Ta?" Bu Indah meraup wajah Jeni dan Tata bergantian,
"Bu, Kakak pergi." Jeni dan Tata berhamburan kedalam pelukan Ibu Indah.
"Kakak?" Bu Indah mengerutkan dahi nampak berpikir "A.. Alula?"tebaknya.
"huuu.. huuu.. iya bu.. "Jeni dan Tata menangis tersedu.
"Ini surat buat Ibu."setelah merasa tenang, Jeni menyodorkan sepucuk surat dari Alula. Bu Indah perlahan membuka lipatan kertas itu dengan hati-hati.
*Untuk Ibu..
Lewat surat ini, Lula hanya ingin mengucapkan banyak terima kasih pada Ibu. karena kebaikan Ibu, lula bisa tinggal dengan nyaman disini. ibu memperlakukan Lula sama seperti anak-anak yang lain. Disini, lula mendapatkan kembali kasih sayang yang sempat hilang.
Bu, maafkan Lula.jika selama tinggal disini sikap Lula pernah mengecewakan Ibu. Maafkan Lula jika Lula harus pergi dengan cara seperti ini. karena Lula tau Ibu tidak akan mengizinkan Lula untuk pergi.
Bu, do'akan kebahagiaan Lula. Lula hanya ingin berusaha mandiri. dengan do'a dari ibu, Lula yakin semua akan baik-baik saja. Lula janji akan selalu menjaga diri. Jika nanti Lula bertemu dengan Ayah, Lula janji akan menemui Ibu lagi. Lula tidak akan pernah lupa dengan semua kebaikan Ibu.
Lula pamit Bu, Lula sayang Ibu..
"Alula.. "Lirihnya. Bu Indah mendekap erat surat itu seolah sedang memeluk Alula.
Entah mengapa kepergian Alula begitu menyesakkan di hatinya, ia kembali merasakan sakit yang sudah 17 tahun ia pendam. yah, saat sang adik yang juga tiba-tiba pergi tanpa pamit. 17 tahun ia hidup dalam penyesalan, dadanya selalu sesak jika mengingat kejadian itu. dan kini saat Alula pergi, bu Indah seperti mengalami kepedihan itu kembali.
...****************...
"Kamu gak kuliah Mir?" Mama Indri yang sedang menyesap teh manis melirik Mirza yang sedang menuruni tangga.
"Gak enak badan Ma, lemes aku." Mirza duduk disamping sang Mama lalu menelungkupkan kepalanya diatas meja dengan tangan sebagai penyangga.
__ADS_1
"Ya Alloh.. kamu demam Mir?"Mama Indri mengusap pelan kepala Mirza setelah menempelkan tangan di dahinya.
"Nanti Mama panggilin dokter Iwan yah biar kesini, sekalian periksa Alula. Mama takut dia juga demam. Dia juga belum bangun kaya nya. " Mirza hanya mengangguk.
Tak lama suara mesin mobil datang dari arah gerbang, sudah dipastikan itu adalah Pa Sanjaya yang baru pulang dari luar kota. Mirza dan Mama langsung menyambut kedatangan mereka didepan pintu utama.
Alula POV
Matahari beranjak naik saat aku terbangun dari tidurku. mataku menyipit menyesuaikan cahaya yang masuk pada celah jendela kamar. kepalaku terasa pusing sekali. aku mulai mengingat kembali kejadian terakhir sebelum aku jatuh tak sadarkan diri. satu hal yang ku ingat adalah pertemuanku dengan Paman Leon, ayah tiriku.
Aku beranjak bangun, dan menegakkan tubuhku. entah kenapa rasanya begitu lemas sekali. Aku mengamati sekelilingku. bukan, ini bukan kamarku yang dulu. lalu dimana aku saat ini? jika ini bukan kamarku, lalu kamar siapa ini? apa yang sudah terjadi padaku tadi malam?
Samar-samar ku dengar suara beberapa orang mengobrol diluar kamar. siapa mereka? perlahan aku turun dari ranjang, dan berjalan ke arah pintu. aku mengumpulkan keberanian sebelum membuka pintu. siapa tau seseorang membawaku kedalam bahaya. aku mendengarkan sedikit percakapan mereka.
"Ini barang nya pak, mau ditaruh dimana?"
"kalau sudah tidak ada lagi yang harus saya kerjakan, setelah ini saya permisi mau menyimpan kunci mobil Pa."
ceklek..
Aku membuka pintu dan berdiri disana. aku manatap empat orang yang sedang bercakap-cakap diruangan yang cukup luas. bisa ku tebak, itu adalah ruang tamu. tidak ada satupun yang menyadari kehadiranku. tatapan mataku tertuju pada seseorang disana.
Tubuhku mematung, penglihatanku mulai buram ketika bulir-bulir bening terkumpul dipelupuk mata, dan tanpa kusadari pipiku mulai basah. suaraku tercekat ditenggorokan, tak bisa berkata-kata.
Seseorang yang selama ini memenuhi pikiranku, seseorang yang membuatku tak bisa tidur dengan tenang karena memikirkan keberadaannya. seseorang yang sangat aku sayangi berdiri disana, tak jauh dari hadapanku. pertemuan yang tidak ku bayangkan sebelumnya. aku merindukanmu..
"Ayah... "lirihku..
.
.
.
Happy readding gaess.. ☺
__ADS_1
jangan lupa tinggalkan jejak ! 🤗