
Acara pesta ulang tahun pernikahan Roland dan Arumi pun akan berakhir. Kini Arif dan Anisa sudah berpamitan kepada Roland dan juga Arumi Begitu juga dengan para teman-teman yang hadir di acara pesta itu.
Arif langsung menggandeng tangan Anisa keluar dari lokasi pesta. Karena ia tidak ingin Anisa digoda para tamu undangan yang hadir di sana. Arif merasa risih melihat Tatapan orang-orang yang hadir di sana terpusat kepada Anisa. Ia tahu para kaum Adam yang hadir di sana banyak yang tertarik kepada Anisa.
Arif seolah tidak rela jika Anisa dipandang oleh para kaum Adam yang hadir di sana. Ia merasa Anisa adalah wanitanya. Sehingga dirinya pun langsung meraih tubuh Anisa berjalan melewati para tamu undangan yang masih setia di sana.
"Duluan ya." ucap Arif kepada teman-temannya yang menghadiri pesta ulang tahun pernikahan itu, dibalas senyuman dari teman-temannya. Tetapi beberapa di antara mereka mengedipkan matanya kepada Anisa membuat Anisa merasa risih.
"Anisa berjalan beriringan dengan Arif, masuk ke dalam mobil yang dikendarai oleh Arif sebelumnya. Kemudian Arif melajukan mobil miliknya ke arah jalan raya menuju rumah yang ditempati oleh ibu Nurhaida dan Anisa.
Terlihat warung Milik ibu Nurhaida sudah tutup. Tetapi para ibu-ibu tetangga masih banyak yang duduk di sekitaran warung Milik ibu Nurhaida. Walaupun warung sudah tutup. "Astaga pasti akan gosip baru nih." gerutu Anisa yang melihat ibu-ibu masih setia berada di depan warung milik mereka.
"Ada apa Anisa? tanya Arif sambil menghentikan mobil miliknya.
"Itu ibu-ibu penggosip banyak di depan warung Ibu. Pasti sebentar lagi Anisa akan digosipin mereka. Dan menuduh Anisa yang bukan-bukan. Apalagi Anisa turun dari mobil milik Mas. Mereka beranggapan kalau Anisa wanita yang tidak bermoral.
"Maksudnya?
"Masa sih Mas Arif tidak paham maksud Anisa apa. Ibu-ibu yang ada di sana. Pasti akan menyebar gosip mengatakan kalau Anisa mencari mangsa seperti yang mereka tuduhkan sebelumnya, Ketika Mas Arif datang ke rumah ini pertama sekali, mereka mengatakan kalau Anisa akan memanfaatkan Mas untuk kepentingan pribadi Anisa. Maklum ibu-ibu komplek ini mulutnya pedas sekali." ucap Anisa sambil membayangkan Ibu Narsih yang akan selalu mengoceh jika Anisa sudah tiba di rumah.
Apalagi Saat itu Ibu Narsih berada di depan warung Milik ibu Nurhaida, maka tidak akan menutup kemungkinan Ibu Narsih melihat Anisa turun dari mobil milik Arif.
"Biarin saja mereka beranggapan seperti itu. ngapain kamu ambil pusing? yang penting tuduhan mereka tidak benar. Biarkan saja Alloh yang melihat segalanya." ujar Arif sambil mengembangkan senyumnya.
__ADS_1
Lalu turun dari mobil. Memutari mobil itu lalu membuka pintu mobil untuk Anisa. Agar Anisa lebih leluasa turun dari mobil miliknya. Melihat Anisa dan Arif sudah tiba di rumah Ibu Nuraida, tampak Ibu Narsih menatap Anisa dengan Tatapan yang begitu tajam.
Tetapi Anisa dan Arif seolah tidak peduli dengan tatapan Ibu Narsih. Dan memilih langsung masuk ke dalam rumah tanpa berbasa-basi, kepada para ibu-ibu yang duduk di depan warung Milik ibu Nurhaida. Karena jika bertegur sapa maka akan panjang urusannya. Apalagi dengan kehadiran Ibu Narsih di sana.
****
"Sayang kamu di mana? Daniel mencari keberadaan Olivia karena tidak melihat sosok istrinya berada di kamar ketika dirinya pulang dari kantor. Daniel tampak khawatir Olivia akan meninggalkannya.
Karena ia melihat baby Arya Vito juga tidak ada di sana. "Sayang kamu di mana?" Daniel kembali berteriak mencari keberadaan Olivia tiba-tiba asisten rumah tangga datang menghampiri Daniel.
"Maaf Tuan mencari Nyonya? tanya asisten rumah tangga itu kepada Daniel.
"Iya Bu, dimana Olivia?" tanya Daniel penuh selidik. Asisten rumah tangga yang berada di sana pun mengembangkan senyumnya.
Karena melihat Daniel sudah tampak mengkhawatirkan Olivia dan juga putranya. "Maaf Tuan, Nyonya Olivia sepertinya berada di taman belakang bersama nyonya besar." sahut asisten rumah tangga itu dibalas anggukan dari Daniel.
Membuat Olivia merasa bersalah.
"Maaf Mas, kami terlalu asyik Di Sini. Habis Putra kamu membuat Olivia dan Mami gemas. Sehingga Olivia lupa waktu, Kalau jam kerja mas sudah waktunya untuk pulang." sahut Olivia meminta maaf kepada suaminya sambil memberi salam kepada Daniel.
"Sudah tidak apa-apa. Mas hanya bercanda." sahut Daniel sambil meraih tubuh Olivia kepelukannya dan memberikan kecupan hangat di kening Olivia. Kemudian Daniel menghampiri putranya yang sedang berada di pangkuan Nyonya Eliana.
"Putra Papi yang tampan, apa kamu merepotkan Mami hari ini?" tanya Daniel sambil memberikan kecupan hangat di wajah tampan putranya. "Tidak kok papi, Arya Vito tidak merepotkan Mami. Karena arya Vito anak baik." sahut Nyonya Eliana menirukan suara khas anak kecil.
__ADS_1
Membuat Daniel dan Olivia terkekeh mendengarnya. Daniel meraih tubuh putranya. Ia menghujani wajah tampan putranya dengan kecupan demi kecupan. Membuat baby Arya Vito merasa terganggu. Baby Arya Vito Langsung menangis membuat Nyonya Eliana menggerutu.
"Kamu ini datang-datang buat cucu mami menangis. Dari tadi cucu mami baik budi tidak ada suara tangis terdengar. Tetapi setelah kamu datang cucuku menangis. Habis terus kamu ganggu." Gerutu Nyonya Eliana menatap putranya dengan Tatapan yang sulit diartikan.
"Mom sebentar lagi akan maghrib. Lebih baik kita masuk ke rumah. Tidak bagus anak bayi terlalu kesorean di luar." ujar Daniel meminta kepada Nyonya Eliana. Agar mereka segera masuk ke dalam rumah.
" Tidak perlu menggurui Mami. Mami yang lebih mengetahui, dibandingkan kamu. Sebelum kamu mengatakan seperti itu, mami sudah ingin membawa cucuku masuk ke dalam rumah. Tetapi karena kamu terus mengganggu cucu mami, membuat Mami jadi kelamaan berada di sini." ucap nyonya Eliana sambil menatap putranya dengan tatapan tajam.
Membuat Daniel bergedik ngeri. Lalu memberikan Arya Vito kepada Nyonya Eliana kembali. Nyonya Eliana berjalan masuk ke dalam rumah mendahului Olivia dan Daniel. Kalian mau di sini tidak apa-apa, Mami masuk dulu bersama cucu mami yang tampan ini." ucap Nyonya Eliana sambil langsung melangkah masuk ke dalam rumah.
Daniel menggelengkan kepalanya melihat Nyonya Eliana yang begitu marah kepada Daniel. Ketika mendengar suara tangis baby Arya Vito. Karena Daniel menghujani wajah tampan putranya kecupan demi kecupan. "Sayang lebih baik kamu mandi dulu." ujar Olivia meminta kepada suaminya agar segera membersihkan diri.
****
Di tempat lain, terlihat Amara yang begitu menikmati hari-harinya bersama Herman. Tiba-tiba suara deringan ponsel milik Amara terdengar jelas di telinganya. Ia melihat nomor ponsel milik Alvaro yang menghubungi dirinya.
Karena merasa khawatir. Ia pun menekan tombol hijau yang ada di layar ponselnya. Agar sambungan telepon selulernya tersambung kepada Alvaro.
"Hallo Amara, Kamu di mana sekarang? segeralah pulang. Dan kita harus segera melakukan rencana kita sebelumnya. Mengapa kamu tidak pernah pulang ke rumah? Tanya Alvaro begitu emosi. Karena Amara tak kunjung pulang ke rumah. Semenjak kepergiannya mencari keberadaan tuan Gladuks.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏🙏
__ADS_1
JANGAN LUPA TEKAN FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏🙏🙏🙏
JANGAN LUPA FOLLOW OUTHOR MORATA KARNA AKAN ADA GIVEAWAY DI SANA AKHIR BULAN