
Daniel sangat rapuh ia merindukan ibu kandungnya sendiri. Ibu di mana kah kamu sekarang? Apa kamu tidak ingin melihat putramu ini? aku merindukanmu Bu. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi sehingga Ibu meninggalkanku sendiri." gumam Daniel di dalam hati.
Rasa curiga Daniel terhadap Tuan Gladuks membohonginya.Kalau ibu kandung Daniel pergi meninggalkannya, karena ingin menikah dengan lelaki lain yang lebih kaya dari Tuan Gladuks.
Setelah Daniel memergoki tuan Gladuks berperilaku yang tak sepantasnya dengan sekretarisnya sendiri di ruang kerjanya. Padahal Tuan Gladuks sudah memiliki Nyonya Julia yang menjadi istrinya saat ini.
"Pasti ada sesuatu yang membuat Ibu pergi meninggalkan kami. Tidak mungkin Ibu meninggalkan kami kalau tidak ada kesalahan Papa yang fatal." Gumamnya dalam hati.
"Aku akan mencari tahu keberadaan ibu sekarang. Entah itu bagaimana caranya, yang pasti aku harus segera bertemu dengan ibu." Daniel bermonolog sendiri. Daniel meraih ponselnya yang ada di saku celananya lalu mencari nomor ponsel Arif di dalamnya.
Ketika sambungan telepon seluler itu tersambung kepada Arif, ia meminta Arif untuk segera mencari tahu tentang ibu kandungnya saat ini. Yang mana Arif juga tidak mengetahui bagaimana raut wajah Nyonya Eliana yang merupakan istri pertama dari tuan Gladuks.
"Bagaimana mungkin saya dapat menemukan Nyonya Eliana, Sementara saya saja tidak mengenalinya?" ucap Arif kepada Daniel kalau Arif tidak mengenal sosok Ibu Eliana.
"Otak itu dipakai!" jangan dibuat di dengkul!" bentak Daniel ketika mendapat bantahan dari Arif.
Arif langsung terdiam. Ia pun akhirnya setuju untuk mencari tahu keberadaan Nyonya Eliana saat ini. Daniel langsung memutuskan sambungan telepon selulernya. Setelah Arif setuju untuk mencari keberadaan Nyonya Eliana.
Tentunya dengan dibekali sebuah foto yang ada di layar ponselnya. Karena sebelumnya Daniel sudah mengirimkannya kepada Arif. Berharap Arif berhasil menemukan sosok ibu kandung Daniel.
"Bu Dimana kau sekarang? kenapa tidak pernah mencariku? Apakah aku Aib bagimu? Sehingga kamu tidak ingin bertemu denganku? Daniel bertanya-tanya dalam hati.
__ADS_1
Pikiran Daniel saat ini sangat kacau. Daniel ingin segera bertemu Dengan ibu kandungnya. Dan ingin mengetahui permasalahan Yang sebenarnya. Sehingga Nyonya Eliana harus meninggalkan Daniel. padahal Daniel kala itu masih butuh kasih sayang seorang ibu yang tulus menyayangi Nya.
Tetapi itu, tidak di dapatkan Daniel. Semenjak Daniel berusia dua bulan. Berita simpang siur tentang ibu kandungnya ia dengar dari kerabat Tuan Gladuks dan beberapa orang yang bekerja di kantor Tuan Gladuks.
Banyak yang menghujat Nyonya Eliana, karna telah meninggalkan Daniel dan Tuan Gladuks. Padahal kala itu usia Daniel masih terlalu kecil untuk ditinggalkan oleh Nyonya Eliana. Tetapi ada juga yang membenarkan tindakan Nyonya Eliana, bagi siapa yang mengetahui sifat asli Tuan Gladuks.
"Aku tidak akan memaafkan papa, jika papa berani membohongiku tentang ibu kandung Ku sebenarnya." gumam Daniel dalam hati. pikiran Daniel tidak karuan. Pikirannya terpusat dengan perlakuan Tuan Gladuks.
"Ya ampun, masalah dengan Olivia belum kelar. Datang lagi Maslah Tua Bangka yang tau diri itu " teriak Daniel di dalam mobil. Sambil ngerem mobilnya mendadak. Hampir saja Daniel menabrak pohon yang ada di bahu jalan.
****
Amara berusaha meminta maaf kepada Tuan Gladuks, karena sudah membohongi tuan Gladuks. Amara sama sekali belum mengetahui apa yang dilakukan Tuan Gladuks sebelum mereka tiba di ruang kerja Tuan Gladuks.
"Apa tidak ada pria lain lagi selain Daniel? Pikiranmu dimana? kamu orang berpendidikan tetapi kamu tidak memiliki moral. Sama saja kamu seperti ibumu!" teriak Tuan Gladuks." Penuh dengan emosi membuat Amara terhenyak menyamakannya dengan Nyonya Julia. langsung membulatkan matanya. Ia terhenyak Tuan Gladuks Mengatai ibu kandungnya.
"Apa maksud Papa menyamakan Amara dengan Mama?
"Pergi dari sini!" jangan banyak tanya." teriak Tuan Gladuks. Yang mampu membuat nyali Amara semakin menciut. Amara memilih untuk meninggalkan Tuan Gladuks di ruangannya sendiri. Daripada harus mendengar hinaan dan ocehan Tuan Gladuks terhadapnya. Dan juga terhadap Nyonya Julia.
"Anak sama ibu sama saja. Sama sama penggoda. Dan perusak rumah tangga orang!" umpat Tuan Gladuks sambil menatap kepergian Amara dari ruang kerjanya dengan tatapan tajam. Seolah Tuan Gladuks menyesali perbuatannya terhadap Nyonya Eliana dan menyesal menikah dengan Nyonya Julia.
__ADS_1
Tetapi yang Daniel ketahui selama ini, kalau Nyonya Eliana lah yang berkhianat kepada tuan Gladuks sehingga perceraian terjadi di rumah tangga Tuan Gladuks dan nyonya Eliana. Setelah nyonya Eliana melahirkan Daniel, dan gugatan perceraian dikabulkan oleh pengadilan agama ketika Daniel masih berumur 2 bulan.
Karena pada saat itu Nyonya Eliana tidak memiliki pekerjaan tetap, sehingga Hak asuh anak jatuh ke tangan Tuan Gladuks. entah apa yang membuat Nyonya Eliana menggugat cerai suaminya setelah 2 bulan pasca melahirkan. Sungguh berat setelah Daniel mengetahui kenyataan, kalau Nyonya Eliana yang menggugat cerai suaminya.
Tetapi hingga saat ini Daniel tidak mengetahui alasan yang pasti Mengapa Nyonya Eliana sampai menggugat cerai suaminya. Padahal saat itu Nyonya Julia tidak memiliki pekerjaan tetap. Hal itulah yang membuat Daniel bertekad harus mencari tahu keberadaan ibunya sampai ia benar-benar bertemu dengan Nyonya Eliana.
***
Sementara di tempat lain terlihat Ibu Nurhaida begitu gelisah karena sudah beberapa hari Olivia tidak menghubungi mereka. Bahkan nomor ponsel Olivia pun tidak aktif jika Ibu Nurhaida dan Anisa menghubungi Olivia
"Dimana kamu sebenarnya nak? Mengapa kamu seperti menyembunyikan sesuatu dari kami.?" gumam ibu Nurhaida dalam hati. Rasa khawatir Ibu Nurhaida kepada Olivia membuat Ibu Nurhaida tak kunjung dapat memejamkan matanya. Padahal Jam sudah menunjukkan pukul 02.00 dini hari.
"Ya Tuhan lindungilah anak hamba mudah-mudahan dia baik-baik saja di manapun dia berada!" doa ibu Nurhaida dalam hati sambil tetap Menatap layar ponselnya. Berharap Olivia akan menghubunginya.
Tetapi yang diharapkan tak kunjung menghubungi Ibu Nurhaida. Raut wajah sedih terlihat jelas diwajah Ibu Nurhaida yang tak mendapatkan kabar dari sahabat sekaligus rekan kerja Olivia. Ketika berada di kota Jakarta.
****
Olivia tampak sudah melayani para pengunjung ke warungnya.Terlihat warung sarapan pagi miliknya, sudah dipadati para pengunjung yang menyukai Citra rasa masakan khas ala Olivia. Perutnya yang sudah mulai membuncit pun tidak menjadi penghalang baginya untuk membuka usaha kuliner miliknya
"Mbak nasi uduknya satu!" pesan Bi Surti ketika sudah tiba di warung usaha kuliner milik Olivia. Olivia mengembangkan senyumnya ia sangat mengenal sosok ibu Surti yang setiap pagi menjadi pelanggan tetap disana.
__ADS_1
Bersambung...
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏🙏🙏🙏