PERAWAN 500 JUTA

PERAWAN 500 JUTA
BAB 171. LAMARAN RESMI


__ADS_3

Anisa tiba di sebuah toko, yang mana persediaan barang dagangan Ibu nurhaida sudah habis. itu artinya Anisa harus segera membelanjakannya lagi agar dapat mereka jual kembali diwarung yang selama ini mereka kelola.


Setelah Anisa selesai membeli barang dagangannya Anisa pun berlalu dari toko itu dengan menggunakan becak bermotor. Ia sengaja menggunakan becak bermotor agar barang dagangannya dapat terbawa karena kebetulan belanjaan Anisa lumayan banyak. Anisa sampai tidak memperhatikan ponselnya.


Setelah melakukan perjalanan kurang lebih 20 menit, Anisa tiba di rumah. Terlihat ibu Nurhaida dan Pak Roberto sudah menunggunya di sana.


" Bagaimana apa semua barangnya kamu dapatkan?" tanya ibu Nurhaida penuh selidik "Sebenarnya tadinya di satu toko yang sama tidak ada pesanan Ibu. Tetapi Anisa mencarinya ke toko lain." sahut Anisa sambil membantu abang becak mengangkat barang dagangannya masuk ke warung milik mereka.


Setelah barang dagangan itu sudah turun dan berada di dalam warung, Anisa kembali menghampiri abang becak untuk memberikan ongkos. "Bang ini ongkos becaknya. Terima kasih banyak semoga rezekinya semakin bertambah." ucap Anisa sambil memberikan uang pecahan Lima puluh ribu kepada Abang becak yang telah menghantarkan barang-barang dagangan miliknya.


Sepeninggalan abang becak, terlihat Anisa langsung menyusun barang dagangannya berharap dagangan mereka laris Manis agar biaya kehidupan mereka sehari-hari tidak kesulitan dan tercukupi.


"Oh ya Anisa semalam kamu berada di rumah sakit, Bagaimana dengan kondisi Arif saat ini apa dia baik-baik saja? dan mengapa dia sampai harus dirawat di rumah sakit?" tanya ibu Nurhaida penuh selidik. Ibu Nurhaida belum mengetahui apa yang terjadi kepada Arif yang sebenarnya. Yang Ibu Nurhaida tahu hanya Arif saat itu sedang sakit dan butuh perawatan dari dokter.


Anisa menghela nafas, ia tidak memberitahu kepada Ibu Nurhaida, kalau Anisa akan segera dilamar oleh Arif hari itu juga. Karena dokter Iskandar dan nyonya Anjani sudah mempersiapkan pesta pernikahan mereka minggu depan.


Padahal lamaran resmi belum dilakukan oleh keluarga besar dokter Iskandar kepada ibu Nurhaida. Anisa enggan memberitahu segalanya kepada ibu Nurhaida, takut Ibu nurhaida kecewa kepadanya, karena ia tidak terlebih dahulu meminta pendapat dari kedua orang tuanya.


Sehingga ia pun memilih untuk diam dan ia pun tidak percaya begitu saja apa yang diucapkan oleh Nyonya Anjani, kalau pesta pernikahan mereka akan dilangsungkan satu minggu mendatang .


Padahal Nyonya Anjani serius untuk mengatakannya dan dokter Iskandar juga sudah menghubungi pihak-pihak terkait yang dapat mengurus acara resepsi pernikahan putranya dan calon menantunya.


Apalagi untuk saat ini banyak event yang ingin sekali mendapatkan job dari dokter Iskandar.

__ADS_1


"Kenapa kamu diam saja? dan apa yang sebenarnya terjadi kepada Arif, sehingga dirawat di rumah sakit. tanya ibu Nurhaida yang belum mendapat jawaban dari putrinya.


"Biasalah Bu, namanya juga laki-laki butuh refreshing juga. Eh ternyata Mas Arif tidak dapat mengontrol diri, sehingga ia pun harus mendapatkan perawatan dari dokter." ucap Anisa tanpa ada niatan memberitahu apa yang sebenarnya terjadi kepada Arif.


Anisa masuk ke kamar. Ia meletakkan tas sandang miliknya di atas meja. Lalu masuk ke dalam kamar mandi berniat untuk membersihkan diri. Setelah selesai membersihkan diri, Anisa pun menggunakan pakaian yang biasa ia gunakan di rumah.


Ia tampak lebih fresh setelah selesai melakukan ritual Mandinya. seperti biasa jika Anisa sudah selesai membersihkan diri Ia terlebih dahulu bersantai membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur yang selama ini menemani tidurnya.


Ia meraih ponselnya yang ada di tas sandang miliknya. Dan ternyata Ia lupa kalau baterai ponselnya sudah lowbat, " astaga, ternyata ponselku sudah mati habis baterai ternyata ." ucap Anisa bermonolog sendiri sambil langsung mengambil charger agar ponselnya dapat hidup kembali setelah mengecas beberapa menit.


Anisa kembali membaringkan tubuhnya. entah karena faktor kelelahan Anisa tertidur pulas tanpa menghidupkan ponselnya terlebih dahulu. Sementara di tempat lain, Arif yang tampak gelisah karena tak kunjung dapat menghubungi nomor ponsel Anisa, Ia pun menghampiri Nyonya Anjani dan dokter Iskandar yang sedang duduk mempersiapkan keberangkatan mereka menuju rumah sederhana milik keluarga Anisa, untuk melamar Anisa secara resmi di hadapan kedua orang tuanya.


"Mom Anisa kok tidak bisa dihubungi ya? Dari tadi Arif sudah menghubunginya. Arif mengkhawatirkannya."ucap Arif gelisah


Tampak dokter Iskandar dan Arif mempersiapkan diri naik ke dalam mobil, agar mereka langsung berangkat menuju rumah keluarga Anisa. Setelah merasa barang bawaan mereka sudah berada di dalam mobil, Arif, nyonya Anjani dan dokter Iskandar berlalu dari rumah.


Beberapa menit kemudian mereka pun tiba di rumah sederhana Milik ibu Nurhaida. Ibu Nurhaida sama sekali tidak mengetahui rencana kedatangan orang tua Arif,yang ingin melamar Anisa. padahal sore itu Ibu Nurhaida masih sibuk melayani para pembeli yang datang ke warung miliknya.


Beberapa tetangga Melihat mobil mewah yang terparkir di depan rumah milik Ibu nurhaida merasa heran. "Bu sepertinya Ibu memiliki tamu." ucap salah satu pembeli yang datang ke warung Milik ibu Nurhaida.


Terlihat ibu Nurhaida keluar dari warungnya untuk melihat Siapa yang datang seperti apa yang diucapkan oleh pembelinya, dan ternyata Arif yang keluar bersama kedua orang tuanya.


Setelah selesai melayani para pembeli, ibu Nurhaida keluar dari warung. Sementara Pak Roberto masih setia duduk di meja kasir. "Eh nak Arif, Ada apa sore begini berkunjung ke rumah? dan dokter Iskandar ada juga di sini." ucap Ibu Nurhaida sambil memberi salam kepada Arif dan juga kedua orang tuanya

__ADS_1


Ibu Nurhaida memanggil suaminya agar memberi salam kepada Arif dan kedua orang tua Arif. "Oh ya Bu, Anisa ada dimana?" tanya Arif yang tidak sabaran ingin bertemu dengan kekasih hatinya.


" Anisa ada di rumah, baru sekitar 30 menit yang lalu sudah tiba di rumah membawa barang belanjaan yang Ibu pesan sebelumnya." sahut Ibu Nurhaida sambil mengembangkan senyumnya.


"Alhamdulillah, ternyata Anisa sudah sampai di rumah." gumam Arif yang sudah dari tadi mengkhawatirkan Anisa . lebih baik kita langsung masuk saja." ujar Ibu nurhaida mempersilahkan Arif dan kedua orang tuanya masuk.


ketika mereka sudah ada di rumah, mereka sama sekali tidak melihat sosok Anisa di sana. Ibu nurhaida berlalu ke dapur untuk menghidangkan kopi dan juga beberapa makanan ringan yang dapat mereka santap dan minum siang itu.


Sementara Anisa yang masih terlelap tidurnya ia tidak menyadari kedatangan Arif dan kedua orang tuanya.


"Anisa.... Anisa.. Panggil ibu Nurhaida. tetapi tak kunjung mendapat jawaban itu artinya Anisa masih tertidur pulas.


"Kemana Anisa? kok dipanggil tidak dengar." gumam Ibu Nurhaida di dalam hati. Nak Arif, bisa minta tolong tidak? lihatin Anisa di kamarnya, Soalnya Ibu Panggil nggak dengar Mungkin dia lagi dengar musik dengan menggunakan headset nya. Kebiasaan banget anak gadis Ibu sambil mengerjakan sesuatu menggunakan headset di telinganya." ucap ibu Nurhaida kepada Arif agar Arif bersedia melihat Anisa ke kamar.


Ketika Arif sudah berada di kamar yang selama ini ditempati oleh Anisa, Arif menggelengkan kepalanya. Ternyata wanita kesayangannya sedang tertidur pulas dan ponselnya mati dan di charger.


" pantas saja aku hubungin tidak masuk hanya canting satu abu-abu. ternyata ponsel dia lowbat dan orangnya juga tertidur pulas." gumam Arif di dalam hati sambil menatap wajah polos wanita yang mampu memporak-porandakan hatinya. Ia benar-benar begitu bahagia melihat tidur Anisa tampak lepas dan puas.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓

__ADS_1


__ADS_2