PERAWAN 500 JUTA

PERAWAN 500 JUTA
BAB. 21


__ADS_3

Ibu nurhaida mempersilahkan Daniel dan Olivia menyicipi menu makanan yang ada di sana. Terlihat sambutan Ibu Nurhaida begitu membuat hati Daniel terunyah. "Mereka hidup sederhana bahkan terkadang kekurangan tetapi hidup mereka penuh dengan kebahagiaan. Tidak seperti hidupku bergelimang harta tetapi tidak pernah merasakan kasih sayang yang tulus."Daniel membatin.


Ibu nurhaida benar-benar menyambut Daniel dengan penuh kasih." Nak Daniel silahkan dimakan. Hanya ini yang dapat kami hidangkan disini. Maklum makanan yang biasa kami makan hanya makanan lokal. Tidak seperti Tuan yang selalu memakan makanan luar. Mungkin di lidah Tuan tidak cocok dengan makanan lokal. Tetapi tidak salah mencoba Siapa tahu suka.


Ibu akan senang sekali bila Tuan Daniel Sudi memakan masakan ibu. Anggap saja Ibu seperti Ibu kandungmu. Jika Tuan Daniel mau. Jujur dari dulu, Ibu juga menginginkan anak seorang laki-laki. Tetapi Tuhan menghadirkan Dua Putri di pernikahan kami. kedua Putri yang Ibu sangat sayangi. Jika Tuan Daniel berkenan, izinkan Ibu memanggilmu anak." ucap ibu Nurhaida dengan tulus hati.


Daniel mengembangkan senyumnya menatap ibu Nurhaida dengan seksama. Kehidupan bergelimang harta bukanlah menjadi pedoman seseorang itu hidup bahagia. Tetapi hidup sederhana juga dapat bahagia jika saling memperhatikan dan saling mengerti antara satu dengan yang lain.


"Terima kasih Bu, Ibu sudah menganggap saya seperti Putra ibu." ucap Daniel sambil langsung menyantap makanan yang ada di hadapannya, setelah Olivia menyuguhkannya kepada Daniel. Daniel mulai mencicipi makanan itu. Indra perasanya merasakan sesuatu yang begitu mengunggah seleranya. hingga dengan secepat kilat, Daniel menghabiskan makanan yang ada di dalam piringnya.


"Silakan ditambah nak Daniel, nanti kalau mau pulang, boleh Kalian bawa juga untuk bekal besok pagi. Ibu sudah sediakan di rantang. Besok pagi tinggal memanaskannya."ujar Ibu Nurhaida sambil mengembangkan senyumnya menatap Daniel dengan tatapan penuh arti.


"Kalau makan enak seperti ini terus pasti Daniel akan gemuk Bu."ucap Daniel sembari mengembangkan senyumnya.


"Kalau nak Daniel tidak keberatan, sesekali ibu akan kirimkan ke kantor untuk makan siang kalian. Ibu dengan senang hati memasak untuk Daniel dan Olivia. Karena Ibu benar-benar sudah menganggap nak Daniel seperti Putra kandung ibu."


Olivia menatap ibu nurhaida dan Daniel secara bergantian."Ya Allah, Bu sebentar lagi Olivia sudah tidak tinggal di sana lagi. Kita akan kembali bersama, dan jika Allah mengizinkan Olivia mendapatkan pekerjaan lain, Olivia tidak akan bekerja di sana lagi."Olivia membatin sambil memperhatikan Anisa yang sudah menghabiskan menu makan malam, hari itu.

__ADS_1


"Kamu Kenapa diam saja Olivia?"Apa kamu sedang memikirkan sesuatu? pertanyaan dilontarkan Ibu Nurhaida setelah memperhatikan Olivia menjadi agak pendiam. Ketika adanya Daniel di sana. Tidak ada canda dan tawa. Biasanya kalau berdua dengan Anisa dia selalu membuat suasana semakin menghangat. Tetapi untuk kali ini Olivia irit bicara. seolah dirinya tidak ingin mengeluarkan kata-kata.


Olivia hanya menggelengkan kepalanya, lalu kembali menyantap menu makan malamnya. Hari itu suasana begitu menyenangkan buat ibu Nurhaida dan juga Anisa. Karena kehadiran Olivia dan Daniel di sana. Mereka sama sekali tidak mengetahui apa yang dialami Olivia selama ini.


Anisa mendapat pengobatan eksklusif dari rumah sakit dan keluarganya juga mendapatkan rumah yang layak, itu karena pengorbanan besar Olivia. Olivia tidak ingin membebani orang tuanya, ketika mengetahui apa yang terjadi kepada Olivia. Sehingga ia lebih memilih untuk menutup rapat-rapat rahasia itu.


Setelah selesai makan, dan berbicara panjang lebar, kini saatnya Olivia dan Daniel pamit undur diri dari rumah Ibu Nurhaida.


"Ibu, ini sudah pukul 21.00 malam, kami harus segera pulang. Karena ada pekerjaan di kantor yang harus segera kami persiapkan besok pagi."ucap Olivia agar ibu Nurhaida tidak terlalu curiga kepada mereka.


"Ya sudah kalau begitu Jangan lupa bawa rantangnya. Besok tinggal kamu panasin dan nikmati sarapan pagimu."ujar Ibu Nurhaida sembari menenteng rantang dan memberikan rantang itu kepada Olivia. Ibu nurhaida memeluk Olivia serasa dirinya berat untuk berpisah dengan Putri kesayangannya itu.


"Maaf Kak, untuk hari ini Olivia belum bisa menginap di sini. Mungkin beberapa hari lagi Olivia akan kembali menginap di sini setelah pekerjaan menumpuk di kantor Telah usai."ucap Olivia sambil memeluk kakaknya Anisa.


Anisa pun kembali membalas pelukan adiknya. Adik yang selalu berkorban untuknya, seharusnya Anisa lah yang menjadi pengganti ayahnya untuk mencari nafkah di keluarga mereka. Karena dia merupakan Kakak tertua. Tetapi karena sakit penyakit yang dialaminya, membuat Olivia yang memasang badan untuk mencari nafkah kepada keluarganya.


Daniel berpamitan kepada ibu nurhaida.

__ADS_1


"Terima kasih Bu, atas hidangannya. Jujur Daniel sangat menyukai masakan ibu." ucap Daniel jujur sambil mengembangkan senyumnya. Setelah berpamitan kepada ibu Nurhaida dan juga Anisa, Olivia dan Daniel berlalu dari sana.


Kini Olivia sudah berada di dalam mobil mewah milik Daniel. Sang sopir yang sedari tadi dengan setia menunggu di sana pun sudah bersiap untuk melajukan mobilnya.


"Maaf tuan kita ke mana?"tanya sang sopir dengan hati-hati. "Langsung saja ke apartemen. Aku ingin istirahat setelah perutku kekenyangan seperti ini. Jika aku makan lahap seperti ini setiap hari bisa-bisa aku gendut."Celetuk Daniel yang mampu membuat sang sopir langsung tertawa ngakak.


Tetapi sang sopir langsung menutup mulutnya ketika Daniel menatapnya dengan tatapan tajam. Seolah Daniel ingin menerkam sang sopir. Semetara Olivia hanya diam saja dan memilih mengalihkan pandangannya ke arah bahu jalan dari kaca mobil.


Setelah melakukan perjalanan kurang lebih 45 menit, kini Daniel dan Olivia tiba di apartemen. Olivia turun dari mobil itu, tanpa menunggu Daniel membukakan pintu untuknya. Kebiasaan mandiri Olivia, itu membuat dirinya menjadi tidak biasa dilayani seseorang.


"Maaf non, Seharusnya saya yang membukakan pintu." ucap sang sopir kepada Olivia.


"Saya bukan nona kamu. lebih baik kamu memanggil saya Olivia saja. Kita sama-sama sama-sama jongos di sini."ucap Olivia sambil nyengir yang dapat membuat Daniel langsung menatapnya dengan tatapan tajam. Tetapi Olivia seolah tidak peduli ia memilih terus berjalan masuk ke dalam apartemen dengan membawa rantang yang ada di tangannya.


Setelah berada di apartemen. Olivia langsung memasukkan makanan yang mereka bawa ke dalam kulkas. Berharap besok pagi Olivia dapat menyantapnya untuk sarapan pagi. Olivia langsung berlalu ke kamar mandi berniat untuk membersihkan diri." Sabar Olivia tinggal dua hari lagi. Kamu tinggal di apartemen mewah ini. Semuanya akan berlalu dan kembali seperti semula Olivia membatin. Batin Olivia sejujurnya menolak Apa yang dilakukan selama ini bersama Daniel. Tetapi apa mau dikata itu sudah menjadi jalan hidup Olivia.


Bersambung....

__ADS_1


hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE COMMENT VOTE DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓🙏🙏


__ADS_2