PERAWAN 500 JUTA

PERAWAN 500 JUTA
BAB. 165 SALING MELEPAS RINDU


__ADS_3

Dokter Iskandar memohon kepada Anisa. untuk menjenguk Arif yang sedang berada di ruang rawat inap VVIP. Tetapi Anisa merasa berat masuk ke dalam. Karena ia mengetahui nyonya Anjani berada di sana. Maaf dokter Iskandar. Saya ke sini hanya untuk bertemu dengan sahabat saya, yang kebetulan dirawat di rumah sakit ini juga." ucap Anisa tentunya Anisa berbohong.


"Jika kamu ingin menjenguk sahabat kamu, tidak ada salahnya juga kamu mampir ke ruang rawat inap Arif. Karena Arif hanya memanggil namamu di bawah alam sadarnya. Tolong bantu kami untuk dapat menyembuhkan Arif." ucap dokter Iskandar kepada Anisa.


"Bagaimana mungkin dokter Iskandar memintaku datang agar menyembuhkan mas Arif. saya bukan seorang dokter. Saya hanya wanita biasa tidak tahu mengenai kesehatan. Yang dokter itu ada dokter Iskandar." ucap Anisa kepada dokter Iskandar.


"Saya tahu kamu bukan seorang dokter. tetapi aku rasa dengan kehadiranmu, Arif akan semakin memiliki semangat untuk pulih kembali ." ucap dokter Iskandar memohon kepada Anisa agar bersedia masuk ke ruang rawat inap yang ditempati oleh Arif.


Nyonya Anjani mendengar suaminya berbicara dengan seseorang di luar ruang rawat inap Arif, Ia pun berniat untuk mencari tahu siapa lawan bicara dokter Iskandar. Melihat Nyonya Anjani keluar dari ruang rawat Inap tarif, Anisa membalikkan tubuhnya dan ingin langsung meninggalkan dokter Iskandar dan nyonya Anjani di sana.


Ketika Anisa melangkahkan kaki meninggalkan dokter Iskandar disana, dokter Iskandar lagi-lagi menarik tangan Anisa. Anisa terpaksa menggantikan langkahnya ketika tangan dokter Iskandar meraih tangannya. "Jangan pergi Arif membutuhkanmu." ucap dokter Iskandar kepada Anisa membuat Anisa pun terpaksa membalikkan tubuhnya.


Sekali lagi saya minta maaf dokter Iskandar. Saya tidak pantas berada di ruangan itu." sahut Anisa sambil mengembangkan senyumnya menatap dokter Iskandar dengan Tatapan yang sulit diartikan. dokter Iskandar mengetahui di balik senyuman Anisa masih ada rasa sakit hati terhadap istrinya.


Sementara nyonya Anjani hanya terdiam melihat dokter Iskandar memohon kepada Anisa. Agar bersedia melihat putranya. Nyonya Anjani juga merasa tidak tega melihat putranya. Di bawah alam sadarnya saja, ia memanggil-manggil nama Anisa. itu artinya Arif benar-benar sangat sayang dan cinta kepada Anisa


Nyonya Anjani menyadari kalau kehendaknya tidak dapat dipaksakan, sehingga ia pun tidak ingin memaksakan kehendaknya lagi kepada putranya. jika memang Anisa merupakan jodoh putranya Arif, maka Nyonya Anjani tidak akan melarangnya lagi.


Nyonya Anjani meninggalkan dokter Iskandar dan Anisa berbicara. Ia ingin membiarkan Anisa masuk melihat putranya. Nyonya Anjani berlalu dari ruang rawat inap Arif. Ia ingin membiarkan Anisa masuk ke ruang rawat Ina putranya.


"Sepertinya istri saya sudah pergi. jadi tidak apa-apa kalau kamu masuk. dia tidak akan mengoceh." ujar dokter Iskandar karena melihat Nyonya Anjani pergi ke kantin rumah sakit. Padahal sebenarnya Nyonya Anjani sengaja pergi untuk memberikan kesempatan kepada Anisa berbicara kepada Arif.


Akhirnya Anisa bersedia masuk ke ruang rawat inap yang ditempati oleh Arif. dan dokter Iskandar pun membiarkan Arif dan Anisa di ruangan itu tanpa ada niat untuk mengganggu keduanya.

__ADS_1


Air bening mengalir begitu saja di wajah cantik Anisa. Melihat lelaki yang sangat ia cintai berbaring lemah di atas branker yang disediakan oleh pihak rumah sakit.


"Mas ini Anisa, Apa kau mendengar Anisa?


"Apa yang Mas lakukan sehingga Mas harus berbaring di sini? Jangan pernah menyakiti dirimu sendiri Mas. Aku tidak ingin terjadi sesuatu kepada kasih. Karena Anisa sangat mencintaimu." ucap Anisa sambil menggenggam tangan Arif dan memberikan kecupan hangat di kening Arif


"Bangunlah sayang, Jangan membuat Anisa khawatir. Apa kau tahu ketika Daniel memberitahumu berada di rumah sakit, pikiran Anisa sangat kacau tidak konsentrasi sama sekali. Tetapi Anisa tidak dapat berbuat apa-apa, takut kalau Anisa masuk ke ruangan ini, Tante Anjani akan merasa besar kepada Anisa." ucapan Anisa sambil terus mengusap wajah pucat Arif.


Tolong jangan hukum Anisa dengan mas berbaring di sini. Melihat Mas berbaring di sini, rasanya Anisa semakin merasa bersalah. tubuh Anisa terasa lemah." ucap Anisa sembari memberikan kecupan hangat di punggung tangan Arif.


Merasa ada yang menggenggam jemari tangannya, Arif memaksakan diri untuk membuka kelopak matanya, walaupun rasanya terasa berat. Sulit untuk melakukannya, tetapi karena ia sangat penasaran, ia akhirnya dapat membuka kedua kelopak matanya. Hingga netranya menelisik seisi ruangan, dan menakup wajah cantik Anisa sedang duduk menangis sesungguhkan.


"Sayang kamu di sini? tanya Arif yang baru membuka kedua kelopak matanya membuat Anisa terhenyak mendengar suara lelaki memanggil dirinya. "Mas sudah bangun?


"Jangan pernah meninggalkanku lagi. mas tidak akan bisa hidup tanpa adanya kamu di samping Mas" ucap Arif memohon kepada Anisa agar tidak meninggalkan dirinya. Karena Arif benar-benar sayang dan mencintai Anisa dari dalam hatinya yang paling dalam.


Anisa tidak menjawab ia hanya mengembangkan senyumnya menatap Arif dengan tatapan penuh cinta. Jangan berpikir yang aneh-aneh dulu sekarang pikirkan kondisi kesehatan Mas supaya Mas cepat apa mas tidak ingin bekerja dan melakukan aktivitas seperti biasanya tanya Arisa kepada Arif .


Tanpa mereka sadari Nyonya Anjani dan dokter Iskandar Mendengar pembicaraan keduanya yang saling mengungkapkan isi hati mereka masing-masing. Kamu lihat mereka benar-benar pasangan yang serasi sama-sama saling menyayangi dan mencintai.


Melihat Arif begitu membutuhkan Anisa. Di saat Anisa masuk ke ruang rawat inap. Sekarang Arif sudah sadar dan bisa berbicara kepada Arif." ucap dokter Iskandar kepada Nyonya Anjani yang mampu membuat Nyonya Anjani merasa bersalah. Karena ia menganggap Anisa tidak layak menjadi pendamping hidup Arif dan menjadi menantu seorang dokter Iskandar dokter handal di kota ini.


Jam sudah menunjukkan pukul 05.00 sore Anisa ingin bergegas pulang ke rumah. Tetapi Arif memohon kepada Anisa untuk tetap berada di rumah sakit menemani dirinya. "Jangan pergi, temani aku di rumah sakit. aku tidak akan betah disini tanpa adanya kamu sayang." ucap Arif kepada Anisa memohon kepada Anisa untuk tetap stay di ruang rawat inap yang ditempati oleh Arif

__ADS_1


Tiba-tiba nyonya Anjani masuk ke ruang rawat Ina Arif. " loh kamu sudah sadar sayang? tanya Nyonya Anjani pura-pura tidak mengetahui kalau putranya sudah sadarkan diri. padahal putranya sudah sadar dan berbincang-bincang kepada Anisa.


Arif hanya tersenyum. Senyum yang dipaksakan karena dirinya masih kesal kepada Nyonya Anjani, agar tidak menunjukkan rasa cinta kepada Nyonya Anjani. Karena bagaimana Nyonya Anjani merupakan ibu kandung Arif.


Melihat kehadiran Nyonya Anjani disana, Anisa berniat untuk segera meninggalkan ruang rawat Inap yang ditempati oleh Arif. Tetapi sebelum Anisa melangkahkan kaki keluar dari ruang rawat inap yang ditempati oleh Arif, Arif langsung berusaha menarik tangan Anisa. Agar Anisa tidak pergi meninggalkan dirinya lagi.


"Sayang jangan pergi. Kalau kamu pergi lebih baik Mas mati saja." teriak Arif sambil ingin melepaskan jarum infus dari punggung tangan nya. Membuat Anisa langsung menghentikan langkahnya dan membalikan tubuhnya.


"Mas jangan gila dan bertindak bodoh. Anisa tidak akan mengampuni Mas Kalau Mas masih bertindak bodoh." teriak Anisa sambil menatap Arif dengan tatapan yang sulit diartikan.


Mas tidak akan peduli, Jika kamu melangkahkan kaki keluar dari ruangan ini, Maka Mas akan .... Arif tidak melanjutkan kata-katanya. Karena Anisa langsung menutup mulut Arif dengan telapak tangannya. Agar Arif tidak berbicara lagi.


"Hentikan omong kosong mu ini mas jangan bodoh! dari awal Anisa bilang jangan pernah bertindak bodoh." ucap Anisa kepada Arif


"Biarin saja aku tampak bodoh di hadapan kamu. Bodoh karena mencintaimu." ucap Arif sambil mengembangkan senyumnya dan meraih tubuh Anisa.


"Jangan pernah pergi dariku." ucap Arif sambil menghujani wajah Anisa kecupan demi kecupan. Nyonya Anjani hanya diam menatap Anisa dan Arif secara bergantian lalu mengembangkan senyumnya membiarkan mereka sedang melepas rindu.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓

__ADS_1


__ADS_2