
"Putra papi yang tampan, baik baik sama mami ya, jangan nakal seperti Papi. Jangan buat mami kerepotan." ucap Daniel kepada putranya yang sedang ia timang. Sementara Olivia pura pura tidak mendengar apa yang dikatakannya Daniel kepada putranya.
Tiba Tiba nyonya Eliana masuk dengan membawakan dua cangkir kopi hangat untuk Daniel dan Olivia. Karna Nyonya Eliana berharap malam ini, Olivia mengijinkan Daniel menemani Olivia untuk merawat baby Arya Vito.
"Apa cucu Ku belum tidur?"
"Belum mom!" sahut Daniel singkat.
"Wah, padahal biasanya cucuku sudah tidur kalau sudah pukul sembilan malam. Ini kenapa tidak? wah sepertinya Cucu ku, ingin sekali berlama lama di timang papinya." ucap nyonya Eliana sambil mengebangkan senyumnya.
"Ini sudah pukul sembilan malam. Seperti yang dikatakan Nyonya, lebih baik Kamu pulang. Nanti terlalu larut." ucap Olivia dengan ketus sambil terus membenahi pakaian pakaian Baby Arya vito.
Padahal Daniel sudah sengaja mendatangkan dua orang Baby sister untuk membantu Olivia menjaga Baby Arya Vito. Tetapi entah mengapa,Olivia merasa lebih nyaman jika dirinya sendiri yang merawat putranya. Bukan Baby sitter atau yang lain.
Daniel menghela nafas berat. Berat rasanya meninggalkan darah dagingnya, sekalipun itu ditangan ibu kandungnya sendiri. Karena Daniel berharap Olivia mengizinkannya menginap di sana. Tetapi sepertinya Daniel harus lebih bekerja keras lagi untuk menaklukkan hati Olivia.
Daniel membaringkan tubuh putranya di atas tempat tidur. lalu ia berpamitan kepada Olivia dan nyonya Eliana untuk segera kembali ke rumah yang selama ini ditempatinya. Nyonya Eliana tidak dapat berbuat banyak. Karena sebelumnya Nyonya Eliana sudah berjanji kalau Daniel tidak akan pernah menginap di sana. Sehingga Olivia bersedia tinggal di rumah utama Nyonya Eliana.
Ketika Daniel melangkah keluar dari kamar yang ditempati oleh Arya Vito selama berada di rumah utama Nyonya Eliana, cerita tangis Arya Vito menggema. Membuat Daniel tidak tega untuk meninggalkannya. langkah Daniel terhenti ketika mendengar suara jeritan tangis putranya.
Olivia meraih Arya Vito. berharap putranya terdiam dari tangisnya. Bukan malah diam, justru suara tangis Arya Vito semakin histeris, Membuat Olivia sedikit kewalahan. Olivia memberikannya ASI nya untuk Baby Arya vito. Tetapi Arya Vito tak kunjung berhenti menangis.
Nyonya Eliana meraih tubuh Sang cucu dari pangkuan Olivia tetapi Arya Vito tak kunjung diam. "Kenapa sayang?
"Kamu masih merindukan tapi ya? ucap Nyonya Eliana kepada Arya Vito. Tapi Arya Vito tak kunjung diam.
"Olivia sayang, cobalah menerima keadaan. sepertinya Putra kamu masih menginginkan Daniel bersamanya. Kamu tidak kasihan melihat Putra kamu menangis terus seperti ini? tanya Nyonya Eliana kepada Olivia. Olivia hanya terdiam ia menata putranya dengan jeritan tangis yang cukup hebat.
__ADS_1
Membuat Olivia merasa tidak tega melihat putranya yang terus menangis. Olivia menatap Nyonya Eliana dengan Tatapan yang sulit diartikan. Sulit bagiku menerima keadaan sekarang nyonya. Karena tidak mudah bagiku menjalani hari-hariku dengan kebohongan ini."sahut Olivia
"Mami tahu itu Sayang, Mami sangat mengetahuinya karena mau juga seorang wanita yang disakiti seorang suami. Tetapi setidaknya demi Putra kamu kamu harus menurunkan egomu."mohon Nyonya Eliana kepada Olivia.
Olivia terdiam lalu ia pergi keluar mencari keberadaan Daniel yang sudah keluar dan menghidupkan mesin mobil miliknya.
"Kamu tega membiarkan Putra kamu menjerit-jerit menangis? teriak Olivia ketika Daniel sudah menghidupkan mesin mobil mewah milik.
Daniel kembali mematikan mesin mobil miliknya lalu keluar dari sana menghampiri Olivia.
"Ada apa sayang?
"Jangan banyak tanya. Apa Kamu tuli?
"Kamu tidak mendengar Putra kamu menjerit-jerit menangis karena kamu tinggalkan?
"Sudah! tidak perlu banyak ngomong, Nyonya Eliana memanggilmu." ucap Olivia sembari langsung meninggalkan Daniel begitu saja. Daniel mengembangkan senyumnya. Ia merasa berhasil, lebih dekat dengan putranya karena Ia merasa putranya dapat membuat dirinya lebih dekat kepada Olivia.
"Putraku pintar sekali, dia pasti menginginkan Kami bersama. Aku yakin dan percaya melalui Putraku hati Olivia akan luluh kepadaku." Daniel bermonolog sendiri sambil berjalan mengikuti Olivia masuk kekamar yang ditempati putranya.
Daniel mendengar suara jeritan tangis putranya. Nyonya Eliana melihat Daniel kembali ke kamar ketika Olivia sudah masuk kembali. Daniel langsung meraih Arya Vito kepelukannya. "Siapa sayang?
"Ini papi sayang,papi sayang Sama Arya Vito.Tapi papi tidak dapat berbuat banyak sayang karena Mami kamu tidak menginginkan kehadiran tapi di sini."ucap Daniel seolah-olah menghasut putranya.
Olivia menatap Daniel dengan tatapan tajam. tetapi karena melihat putranya terdiam diperlukan Daniel membuat Olivia tidak dapat menolak Daniel menginap disana. Ia berusaha menurunkan egonya, demi Putra yang sangat ia sayangi.
Berbicaralah dengan Olivia Mami tidak ingin ikut campur urusan pribadi kalian. ucap Nyonya Eliana tepat di telinga Daniel. Tidak membutuhkan waktu lama, Arya Vito tertidur pulas Di pangkuan Daniel. Sementara Olivia memilih untuk membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur yang sama dengan Arya Vito.
__ADS_1
"Lebih baik, baringkan saja putra Mu. Nanti tubuhmu pegal. Dan besok kamu tidak bisa masuk kantor. Kalau kamu sakit, siapa yang akan menafkahi Baby Arya, sedangkan Olivia belum di Ijinkan dokter bekerja." ucap Oli Olivia kepada Daniel dengan Ketus.
Daniel mengebangkan senyumnya. Hatinya menghangat mendapat perhatian yang tulus dari Olivia, sekalipun Olivia mengucapkannya dengan ketus. Tapi Daniel tau itu perhatian tulus dari Olivia.
"Kamu tenang saja, tidak bekerja puluhan tahun saja, aku masih bisa menafkahi Kalian. Hartaku tidak habis tujuh turunan.Jadi kamu jangan Kwatir, putraku tidak dapat aku nafkahi. " ucap Daniel.
"Jiwa angkuh Mu itu tidak akan pernah berubah." sahut Olivia sambil berpura-pura memejamkan matanya.
"Ya memang kenyataannya seperti itu sayang."
"Sudah deh tidak perlu banyak bicara. lebih baik kamu tidur." ucap Olivia ketika melihat putranya sisa dibaringkan Daniel disamping Olivia.
Daniel membayangkan, betapa bahagianya dirinya dapat tidur bertiga dengan Olivia dan Arya Vito di atas ranjang yang sama, jika Olivia sudah sah menjadi isterinya.
Daniel membaringkan tubuhnya diatas sofa. Tidak menunggu lama Daniel langsung tertidur pulas diatas sofa.
Olivia yang tadinya berpura pura tertidur pulas, langsung bangkit dari pembaringannya. Ia melihat Daniel sudah tampak kedinginan tertidur diatas sofa tanpa menggunakan selimut. Olivia merasa kasihan. Ia mengambil selimut yang ada di dalam lemari dan menyelimuti Daniel.
Dia tidak pernah tidur di tempat sempit seperti ini. Pasti dia tidak nyaman." gumam Olivia
"Maaf aku belum bisa berdamai dengan keadaan sekarang ini. " ucap Olivia sambil memperhatikan wajah polos Daniel.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏🙏🙏🙏🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏🙏🙏🙏🙏
__ADS_1