PERAWAN 500 JUTA

PERAWAN 500 JUTA
BAB 83. MENGULANGI MASA LALU


__ADS_3

Herman membawa Amara masuk ke dalam apartemen mewah miliknya. Terlihat apartemen yang dimiliki Herman saat ini sangat mewah. Membuat Amara begitu takjub. Desain interior apartemen yang cukup luas membuat Amara merasa nyaman di sana.


"Bagaimana Apa kamu menyukainya? tanya Herman sambil memeluk Amara dari belakang. Amara terdiam lalu pergi ke sebuah balkon yang ada di sana. Berniat untuk memandang pemandangan indah ibukota.


Dari lantai 20 gedung pencakar langit itu, menjadi saksi kalau saat ini Amara kembali ke dekapan lelaki yang ada di masa lalunya. Entahlah Herman tulus ingin kembali kepadanya atau tidak. Yang pasti hanya Herman yang mengetahuinya.


Padahal jika diingat kesalahan Amara yang cukup Fatal terhadap lelaki ini, sungguh tidak mungkin lagi Herman berniat bersatu kepadanya. Masih misteri tetapi yang ada di pikiran Amara saat ini bagaimana supaya dirinya kembali dapat hidup enak seperti sebelumnya.


Sebenarnya Herman belum mengetahui apa yang terjadi di keluarga Amara.


"Sayang ngapain kamu di sini?" ucap Herman sambil langsung memeluk Amara dari belakang.


"Aku tidak ngapa-ngapain kok, hanya saja ingin menikmati pemandangan indahnya ibukota Jakarta." sahutnya sambil memulas senyumnya. Tetapi Herman tidak mengetahui apa yang ada di dalam hati amarah. Saat ini amara hanya ingin mendapatkan kenyamanan jika tinggal bersama Herman.


Karena Amara sudah tidak ingin lagi tinggal di sebuah kontrakan yang sangat kecil dan terasa tidak nyaman baginya. "Apakah kamu menyukai tinggal di sini sayang?" tanya Herman penuh selidik.


Amara menatap Herman dengan Tatapan yang sulit artikan. "Aku menyukai tinggal di sini." sahutnya sambil mengembangkan senyumnya. Senyuman yang mampu membuat hati Herman bagai mabuk kepayang.


Herman kembali langsung mengecup bibir manis wanita yang ada di masa lalunya. Aku ingin memulai dari awal lagi." ucap Herman berharap Amara bersedia kembali menjalin hubungan dengan Herman.


Amara tidak menjawab. Tetapi dengan dari raut wajah dan balasan kecupan dari Amara Herman sudah memahami apa maksud dari raut wajah Amara.

__ADS_1


" Herman langsung menggendong tubuh mungil Amara naik ke atas tempat tidur dan membaringkan tubuh Amara disana. ia ingin kembali mengulangi masa-masa dulu yang telah mereka lalui.


Terlihat Amara menikmatinya. Tak ada kemarahan di sana dan luapan emosi, yang ada, Amara semakin dimabuk asmara. Membuat Herman semakin melancarkan aksinya. Tangannya sudah mulai bergerilya di bagian gunung kembar Amara.


Amara merasakan sensasi yang sangat luar biasa. Hingga Ia pun langsung membalas kecupan demi kecupan yang dilakukan Herman terhadapnya. Ini bukan sesuatu yang baru bagi Amara dan Herman. Tetapi mereka sudah melakukan itu berulang kali, hingga di antara mereka tidak terasa kaku lagi.


Kamu semakin pintar sayang!" bisik Herman di telinga Amara. Amara yang sedang dimabuk asmara terus melakukan gerakan demi gerakan yang mampu membuat Herman merasakan sensasi yang sangat luar biasa. Hingga keduanya mencapai puncaknya.


" Terima kasih sayang!" ucap Herman sambil mengecup kening Amara. Amara hanya mengembangkan senyumnya, lalu berniat masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Herman menarik tangan Amara dan kembali memeluknya.


" lebih baik kita istirahat dulu, ujarnya kepada Amara agar Amara tidak langsung membersihkan diri, berharap benih yang ia tanam kembali tumbuh di dalam rahim Amara. Amara pun akhirnya langsung membaringkan tubuhnya di samping Herman. Entah karena faktor kelelahan Amara pun melupakan kekesalannya, lalu tertidur pulas mengarungi alam mimpinya. Tidak menunggu lama Herman pun menyusul Amara mengarungi alam mimpinya.


****


"loh Olivia!" kapan pulangnya? waduh ibu sudah kangen kali sama kamu. Kamu dari mana saja sih?" ucap Bu Narsih yang selalu sering bercanda gurau dengan Olivia. "Ia bu, Olivia baru pulang semalam. Jadi belum sempat untuk bertegur sapa kepada ibu." ucap Olivia sambil mengembangkan senyumnya.


"Jujur Selama ini Ibu sangat merindukanmu loh. Sudah lama juga kita tidak bercanda bareng." ucap Bu Narsih kepada Olivia. Olivia tertawa cengengesan jika dirinya mengingat kala Olivia selalu bercanda dengan Bu Narsih yang selalu menginginkan Olivia menjadi menantunya.


"Mau belanja apa Bu?" tanya ibu Nurhaida untuk mengalihkan perhatian Ibu Narsih. Ibu Narsih menepuk jidatnya. " Ya Allah aku sampai lupa kalau aku saat ini ingin membeli telur satu satu kilo,gara gara lihat calon mantu. Tolong berikan telur 1 kilo lalu berasnya 5 kilo, dilengkapi cabe bawang dan tomat." ucap Ibu Narsih kepada ibu Nurhaida.


Terlihat ibu nurhaida dengan sigap mengambil barang belanjaan ibu Narsih. sementara Olivia sudah berpamitan meninggalkan Narsih berniat untuk sarapan bersama Daniel

__ADS_1


"Mas kita sarapan yuk!" Kok dari tadi belum keluar dari kamar? tanya Olivia yang melihat Daniel masih saja berbaring di atas tempat tidur menemani putranya. Daniel memberi kode kepada Olivia agar tidak berisik. Karena Daniel tidak ingin mengganggu tidur putranya.


Pelan-pelan Daniel turun dari tempat tidur itu, lalu menghampiri Olivia berjalan masuk ke ruang makan. "Mas Ayo sarapan nanti makanan yang dimasak Ibu keburu dingin." ujar Olivia sambil menyendok nasi goreng yang dimasak oleh ibu Nurhaida.


Sedangkan Anisa sedang sibuk membantu ibu Nurhaida melayani para pelanggan yang berbelanja di warung sembako Milik ibu Nurhaida. Terlihat kalau pagi-pagi di warung Milik ibu Nurhaida ramai membuat Ibu Nurhaida dan Anisa lumayan sibuk.


"Syukurlah ternyata warung Ibu ramai. Itu artinya kebutuhan sehari-hari ibu dan kak Anisa dapat terpenuhi." ucap Olivia kepada Daniel. "Terima kasih Mas sudah memberikan modal kepada ibu. Jujur Olivia tidak mengetahui rencana kamu ini mas. Tetapi untuk itu Olivia tetap mengucapkan terima kasih kepada mas." ucap Olivia sambil menatap Daniel dengan tatapan penuh kasih sayang.


"Tidak perlu berterima kasih kepada Mas. Itu sudah menjadi kewajiban Mas memperhatikan, agar kehidupan Ibu dan kak Anisa tidak kekurangan suatu apapun. lebih baik persiapkan dirimu menjadi Nyonya Daniel Gladuks ucap Daniel kepada Olivia dengan nada menegaskan. Olivia hanya terkekeh mendengar apa yang dikatakan Daniel kepadanya.


"Wow nasi gorengnya enak sekali. Jujur Mas bisa nambah nih kalau begini." Puji Daniel sambil terus melahap nasi goreng buatan ibu Nurhaida. Kalau masalah masak memasak Ibu jagonya.


Olivia selalu menyukai masakan ibu. Apalagi jika Ibu memasak rendang dan kari kambing, Olivia Pasti makan akan tambah. Kamu tahu MasOlivia pernah sampai kesulitan untuk bergerak akibat terlalu banyak makan masakan ibu yang lezat dan gurih." ucap Olivia sambil mengingat dirinya memakan kari kambing masakan ibunya.


"Serius sayang? kamu tidak lagi bercanda kan?


"Tidak Mas, Olivia tidak bercanda sangking seleranya makan, tidak ingat kalau sudah tiga kali tambah." ucap Olivia sambil terkekeh


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏🙏🙏

__ADS_1


JANGAN LUPA, TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN, HADIAHNYA, YA TERIMAKASIH 🙏🙏🙏🙏🙏


__ADS_2