PERAWAN 500 JUTA

PERAWAN 500 JUTA
BAB 166. GELAGAPAN


__ADS_3

"Hentikan omong kosong mu ini mas jangan bodoh! dari awal Anisa bilang jangan pernah bertindak bodoh." ucap Anisa kepada Arif


"Biarin saja aku tampak bodoh di hadapan kamu. Bodoh karena mencintaimu." ucap Arif sambil mengembangkan senyumnya dan meraih tubuh Anisa.


"Jangan pernah pergi dariku." ucap Arif sambil menghujani wajah Anisa kecupan demi kecupan. Nyonya Anjani hanya diam menatap Anisa dan Arif secara bergantian lalu mengembangkan senyumnya membiarkan mereka sedang melepas rindu.


Nyonya Anjani memilih untuk membiarkan keduanya melepas rindu Di ruang rawat inap VVIP yang ada di rumah sakit. Tanpa ada niat untuk menegur keduanya. Ia pun keluar dari ruang rawat inap itu, ternyata dokter Iskandar pun awalnya ingin sekali masuk ke dalam ruang rawat inap itu.


Tetapi karena dokter Iskandar melihat kebahagiaan di wajah pucat putranya, Ia pun akhirnya memilih untuk menunggu di luar. yang ternyata Nyonya Anjani juga keluar dari ruang rawat inap itu dan menemui dokter Iskandar, untuk membicarakan masalah kesehatan Putra mereka.


"Makanya lain kali jangan terlalu keras kepala kepada anak kita. Kamu lihat sendiri kan, apa yang terjadi saat ini. Kamu senang sekali melihat Putra kamu menderita seperti ini." gerutu. dokter Iskandar yang mampu membuat Nyonya Anjani langsung terdiam.


Biarkan sajalah mereka di situ. Mami tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Jika memang mereka berjodoh, ya Mami hanya bisa merestuinya." ucap Nyonya Anjani mengalah demi kebahagiaan putranya.


"Kenapa kamu baru menyadarinya sesudah putramu mengalami seperti ini?" ucap Tuan dokter Iskandar kepada Nyonya Anjani. "Sudahlah mas namanya juga orang tua selalu menginginkan yang terbaik kepada putranya.


Memang benar kenyataannya kalau Anisa itu merupakan putri dari Pak Roberto, yang mantan narapidana. Tetapi kita juga tidak bisa menutup Mata, Kalau sifat orang tua itu tidak semuanya turun kepada anaknya. mudah-mudahan saja Anisa baik seperti Olivia menantunya Nyonya Eliana." ucap Nyonya Anjani kepada dokter Iskandar dibalas senyuman dari dokter Iskandar.


Salah satu petugas Rumah Sakit masuk ke ruang rawat inap Arif, membawa nampan berisikan menu makanan yang akan disantap oleh Arif yang disediakan oleh pihak rumah sakit.


"Selamat sore....., jam makan sudah tiba." ucap wanita yang bertugas menghantar menu makanan untuk setiap pasien yang ada di rumah sakit. Lalu meletakkan menu makanan ibu di atas nakas. Wanita itu pun meminta kepada Arif untuk segera menghabiskan menu makanan yang sudah disediakan.


Berharap dengan memakan makanan sudah disediakan oleh pihak rumah sakit, Arif akan cepat pulih kembali dan dapat beraktivitas seperti biasanya.

__ADS_1


Setelah memberikan menu makanan untuk Arif, wanita itu pun berlalu dari ruang rawat inap Arif.


Sementara Anisa meraih menu makanan yang ada di atas nakas. "Mas kamu harus makan. habis itu Mas minum obat agar Mas cepat pulih dan bisa beraktivitas seperti biasa. Apa Mas ingin berlama-lama dirawat di sini? tanya Anisa kepada Arif dibalas gelengan kepala dari tarif.


"Ya sudah, kalau mas tidak ingin lama-lama dirawat di sini, Lebih baik mas makan sekarang." ucapnya sambil menyodorkan memberi suapan kepada Arif berharap Arif menghabiskan menu makanan yang sudah disediakan oleh pihak rumah sakit.


"Terima kasih sudah datang melihat mas dan kamu begitu perhatian kepada mas." ucap Arif sambil mengembangkan Senyumya lalu mengunyah makanan yang telah disuap Anisa kepadanya. Sedikit demi sedikit makanan itu pun akhirnya ludes disantap oleh Arif.


Membuat Anisa pun mengembangkan senyumnya. "Anak yang pintar!" ucap Anisa membuat Arif tertawa ngakak. Kalau sudah begini, mas pasti akan cepat pulih kembali." ucap Anisa sambil langsung mengecup wajah tampan Arif. Membuat Arif pun merasa bahagia.


Kalau begini, mas ingin sekali tetap di sini mendapat perawatan dari kamu" ucap Arif sambil mengembangkan senyumnya menatap Anisa dengan Tatapan yang sulit diartikan.


"Apa-apaan sih Mas, walaupun mas tidak berada di rumah sakit dan bekerja di kantor untuk mencari nafkah kepada istri kamu, pasti istri kamu akan tetap merawat dan melayani kamu dengan tulus. Tidak perlu seperti itu." gerutu Anisa.


"Ngak


"Kok nggak sih? tadi ngomongnya istri, sekarang ngak yang bener yang mana sayang?" ucap Arif berniat untuk menjahili Anisa.


Membuat Anisa sedikit merasa malu. wajahnya sudah tampak merah merona. Anisa memalingkan wajahnya dari Arif.


"Sudah tidak perlu malu, kalau memang cinta katakan saja Cinta. Jangan disembunyikan dan dipendam sendiri. ucap Arif sambil meraih tubuh Anisa kepelukannya.


lalu memberikan kecupan hangat di bibir Anisa. Perlahan kecupan itu semakin mendalam, hingga lidah keduanya pun saling bertautan di sana. Hal itu membuat getaran yang cukup hebat di tubuh Anisa. Begitu juga dengan Arif. keduanya.sama-sama terbuai dalam keadaan.

__ADS_1


Mereka tidak menyadari kalau dokter Iskandar dan nyonya Anjani berada di luar. Ketika Tuan Iskandar berniat untuk masuk ke ruang rawat inap Arif, keduanya terhenyak dan gelagapan. Anisa tersadar, kemudian ia berusaha melepaskan pelukan dari Arif. Tetapi Arif berusaha untuk menahan walaupun dokter Iskandar ada di sana.


"Papi, apa-apaan sih. Masuk tanpa mengetuk pintu ganggu tahu! gerutu Arif yang merasa terganggu dengan kedatangan dokter Iskandar ke ruang rawat inap yang ia tempati selama dirawat di rumah sakit itu.


Dokter Iskandar langsung tertawa ngakak mendengar omelan putranya yang seolah tidak terima diganggu oleh dokter Iskandar. Padahal dokter Iskandar sengaja melakukan itu agar keduanya tidak lepas kendali.


Sementara Nyonya Anjani hanya tersenyum melihat suaminya mendapat omelan dari putranya. Sementara Anisa hanya tertunduk malu tidak mampu menatap dokter Iskandar dan nyonya Anjani di sana.


"Begini nak Anisa, sepertinya Papi dan Mami tidak bisa menemani Arif berjaga di rumah sakit. Untuk itu Papi meminta tolong sama kamu temani Arif malam ini. Siapa tahu Arif membutuhkan sesuatu itu pun kalau nak Anisa bersedia." ucap dokter Iskandar berharap Anisa bersedia menjaga Arif malam itu di rumah sakit.


Tampak Anisa seperti berpikir, lalu ia pun akhirnya menganggukkan kepalanya pertanda dirinya setuju Kalau Anisa bersedia menemani Arif di rumah sakit malam itu. Nyonya Anjani dan dokter Iskandar berpamitan untuk segera kembali ke rumah mengingat hari sudah hampir malam.


" Kalau begitu Papi dan Mami pamit dulu. ini sudah magrib." ucap dokter Iskandar kepada Arif lalu Nyonya Anjani pun berpamitan kepada Anisa dan Arif. "Anisa tolong jaga Putra Mami, jangan sakiti hatinya." ujar nyonya Anjani sambil mengembangkan senyumnya berjalan mengikuti dokter Iskandar. Keluar dari ruang rawat inap yang ditempati Arif selama ini.


" Yesss.....! berdua lagi deh dengan wanita dambaan hatiku." ucap Arif kegirangan karena ia merasa sangat bahagia. Sepertinya dokter Iskandar dan nyonya Anjani memberikan kesempatan kepada keduanya untuk lebih dekat


"Biasa aja dong mas, tidak perlu seperti anak kecil." gerutu Anisa sebari mengambil obat yang telah disediakan dokter sebelumnya karena kecupan yang mereka lakukan membuat keduanya melupakan kalau Arif belum memakan obat setelah makan sore.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓

__ADS_1


__ADS_2