
Sore harinya Vika bergegas pergi ke rumah orang tua Olivia. Untuk memberitahu kalau Olivia harus segera berangkat ke luar kota saat itu juga. Dan Vika meminta kepada ibu Nurhaida dan Annisa untuk mempersiapkan pakaian Olivia untuk ia gunakan di luar kota.
"Ibu, saya datang kemari untuk memberitahu kalau Olivia saat ini juga harus berangkat ke luar kota. Ia mendapat tugas dan tanggung jawab bertugas di sana." ucap Vika Setelah tiba di rumah kontrakan yang ditempati oleh ibu Nurhaida.
"loh tetapi Olivia tidak pernah mengatakan itu kepada saya." sahut Ibu Nurhaida merasa heran. Ibu hubungin saja nomor ponselnya pasti Olivia akan memberitahu. lalu ibu Nuraida pun melakukan sambungan telepon kepada Olivia.
Ketika sambungan telepon seluler itu sudah tersambung, kini Olivia sudah berpamitan kepada ibu Nurhaida dan Anisa. Kalau saat itu Olivia akan segera berangkat keluar kota.
"Ya sudah nak, kalau memang itu sudah tugas kamu dari Pak Daniel. Ibu mau bilang apa? yang penting kamu jaga diri di sana. Dan tetaplah meminta pertolongan kepada Tuhan andalkan Tuhan di setiap langkahmu." ujar ibu Nurhaida kepada Olivia.
"Terima kasih Bu. Nanti jika Olivia sudah pulang, aku akan merindukan masakan ibu." ucap Olivia di dalam sambungan telepon selulernya. Setelah selesai berbicara kepada ibu Nurhaida dan Annisa, Olivia mematikan sambungan telepon selulernya lalu ia pun menangis histeris di kamar kos milik Vika, karena ia kembali harus berbohong kepada ibu dan kakaknya.
Ibu nurhaida pun mempersiapkan pakaian ganti untuk Olivia. Ia berharap Olivia akan baik-baik saja di sana. Ibu Nurhaida sama sekali tidak mengetahui apa yang dihadapi Olivia saat ini. Lain halnya dengan Anisa. Ia merasa ada sesuatu yang mengganjal, sehingga adiknya harus pergi hari itu juga bertugas keluar kota.
Tetapi Anisa masih tetap diam saja. Diam-diam Anisa ingin mencari tahu yang sebenarnya. Karena Anisa untuk kali ini tidak percaya sepenuhnya apa yang dikatakan Vika kepada keluarga Olivia. Tetapi Anisa tetap membantu ibu Nurhaida untuk mempersiapkan pakaian Olivia.
"Bu saya pamit ya." ucap Vika setelah Ibu Nurhaida dan Anisa memberikan pakaian ganti untuk Olivia di dalam sebuah koper yang biasa digunakan Olivia jika bepergian.
"Iya nak!" Titip putri saya ya."ucap Ibu Nurhaida sambil melambaikan tangannya. dengan menggunakan ojek online yang sudah dipesan sebelumnya, Vika pun berlalu dari rumah orang tua Olivia.
Anisa merasa gelisah. Ibu sepertinya ada yang aneh dengan kepergian adikku Olivia. Tetapi Anisa tidak tahu apa itu. Yang pasti sepertinya ada yang disembunyikan Olivia dari kita." ucap Anisa kepada ibu Nurhaida.
"Kenapa kamu mengatakan seperti itu? bukankah Tuan Daniel begitu baik terhadapnya, sehingga jabatan Olivia cepat naik di kantor? apalagi Tuan Daniel sudah membiayai pengobatan kamu." ucap ibu Nurhaida yang mampu membuat Anisa langsung terdiam.
****
Olivia untuk saat ini tinggallah di sini aku sudah membawa baju gantimu. Dan sepertinya orang tuamu percaya apa yang aku katakan kepada mereka. Sekarang tinggal mencari alasan apa yang harus aku katakan nanti di kantor."ucap Vika sembari menatap sahabatnya yang terus-menerus menangis.
"Mengapa kamu hadir di saat yang tiba tepat.
__ADS_1
"Pasti ayah kamu tidak menginginkan kamu nak. Karena kamu ada di dalam rahim wanita kotor sepertiku. Dan ibu terlahir dari keluarga miskin.
Tapi Ibu akan menjaga kamu walaupun kehadiran kamu akibat dosa yang Ibu perbuat. tangis Olivia sembari mengelus perutnya yang masih rata.
Hari itu Olivia benar-benar kacau. Ia sangat bingung harus melakukan apa saat ini. Jika dia berdiam diri terus, dan tidak bekerja maka sisa uang simpanannya pasti akan habis begitu saja untuk kehidupannya sehari-hari.
"Ya Tuhan berilah aku petunjukmu. Apa yang harus aku lakukan saat ini? apakah ada ampunan untukku bagi wanita berdosa ini?" tangis Olivia menyesali akan apa yang terjadi di kehidupannya.
Vika berpamitan kepada Olivia. Ia berangkat ke kantor untuk melakukan tugasnya seperti biasa di kantor yang Daniel pimpin.
"Olive tidak apa-apa kan aku tinggal dulu di kosan?Nanti aku akan percepat pulang dari kantor, agar kamu tidak kesepian." ucap Vika sembari menatap sang sahabat dengan tatapan penuh arti.
Olivia menganggukkan kepalanya lalu Vika pun berangkat ke kantor dengan menggayuh sepeda yang biasa ia gunakan pergi ke kantor. Jam sudah menunjukkan pukul 07.30 pagi Vika sudah melakukan tugas dan tanggung jawabnya sebagai office girl di kantor yang Daniel pimpin.
Ketika Vika sudah tiba di kantor sang asisten datang menghampirinya." Dimana Olivia Sepertinya dia tidak datang? tanya sang asisten mencari keberadaan Olivia.
Sang asisten mengangguk paham. lalu ia meninggalkan Vika disana. Vika mengelus dada. Untung saja sang asisten percaya apa yang aku katakan." gumam Vika dalam hati sambil terus mengerjakan pekerjaannya.
Daniel menghubungi ke ruang kerja Olivia dan meminta Olivia agar segera menghampirinya. Tetapi yang menjawab sambungan telepon itu bukanlah Olivia. Melainkan rekan kerja Olivia yang kebetulan satu divisi dengannya."Olivia segera datang ke ruangan ku!" perintah Daniel. Entah mengapa pikiran Daniel akhir-akhir ini terus terpusat kepada Olivia.
"Maaf Pak, saya bukan Olivia Saya rekannya. Olivia tidak hadir saat ini. Karena menurut keterangan dari Vika ,Olivia saat ini sedang sakit dan butuh istirahat beberapa hari." ucap rekan Olivia di dalam sambungan telepon kepada Daniel. Daniel langsung mematikan sambungan telepon selulernya. Tanpa mengatakan sesuatu apapun ketika mendapat jawaban dari rekan Olivia.
Sakit apa dia? Daniel bertanya dalam hati. Loh kenapa aku jadi mengkhawatirkan wanita itu? memangnya siapa dia? Daniel bermonolog sendiri lalu ia kembali mengerjakan pekerjaannya.
****
Dua hari kemudian Olivia tak kunjung masuk kerja. Membuat Daniel bertanya-tanya dalam hati. Dari siapa kamu mengetahui kalau Olivia sedang sakit? pertanyaan itu langsung dilontarkan Daniel dengan wajah yang datar kepada rekan Olivia yang satu divisi dengannya."Maaf Pak saya mengetahuinya dari Vika karena Vika sendiri yang membawa Olivia pergi ke rumah sakit. sahut rekan Olivia membuat Daniel mengerutkan keningnya.
"Panggil Vika sekarang juga ke ruanganku."perintah Daniel sambil langsung meninggalkan rekan Olivia dan masuk ke ruangannya.
__ADS_1
"Vika Kamu dicari Tuan Daniel tuh. Sekarang juga Kamu pergi ke ruangannya.
Fika menganggukkan kepalanya lalu menghentikan pekerjaannya sejenak, berjalan menuju ruang kerja Daniel.
Tok
Took
Toook
"Masuk!" suara bariton terdengar jelas dari dalam ruangan kerja Daniel.
"Ceklek!
Suara pintu terbuka. lalu Vika masuk dengan berjalan pelan dan menundukkan kepalanya. "Maaf Tuan, apa Tuan memanggilku?
" Ya, to the point saja. Apa benar Olivia sedang sakit? tanya Daniel kepada Vika. Vika bingung menjawab apa.
Sejujurnya Vika ingin segera menggambar lelaki yang ada di hadapannya. lelaki yang sudah menghancurkan masa depan sahabatnya.
"Kamu bisa jawab atau tidak? Saya memanggil kamu datang ke sini,bukan untuk diam jika saya bertanya. Dimana Olivia saat ini?
"Maaf Tuan, Olivia sekarang sedang sakit dan dokter mengatakan butuh istirahat untuk beberapa hari."Akhirnya Vika mengeluarkan suaranya. Ingin sekali ia memberitahu apa yang terjadi kepada Olivia atas perbuatan Daniel sendiri. Tetapi dengan kesepakatan yang sudah Olivia dan Vika sehingga Vika pun mengurungkan niatnya untuk memberitahu kehamilan Olivia kepada Daniel.
Bersambung....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏🙏🙏🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏🙏🙏
__ADS_1