
"Lah Bu Nurhaida masih jualan juga? percuma dong memiliki menantu kaya raya , kalau tetap hidup seperti ini." ucap ibu Narsih yang tak henti-hentinya mengurusi kehidupan Ibu Nurhaida dan Juga Anisa Putri sulungnya.
"Iya nih ibu Nurhaida, apa menantu ibu Nurhaida Yang kaya raya itu, tidak memberikan fasilitas mewah kepada ibu? ih pelit bangat sih jadi menantu. Jangan jangan Olivia juga tersiksa disana seperti di sinetron sinetron yang ada di televisi. Kan sinetron yang di televisi itu, banyak yang kisah nyata! makanya di buat sinetron." Celetuk ibu yang satu lagi tetangga ibu Nurhaida, yang tidak kalah kepo dari Ibu Narsih
Banyak dari para tetangga ibu Nurhaida, Yang selalu ingin mengetahui kehidupan pribadi keluarga Ibu Nurhaida. Entah karna cemburu terhadap keluarga Ibu Nurhaida, Hanya mereka yang mengetahui.
"Ibu mau beli apa? tanya Anisa untuk mengalihkan pembicaraan kepada tetangga yang selalu kepo dengan kehidupan mereka.
"Eh neng Anisa!
"Kamu kapan nyusul Olivia menikah?
"Aturan kamu duluan yang menikah daripada Olivia. Apalagi kamu anak paling sulung. Eh tapi iya deh, Olivia menikah karna terpaksa. Orang Olivia sudah memiliki anak duluan baru menikah. "Amid amid deh memiliki anak perempuan seperti Olivia. Memiliki anak haram." ucap Ibu Narsih membuat emosi Anisa semakin memuncak.
"Bu kalau datang ke warung kami hanya untuk menggosip Lebih Baik Ibu pulang saja deh dari sini. kami hanya melayani para pembeli tidak melayani penggosip seperti ibu." ucap Anisa kepada Ibu Narsih yang selalu ingin membuat emosi Anisa memuncak.
"Sombong banget kamu Anisa. Belum juga kamu kaya sudah mengusir kami dari sini. Bisa nanti ke warung kamu ini menjadi sepi. tidak ada yang pembeli kalau sikap kamu seperti ini. Pembeli itu adalah raja."ucap Ibu Narsih kepada Anisa berniat untuk menggurui Anisa.
"Tidak perlu mengguruiku Siapa raja dan siapa yang patut dihargai. Orang tua seperti ibu yang suka mengatai dan membicarakan orang lain, itu manusia yang tidak pantas dihargai. Lebih Baik Ibu intropeksi diri sendiri daripada harus menilai orang lain.
"Jangan sok-sokan kamu ngomong seperti itu Anisa. Aku yakin tidak ada lelaki yang mau kepada kamu. kamu wanita penyakitan. mana mungkin ada lelaki yang mau menikah dengan kamu." ucap ibu Narsih yang mampu membuat emosi Anisa semakin memuncak.
Tetapi Ibu Nurhaida berusaha untuk menenangkan Anisa. Agar tidak memperkeruh suasana. Ia tahu ibu Narsih tidak akan tinggal diam, pasti akan selalu membuat Anisa emosi. Tiba-tiba suara klakson mobil terdengar jelas di telinga para ibu-ibu tetangga yang berbelanja di warung Milik ibu Nurhaida.
Permisi, Assalamualaikum Ibu sapa Arif yang baru turun dari mobil yang iya kendarai sendiri.
"loh nak Arif!" ucap ibu nurhaida terhenyak melihat kehadiran Arif di sana.
__ADS_1
"iya Bu apa kabar sambil memberi salam kepada ibu nurhaida. terlihat para tetangga yang masih berada di warung Milik ibu nurhaida menatap pria yang berparas tampan itu menghampiri ibu nurhaida.
"Silakan duduk nak Arif. Maaf Ibu harus melayani para pembeli dulu." ucap Ibu nurhaida kepada Arif merasa tidak enak hati harus membiarkan Arif duduk kursi rotan yang ada di teras rumah milik ibu nurhaida. Ibu Nurhaida Pun memberitahu kepada Anisa agar menemani Arif di sana. Anisa keluar dari warung milik mereka dan menghampiri Arif.
"Eh Ada Mas Arif. Ada angin apa Sehingga Mas Arif datang ke sini padahal ini kan hari weekend tanya Anisa penasaran. tidak tadi kebetulan lewat saja Jadi singgah dulu." sahut Arif beralasan. Padahal Arif sengaja datang ke rumah Ibu Nurhaida. Berharap dapat bertemu dengan Anisa.
"Sebentar ya Mas, Anisa buatin minum dulu." ucap Anisa sambil berlalu masuk ke dalam rumah. Anisa pun meminta Arif untuk duduk di ruang tamu saja. Karena ia tidak ingin menjadi bahan gosipan para tetangga lagi.
"Mas lebih baik Mas masuk deh, duduk di ruang tamu saja. Tidak enak seperti ini menyambut tamu duduk di teras." ujar Anisa sambil mengembangkan senyumnya. Arif menganggukkan kepalanya lalu langsung mengikuti Anisa masuk ke rumah. Anisa berlalu ke dapur meninggalkan Arif sendiri di ruang tamu.
Netra Arif langsung beralih ke sebuah figura yang ada di dinding rumah milik ibu nurhaida. Terlihat foto yang berada di kuburan itu ada ibu Nurhaida, Anisa, Olivia dan Pak Roberto. Tetapi Arif tidak pernah melihat sosok bakal bertemu. Bahkan saat pernikahan Olivia juga Pak Roberto tidak menghadirinya membuat Arif penasaran.
"Mungkin ini ayah kandung Olivia dan Anisa." gumam Arif sambil tetap memperhatikan foto yang ada di dalam pigura. Terlihat Anisa sudah datang dari dapur membawa 2 cangkir kopi bersama makanan ringan untuk disuguhkan kepada Arif.
"Silakan diminum Mas Arif. Maaf hanya ini yang ada di rumah kami." ucap Anisa sambil mengembangkan senyumnya.
"Kopinya benar-benar enak sesuai dengan seleraku.
"Mas Bisa saja memujinya. Nanti Anisa besar kepala loh " sahut Anisa sambil terkekeh.
"Memang benar kok. Rasa kopi buatan kamu enak. Aku menyukainya." sahut Arif dengan santai, sambil terus memperhatikan sosok Anisa yang ada di sana.
Sementara di warung Milik ibu Nurhaida bisik-bisik tetangga sudah kembali terdengar jelas oleh ibu nurhaida. Apalagi Ibu Narsih selalu berceloteh. "Dapat mangsa baru nih." ucap Ibu Narsih yang mampu membuat Ibu Nuraida menggelengkan kepalanya.
Sejujurnya Ibu nurhaida sudah sangat emosi mendengar celotehan Ibu Narsih. Tapi ia berusaha untuk sabar. Apalagi Nurhaida salah satu pemilik warung tempat para tetangga berbelanja sembako dan bahan pokok lainnya.
Ibu Almaira yang sedari tadi mendengar colotehan Ibu Narsih sudah merasa tidak tahan lagi untuk menjawab apa yang dikatakan oleh ibu Narsih.
__ADS_1
" Ibu Narsih selalu setia ngomongin kehidupan orang lain. Ibu pernah tidak intropeksi diri? lihat tuh anak ibu yang bertingkah urakan itu. Tak ada seorangpun yang peduli. Bukan saya tidak mengetahui aib Ibu Narsih dan juga aib Putra ibu yang urakan itu. Tetapi saya tidak pernah ingin ikut campur urusan pribadi orang lain seperti ibu Narsih.
"Emangnya saya ngomongin kamu? sepertinya sedari tadi saya tidak pernah mengucapkan nama kamu di sini." gerutu Ibu Narsih yang tidak suka dicampuri oleh ibu Almaira.
Iya memang Ibu tidak mengucapkan nama saya. Tetapi telinga saya panas dari tadi ibu berniat ingin memojokkan keluarga Ibu Nurhaida. Sebelum kita ngomongin orang lain Lebih baik kita intropeksi terlebih dahulu. Karena itu merupakan kebiasaan buruk di kehidupan kita sehari-hari. ujar Ibu Almaira yang mampu membuat Ibu Narsih langsung terdiam. Apalagi Ibu Almaira sangat mengetahui saat ini putra dari ibu Narsih terlibat jeratan hukum karena terlibat jaringan narkoba.
Membuat Ibu Narsih tidak dapat berkutik lagi. Ia memilih untuk langsung pergi meninggalkan warung Milik ibu Nurhaida. "Beneran Bu, putra dari ibu Narsih saat ini berada di penjara?" tanya salah satu tetangga ibu Nurhaida yang ikut berbelanja di sana.
" Ibu narsihkan teman dekat ibu, seharusnya ibu yang lebih mengetahui daripada saya. Kalau Ibu tidak percaya tanyakan saja kepada Ibu Narsih." ujar Ibu Almaira sambil langsung menghampiri Ibu Nurhaida untuk menghitung barang belanjaannya.
Beberapa ibu-ibu tetangga, ibu nurhaida. Satu persatu meninggalkan warung Milik ibu Nurhaida. Setelah Ibu Nurhaida menghitung barang belanjaan mereka. Ibu nurhaida, ibu tidak perlu memikirkan kata-kata mereka. Yang penting sekarang, Putri Ibu Olivia dan Anisa baik-baik saja dan hidup bahagia.
"Aku yakin Olivia bahagia bersama suaminya. terlihat jelas saat pesta pernikahan itu, Daniel suami Olivia sangat mencintainya." ucap Ibu Almaira yang ikut hadir menghadiri pesta pernikahan Daniel dan Olivia.
" Terima kasih Ibu Almaira, Ibu memang wanita yang bijaksana dan luar biasa. Kalau tidak ada ibu, mungkin Ibu Narsih tidak akan diam sedari tadi." ucap ibu Nurhaida berterima kasih kepada Ibu Almaira.
Dama-sama Bu, memang kalau ibu Narsih harus di gitukan. Kalau tidak, dia akan sesuka hati berbicara kepada kita." ucap Ibu Almaira Sambil tertawa cengengesan membayangkan raut wajah Ibu Narsih, saat ibu Almaira ingin membuka aib putranya yang bertingkah urakan.
Akhirnya Ibu Almaira pun berpamitan kepada ibu Nurhaida. "Maaf Bu, saya harus segera kembali ke rumah. Karena saya harus memasak untuk makan siang suami dan anak-anak saya. Dan setelah masak Sepertinya saya harus mengantarkan makanan untuk suami saya di proyek." ucap Ibu Almaira sambil mengembangkan senyumnya.
Ibu nurhaida merasa bahagia memiliki tetangga sebaik Ibu Almaira, yang selalu membela ibu Nurhaida dan keluarga. Terlihat orang ibu Nurhaida, sudah mulai sepi. Ibu Nurhaida pun berlalu ingin melihat Arif dan Anisa yang sedang ngobrol di ruang tamu. Terlihat Anisa dan Arif begitu asik ngobrol membuat Ibu nurhaida kembali meninggalkan mereka dan kembali ke warung.
Bersambung...
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓
JANGAN LUPA TEKAN FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
__ADS_1
JANGAN LUPA FOLLOW OUTHOR MORATA KARNA ADA GIVEAWAY DI AKHIR BULAN