
"Bagaimana apa kamu sudah berhasil menemukan Olivia? tanya Daniel di dalam sambungan telepon selulernya.
"Maaf Tuan hingga saat ini saya belum mengetahui dimana keberadaan Olivia." sahut Alex dari ujung telepon.
BRAK....
Daniel mengebrak meja kerjanya. Karena sang asisten tidak berhasil menemukan Olivia dalam waktu yang singkat. Daniel menekan interkom yang ada di meja kerjanya.
"Suruh Vika keruang kerjaku!" perintah Daniel dalam sambungan interkom kepada sekretarisnya.
"Tok....
"Took....
"Toook.....
"Masuk!"
Teriak Daniel dari ruang kerjanya.
"Tuan memanggil saya?
"Ya, saya memanggil kamu kesini. Kaena saya sangat mengetahui kamu sudah membohongi Ku dan membohongi Orang Tua Olivia.
"Maksudnya Tuan?
"Tidak perlu pura pura tidak mengetahui apa yang saya maksudkan." ucap Daniel sambil langsung bangkit dari tempat duduknya dan melangkah mendekati Vika.
Tangan kirinya menekan dagu Vika. "Jangan pernah kamu membohongiku kalau kamu tidak ingin menyesal nantinya. Katakan dimana Olivia? tanya Daniel penuh penekanan.
"Sa.....saya tidak tau Tuan!" sahut Vika dengan nada gugup dan merasa kwatir kalau Daniel akan semakin mendesak dan memaksanya untuk memberitahu keberadaan Olivia.
__ADS_1
"Sudah saya katakan sama kamu, saya bisa berbuat apa sama kamu. Jika kamu tidak ingin bernasib sama dengan wanita-wanita lain yang sering datang ke ruang kerjaku. Maka kamu harus berterus terang kepadaku dimana Olivia saat ini?
Aku tidak akan mengampunimu jika aku mengetahui kalau kamu lah yang membantu Olivia pergi dari kota ini. Vika terdiam. Ia memilih bungkam karena ia sudah berjanji kepada Olivia, kalau Vika tidak akan memberitahu keberadaan Olivia walau dalam keadaan apapun.
Kemarahan Daniel semakin memuncak. membuat Vika semakin khawatir, Daniel mencekik leher Vika agar Vika membuka suara di mana keberadaan Olivia saat ini. Tetapi janji Vika kepada Olivia ia pegang teguh. Ia rela melakukan apa saja demi sahabat baiknya.
Vika tidak gentar sedikitpun. Sementara surasti yang bertugas sebagai office girl di sana yang merupakan sahabat Olivia juga. merasa khawatir Daniel akan melakukan sesuatu yang di luar batas terhadap Vika. Ia berusaha Mendengar pembicaraan Daniel dengan Vika dari balik ruang kerja Daniel.
" Lakukan saja apa yang ingin anda lakukan kepada saya. Yang pasti saya tidak mengetahui keberadaan Olivia saat ini.
Sekalipun anda ingin membunuh saya,silakan saja. Aku tidak takut sedikitpun dengan ancaman anda Tuan Daniel. Saya tidak peduli anda akan berbuat apa kepada saya. Ya aku sangat mengetahui kalau anda memiliki adi kuasa disini." ucap Vika dengan sinis membuat Daniel merasa heran melihat keberanian Vika terhadapnya.
"Tapi menurut penuturan ibu Nurhaida kepada Alex kamu yang menjemput pakaiannya, dari rumah kontrakan yang ditempati Ibu Nurhaida. Bahkan kamu yang mengatakan kepada Ibu Nurhaida kalau Olivia mendapat tugas dari saya ke luar kota. Itu artinya kamu sudah membohongi kita semua.
Vika tertawa ngakak. Lebih tepatnya tertawa mengejek Daniel akan kebodohannya selama ini.
"Hello.... darimana selama ini? mengapa baru sekarang kucar-kacir mencari keberadaan Olivia? bukankah kamu menyia-nyiakannya dan hanya menganggapnya sebagai pemuas nafsu birahimu saja?
Dan seperti yang kamu katakan, semenjak kecil, kamu sudah terbiasa mendapatkan segala apa yang kamu inginkan. Keangkuhan yang kamu miliki membuat kamu tidak akan memiliki harga diri di hadapan kami rakyat jelata ini.
"Saya tahu Anda memang dapat melakukan apa yang anda inginkan. Termasuk wanita-wanita cantik dari kalangan atas anda dapat membawanya ke ruang kerja Anda ini. Untuk memuaskan nafsu birahi anda.
Tetapi apa Olivia bersedia begitu saja melakukannya kepada Tuan Kalau tidak karna keadaan terpaksa? Saya tau Tuan mengancam Olivia. Apa dia rela Begitu saja memberikan tubuhnya kepada Tuan? tidak bukan?
Vika tahu siapa Olivia. Dia bukan wanita murahan Seperti wanita wanita yang anda bawa ke sini untuk memuaskan nafsumu yang hiper s3x itu." ucap Vika yang mampu membangkitkan amarah Daniel
BRAK.....
Daniel kembali mengebrak meja kerjanya. Tetapi Vika sama sekali tidak merasa Taku lagi. Entah keberanian dari mana, sehingga Vika dapat menyampaikan unik-unek yang ada di dalam hatinya kepada Daniel.
"Ingat Tuan Daniel yang terhormat!" di atas langit ada langit. Saya tidak mengetahui persis masalah pribadi anda. Yang pasti anda sama sekali tidak pernah menghargai seorang wanita.
__ADS_1
Padahal anda terlahir dari rahim seorang wanita. Apakah di dalam hati nurani anda tidak terbesit sedikitpun kasih sayang terhadap wanita? oh aku tahu. ternyata aku lupa Anda memang seorang lelaki yang tak punya hati nurani." ucap Vika yang mampu membuat Daniel semakin emosi, dan langsung melayangkan tamparannya ke wajah Vika.
"Silakan tampar saja Tuan jika itu yang membuat Tuan puas. Aku yakin sampai kapanpun anda tidak akan bertemu lagi dengan Olivia. Karena Olivia tidak Sudi bertemu dengan Anda lagi." ucap Vika sembari langsung meninggalkan Daniel di sana.
"Berhenti!" teriak Daniel. Vika menghentikan langkahnya. Tetapi ia tidak menoleh kepada Daniel. Daniel kembali menghampirinya.
"Aku memecat kamu secara tidak hormat." ucap Daniel untuk mengancam Vika.
Vika mengembangkan senyumnya menatap Daniel dengan tatapan sinis. "Silakan saja saya tidak peduli, Anda memecat saya atau tidak. Masih banyak tempat kerjaan yang lain selain di perusahaan yang anda pimpin ini." ucap Vika sambil terus berjalan keluar ruangan Daniel.
Daniel menghempaskan seluruh barang yang ada di Meja kerja. Pikirannya kacau m Ia tidak tahu harus melakukan apa saat ini. Rasa pusing dan mual kembali meneruak di tubuh Daniel. Membuat ia langsung berlari ke kamar mandi dan mengeluarkan seluruh isi perutnya.
Ia berusaha meraih ponsel yang ada di saku celananya. Dan menghubungi dokter pribadinya. Agar segera menemui dan memberikan resep obat untuknya. Berharap kondisi kesehatannya semakin membaik.
Sementara di tempat lain Ibu Nurhaida berusaha menghubungi nomor ponsel milik Olivia. Tetapi Olivia sengaja tidak mengaktifkan nomor ponselnya. Ia sengaja mengaktifkan nomor ponselnya jika dirinya ingin berbicara kepada ibu Nurhaida dengan Anisa.
Kemana sih kamu Nak? kok kamu tega membohongi ibu? dengan mengatakan Kamu memiliki tugas ke luar kota. Terus dari mana uang yang kamu kirimkan kepada ibu? ibu Nurhaida membatin sembari Menatap layar ponsel jadul miliknya.
"Sudah Bu," tidak apa-apa. Mungkin Olivia sedang sibuk. Sehingga dia tidak mengaktifkan nomor ponselnya. Kan tadi malam Olivia menghubungi kita juga." ucap Anisa untuk menenangkan hati ibu Nurhaida. Ibu Nurhaida pun menatap Anisa dengan tatapan penuh kasih. Ia tidak menyangka akhirnya Anisa dapat sembuh dengan pengorbanan yang dilakukan Olivia
Kini ibu Nurhaida berniat untuk menemui Vika. Tetapi ketika ibu Nurhaida dan Anisa menuju kamar kost yang ditempati Vika selama ini, ternyata Vika sudah tidak tinggal disana lagi.
Membuat Ibu nurhaida pun merasa khawatir. "Maaf Bu numpang tanya Vika ada? tanya ibu Nurhaida kepada pemilik kos.
" Oh maaf Bu Vika sudah pindah semalam dari sini" sahut pemilik kost.
"Kalau boleh tahu di mana pindahnya? tanya ibu Nurhaida.
"Kalau masalah itu saya kurang mengetahuinya. Tetapi ketika ia pulang dari kantor, Vika langsung berpamitan kepada saya ingin pindah kos." sahut pemilik kos membuat Ibu Nurhaida merasa heran Mengapa Vika tiba-tiba pindah dari kamar kosnya.
Bersambung....
__ADS_1
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏🙏
JANGAN LUPA TEKAN FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓🙏🙏