
Arif menatap wajah polos Anisa yang tertidur pulas di atas tempat tidur yang biasa menemani tidur Anisa. Ia memperhatikan kamar yang ditempati Anisa yang terlihat tidak terlalu luas, tetapi tampak rapi. Arif mere ponsel milik Anisa lalu menghidupkan tombol on off nya agar ponsel milik Anisa tersambung kembali.
Tiba-tiba Anisa berkeringat netranya mulai terbuka ia berusaha mengumpulkan kesadarannya. Netranya meneliti seisi ruangan Ia pun menakut sosok lelah yang sangat ia cintai berada di sana. Anisa seolah bermimpi sehingga dirinya mengucap kedua netranya dengan menggunakan tangan kanannya.
"Mas Arif Kok bisa ada di sini?
"Iya bisa dong sayang habis kamu dipanggilin Ibu tidak dengar dan Ibu yang memintaku mencarimu kesini. "Maaf Mas Anisa ketiduran, Ya sudah bersiap gih Ada mami dan Papi ikut juga datang ke sini."Arif memberitahu kalau kedua orang tuanya juga ikut bersama dirinya ke rumah keluarga Anisa.
"Kamu serius Mas Kalau dokter Iskandar dan tante Anjani datang ke rumah ini?
"Mami dan Papi Sayang!" bukan om dan tante. karena kamu itu istriku.
"Mas masih calon istri belum sah menjadi istri mas."sahut Anisa sambil mengembangkan senyumnya menatap pria yang baru saja menghampiri dirinya ke kamar yang selamat ini menemani tidurnya.
"Sama saja sayang tinggal menunggu hari kok."Anisa menggelengkan kepalanya lalu bangkit dari tempat tidur menuju kamar mandi sementara Arif kembali menghampiri kedua orang tuanya yang duduk bersama Pak Roberto dan ibu Nurhaida di ruang tamu.
__ADS_1
"loh nak Arif annisanya di mana?
"Anisa lagi mandi Bu, baru bangun. sahut Arif sambil mengembangkan senyumnya menatap Pak Roberto dan juga Ibu Nurhaida. di sisi lain terlihat Anisa sudah selesai melakukan ritual mandinya. Ia pun mengenakan pakaian yang biasa ia gunakan di rumah. Tidak ada niatan merubah penampilan di saat dokter Iskandar dan nyonya Anjani bertamu ke rumah yang selama ini mereka tempati.
Anisa keluar dengan penampilan apa adanya. "Anisa kamu ngapain saja di kamar? Kok dari tadi ibu panggilin tidak nyahut? tanya ibu Nurhaida merasa kesal tidak mendapat sambutan dari putrinya ketika ibu Nurhaida memanggil Anisa. Anisa hanya nyengir kuda.
"Maaf Bu Anisa ketiduran tadinya hanya ingin baringan saja eh malah ketiduran." sahut Anisa meminta maaf kepada Ibu Nuraida.
Anisa memberi salam kepada dokter Iskandar dan juga Nyonya Anjani.
Sementara Pak Roberto hanya diam saja. membiarkan istrinya berbicara kepada dokter Iskandar. "Begini Pak Roberto dan ibu nurhaida tujuan utama kami datang ke rumah ini untuk melamar Anisa menjadi pendamping hidup Putra saya Arif." dokter Iskandar langsung berterus terang kepada Pak Roberto dan juga Ibu Nurhaida.
"Melamar?
"Melamar bagaimana maksudnya dokter? sementara anak Arif belum pernah berbicara apa-apa kepada kami. Begitu juga dengan putri kami Anisa. Ia juga belum ada pemberitahu apa-apa kepada kami tentang hubungan mereka. Yang kami tahu hubungan Arif dengan Anisa hanyalah sebatas teman.
__ADS_1
Karena Arif merupakan asisten menantu saya Daniel." Ibu nurhaida benar-benar terhenyak mendengar dokter Iskandar Ingin melamar putrinya yang jelas-jelas dokter Iskandar mengetahui riwayat kesehatan Annisa. Dokter Iskandar mengembangkan senyumnya menatap Anisa seolah dirinya mempertanyakan sesuatu.
"Anisa Mengapa kamu tidak memberitahu sebelumnya Kalau kedatangan keluarga anak Arif ke rumah ini untuk melamar kamu? Ibu Nurhaida melontarkan pertanyaan kepada Anisa.
Anisa terdiam.
"Kenapa kamu diam?
"Karena Anisa belum yakin kalau Tante Anjani dan dokter Iskandar benar-benar menerima Anisa menjadi menantu mereka. sahutnya dengan pelan berterus terang kepada setiap orang yang ada di sana tanpa ada yang ditutup-tutupinya.
Bersambung....
hai semuanya emak Morata datang lagi membawa karya baru. yuk terus ikuti ceritanya. Jangan lupa like, coment, vote, dan hadiahnya "Trimakasih 🙏🙏🙏🙏🙏🙏
"MY BOS MY MANTAN "
__ADS_1