
"Neng beli nasi uduk dan pakai rendang ya." ucap Bi Surti kepada pemilik warung yang baru buka di desa Itu.
"Berapa bungkus Bi?"
"Tiga aja neng!"
"Ya di tunggu sebentar ya Bi, ucap pemilik warung sambil langsung membungkus pesanan Bi Surti.
"Ini Bi!" ucap pemilik warung sambil memberikan 3 bungkus nasi uduk pakai rendang.
"Berapa neng?"
"Enam puluh ribu Bi." ucapnya sambil memberi tiga bungkus nasi kepada Bi Surti.
Kini Bi Surti berlalu sudah tiba di Villa dan menghidangkan sarapan pagi pesanan Tuan Daniel Gladuks. "Maaf Tuan sarapannya sudah siap untuk di santap." ucap Bi Surti sambil mengembangkan senyumnya. Daniel mengikuti Langkah Bi Surti ke ruang makan.
"Silahkan Tuan!" ujar Bi Surti meminta Daniel agar segera menyicipi menu sarapan pagi , yang sudah Bi Surti beli sebelumnya. Daniel mengerutkan keningnya menatap menu sarapan pagi yang sudah dibeli Bi Surti untuknya.
Citra rasa dan aroma masakan itu seperti dikenal Daniel. Tetapi Daniel samar-samar saja mengenalnya. "Sepertinya saya pernah memakan masakan seperti ini. Tetapi saya lupa saya makan dimana." ucapnya sembari mencicipi menu makanan itu.
"Bi Surti beli di mana makanan ini?"
"Ada di ujung jalan sana Tuan. Tidak jauh kok dari sini. Paling juga 500 meter dari Villa ini. Dekat rumah bibi." ucap Bi Surti
"Bi....., Bisa pinjam sepedanya tidak? ucap Daniel ketika ia sudah menyelesaikan sarapan paginya. "Tapi untuk apa Tuan?
"Saya ingin jalan jalan saja di sekitar perkebunan.
__ADS_1
"Loh Tuan kan bisa bawa mobil?
"Saya ingin sekalian berolahraga." sahutnya.
"Ya sudah kalau begitu pakai saja sepedanya Tuan Tidak apa-apa kok. Tuan tenang saja." ucap Bi Surti mempersilahkan Daniel memakai sepeda miliknya. Daniel berlalu dari villa dengan menggunakan pakaian santai yang biasa ia gunakan di rumah.
Daniel mulai menggayuh sepedanya. Perlahan demi perlahan keluar dari villa. Ia melewati hamparan perkebunan teh Milik keluarga yang sudah diwariskan untuknya. Ia menelusuri jalanan Desa. Sesekali masyarakat desa memberikan senyuman kepadanya.
Sekitar 30 menit mengayuh sepeda, kini rasa lelah di tubuh Daniel mulai terasa. Sehingga dirinya membutuhkan istirahat. Tepat di salah satu warung milik masyarakat yang ada di desa itu. Daniel menghentikan sepeda yang dipinjam dari Bi Surti.
Daniel duduk di warung itu berniat untuk istirahat dan sekedar meminum air mineral yang dijual di warung itu. "Mang air mineral satu ya." ucap Daniel sembari memberikan uang pecahan Lima puluh ribu kepada pemilik warung. Pemilik warung memberikan air mineral kepada Daniel dan memberikan kembalian uang milik Daniel.
"Sudah ambil saja Mang. Anggap aja rezeki." ucapnya sambil menegur air mineral yang diberikan pemilik warung kepadanya. Tanpa Daniel sadari, Olivia yang sedang sibuk melayani langganan sarapan paginya Daniel juga berada di sana. Ibu Florida merasa bersyukur usaha kuliner Olivia yang baru beberapa hari dibuka, sudah tampak ramai diminati para pecinta Citra rasa khas daerah itu
"Wah masakannya enak sekali. Cocok di lidah saya ." ucap salah satu pengunjung yang sering makan di sana. Syukurlah kalau Citra rasa yang kami hidangkan cocok di lidah Ibu. Jangan bosan-bosan terus mampir ke warung kami." ucap Olivia sambil mengembangkan semua. Perut Olivia yang sudah mulai terlihat membuncit ditatap oleh wanita itu.
"Alhamdulillah iya Bu."
"Ya Allah, Seharusnya kamu istirahat di rumah. Tidak harus bekerja berat seperti ini." ucap wanita paruh baya itu sambil menatap Olivia dengan tatapan penuh arti. Tidak apa-apa kok Bu. Lagian usia kandungan saya masih jalan 4 bulan kok." ucap Olivia menimpali perkataan Ibu paruh baya yang sering makan di warung sarapan pagi miliknya.
Ketika Daniel duduk di warung itu, ia seolah mendengar suara Olivia. Ia mulai mempertajam pendengarannya. "Seperti suara Olivia.Tapi apa mungkin Olivia berada di sini?" Daniel membatin sembari kembali mendengar percakapan wanita paruh baya itu bersama Olivia, yang membelakangi dirinya.
"Aku tidak salah. Pasti itu suara Olivia." gumamnya dalam hati sembari berniat berjalan menghampiri Olivia. "Olivia!" teriak Daniel membuat Olivia terhenyak.
sontak Olivia membalikkan badannya. Membuat Daniel Dapat melihat jelas wajah Olivia.
"Olivia yang melihat kehadiran Daniel di sana langsung berlari masuk ke dalam rumah. Tak sudi rasanya bertemu dengan lelaki yang sudah menghancurkan masa depannya.
__ADS_1
Ya Daniel memang membantu keluarga Olivia membiayai,biaya pengobatan kakaknya. Tetapi pengorbanan Olivia untuk membayar itu semua cukup membuat Olivia tersiksa.
Olivia melewati hari-harinya dengan rasa bersalah telah membohongi Kakak dan juga ibunya. Di samping dirinya sudah membohongi Kakak dan ibunya, Ia juga sudah membohongi dirinya sendiri dan masyarakat banyak.
Daniel tidak tinggal diam. Ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk kembali bertemu dengan Olivia, Setelah sekian lama mencarinya. Daniel ingin mengejar Olivia masuk ke dalam rumah. Tetapi lelaki paruh baya dan istrinya datang menghalangi Daniel.
"Tolong jangan halangi saya bertemu dengan Olivia. ada sesuatu yang ingin kami bicarakan.
"Saya tahu kamu itu adalah Daniel lelaki yang sudah menghancurkan kehidupan Olivia." Apa kamu belum puas telah membuatnya tersiksa
dan merasa berdosa kepada setiap orang? "Apa kamu belum puas melihat penderitaannya selama ini? Tolong jangan ganggu Olivia. Biarkan dia hidup tenang di sini." ucap lelaki paruh baya itu berusaha untuk melindungi Olivia dari Daniel.
Daniel seolah tidak peduli. Ia terus memohon kepada lelaki paruh baya itu, agar diizinkan bertemu dengan Olivia. "Saya tidak tahu persis permasalahan kalian. Tetapi untuk saat ini, Olivia mengatakan kalau dirinya tidak ingin bertemu dengan siapa-siapa." ucap lelaki paruh baya itu berusaha untuk memberikan pengertian kepada Daniel. Agar Daniel tidak terus mengganggu kehidupan Olivia.
Sebesar apapun kalian memisahkan Olivia dariku, anak yang ada di dalam kandungan Olivia darah dagingku. Jadi saya juga memiliki hak atas anak yang ada di dalam kandungan Olivianya
lelaki paruh baya itu terdiam. lalu masuk ke dalam rumah untuk berbicara kepada Olivia. "Maaf saya tidak mengetahui permasalahan kalian. Tetapi saya akan mencoba berbicara kepada Olivia. Entah dia bersedia menemui Anda atau tidak ,saya tidak mengetahuinya." ucap lelaki perubahan yaitu yang tidak tega melihat Daniel yang berdiri memohon kepada lelaki yang ada di hadapannya.
Daniel Berharap Olivia bersedia Menemuinya. Terlihat raut wajah penyesalan Daniel. Membuat lelaki paruh baya itu meras tidak tega. Sehingga ia bersedia untuk berbicara kepada Olivia.
Daniel terdiam. Air bening mulai mengalir di wajah tampannya. Sosok Daniel yang angkuh dan selalu tidak gentar dalam menghadapi masalah apapun, terlihat begitu rapuh. Ia terus memanggil nama Olivia. Tetapi Olivia tak kunjung keluar. Tak sudi rasanya bertemu kembali dengan orang yang paling ia hindari dari muka bumi ini.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏🙏🙏🙏🙏
sambil menunggu novel ini up yuk mampir kekarya baru emak "jodoh di usia senja"
__ADS_1