
Malam ini Selvia tidur lelap di kamar Safhira, namun berbeda dengan Angga yang uring-uringan tidak bisa tidur, Angga merasa kesepian dan bersalah sudah memarahi istrinya tadi.
'' kenapa aku bisa seemosiaonal itu, ya ampun sekarang istriku pasti marah besar kepadaku'' Angga terus menggerutu menyesali ucapannya.
--------*****------
Waktu Subuh tiba, Selvia menunaikan solat subuh di kamar Safhira di barengi Safhira yang sumbringah bangun tidur karena ada mommy di sampingnya.
Setelah solat mereka turun ke lantai bawah, Selvia langsung ke arah dapur membuatkan susu untuk Safhira, sedangkan Safhira langsung duduk manis menonton acara favoritnya.
Setelah memberikan susu dan cemilan, Selvia lanjut membantu Bi minah menyiapkan sarapan, Sebelumnya Selvia ingin masuk ke kamarnya untuk menawarkan sarapan pada suaminya, tapi hati Selvia merasa sakit kembali mengingat ucapan suaminya semalam.
Setelah menyiapkan sarapan di meja, Selvia mengajak Safhira untuk bersiap berangkat ke sekolah, sebelum ke kamar Safhira, Selvia sempatkan mengambil baju ganti untuknya, karena Selvia berniat ingin mandi di kamar Safhira saja.
Saat masuk ke kamar, Selvia melihat sang suami masih tertidur pulas.
'' Syukurlah mas Angga masih tidur... sejujurnya aku malas bertemu dengan nya'' Batin Selvia mengingat kekesalannya semalam pada Angga.
Walaupun merasa kesal, Selvia tetap menjalankan kewajiban nya sebagai seorang istri, ia menyiapkan Baju kemeja, celana, dasi dan jas untuk Angga ke kantor. Setelah itu Selvia bergegas keluar kembali ke kamar Safhira.
Selvia sempat ngos-ngosan saat naik turun tangga, namun itu lebih baik dari pada harus tidur satu ranjang dengan Angga yang semalam memarahinya begitu berlebihan. Selvua merasa sakit hati karena Angga memandang rendah harga dirinya.
--------?------------
Selvia dan Safhira sudah bersiap rapi untuk berangkat ke sekolah, Saat Selvia dan Safhira turun, Selvia melihat suaminya sudah bangun, Angga terlihat sudah segar, sepertinya sudah mandi tapi belum mengenakan pakaian kantornya.
Selvia berjalan cuek ke arah dapur, berbeda dengan Safhira yang langsung berjalan ke arah papanya.
Selvia membuatkan Angga kopi, namun menyuruh bi Minah yang mengantar.
''Bi...saya mau minta tolong....anterin kopi untuk mas Angga, saya mau buat susu dulu untuk saya'' Selvia beralasan, ia tidak mau bila Bi minah mengetahui ia sedang kesal pada tuannya.
'' Iya non... sini biar bibi anter, tadi bibi udah tawarin non, tapi pak Angga bilang belum mau ''ucap bi Minah memberitahu.
Selvia hanya membalas senyum, Selvia sekarang yakini pasti suaminya yang terhormat sedang merasa bersalah kepadanya.
''E..G..P emang gue pikirin, rasaiin mas, makannya kalau berucap itu di jaga... aku bakal tunggu sampai mana kamu akan menurunkan gengsi kamu untuk meminta maaf sama aku heheeheheeh'' batin Selvia tersenyum penuh kemenangan, melihat suaminya tidak berdaya karena rasa bersalahnya.
Selvia berjalan ke arah ruang TV yang disana ada Angga dan Safhira.
''Sayang... ayo kita berangkat, Pak mardi sudah menunggu...sarapan Fhira sudah mommy bekal biar makan di sekolah'' Selvia mengajak Safhira berangkat, Angga memandang miris, karena Selvia sama sekali tidak menyapanya.
'' Okeee mommy...'' Safhira beranjak
'' Pamit dulu...sama papa sayang'' Selvia mengingatkan, Safhira langsung menyalami tangan papa nya dan tak lupa mencium pipinya juga.
Selvia yang malas berhadapan dengan Angga, memilih lebih dulu keluar dari rumah sembari membawa tas sekolah Safhira.
Safhira berjalan menyusul Mommy nya, di ikuti Angga yang merasa kesal karena di diamkan oleh Selvia.
Pak mardi yang mengerti, segera turun dulu dari mobil, melihat kode dari Angga yang ingin masuk ke mobil.
__ADS_1
'' Aku tunggu di rumah, jadi langsung pulang setelah mengantar Safhira, aku ingin bicara'' ucap Angga yang masih genggi bicara pada sang istri.
Semula Selvia malas menjawab, namun di pikir lagi tidak enak pada Pak mardi yang sampai keluar dulu dari mobil dan Safhira yang sudah duduk manis di sampingnya.
'' Maaf mas, sepertinya aku gak langsung pulang, aku mau ketemu Gita di mall'' Selvia mau tak mau menjawab, Angga langsung melotot mendengar Selvia akan pergi ke mall.
'' Kamu kok gak izin sama saya, mau pergi ke mall sama gita'' Angga mulai merasa tidak di hargai oleh istrinya.
''Ini aku bilang sekarang, sama saja seperti minta izin... ini gita baru mengirim pesan mengajak bertemu di mall'' Selvia beralasan padahal dirinya lah yang mengajak adik iparnya dari semalam.
( Perlu healing ya....kalau lagi pusing bu Selvia)
Angga yang semula melotot kembali bersikap seperti biasa, Angga menghela nafas panjang, mengingat harus bersabar bila berhadapan dengan istrinya yang sekarang sedang mengandung.
'' Pak Mardi.... ayo kita berangkat'' Selvia memanggil pak Mardi agar masuk mobil, meskipun Angga masih di dalam belum keluar.
Pak Mardi menurut langsung masuk ke mobil, Angga keluar dari mobil, namun menyuruh pak Mardi agar menungunya sebentar jangan dulu berangkat.
'' Tunggu sebentar pak, jangan dulu berangkat...saya mau ambil dulu sesuatu'' Angga berjalan ke kamar mengambil Dompet nya dan kembali keluar membuka pintu mobil bangku belakang dimana Selvia duduk.
'' Ini ambil kartu Unlimited, pake untuk keperluan kamu'' Angga menyerahkan kartu berwarna hitam yang bisa di gunakan belanja tanpa batas.
'' Tidak perlu mas.....ada kartu debitku di dompet.... jadi kartunya silahkan di bawa kembali'' Selvia menolak, karena sudah ada kartu debit milik dirinya, yang masih berisi saldo banyak dari uang mahar yang di beri Angga tempo hari.
'' Itu milik kamu, sekarang pakai kartu ini, kalau kamu perlu apa-apa....Ambil.. tidak ada penolakan '' Angga dengan wajah tegasnya, membuat Selvia terpaksa mengambil nya, apalagi ada pak mardi di sana membuat Selvia tak enak.
Angga sedari dulu ingin memberikan kartu unlimited pada istrinya, namun selalu lupa karena ia tak pernah pergi terpisah kemanapun selalu bersama, namun pagi ini Angga tersentak dan mengingat kalau ia belum memberikan kartu untuk akses memudahkan istrinya berbelanja.
( Adeeehh bilang aja... mau nyogok istrinya pak ... biar istrinya luluh... maklum kalau mahmud(mamahmuda) kalau marah terus di kasih uang yang merah-merah langsung sembuh marahnya hehehehheh)
Setelah sampai Selvia mengantar Safhira ke kelasnya dan kembali ke mobil.
Pak mardi mengantar Selvia ke Mall yang akan di tuju.
Selvia langsung turun dari mobil saat sampai di lobby mall, ternyata Anggita mengirim pesan, memberitahu kalau dirinya sudah sampai di mall.
Selvia akhirnya bertemu dengan adik iparnya di depan toko yang menjual semua kebutuhan bayi dan anak-anak.
'' Eeehh bumil...sudah dari tadi'' Anggita langsung cipika-cipiki dengan Selvia
'' Engga git... baru juga sampe'' Selvia mengajak Anggita masuk ke toko di depannya.
Selvia membeli semua kebutuhan untuk keperluan bayinya nanti, dari mulai baju bayi, gendongan, kasur ranjang bayi, stroller dan masih banyak lagi.
------****------
Di kantor Angga
Setelah Selvia dan Safhira berangkat ke sekolah, Angga juga bersiap ke kantor.
Pov Angga
__ADS_1
Aku benar-benar menyesal telah berucap berlebihan pada istriku, aku sampai tidak bisa tidur memikirkannya.
Aku baru bisa tidur setelah pukul 01.00 dini hari, mengakibatkan aku tidur kesiangan.
Saat terbangun ku lihat baju untuk ke kantor sudah di persiapkan, aku sempat tersenyum melihatnya.
Istriku walaupun marah tetap menyiapkan keperluanku, Setelah mandi aku berganti baju rumah karena berniat nanti siang baru akan ke kantor.
Saat aku asyik menonton berita di Televisi, ku lihat istri dan putri ku sudah rapi mau berangkat, ku lihat juga istriku langsung ke dapur menyiapkan bekal untuk Safhira.
Benar dugaanku, istriku juga menyiapkan kopi untuk ku namun sayang bukan dia yang mengantar, aku sudah berharap dia yang mengantat ternyata istriku malah menyuruh bi minah.
Tapi tidak apa yang penting dia masih mau membuatkan.
Istriku mengajak Safhira berangkat dan menyuruh Safhira pamit, tapi aku kesal dianya sendiri tidak pamit padaku malah langsung pergi begitu saja.
Shiit aku kesal sekali dan langsung aku ikuti berbarengan dengan Safhira mengikutinya.
Dia langsung masuk kemobil.. istriku ternyata benar-benar marah tidak berniat menyapaku atau sekedar pamit.
Aku langsung memberi kode pada pak mardi untuk turun dulu.
Saat aku suruh dia langsung pulang kerumah setelah mengantar Safhira karena aku ingin bicara, dia malah santai menjawab tidak bisa karena ingin pergi ke mall bersama gita.
Aku menghela nafas, dia tidak berniat pamit kepada ku, aku langsung bilang kenapa tidak pamit, ssiitth dia dengan santai kalau gita baru mengirim pesan.
Hormon ibu hamil tidak bisa di tawar lagi, aku langsung teringat ingin memberinya kartu kredit Unlimited untuk dia membeli kelerluannya.
Saat aku berikan kartu kepadanya, dia malah menolak beralasan karena dia punya kartu debit dari uang mahar.
Perempuan aneh, kalau perempuan normal pasti senang di beri kartu Unlimited tanpa batas tapu ibu hamil sekaligus istriku malah menolak.
Aku menghela nafas harus sabar menghadapi perempuan yang sedang merajuk.
Saat aku bilang tidak ada penolakan baru ia mau mengambil kartu dari tanganku.
Saat Sampai di kantor, aku tersenyum melihat notifikasi di ponselku memberi pesan kalau kartu yang ku berikan, langsung di pakai belanja oleh istri ku, aku langsung mengirim pesan ingim menggoda istriku.
π©
''Sudah dipakai belanja rupanya... nice my wife.. happy shopping'' tulis pesanku dan tak lama di balas oleh istriku.
π©
'' Iya bapak Angga yang terhormat, sesuai dengan Fungsi kartu yang anda berikan..yang berguna untuk membayar belanjaan yang saya dan anak anda butuhkan'' balasan pesan dari istriku yang langsung membuat aku kaget.
''Astagfirullah...aku lupa menanyakan keperluan calon anak kita...dia malah di temani Gita..harusnya aku'' gumamku
Aku tambah melotot, melihat rincian belanjaan ternyata istriku bukan belanja untuk dirinya melainkan untuk kebutuhan calon bayi kami di perutnya.
(pak duda sih kurang perhatian... jadinya bumil belanja sendiri tidak minta di dampingi.... rasainnn di cuekinnn)
__ADS_1
Bersambung...
aku tambah story update untuk para readers setiaku...