
Di rumah sakit
Selvia sedang membereskan pakaian Safhira, karena sudah bisa pulang ke rumah, Safhira sudah rapi setelah berganti baju dan duduk di sofa sambil memainkan ipad nya, ia menonton kartun kesukaannya, sedangkan Angga sedang menyelesaikan administrasi dan menebus vitamin untuk Safhira, Walaupun rumah sakit ini bernaung di bawah perusahaan Dirgantara Group, Angga tetap propesional untuk menunjang kemajuan rumah sakit.
''Gimana apa semuanya sudah siap'' tanya Angga setelah masuk ke dalam ruangan rawat inap Safhira.
''Sudah pak, semua sudah beres'' jawab Selvia mengangkat tas yang sudaj selesai di pakcingnya.
'' Ya sudah ayo, biar aku yang bawa barang barang Safhira ''ucap Angga pada Selvia yang akan menenteng tas yg berisi barang keperluan Safhira.
'' Tidak apa pak, biar saya saja yang membawanya'' sahut Selvia
'' Tidak biar saya saja via, kamu tuntun Safhira saja'' titah Angga lagi dan di angguki Selvia.
Mereka berjalan di lorong rumah sakit seperti keluarga kecil pada umumnya, banyak yang menatap kagum pada mereka, Angga yang tampan dan tinggi sangat serasi dengan Selvia yang cantik, putih, dan ramah serta Safhira yang cantik dan menggemaskan.
Mereka sampai di palkiran rumah sakit, Angga langsung membuka kan pintu depan untuk Selvia.
'' Ayo masuk'' ucap Angga membuka pintu mobil depan untuk Selvia.
Selvia sempat kaget akan diduduk di depan, namun percuma mau menolak, Angga selalu tegas tidak mau ada penolakan, Selvia segera masuk dan membawa Safhira ke pangkuannya, Angga segera berbalik membuka pintu kemudinya, dan segera mengemudikannya ke jalan raya menuju rumah mewahnya.
Setengah perjalanan Safhira langsung terlelap nyaman di pelukan Selvia, mungkin karena tadi tidak sempat tidur siang, karena kedatangan aunty nya.
Sepanjang perjalanan suasana di mobil sangat canggung, apalagi Selvia masih terasa berdebar hatinya, karena harus duduk di samping Angga.
Angga tahu Selvia yang terlihat tak nyaman, langsung bersuara membuka pembicaraan..untuk mencairkan suasana.
''Apa kamu lapar via, kalau lapar kita bisa mampir dulu, soalnya di rumah tidak ada orang, jadi tidak ada yang menyiapkan makanan, tadi pagi pengasuh Safhira meminta ijin pulang karena anaknya sakit,'' ujar Angga yang hanya melirik Selvia sebentar dan kembali fokus melihat jalan di depannya.
__ADS_1
'' Tidak pak, mendingan langsung pulang ke rumah saja... kasihan Safhira, biar bisa nyaman tidurnya'' jawab Selvia tak berani menatap ke arah Angga.
Tak terasa mereka sudah sampai di rumah mewah Angga.
Di rumah angga
Selvia hanya bisa bengong melihat begitu mewahnya rumah Angga, walaupun tidak terlalu besar tapi sangat mewah dan elegan.
''Ayo turun, sudah sampai'' ucap Angga membukakan pintu dan langsung mengambil Safhira dari pangkuan Selvia.
Karena pintu sudah di buka oleh penjaga rumah, Angga langsung masuk ke dalam rumah dengan Selvia mengekori Angga di belakangnya, Angga menaiki tangga menuju kamar Safhira dan ingin memberitahu kamar untuk Selvia yang bersedia menginap untuk menjaga Safhira atas permintaan Anggita.
Setelah sampai di kamar Safhira, Angga langsung membaringkan Safhira sedangkan Selvia langsung melepaskan sepatu dan kaos kaki Safhira.
''Via, ada yang mau saya bicarakan sama kamu ''ucap Angga setelah selesai menidurkan Safhira.
'' Kita bicara di balkon saja, takut nanti membangunkan Safhira ''ucap Angga berjalan ke balkon di kamar Safhira.
Balkon kamar Safhira ada sapasang kursi dan meja, tempat untuk Safhira berjemur, Angga dan Selvia duduk di sana saling berhadapan. Angga memulai pembicaraan nya dengan lembut.
Selvia sesekali mencuri pandang menatap ke arah Angga, betapa tidak Angga begitu berbeda ia berbicara begitu santai dan lembut, berbeda sekali saat mereka pertama bertemu, Angga yang dulu begitu terlihat Angkuh dan Arogan.
'' Saya mau bertanya, apa kamu bersedia menjadi ibu sambung untuk Safhira ''tanya Angga setelah cukup lama berbasa basi membuat Selvia tebatuk karena syok dengan apa yang Selvia dengar.
Selvia merasa bingung ini anatara nyata, mimpi, atau Selvia salah dengar.
Selvia masih memikirkan ucapan Angga tadi.
''Via...maukah kamu jadi ibu sambung Safhira'' ucap Angga lagi... karena Selvia belum juga merespon ucapannya.
__ADS_1
'' Iya pak, gimana pak... saya tidak mengerti'' ucap Selvia yang syok mendengar ucapan Angga.
''Iya apa kamu bersedia menjadi ibu sambung nya Safhira'' tanya Angga lagi.
''Apa pak? apa saya salah dengar? '' jawab Selvia gugup dan bingung balik bertanya.
''Tidak via, saya sungguh sungguh tanya sama kamu, mau tidak menjadi ibu sambung Safhira, Safhira sangat bergantung pada mu, saya gak bisa bayangin kalau kamu pergi dari Safhira, makanya saya ingin kamu menjadi ibu sambung Safhira, saya sudah bicarakan pada Anggita dan dia sangat menyetujuinya, kamu juga tak perlu bekerja lagi di cafe nya, saya akan membiayai semua kebutuhan kamu dan keluarga mu setiap bulannya, saya tau kamu tulang punggung keluarga, Anggita sudah menceritakan semua pada saya'' ucap Angga panjang lebar.
Selvia yang mendengar hanya bisa diam membisu seribu bahasa, Selvia masih mencerna apa yang Angga ucapkan, Selvia juga bingung mau menjawab apa, mungkin demi menyayangi dan mengurus Safhira ia bersedia, tapi kalau jadi ibu sambung berarti ia akan di nikahi oleh Angga.
( ooommmmgggggg Selviaaa di lamaaaarr bapak duda limited edition)
Selvia belum bisa juga mencerna ucapan bapak CEO di depannya.
Selvia tambah bingung karena di antara mereka berdua baru saja saling mengenal dan rasa cinta pun rasanya mustahil ada, bayangkan Angga seorang CEO kaya raya tak mungkin ada rasa pada Selvia seorang pelayan Cafe yang bekerja pada adiknya.
( tapi kalau Selvia sepertinya sudah sedikit mulai menaruh hati pada pak Angga papa Safhira, duda kaya raya...incaran para wanita)
Selvia yang sebelumnya terus diam akhirnya memberanikan diri menjawab pertanyaan dari Angga.
''Sa.. saya akan coba pikirkan pak, soalnya yang namanya menjadi ibu sambung berarti saya harus menikah dengan bapak...'' ucap Selvia gugup menggantung karena nervous.
'' Iya tentu saja via, saya akan menikahi kamu untuk menjadi ibu sambung Safhira'' jawab Angga mantap.
'' Tapi pak Angga, saya harus memikirkan dulu matang matang mengenai itu, mungkin untuk menyayangi dan mengurus Safhira saya sangat bersedia, tapi kalau harus menikah dengan bapak saya harus memikirkannya kembali, karena bagi saya yang namanya pernikahan bukan main main pak, saya tidak mau mempermainkan pernikahan'' jawab Selvia.
(adudududu bapakk CEO mau melamar Selviaaaa... ini pasti akan menggemparkannn)
Bersambungg dulu yaaa biar penasarann...
__ADS_1