
Pov Selvia
Setelah kejadian di Hotel Bali, aku merasa Serba salah pada suamiku, dia terus saja merajuk mendiamkan ku.
Setelah kepulangan keluarga ku ke Bandung, mas Angga mengantar Safhira ke sekolah, ia melarang aku untuk ikut mengantar, mungkin biar aku istirahat setelah perjalanan semalam pulang dari Bali.
Tapi ternyata oh ternyata.. baru satu jam lebih mas Angga berangkat, tiba-tiba dia sudah ada di kamar berbarengan pas aku baru keluar dari kamar mandi.
Aku bener-bener kaget, mana aku hanya pakai handuk saja, tidak menggunakan Bathtobe.
Benar dugaanku..suamiku tidak bisa menahan hasratnya gara-gara melihat ku, padahal tadi pagi mas Angga masih jutek mendiamkanku. Eeeh taunya pulang-pulang ngajak Making love.
'' Anda warass pak'' Batinku... akhirnya aku ikhas melayani suamiku di ranjang.
Kata mas Angga bilang otak bawah dan otak atas nya tidak bisa sinkron... apalah aku yang bingung tidak perduli maksudnya.
Gara-gara mas Angga, akhirnya aku ketiduran karena kelelahan setelah melayaninya, sampai aku terlambat untuk menjemput Safhira.
Namun saat aku sudah siap, ternyata Safhira sudah pulang di jemput oleh Dito asisten Mas Angga.
Aku sempat bingung, tapi aku yakini itu atas perintah mas Angga atasannya.
Hari itu mas Angga menghabiskan waktu di rumah dengan Safhira, aku tersenyum melihat mereka karena kesibukan mas Angga membuatnya jarang bermain dengan putrinya.
Saat malam tiba, tepatnya sesudah aku menidurkan Safhira, aku melihat mas Angga sudah seperti biasa, namun saat aku menemukan ponsel ku, wajah mas Angga berubah seperti menyimpan kekesalan terlihat tidak bersahabat.
Ternyata banyak pesan yang sudah di baca saat aku mengecheek ponselku. Mas Angga langsung bersuara'' pesan dari siapa itu... nomornya tidak di kenal...tapi seperti begitu akrab'' aku yakini mas Angga yang sudah membaca pesan-pesan di ponsel ku.
Saat aku lihat dan baca, ya Ampun itu pesan dari A Reza membuat Mas Angga kembali kesal mendengar nya.
Mas Angga begitu tega mencurigaiku sudah memberikan nomor ponselku pada nya, padahal aku tidak tahu dari mana Reza mendapatkan nomorku.
Dilanjut lagi Mas Angga memarahiku dia bilang aku harus sadar diri sebagai istrinya, tidak pantas lah berbincang dengan orang lain.
Iiisshhh itu sungguh membuat aku kesal dan sakit hati mendengar nya terlebih mas Angga memandang rendah diriku, setelah cukup lama berdebat akhirnya aku keluar dari kamar sembari membanting pintu cukup keras.
Rasanya ingin pergi saja dari rumah itu, namun aku banyak beristigfar mengingat si jabang bayi di perutku.
Mas Angga sempat ingin menahan ku, namun mungkin karena gengsi dan merasa dia benar, mas Angga hanya diam saja seperti menahan kesal tertampar oleh ucapan yang aku ucapkan.
Aku tidur lelap di kamar Safhira, rasanya malas sekali bertemu suamiku, pagi harinya saat akan mengantar Safhira, aku yang masih kesal memilih cuek pada mas Angga.
__ADS_1
Sampai-sampai mas Angga menyusul saat aku sudah di mobil.
Dia menyuruh aku langsung pulang setelah mengantar Safhira, tapi aku jawab kalau aku mau ke mall bersama Adiknya.
Mas Angga sempat akan emosi, namun ia kembali mengontrol dan baik-baik bicara pada ku.
Mas Angga juga memberikan Kartu kredit Unlimited tanpa batas, namum aku tolak secara sopan mengingat ada Safhira duduk di sampingku. Toh aku masih ada cukup banyal uang di kartu debitku dari mahar yang mas Angga berikan.
Namun dengan nada penuh ketegasan dan dia bilang tidak ada penolakan, aku mau tak mau memerima kartu unlimited dari nya.
Setelah mengantar Safhira aku langsung di antar pak Mardi ke Mall untuk bertemu Anggita.
Di Mall aku berbelanja banyak keperluan untuk calon anakku, aku juga menggunakan kartu Unlimited dari suamiku.
Setelah beberapa saat setelah aku membayar, Mas Angga mengirim pesan padaku'' sudah di pakai belanja rupanya...nice my wife.....happy shopping ''isi pesan dari mas Angga.
Iissshhhh ternyata laporan belanja kartu ini langsung ternotifikasi ke ponselnya.
Baiklah langsung aku balas pesanya, ''aku bilang yah kartunya harus di gunakan sesuai Fungsinya yakni untuk membayar keperluan ku dan calon anak anda'' seperti itulah balasan pesanku.
Setelah berbelanja aku mengajak Anggita makan dulu, karena semua barang yang aku beli akan di kirim langsung ke rumah oleh tokonya, di salah satu resto yang cukup terkenal di Mall itu, aku dan Anggita berbincang sembari makan siang.
Dan di saat aku sedang makan dengan Anggita, tiba tiba datanglah orang yang sudah membuat aku kesal dari semalam.
Saat aku bengong melihat kedatangan suamiku yang begitu cool berjalan ke arah restoran, Anggita langsung bersuara.
''Kak Via tadi kak Angga mengirim pesan saat kita sedang belanja, tadi kak Angga minta aku search lokasi nya...eeehhh cepet banget langsung sampe aja kesini'' Anggita memberitahu pada Angga dimana keberadaan mereka, aku balas tersenyum.
'' oohh...kamu yang kasih tahu'' jawabku singkat karena orang yang menyebalkan sekaligus suamiku sudah duduk di kursi percis di depanku.
Anggita setelah selesai makan, ia akan pamit pulang duluan, katanya sudah ada klien yang menunggu, namun aku yakini Itu hanya alasan agar aku bisa berdua dengan kakaknya.
'' Eeehhh iya kak..aku lupa bales pesan kakak semalam.. asal kakak tau yang memberikan nomor ponsel kak via pada temen Fandi itu aku, maaf yah aku tidak minta izin dulu maen ngasih nomor istri kakak.. dah gita pamit ke butik... happy quality time yaahhh... sebentar lagi kalian akan repot dengan dua Anakk....'' Anggita menjelaskan masalah nomor ponselku yang di berikan pada Reza ternyata Anggita yang memberikan.
'' Hahaahha....Rupanya suamiku mencari tahu siapa yang memberikan nomorku'' batinku
''Jeedeerrrrr'' mas Angga seperti menahan kesal tertampar karena ucapan adiknya, yang telah memberikan nomor ponsel ku tanpa ijin.
Aku sih malas memperhatikan mas Angga di depanku yang kini menahan kesal, Sudah pasti yang di tuduhkan mas Angga padaku, itu sama sekali tidak terbukti.
''Assalamua'laikum...kak Angga jangan lupa bayarin makanan ku'' Anggita mencium pipiku dan pamit keluar area restoran.
__ADS_1
------------***----------
Setelah kepergian Anggita, suasana langsung terasa dingin, Selvia asyik menghabiskan makanannya sedangkan Angga terus memandang intens ke arah Selvia.
Angga yang merasa kesal pada adiknya di tambah Selvia sama sekali tidak menggubris dan merespon keberadaannya.
Akhirnya Angga bersuara'' Kenapa gak bilang.... kalau mau belanja kebutuhan anak kita... bukannya mengajak saya malah minta di temani gita'' Mas Angga merasa tidak di anggap, karena tidak di ajak partisipasi untuk menyiapkan kebutuhan calon anak mereka.
Selvia sebenarnya malas untuk menjawab, namun ini di tempat umum, Selvia tidak mau Suaminya emosi merasa tidak di hargai.
'' Gimana... mau bilang sama kamu mas, kamu sendiri sibuk sama kecemburuan kamu yang gak jelas, posesif terus, curigaan ahh...aku sampai gak bisa mengemukakan niatku sekedar untuk berbelanja, mengenai keperluan calon anak kita'' Selvia menatap sinis suami di depannya sekilas kemudian memandang ke arah lain.
'' Terus gimana sekarang... sudah selesai belanjanya... kalau belum biar aku temani'' Angga mulai lembut, ia sadar kalau terus mengikuti emosinya ia tidak akan bisa mengambil hati bumil cantik di depannya.
Angga juga menyadari sikapnya kemarin yang kekanak-kanakan mencurigai istrinya di tambah sampai memarahinya.
'' Tidak perlu repot-repot mas, semuanya sudah selesai dan akan langsung dikirim oleh tokonya ke rumah '' Selvia masih menghabiskan makanannya, enggan menatapa suami di depannya.
'' Jadi sekarang mau langsung pulang... atau mau berkeliling dulu... biar aku temani'' Angga masih berusaha lembut mengambil hati istrinya yang begitu cuek tidak memperlihatkan ke arahnya.
'' Terima kasih mas, habis ini aku mau pulang saja sekalian mau jemput Safhira......pak Mardi pasti sudah menunggu '' Selvia menyelesaikan makannya dan memanggil karyawan restoran untuk meminta Bill yang akan di bayar.
'' Biar mas yang bayar'' Angga langsung memberikan kartu setelah karyawan resto datang menyerahkan Billnya.
Selvia keluar dari restoran berjalan duluan tidak menunggu Angga yang masih menunggu kartunya.
Angga langsung mengikuti, berjalan beriringan dengan sang istri, yang masih bersikap cuek padanya.
'' Ayo... pulang bareng mas, pak mardi sudah mas suruh pulang kerumah, Safhira juga tadi di jemput oleh mami'' Angga sekarang sudah berada sejajar berjalan dengan sang istri.
Padahal baru saja Angga mengirim pesan pada pak Mardi untuk pulang kerumah, karena ia ingin memperbaiki hubungan dengan bumil kesayangan nya yang tengah merajuk akibat ulahnya sendiri.
Angga bersyukur maminya langsung gercep menjemput Safhira saat tahu Selvia tengah sibuk berbelanja keperluan untuk calon cucunya yang akan segera lahir.
'' Gak perlu...Mas balik ke kantor saja, aku biar naik mobil online'' Selvia engga pulang bersama suaminya.
''Mas gak kasih... ayoo iku pulang bareng mas'' Angga menuntun istrinya berjalan menuju parkiran dimana mobil Rolls Royce Phantom milik Angga terparkir.
( Di bujuk terud ya pak Angga istrinya....makannya jangan semena-mena sama istri....mentang-mentang punya segalanya hehehehhe untuk para paksu di luar sana jangan ikutin sikap jelek pak angga yahh.... kasian nanti ngebatin istrinya)
Bersambung dulu....
__ADS_1
nanti lanjut lagiiii...
love youuu.....