
Julian di dalam toilet membersihkan pakaiannya yang kena tumpahan kopi. Tidak ada ekspresi apapun di wajahnya. Dia hanya membersihkan pakaiannya dengan normal saja. Begitu bersih, dia kembali ke mejanya dan melihat sekretarisnta masih menunggu dirinya disana.
" Kenapa kau belum keluar? "
" Maaf pak, saya merasa bersalah karena sudah menumpahkan kopi pada bapak. Mohon maafkan saya. "
" Keluar. "
Julian tidak suka basa basi dan tidak mau menanggapi sesuatu yang berlebihan begitu. Jadi dia langsung mengusir sekretarisnya saat merasa pembicaraannya mulai tidak penting.
Dengan terpaksa sekretaeis itu keluar dari ruangan Julian. Namun dalam hatinya cukup lega karena sudah melakukan rencananya.
Julian mengambil ponselnya dan ingin menghubungi Keysha kembali. Namun begitu dia membuka pinselnya, ponsel itu sudah terkunci kembali dan saat di buka nomor telpon Keysha yang dia simpan sebelumnya tiba tiba hilang.
" Mau main main dengan aku rupanya. Aku tidak akan membiarkan siapapun merusak hubungan aku dengan Keysha. Kalau memang mau menarik perhatian aku, setidaknya tunggu aku lupa ingatan atau gila dulu baru akan bisa. "
Julian sangat geram dengan hal tersebut, tapi dia harus menahannya dulu karena tidak mau Keysha menunggu lama telpon dari dirinya.
" Sudahlah, aku tidak bisa meluapkan emosi aku sekarang. Aku harus mengutamakan Keysha dulu. Aku tidak mau dia menunggu lama telpon dari aku. Aku sangat merindukan dia. "
Julian kembali menghubungi Keysha dan tak lama dering telpon itu terdengar suara Keysha yang menyapa gendang telinganya.
" Halo.. "
" Halo Key, apa kamu sibuk? "
" Gak kak.. Sudah selesai meetingnya? "
" Sudah... "
Mereka sama sama terdiam setelah percakapan basa basi yang mereka lakukan. Tidak ada suara apapun dan hanya suara napas saja yang terdengar. Seolah itu menandakan orang yang sedang di hubungi masih ada disana dan menunggu percakapan mereka selanjutnya.
" Aku merindukan mu Key. "
Cukup lama Keysha diam tak menjawab apapun namun dalam hatinya Keysha mengatakan kalau dia juga sangat merindukan Julian.
" Aku tau kau juga merindukan aku. Aku hanya mau kamu mendengar saja dari aku langsung kalau aku merindukan kamu Key. "
__ADS_1
" Aku juga kak. Sangat. "
Julian bisa menghubungi Keysha karena dia hafal dengan nomor telpon Keysha dan begitu akan dia menghubungi Keysha, ada pemberitahuan kalau nomor itu di blokir. Jadi Julian buka dulu blokirannya dan langsung menghubungi Keysha.
" Apa aku harus kembali kesana dan menemui kamu saat ini Key? "
" Kak.. jangan gila. Kakak pergi untuk mengejar mimpi kakak. Kenapa harus kembali hanya karena aku bilang merindukan kakak. Kalau tau begitu, aku tidak akan mengatakan apapun. "
Julian tersenyum karena membayangkan ekspresi wajah Keysha saat bicara hal ini padanya. Dia sangat hafal bagaimana setiap ekspresi wajah Keysha hanya dari nada suaranya saja. Sebegitu besar cinta Julian pada Keysha namun dia masih harus menahan semuanya untuk memantaskan diri berada di dekat Keysha.
" Kamu sangat lucu. Saat kamu menghubungi aku tadi, saat itu aku ingin sekali langsung berada di hadapan kamu Key. Aku menahan diri agar tidak menghubungi kamu selama ini karena takut saat mendengar suara kamu, aku akan langsung mencari penerbangan tercepat untuk menghampiri kamu. Namun saat kamu menghubungi aku, ternyata ada perasaan lega yang aku rasakan. Walau rindu ini masih sangat berat aku rasa Key. "
Keysha tersipu mendengar ucapan Julian ini. Dia sangat tau kalau Julian akan selalu berkata manis padanya. Namun mendengar perkataan Julian kali ini setelah sekian lama membuat Keysha merasa sesuatu yang berbeda. Rasa berdebar di dadanya sangat jelas dia rasakan. Bahkan rasanya dia ingin berteriak karena rasa itu mengelitik perutnya saat ini.
" Hemm.. "
" Kamu malu? "
" Gak.. "
" Gak. "
" Ayolah.. aku rindu. "
Mereka berbicara seolah mereka masih pasangan dan hubungan mereka tidak pernah berakhir. Hingga akhirnya Keysha membiarkan Julian melakukan panggilan Video dengannya. Namun begitu panggilan itu terhubung, baik Julian ataupun Keysha sama sama tidak ada berkata apapun. Mereka hanya saling pandang dengan tatapan kerinduan yang dalam.
Julian dan Keysha sampai lupa waktu karena mereka terus saling pandang hingga suara Alex mengganggu kegiatan mereka.
" Key, ini data yang kamu butuhkan tadi. "
Alex mendekati Keysha dan setelah bicara begitu dia baru sadar kalau Julian dan Keysha sedang video call. Jadi dia hanya mengangguk dan tersenyum pada Julian.
" Kamu sedang bersama Alex? Tapi kenapa wajah Alex sepertinya terluka? "
" Jangan perdulikan aku Jul. Kalian lanjut saja telponan. Lepaskan rindu kalian yang selama ini kalian tahan. Jangan gengsi untuk saling mengubgkapkan isi hati. Bila perlu kau langsung ajak Keysha pacaran lagi. "
Julian hanya tersenyum menanggapi hal itu. Walau mereka tidak mengatakan kata pacaran, tapi hati mereka saling mengetahui kalau mereka saling mencintai dan menunggu waktu saja untuk kembali menjalin hubungan.
__ADS_1
" Pergilah Lex. Nanti aku lihat data itu. "
Akex langsung pergi meninggalkan Keysha saat Keysha sudah mengatakan hal tersebut. Julian masih saja tersenyum karena ucapan Akex tadi dan itu membuat Keysha tidak nyaman.
" Aku matikan saja ya.. "
" Sudah jangan malu. Apa yang di bilang Alex memang benar. Kita masih sama seperti dulu hanya belum ada pembicaraan resmi saja untuk hal ini. Namun aku akan pastikan saat aku sudah layak bersama kamu dan bisa melindungi kamu, kamu tidak akan aku minta menjadi kekasih aku lagi. Melainkan menjadi istri aku. "
" Sudah kak.. Jangan di bahas lagi. Kakak jaga kesehatan disana. Jangan terlambat makannya. Aku masih ada pekerjaan jadi aku tutup dulu telponnya ya.. "
Julian sebenarnya ingin menahan Keysha, taoi dia ingat kalau dirinya juga belum memberikan pelajaran pada sekretarisnya itu.
" Baiklah, besok aku hubungi kamu lagi. Jaga kesehatan ya Key, aku merindukan mu. "
Keysha hanya tersenyum dan mematikan telponnya. Dia tadi sempat merasa kalau ada hal yang sedang mengganggu pikiran Julian tadi. Namun itu hanya beberapa saat setelah dia mengatakan ingin menutup panggilan telpon mereka.
" Dia pasti tidak mau memutuskan telpon tadi. Makanya membuat ekpresi begitu. Namun saat ini aku memang harus menutupnya karena aku harus mengurus masalah yang lebih penting.
Setelah telpon itu di tutup, raut wajah Julian yang lembut tadi tiba tiba berubah dan terlihat sangat marah saat ini. Dia lalu mengambil telpon kantor dan menghubungi sekretarisnya agar masuk kedalam ruangannya segera.
*Tok.. Tok.. Tok.. *
" Masuk. "
" Ada apa bapak memanggil saya? "
" Kau di pecat. "
" Apa? Tapi kenapa pak? "
Tatapan tajam Julian itu seakan menusuk tubuh sekretarisnya saat ini. Dengan nada dingin Julian mengatakan alasannya memecat sekretarisnya itu.
" Kau berani dengan lancang mengambil hp milik saya. Kau bahkan berani menghapus nomor penting di hp saya. Yang paling keterlaluan adalah kau memblokir nomor tersebut dengan tujuan agar nomor itu tidak bisa menghubungi saya lagi. Apa alasan itu tidak cukup kuat untuk saya memecat kamu? "
" Tolong jangan pak... maafkan saya pak. Saya salah. "
" Tidak ada maaf untuk orang yang sudah berusaha melakukan hal buruk seperti mu. Kau bisa melakukan hal ini sekarang, untuk lain kali kau bisa saja akan melakukan hal yang lebih nekad lagi. Jadi untuk apa saya mempertahankan dan memberikan kau kesempatan lagi saat perbuatan mu ini saja sudah sangat keterlaluan untuk saya. "
__ADS_1