
Selesai Keysha berganti pakaian, dia meminta Quenza untuk masuk kedalam mobilnya. Agar mereka berdua bisa bicara.
" Aku ingin kita bicara hal yang serius. "
Keysha mengawali pembicaraan itu karena dia harus memastikan keadaan Violla nanti baik baik saja. Keberadaan Quenza sekarang bukan lagi melindungi Violla, tapi bisa menyakiti dirinya.
" Apa? Kau mau tau kenapa aku melakukan semua itu? "
" Hemm.. "
" Hanya ingin. "
Jawaban itu membuat Keysha kesal. Namun berusaha semaksimal mungkin untuk menjaga nada bicaranya agar tidak berteriak lagi pada Quenza.
" Sebelumnya kau mengatakan pada aku, kalau kau di panggil oleh Violla untuk menemanu dia dan menjaganya dari hal hal buruk yang nantinya bisa menimpa dirinya. Namun kenapa kali ini kau bukannya menjaga dia tapi kau malah ingin menyakiti dirinya. Apa kau sadar kalau tujuan mu sudah berubah? Apa kau mengerti kenapa aku membentak mu dan mengatakan hal buruk pada mu tadi karena kau telah berubah? Quenza, aku hargai kau dan aku tidak kabur dari mu setelah aku tau kau sisi lagin dari Violla. Semua itu di sebabkan karena tujuan mu untuk menjaga dia. Namun bila tujuan mu berubah, apa aku masih harus menghargai mu? "
Semua ucapan Keysha membuat Quenza diam. Dia juga tidak mengerti kenapa emosinya tidak terkendali dan ingin menguasai tubuh Violla. Dia merasakan hal yang berbeda pada Keysha, jadi dia ingin menjadi sosok yang nyata di hadapan Keysha.
" Kenapa kau diam saja? Sejujurnya Quenza, aku sering kali berpikir kalau apa yang terjadi pada mu dan Violla itu hanya hayalan saja. Aku tidak bisa menganggap kalian 2 orang. Ini hanya masalah kejiwaan saja. "
Mata Quenza terlihat menunjukan kemarahan lagi. Tapi tangannya segera di pegang oleh Keysha. Keysha ingin menenangkan dan memberikan pengertian pada Quenza.
" Jangan marah dulu. Aku hanya mengutarakan apa yang aku rasakan saja. Aku tidak ingin menyinggung kamu. Lalu untuk masalah yang tadi kamu bilang kamu tertarik pada aku, aku tidak bisa menerimanya. Aku tidak memounyai ketertarikan yang sama seperti yang kamu rasakan. Aku mempunyai seseorang yang aku cintai saat ini. "
" Kau lebih memilih bersama orang itu di bandingkan dengan aku? "
Untuk menjelaskan hal ini pada Quenza dia perlu kesabaran ekstra. Bagaimanapun Quenza terbentuk dari kemarahan Violla, jadi dia harus lebih sabar menghadapi Quenza saat ini.
__ADS_1
" Kau tau kalau perasaan tidak bisa di paksakan. Aku tidak memiliki rasa seperti yang kau katakan tadi. Bila aku tidak bersama dia, aku juga tetap tidak akan bisa tertarik pada mu. Kau terus mengatakan kalau kau tertarik pada aku karena kau melihat sisi yang aku yang membuat diri mu tertantang. Namun Quenza, itu bukan diri aku yang sebenarnya. Kau hanya tertarik dengan emosi aku saja. Amarah yang ada pada diri aku membuat kau tertarik. Namun bila aku bersikap berbeda, kau pasti tidak akan merasakan getaran itu. Bukankah itu benar? "
Quenza memikirkan apa yang Keysha bilang, dan ternyata semua itu benar. Dia tertarik oada Keysha di saat Keysha menunjukan sisi liarnya. Dia semakin menginginkan Keysha di saat prilaku kejam Keysha muncul. Namun bila Keysha bicara lembut dan tenang pada dirinya, getaran itu tidak ada lagi.
" Lalu apa mau mu? "
Keysha mengerti kalau Quenza sudah paham akan maksud dari pembicaraan mereka kali ini.
" Jangan pandang aku sebagai objek yang ingin kau kuasai. Tetaplah pada tujuan awalmu yang ingin menjaga Violla. Kita tidak mungkin bersama. Namun kita masih bisa berteman. "
" Aku tak butuh teman. "
" Kalau tidak menjadi teman, aku tidak bisa menjanjikan apapun lagi pada kamu. Jangan berharap lebih pada aku. Aku tidak mungkin bisa memberikannya."
Quenza hanya diam saja. Dalam hatinya masih terus mengatakan kalau dirinya ingin memiliki Keysha dan tertarik pada Keysha. Namun apa yang Keysha katakan tadi itu juga benar. Dia hanya suka pada Keysha di saat Keysha menunjukan sisi dia yang kejam dan menantang.
" Tidak perlu. Anak buah aku bisa membawanya untuk aku. "
Keysha menganggukan kepalanya dan segera menjalankan mobilnya. Hari ini dia sangat lelah dan ingin segera beristirahat.
Sepanjang perjalanan, Keysha dan Quenza sama sama tidak ada mengatakan apapun. Mereka hanya saling diam dan sibuk dengan pikiran masing masing.
Begitu sampai di depan rumah Violla yang baru, Keysha menghentikan mobilnya tanpa masuk kedalam pekarangan rumah itu.
" Masuklah, kau perlu beristirahat. "
" Key, bila aku butuh bantuan mu, apa kau akan membantu ku? "
__ADS_1
" Tentu. Aku akan usahakan yang terbaik untuk teman teman aku."
Quenza mengangguk dan mulai turun dari dalam mobil Keysha. Dia melangkah masuk kedalam rumah itu dan begitu Quenza menghilang dari pandangannya, barulah Keysha menghubungi anak buah Alex untuk mengawasi Violla lebih ketat lagi.
" Bukan hanya dari nusuh musuh saja aku harus menjaganya, tapi dari sosok yang dia buat juga aku harus melindunginya. Nanti bila Violla sudah sadar kembali aku akan membicarakan mengenai hal ini. Aku mau dia melepaskan sosok Quenza, agar tidak muncul lagi dan mengambil alih tubuhnya kembali."
Keysha kembali pergi dari tempat itu dan kembali ke apartemennya. Di Tiongkok, Julian sama sekali belum ada beristirahat. Dia masih sibuk mengurus pekerjaannya. Hingga keesokan paginya, Julian mendapatkan laporan kalau tahanannya mulai lemas karena tidak pernah mau makan selama berada di dalam tahanan itu.
" Aku akan segera kesana. Jangan biarkan mereka mati sebelum aku datang. "
Segera Julian bersiap siap untuk pergi menemui mereka.
" Ternyata kalian sungguh lemah, baru saja di siksa begitu sudah lemas dan tak berdaya. Sungguh memalukan. "
Begitu Julian sampai di tempat itu, dia segera mencari tempat dimana dirinya mengurung mereka semua.
" Buka pintunya. "
Disaat pintu terbuka, Julian melihat keadaan Burhan, istri dan anaknya sangat menyedihkan. Mereka kotor dan bau. Itu karena mereka di kurung di ruangan kosong dan tidak bisa pergi ke toilet untuk melakukan aktivitas di dalam toilet. Jadi semua itu mereka lakukan di tempat mereka di tahan.
" Seret mereka keluar dan siram tubuh mereka. Mereka sangat bau hingga aku tidak sudi mendekatinya. "
Julian memerintahkan anak buahnya untuk melakukan hal itu. Begitu Burhan mendengar suara Julian, dia mulai berteriak dan memaki Julian dengan kencang.
" Dasar iblis. Kau iblis Julian. Kenapa kau melakukan semua ini pada kami ha? "
" Kalian berani menanyakan hal itu? Apa kalian tidak sadar akan semua kesalahan kalian? kalian masih menganggap diri kalian itu tidak bersalah?"
__ADS_1
Kemarahan yang besar terlihat di mata Julian begitu dia mengatakan semua itu.