Rebirth Of A Genius Woman

Rebirth Of A Genius Woman
10. Sekolah


__ADS_3

Railene sedang minum susu ketika Diza mendatanginya dengan banyak dokumen di tangannya. Dia memperhatikan bundanya yang sibuk mengurus berkas-berkas pendaftaran sekolahnya yang mendadak. Setelah semalam mencapai kesepakatan, Diza langsung menidurkan Railene dan berlalu untuk mengurus berkas untuk Railene. Diza, dibantu dengan asisten rumah tangga dan Susan yang sudah seperti bibi Railene, melakukan semua yang diperlukan untuk mendaftarkan Railene ke sekolah barunya.


"Kamu udah selesai sarapan sayang?" tanya Diza mendekati Railene dan duduk di sampingnya.


"Udah Bunda." Jawab Railene tersenyum cerah.


"Kalau gitu kita berangkat sekarang. Yuk!" Susan menginterupsi. Sahabat setia Diza itu sudah ada di samping mereka. Dia sampai ikut-ikutan karena saking antusiasnya dengan semua yang melibatkan Railene. Jika ditawari untuk merawat Railene selama sehari, Susan pasti akan berjingkrak senang dan meminta waktu lebih lama agar bisa bersama Railene.


Susan memang fans berat Railene. Tidak aneh melihat pemandangan ketika mereka bersama jika orang itu sudah bersama dan menyaksikan interaksi mereka sejak dulu.


"Tante Susan ikut nganter Railene?" tanya Railene yang sedang digendong Diza.


"Iya dong. Hari ini adalah hari bersejarah kamu. Tante harus ikutan mengabadikan moment ini." ujar Susan bersemangat.


Mendengar hal menggelikan itu, Railene tertawa lucu. Ia hanya mengangguk. Membiarkan Susan yang tergila-gila padanya bahkan sempat pernah ingin menculiknya untuk dijadikan anak. Tapi pada akhirnya disadarkan oleh Diza dan berakhir seperti ini. Ia tidak mempermasalahkannya karena ia tahu Susan benar-benar tulus padanya dan juga pada bundanya.


Railene memakai baju bebas karena belum membeli dan mengukur seragam. Lagipula, ini pertengahan semester. Jika saja Diza bukan orang berpengaruh, maka akan sulit mencari sekolah yang mau menerima siswa baru di pertengahan semester. Apalagi usianya masih sangat muda dari kualifikasi yang ditetapkan untuk umur minimal anak SD.


Tapi, itu bukan masalah untuk Diza. Kebetulan ia memiliki kenalan seorang pemilik sekolah swasta basis Internasional yang juga pernah bertemu dengan Railene lumayan sering. Namanya Jean, seorang pebisnis sekaligus seseorang yang mendedikasikan dirinya pada pendidikan.


Saat mendengar bahwa Diza ingin mengirim Railene bersekolah di sekolah miliknya, Jean langsung setuju dan membantu mengurusnya. Ia sangat menantikan memiliki murid jenius seperti Railene di sekolah yang ia miliki. Bahkan ia datang sendiri ke sekolah hari ini demi menyambut kedatangan mereka.


"Bunda, Railene akan sekolah dimana?" tanya Railene setelah mobil mulai melaju di jalanan yang masih agak lengang.


"Di sekolahnya Tante Jean. Kamu tau Tante Jean, kan?" Diza menanggapi.


"Tante Jean yang pakai kacamata ya, Bun?"


"Benar. Bunda udah minta bantuan sama Tante Jean dan dia setuju untuk menguji kamu dulu sebelum resmi jadi murid di sana. Sebenarnya, Bunda udah daftarin kamu kemarin dan sekarang kita ke sana untuk nganterin kamu ujian masuknya." Ujar Diza panjang lebar dan diangguki Railene antusias.


Railene mulai memikirkan bahwa itu akan mudah untuk langsung loncat kelas jika melihat berdasarkan hasil tes masuk. Ia akan mengajukan request itu nanti. Ia sangat yakin bahwa Jean pasti akan memberinya kesempatan untuk membuktikan dirinya layak untuk langsung menuju jenjang yang lebih tinggi.

__ADS_1


Setelah beberapa menit terlewati, mobil yang mereka tumpangi sampai di halaman sekolah dengan desain eksterior yang modern. Sekolah itu dapat dikatakan cukup mewah hanya karena desain bangunannya yang bergaya futuristik. Railene bahkan memuji dalam hati siapapun arsitek yang merancang bangunan sekolah bertingkat itu. Mungkin ada sekitar sepuluh tingkat?


Halaman utama sepi karena kegiatan belajar mengajar sedang berlangsung. Railene masih berada di gendongan Diza karena bundanya itu tidak mengizinkannya berjalan terlalu jauh. Susan pun ada di sampingnya. Dokter satu itu sedang menelepon dan sepertinya serius.


"Apa seminarnya udah mau mulai? Kamu bisa pergi kalau buru-buru." Ujar Diza saat Susan sudah selesai menelepon.


"Jangan khawatir. Aku masih punya tiga jam sebelum seminar dimulai." Jawab Susan tersenyum ringan. Selama ia masih bisa bersama Railene, Susan tidak akan pergi begitu saja.


Mereka menaiki lift dan menuju lantai tertinggi, lantai sepuluh. Di sana sudah ada kepala sekolah dan Jean sendiri yang menunggu kedatangan mereka.


Railene tidak banyak berkomentar. Ia hanya melihat sekeliling dan bergumam dalam hati tentang betapa mewahnya sekolah ini. Pasti mahal. Kemudian ia menoleh ke arah Diza.


"Ada apa, sayang?" tanya Diza ketika Railene memandangnya dengan ekspresi rumit.


Railene menggeleng lalu tersenyum cerah. Membiarkan pikirannya menjadi miliknya sendiri. Toh, ia tidak berencana lama-lama di sekolah ini. Ia sudah memikirkannya bahwa maksimal menempuh sekolah dasar adalah tiga tahun. Tentu menggunakan akselerasi super menurut siswa biasa. Tapi, bagi Railene itu hanya menjalani rutinitas dan kesempatan mengeksplorasi banyak hal yang ia lewatkan di kehidupan pertamanya.


Jean yang melihat kedatangan temannya langsung tersenyum lebar. Ia menyambut dan menyapa mereka lebih dulu. Bahkan kepala sekolah diabaikan kehadirannya, membuat pria berusia 40-an itu merasa sedikit penasaran. Batinnya bertanya-tanya tentang siapa identitas tamu penting yang akan ia temui.


"Kabarku baik tentu saja. Kamu sampai menyambut sendiri, terima kasih udah mau repot-repot menyambut kami." ujar Diza membalas ramah.


"Bukan masalah. Dan apakah ini Railene? Astaga, kamu semakin cantik seperti ibumu." Jean beralih pada Railene. "Apa Railene masih ingat tante?" tanyanya kemudian.


Railene mengangguk dan tersenyum. "Tante Jean yang suka mampir bawa es krim." jawab Railene sangat ceria. Ia menyukai kepribadian Jean yang bersemangat dan seperti partner in crime bagi Railene. Meski sikapnya sangat profesional dalam pekerjaan, Jean menyimpan jiwa bebasnya dengan baik. Hingga Railene berhasil mengendusnya dan mulai bergaul dengannya. Bersenang-senang bersama ketika Jean mampir ke rumah, berkunjung dengan berbagai alasan yang terkadang aneh bagi Diza.


Jean tertawa lepas, ia kemudian beralih meminta Railene dari gendongan Diza. Ia mengabaikan Susan yang notabenenya adalah musuh bebuyutannya dalam mendapatkan perhatian Railene. Mereka beberapa kali bertemu saat berkunjung ke rumah Diza untuk melihat Railene. Kelamaan, mereka akrab dengan cara yang berbeda dan berakhir menjadi saingan untuk memperebutkan perhatian Railene seorang. Aneh kelihatannya memang, mengapa orang dewasa berjuang sangat keras bahkan sampai bertengkar hanya untuk mengobrol bersama anak kecil? Hanya mereka dan tuhan yang tahu.


"Jangan kebanyakan bercanda, Jean. Railene ke sini buat mendaftar sekolah!" sahut Susan yang sedang cemburu melihat kedekatan Jean dengan Railene yang sudah ia klaim sebagai keponakannya.


Jean menoleh dan mendengus ringan. Meskipun begitu, ia tetap membawa mereka masuk ke dalam ruangannya. Kepala sekolah yang sedari tadi diabaikan para wanita itu akhirnya terlihat keberadaannya. Mereka berkenalan dengan ramah dan cukup singkat.


Setelah masuk, mereka mendiskusikan tes yang akan dijalani Railene. Jean berpikir bahwa Railene terlalu pintar untuk ukuran kelas kecil seperti kelas satu atau dua. Maka dari itu Jean menyarankan untuk membuat Railene berada di tingkat kelas lebih tinggi.

__ADS_1


Diza dan Susan tidak keberatan. Mendengar itu pun, Railene menjadi lebih bersemangat. Ternyata Jean memahaminya dengan baik dan sesuai dengan niatnya di awal. Meskipun usianya masih lima tahun, Railene memang sudah bisa bersaing dengan modal otak pintar dan attitude-nya yang baik. Itu membuat siapa pun akan mengaguminya tanpa syarat. Kecuali ada manusia yang begitu egois dan sombong. Mereka pasti akan menyangkal mati-matian dan menolak dengan keras bahwa Railene sangat pintar dan baik dalam berperilaku.


***


.


Chit Chat Rebirth :


Railene : Kak, langsung ke kelas enam ya..., please...


Saya : Kamu memanggil saya Kak? Saya bahkan lebih muda dari kamu.


Railene : Bohong! Kak Wai Si bukannya udah gede?


Saya : Saya pernah bilang ke kamu tentang itu?


Railene : Enggak..., tapi...


Susan : Omo, YC jangan bohongin anak kecil.


Railene : Jempol untuk Tante Susan!


Susan : Hehehe...


Jean : Cih, pengemis perhatian.


Susan : Bilang aja kamu syirik.


Saya : *log out already*


.

__ADS_1


__ADS_2