Rebirth Of A Genius Woman

Rebirth Of A Genius Woman
25. Pasca Pertarungan


__ADS_3

Pagi menyapa di rumah keluarga Aristokelly. Seorang gadis kecil membuka matanya dan mendapati dirinya ada di kamarnya sendiri. Ia melamun sebentar untuk melihat langit-langit kamarnya yang memiliki oranamen luar angkasa. Tersenyum kecil, gadis itu mengernyit ketika mendapati lehernya terasa sakit.


Dia ingin bangun, namun sangat sulit rasanya. Lehernya juga tertahan sebuah collar neck yang membuatnya tidak memiliki ruang bebas untuk bergerak. Pada akhirnya dia menghela napas panjang dan tahu bahwa tulangnya ikut terpengaruh karena cekikan kemarin. Dia sedikit mengapresiasi Claudya karena tenaga gadis itu benar-benar kuat. Atau hanya dia yang terlalu lemah?


Railene menghela napas. Itu pasti alasan kedua. Dia terlalu lemah. Tubuhnya sangat rapuh karena masih anak-anak. Bahkan hanya cekikan dari gadis sebelas tahun membuat tulang dan otot lehernya trauma. Dia benar-benar butuh belajar bela diri.


Sakit di lehernya terasa mengganggu. Ada sedikit gatal di area tertentu. Seingatnya Claudya menancapkan kuku di lehernya juga. Itu hampir setengah menit dan pasti meninggalkan goresan hingga bekasnya terasa gatal. Railene benar-benar merasa tidak nyaman.


Beberapa menit tubuhnya bergerak-gerak di atas kasur king size itu. Lalu tangannya menyentuh sesuatu. Relfeknya Railene menoleh hingga lehernya menjadi tegang. Tanpa sadar dia berteriak. Otot dan tulang lehernya benar-benar terasa sakit sekarang. Bahkan matanya berkaca-kaca. Diam-diam Railene bersumpah bahwa ini adalah terakhir kalinya ia mengorbankan diri sendiri untuk mencapai tujuannya.


Gerakan dan teriakan Railene membangunkan Diza. Semalaman Bundanya itu menunggui Railene dan tertidur di sampingnya. Mendengar teriakan Railene yang kesakitan, ia segera bangun. Sedikit linglung namun kemudian sadar dengan cepat.


Ia bangkit dengan wajah serius ketika melihat Railene menahan napas dengan wajah yang memerah. Dia segera tahu bahwa Railene secara tidak sengaja menggerakkan lehernya. Diza segera menenangkan Railene. Mengatur coller neck dengan melepaskannya sebentar dan memijat pelan di bagian tertentu leher Railene yang kebiruan.


Perlahan Railene rileks. Dia menatap Bundanya dengan pandangan menyedihkan. Matanya berkaca-kaca ditambah dengan wajah imut yang teraniaya itu membangkitkan rasa sakit Diza sekaligus kemarahannya pada gadis yang menyakiti Railene. Matanya berkilat dengan emosi. Sejenak Diza menenangkan diri dan berbicara sangat lembut kepada Railene.


"Sshh, nggak papa sayang, semuanya baik-baik aja." Diza berujar lembut.


Railene tenang ketika menatap wajah Diza. Air matanya mengalir karena sisa rasa sakitnya masih ada. Dengan suara lirihnya yang diusahakan, Railene berbicara pelan.


"Bun... da,"

__ADS_1


"Iya sayang, ini Bunda. Railene mau minum?" Tanya Diza perhatian. Dia telah menunggui Railene untuk sadar selama kurang lebih tiga belas jam. Railene pasti lapar dan haus.


Railene mengangguk. Kerongkongannya kering dan luka cekikan itu memperparah rasa sakitnya ketika dia bicara. Dia memilih diam dan mengikuti instruksi Bundanya untuk tidak bicara dulu. Itu akan menyakiti tenggorokannya.


Selama pagi itu, Diza, Kakek, dan Neneknya bergantian merawat Railene. Diza sudah meminta cuti dalam beberapa hari. Tidak ada jadwal praktek penting dan kelahiran dalam waktu dekat. Dia dengan mudah mengambil hari cutinya yang ia tabung selama beberapa bulan. Neneknya membatalkan untuk ikut serta dalam perjalanan dinas Kakeknya. Sementara Kakeknya akan berangkat ke luar kota pukul satu siang untuk pekerjaan dalam beberapa hari. Itu tidak dapat ditunda.


Railene menjadi sangat pendiam dan menurut. Tidak banyak menggerakan leher, sesekali berjalan-jalan di halaman belakang dan membaca buku-buku di perpustakaan rumah. Kegiatannya monoton. Terkadang jika Jean datang, Railene akan bermain menyusun lego.


Tiga hari berlalu. Ben mengunjungi Railene sekali dan itu di hari ketiga ketika bocah laki-laki itu memaksa Jean membawanya serta. Karena sering bersama Railene, Ben juga akrab dengan Jean.


Bocah lelaki itu menangis ketika melihat kondisi Railene. Kemudian dia sibuk mengomel dan ocehannya cenderung membuat Railene pusing. Railene tahu akan jadi seperti ini dan tak berapa lama, dia mengusir Ben untuk pulang. Keduanya berdebat sebentar karena Railene sudah bisa mengeluarkan suaranya, sebelum Ben menurut dan pulang dengan damai. Tidak lagi menangis. Ia tidak peduli sebenarnya, namun dia pulang dengan hasil memuaskan.


...


"Railene yakin mau belajar karate?" Diza kembali bertanya kepada Railene yang sedang membaca buku di kamarnya. Keduanya suka menghabiskan waktu bersama ketika memiliki waktu luang.


Railene menoleh, ia sudah melepas coller-nya namun masih memiliki bekas kebiruan yang mulai memudar di sekitar leher putihnya. Tiga luka kecil karena bekas kuku yang menempel di kulitnya sudah kering. Ia tampak normal, tapi pemandangan luka itu membuat orang lain yang melihatnya menjadi sedih.


"Iya, Bunda. Biar Railene bisa melindungi diri sendiri. Railene nggak mau bikin Bunda khawatir lagi," ujar Railene lugas dengan wajah serius. Matanya berbinar lembut, pipinya sedikit menggembung lucu dan pemandangan wajah Railene membuat Diza benar-benar luluh lagi.


Diza menghela napas tipis. Tidak terlihat. Dia mengusap kepala Railene dan tersenyum menenangkan. Dalam hati berbicara untuk Railene bahwa ia tidak akan bisa berhenti khawatir selama tidak melihat Railene baik-baik saja dengan mata kepalanya sendiri. Putrinya sangat berharga dan Diza sangat menyayangi Railene.

__ADS_1


Railene seperti mendapat getaran sinyal yang berkata bahwa Bundanya akan baik-baik saja selama dia baik-baik saja. Sedikit terkejut, namun Railene berhasil mengontrol ekspresinya. Dia melihat Bundanya dengan senyum manis. Pancaran mata Bundanya entah mengapa bisa Railene mengerti. Bundanya bahkan akan melindunginya dengan nyawanya. Dia tahu dan merasa beruntung dengan itu.


"Udah waktunya makan malam. Kita makan dulu yuk!" Diza mengajak Railene untuk turun dan makan malam. Keduanya berjalan turun. Sejak berusia enam tahun, Railene selalu tidak mau digendong dan lebih suka berjalan sendiri. Hanya keadaan tertentu saja yang membuatnya harus digendong oleh orang dewasa lain.


Saat sampai di meja makan, ada neneknya sedang menata piring dibantu asisten rumah tangga yang bekerja untuk keluarga Aristokelly.


"Nenek!" Railene menyapa ceria dan berlarian kecil.


"Halo, makan malam udah siap, sayang. Sini duduk sini!" Neneknya menyambut hangat. Menepuk-nepuk kursi meja makan dan menggiring gadis kecil itu duduk tenang. Dia kemudian berceloteh dan mulai memasukkan lauk pauk ke dalam piring Railene.


Diza ikut membantu dan duduk di samping Railene. Memperhatikan Railene dan tersenyum kecil. Untuk ukuran anak seumur Railene, dia lumayan cepat untuk lepas dari trauma. Diza dan yang lainnya sangat sadar namun tidak bisa menahan sedih di hati mereka.


Mereka juga senang karena Railene kembali ceria dalam beberapa hari setelah kejadian yang menimpa gadis kecil itu. Anak-anak normalnya akan menangis dan histeris saat bangun setelah dicekik orang lain hingga pingsan. Biasanya syaraf dan halusinasi anak-anak akan aktif dan menyebabkan tindakan trauma psikis yang serius. Namun untung saja Railene tidak mengalami itu. Dia hanya kesulitan karena luka di lehernya. Sisanya dia menjadi pendiam dan cenderung bertingkah normal.


Diza sedikit heran awalnya. Tapi kemudian dia kembali diyakinkan bahwa Railene memiliki kondisi mental yang baik dan kuat setelah diperiksa oleh psikiater. Tidak ada upaya pasca-trauma dan semuanya berjalan normal.


***


Hai, maaf menghilang beberapa hari karena negara api menyerang. Dan saya bahagia karena akhirnya terbebas dari UAS serta tugas-tugasnya.


Terima kasih untuk pembaca yang masih setia menunggu cerita ini. Saran dan kritikan saya terima dengan tangan terbuka. Like-nya jangan lupa. 😊

__ADS_1


__ADS_2