Rebirth Of A Genius Woman

Rebirth Of A Genius Woman
56. Mata Berbintang


__ADS_3

Dua puluh menit dan giliran Railene audisi. Hari ini adalah hari terakhir audisi dan Railene hanyalah salah satu dari siswa yang mendaftar untuk audisi di hari terakhir. Itu tidak sebanyak di hari pertama dan kedua. Hanya tersisa beberapa orang setelah Railene.


Railene mendongak untuk menengok ke arah juri. Tiga orang itu juga memperhatikannya. Dia berjalan ke tengah panggung auditorium dan memperkenalkan diri dengan singkat. Ia membangun citra dirinya yang biasa. Agak dingin namun murni dan polos saat dia tersenyum. Railene tampak misterius karena tatapan matanya.


"Nama saya Railene Aristokelly," kata Railene singkat.


Ia menunduk sebentar sebelum kembali melihat ke arah tiga juri. Ia memperhatikan Jack yang memiliki bintang di matanya. Railene menjadi semakin yakin karena kondisi bersemangat Jack yang tiba-tiba. Jika Railene sendiri bisa merasakannya, maka dua juri di sisi kanan dan kirinya juga bisa.


"Apa ini orang yang Anda cari, Pak Jack?" Tanya orang di sebelah kanannya.


"Hmm..., dia orang yang tepat, kan? Lihat penampilan dan auranya saja sudah meyakinkan. Bagaimana menurutmu, Sutradara?" Jack mengirim opininya.


Pria yang disebut sutradara mengangguk. Ada senyum kecil di bibirnya. Dia telah menjadi salah satu orang dari daftar orang-orang yang tertegun saat pertama kali melihat Railene.


Railene sangat cantik. Pesona gadis kecil yang murni namun misterius itu membuatnya membayangkan seorang dari dunia atas. Semacam entitas tak terjangkau dan bukan bagian dari dunia fana. Realisasinya sangat sempurna. Dan kedua pria yang baru pertama kali melihatnya menjadi sangat sadar bahwa Railene memang sangat cocok dengan karakter salah satu tokoh dari film yang sedang mereka garap.


"Baik, Railene. Bisakah kamu mempraktikkan karakter ini..."


Sebuah video singkat di layar LCD yang disiapkan berputar. Memperlihatkan seorang aktris kecil dengan wajah dingin menyapu kerumunan. Kata-kata sederhana yang tajam memperkokoh emosi di matanya. Perasaan rumit yang muncul di matanya sangat kompleks. Meningkatkan perubahan karena perpisahan.


Untuk sejenak Railene menganalisis sambil mengagumi ekspresi aktris di video. Nada suaranya yang jernih seperti memiliki ketenangan yang tidak dimiliki seorang anak kecil seusianya. Ada beberapa hal yang dipahami Railene dengan baik dan diam-diam memperhatikan detailnya.


Video berhenti dan suara instruksi terdengar, "Baik, kamu bisa mulai," kata Jack dengan seringai di matanya. Kedua orang di samping kanan dan kirinya mau tak mau mengerutkan kening dan menoleh ke arah Jack.


Ketiga orang itu sama-sama tahu bahwa adegan yang ditayangkan memiliki nilai kesulitan yang tinggi. Keduanya skeptis dengan hal ini. Bisakah gadis delapan tahun di depan mereka mempraktikkan gaya aktris profesional yang menjadi legenda dunia hiburan? Apakah Jack tidak terlalu berharap pada Railene?


Keduanya tidak bicara. Diam-diam mengeluh karena ketidakadilan ini. Gadis kecil itu cantik dan tenang, tapi bisakah dia mempraktikkan kedalaman karakter dan emosi yang kompleks itu? Keduanya meragukan itu.


"Baik," ujar Railene.


Jack kembali menyeringai. Matanya bersemangat dan penuh dengan bintang-bintang harapan. Kedua orang di sampingnya hanya bisa menghela napas pasrah.

__ADS_1


Railene memperhatikan itu dan tiba-tiba mengerti sesuatu. Ia lalu memandang Jack yang terlihat seperti orang dengan sindrom fanatisme. Oh, Railene merasa sedikit lucu.


Dia memulai persiapan dan memasuki adegan. Memejamkan matanya dan menarik napas. Ia membayangkan bahwa dirinya adalah sosok yang ada di dalam adegan. Seseorang yang ditinggalkan oleh sahabatnya. Seseorang yang mengalami kebencian dan kasih sayang secara tidak seimbang. Sosok yang traumatis dengan rasa sakit yang bias. Ia membuka mata dan memulai.


"Bisakah kamu lebih kejam dari ini?" Nadanya kosong dan dalam. Menggambarkan seorang gadis kecil dengan intelektualitas yang tinggi. Matanya merayap dan tertuju pada batu nisan bertuliskan nama sosok yang penting baginya.


"Kamu bilang akan melindungiku dan membawaku ke ujung dunia. Kamu bilang akan selalu bersamaku selamanya. Tapi kamu nyatanya pergi. Kamu meninggalkan aku sendirian."


"Tian, kamu pembohong!"


Hening sejenak. Seolah hilang dari kerumunan para pelayat yang berangsur memudar. Meninggalkan dirinya sendirian dalam sepi.


Mata itu penuh kesedihan, kemarahan, kebencian, dan ketidakberdayaan. Emosi yang berputar-putar di matanya mencekam dingin. Membawa kesuraman kosong yang menyakitkan hati.


Tidak ada tangisan. Tapi bahkan itu lebih menyedihkan untuk dilihat. Hati yang tersayat karena menimbulkan perasaan ditinggalkan, kesepian, dan putus asa.


"Tian, sekarang apa yang harus aku lakukan?"


Lalu suara tepuk tangan mulai sampai di telinganya. Railene mendongak lagi dan menghadapi ketiga juri yang memiliki mata berbintang. Setelah mengendalikan ingatannya dari masa lalu, ia kembali pada dirinya yang biasa. Tersenyum kecil setelah pertunjukan.


"Bagus, bagus sekali!" Jack paling bersemangat. Jika tidak mengingat citra dan usianya, dia pasti akan berjingkrak-jingkrak kesenangan. Berbeda dengan dia, orang lainnya yang takjub dan terkejut.


Mereka memberi aplause sambil kebingungan dan tenggelam dalam ketakjuban. Aura dan emosi yang begitu kuat itu sangat mendalam. Bahkan ketiganya dapat melihat bahwa pembawaan Railene lebih baik dari aktris aslinya. Gaya yang berbeda dan lebih banyak pengayaan yang menyayat hati. Hanya dua menit dan itu berhasil membawa ketiganya dalam perasaan yang gelap.


"Baik, terima kasih sudah berpartisipasi. Kami akan mengumumkan hasilnya dalam dua hari," ujar Jack dengan ramah dan senyum lebar.


"Terima kasih," kata Railene. Ia membungkuk sedikit dan keluar dari auditorium.


Ia menghela napas panjang dan senyuman muncul di wajahnya. Ia menoleh ke kanan dan kiri. Menemukan tiga anak laki-laki yang menatapnya. Ketiganya berjalan mendekat.


"Rail, gimana? Apa kamu membawakannya dengan baik?" Arkan langsung bertanya setelah sampai di depannya.

__ADS_1


Keempatnya bicara sambil berjalan.


"Hmm, kupikir itu cukup baik. Jurinya juga baik," kata Railene.


"Itu bagus. Terakhir kali aku masuk dan diuji, mereka semua cukup dingin. Aku bahkan hampir merusak adegan. Aku nggak tau bakal lolos audisi atau nggak. Tapi, aku harap kamu lolos!" Arkan berkata dengan semangat.


"Rai, apa yang kamu perankan?" Kini giliran Ben yang bertanya.


"Itu seseorang yang kehilangan temannya," ujar Railene lugas.


"Apa kamu nangis tadi?" Tanya Arkan lagi.


Railene tertawa pelan dan menggeleng. "Nggak. Ini tuh karakter yang susah. Sahabatnya meninggal tapi dia nggak bisa nangis. Tapi dia sedih. Pokoknya susah deh," ujar Railene menjelaskan dengan aneh.


Ketiganya bingung dan tidak melanjutkan.


"Berarti kita semua tinggal nunggu. Pengumuman untuk model besok pagi. Kapan audisi akting diumumkan?" Tanya Ben.


"Dua hari lagi. Itu lusa dan sepertinya nggak sebanyak peserta audisi bidang lain. Yang daftar sedikit banget," jawab Railene dengan kerutan di keningnya. Itu hanya sebentar dan dia kembali ke tampilan biasanya.


"Nggak masalah, itu artinya semakin sedikit persaingan. Aku yakin kamu pasti lolos!" Arkan berujar lagi.


Empat anak itu melanjutkan obrolan dan menuju kelas.


***


Hai hai hai...


Maaf ya bolos berhari-hari. Kalo ada yang bertanya-tanya kenapa, itu karena persiapan ospek. Mwehehe..., adik-adikku... mungkinkah salah salah satu dari kalian ada yang jadi adik tingkatku. Sini-sini ospek sama Kakak.


Oh, jangan lupa like juga. Terima kasih.

__ADS_1


Have a nice day!😊


__ADS_2