
Hari ini adalah hari ulang tahun Railene yang pertama. Gadis kecil imut itu masih terlelap dalam tidurnya. Hal ini dimanfaatkan oleh keluarganya untuk menyiapkan pesta dan kejutan untuknya.
"Ben, kamu sama Mala tolong ambil kue ulang tahun yang saya pesan di toko x, ya!" Diza sedari tadi mondar-mandir menyiapkan semuanya dibantu orang tuanya dan sahabatnya, Susan. Para maid juga sibuk menyiapkan hal-hal yang disukai gadis kecil itu.
"Baik, Nyonya!" Ben menerima perintah dan langsung menghampiri Mala.
Susan baru saja masuk dan mendorong sebuah kotak kado besar yang membuat Diza bertanya heran, "Apa isinya?" tanyanya tidak tahan dengan rasa penasaran. Ia juga berjaga-jaga jika seandainya ada boneka di dalamnya. Diza sangat tahu bahwa Railene harus dijauhkan sejauh-jauhnya dari segala macam boneka, terutama boneka barbie.
Pernah satu kali, ia membawakan Railene sebuah boneka yang menurut banyak anak perempuan lain lucu. Tapi, Railene justru menangis histeris membuang bonekanya dan berakhir dengan mimpi buruk selama berhari-hari setelahnya. Sejak saat itu, Diza maupun keluarganya tidak berani lagi membelikan Railene boneka selucu apapun bentuknya.
"Tenang aja, bukan boneka, kok!" Jawab Susan setelah menyusun kotak kadonya di tumpukan kado lain.
"Terus apa?" Kejar Diza yang sudah berada di tahap kepo akut.
Susan memandang Diza sebentar dan tersenyum lebar. "Mobil listrik." ujarnya kemudian.
Diza menghela napas lega dan enggan berkomentar lebih jauh. Ia kemudian sibuk membantu memasak makanan untuk para tamu. Setengah jam berlalu dan semua dekorasi pesta hampir selesai.
Diza membuatkan susu untuk Railene lalu berjalan menaiki tangga menuju lantai dua, tepatnya kamar Railene. Saat masuk, ia mendapati putrinya masih tertidur pulas di ranjang bayi yang agak lebar dengan sisi-sisi yang diberi jeruji kayu berlapis kain foam tebal. Kamar yang didekorasi berwarna baby blue itu lengang dan tenang. Di langit-langitnya ada proyektil yang terlihat seperti ruang angkasa penuh bintang.
Diza menaruh susu untuk Railene di meja yang biasanya dipakai oleh putrinya untuk membaca dan menggambar sesuatu. Ia mendekati ranjang Railene dan menurunkan salah satu pengaman hingga ia bisa duduk di sisi ranjang bayi itu. Diza hanya memandangi putrinya sambil mengelus kepalanya lembut. Menunggu Railene bangun.
Tak berapa lama, mata jernih yang agak sayu itu terbuka. Railene menguap kecil membuatnya terlihat sangat imut. Diza tertawa kecil dan menyapa mataharinya itu.
"Pagi, sayang...,"
"Pagi, Bunda..."
Setelah Railene sepenuhnya bangun, Diza langsung mempersiapkan Railene.
Di lantai bawah, tamu undangan yang merupakan tetangganya dan para dokter yang mampir meski sebentar berdatangan. Semua orang disana dalam suasana hati yang baik. Bahkan bisa akrab satu sama lain. Ada anak-anak yang bermain di taman belakang, berlarian dengan ramai dan riang. Beberapa memilih tetap bersama orang tuanya, pemalu dan tertutup.
Tiga puluh menit kemudian, tokoh utama akhirnya muncul. Railene menggunakan gaun biru cerah dan sepatu berwarna senada, berada di gendongan Diza sambil menatap semua orang bingung.
"Bunda, napa banyak olang?" tanya Railene polos.
__ADS_1
Diza terkekeh singkat sebelum menjawab. "Ini hari ulang tahun Railene yang pertama. Jadinya, Bunda ngundang banyak orang untuk merayakannya. Liat tuh, tante sama om dokter juga pada dateng."
"Lailene ulang tahun, Bunda?" Railene terkejut. Ia bahkan tidak sadar bahwa hari ini adalah hari dimana ia berusia tepat satu tahun.
Dalam kenangannya selama ini, ia hanya berfokus pada buku-buku dan bersenang-senang bersama keluarganya. Tiba-tiba ia mengingat masa lalunya. Dia dulu juga pernah mengalami limpahan kasih sayang saat masih kecil. Jauh dari sebelum ibunya pergi.
Rasa rindunya membuat Railene tersenyum pahit. Tanpa sadar air matanya jatuh. Selama setahun ini, dia hanya beberapa kali mengingat dan memikirkan keluarganya yang dulu. Dia juga menghindari berita tentang kematiannya dan entah bagaimana juga nasib perusahaan ayahnya. Ia tidak tahu.
Ia sedih sekaligus terharu saat ini. Bahkan keluarga angkatnya sekarang benar-benar menyayangi dan mencintainya dengan sangat tulus. Dia tidak rela kehilangan keluarga lagi. Dan, di dalam hatinya ia kembali mengingat tujuannya terlahir kembali. Setelah terlena kesenangan selama setahun ini, ia hanya harus melanjutkannya hidupnya untuk menghadirkan kebahagiaan di keluarga ini.
"Loh, sayang kenapa nangis?" Ucapan Diza yang bernada panik itu membuyarkan lamunan Railene.
Dengan cepat Railene memeluk Bundanya dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Diza. "Lailene bahagia, Bunda..." ujarnya lirih. Menyembunyikan rasa rindu sekaligus bersyukurnya.
Setelah mengatur emosinya, Railene kembali tertawa-tawa. Membaur bersama para orang dewasa. Ia merasa tidak terlalu cocok dengan anak-anak lain. Dia bahkan membaur dan mengobrol panjang lebar dengan para dokter yang sudah resmi menjadi anggota fans club-nya. Ketua fans club itu tentu saja Dokter Susan.
Acara itu berjalan lancar dan meriah. Tidak ada satu orang pun yang memasang wajah buruk. Itu semua berkat aura charming alami yang Railene punya. Gadis imut dan cantik itu sangat aktif melakukan hal-hal yang menyenangkan untuknya, membuat yang melihatnya sekarat karena menahan diri untuk tidak mencubit pipi menggemaskannya.
Selain itu, hari ini semua orang benar-benar beruntung besar. Kakeknya sendiri, memenangkan perjanjian kerja sama dengan perusahaan terbesar di negara ini sekaligus diberi saham sebesar 2% dari total asetnya. Itu tentu saja menjadi jackpot. Tidak hanya itu, tetangganya yang baru saja mendaftarkan diri di Asian University Jepang, menerima kabar bahwa ia lolos tahap seleksi dan bisa langsung mendaftar dalam kurun waktu yang ditentukan. Itu menjadi kebahagiaan yang semua orang terima.
Railene, gadis kecil yang baru berusia satu tahun itu, adalah berkah terbesar yang membawa keberuntungan bagi orang-orang di sekitarnya.
Sosok yang sedang dipuja-puji itu tentu saja tidak menyadarinya. Ia tidak sibuk memikirkan apa yang ada di kepala setiap orang. Saat ini, yang lebih penting baginya adalah membuka satu per satu kotak hadiah yang menumpuk di samping meja kue ulang tahunnya.
"Uwaah, mobil!" Railene takjub begitu mendapati sebuah mobil mini untuk anak-anak namun memiliki kualitas bagus berwarna merah itu. Ia segera menaikinya dan dengan mudah masuk ke dalamnya karena bagi tubuhnya yang sekarang, mobil ini cukup besar dan bisa muat empat balita umur tiga tahunan.
"Bunda, Lailene dapat mobil, hahahaha..." teriak Railene menggemaskan. Ia memutari aula dan melewati setiap orang dengan tertawa bahagia. Sibuk dengan dunianya sendiri sedangkan setiap orang menahan napas berusaha mengendalikan diri untuk tidak menerkam dan mencubiti pipi gadis kecil itu.
Diza tersenyum paling lebar. Hatinya benar-benar berbunga mendapati tawa putrinya. Ia tidak bosan, dan setiap hari semakin menyayangi gadis kecil yang sudah jadi permata hatinya.
"Liat, kan! Hadiah dariku pasti bakal jadi favoritnya, heheheh," Susan di sampingnya tertawa senang. Ia kemudian mengejar dan bermain dengan Railene. Diza yang melihat itu tertawa juga, ikut menghampiri dan berniat memberikan kado yang pasti akan putrinya sukai.
"Railene, Bunda juga punya hadiah buat Railene. Kamu mau nggak?" tanya Diza menggoda.
Railene berhenti memainkan mobilnya. Menoleh penasaran. Ia menjawab dengan anggukan antusias, "Mau, Bunda!" sahutnya lucu.
__ADS_1
Diza tertawa singkat lalu mengambil satu kotak besar berisi buku dan kotak beludru biru dari sakunya. Kotak kalung milik ibu asli Railene yang dulu dititipkan padanya. Ia akan memberikan pada Railene karena itu memang hak Railene. Tapi ia tidak ingin Railene tahu bahwa dia bukanlah ibu kandungnya. Padahal tanpa Diza ketahui, rahasianya sudah terbongkar di pertemuan pertama mereka setahun lalu.
"Ini berisi buku yang Railene cari. Dan ini..., kalung biar Railene tambah cantik!" Ada nada sendu sekaligus syukur dalam kalimat Diza.
Railene sendiri mengingat dengan jelas kotak beludru itu. Dari yang ia lihat dalam ingatan Diza, kotak kecil itu adalah milik ibu kandungnya. Ia tersenyum kecil, lalu berlari memeluk Diza sangat erat.
"Telima kasih, Bunda. Lailene sayang Bunda." ujarnya kemudian tertawa lebih bahagia.
***
Chit Chat Rebirth :
Railene : Kapan aku gedenya sih? Plis..., aku udah pengin melihat luasnya dunia...
Saya : Orang sabar disayang Tuhan.
Railene : Cih, aku udah sabar banget padahal. Auk ah, gelap!
Diza : Railene jangan begitu. Kamu harus sopan sama yang lebih tua...
Railene : Bunda..., hiks. Akhirnya setelah sekian purnama, kamu mengakuiku sebagai anakmu... aku terharu.
Diza : Kapan Bunda pernah nggak mengakuimu? Bunda selalu menganggap kamu anak Bunda, kok!
Saya : Pffft... *menahan untuk tidak tertawa keras*
Railene : ... Aku benci penulis! *menghentakkan kaki karena kesal*
Diza : Eh? Kenapa? *bingung*
Saya : Permisi, Bunda Diza... saya pamit off dulu...
Diza : Eh, iya... silahkan...
.
__ADS_1
.