
Railene dan Kaho untuk sementara saling memandang. Railene dengan tanpa ekspresi secara mengejutkan merasa akrab dengan pandangan dan senyuman Kaho. Dia tertegun untuk sementara waktu dan kemudian menyadari satu hal yang sangat krusial baginya.
Kaho Tanaka... juga tidak dapat dibaca masa lalunya.
"Inchara, apakah kekuatanku melemah?"
Railene bertanya dengan kosong tiba-tiba. Dia tentu saja merasa aneh di dalam hatinya. Bagaimana tidak, dalam jangka waktu satu bulan, dia menemui dua orang yang tidak dapat ia baca masa lalunya. Satunya adalah Alan, dan yang lainnya adalah Kaho Tanaka. Dia merasa bahwa sesuatu yang salah entah berasal dari mana, membuatnya tidak dapat melihat latar belakang kedua orang ini. Railene sedikit frustrasi mengingatnya. Tapi, dia masih mencoba untuk tenang dan tidak berfluktuasi dalam emosi.
"Tidak, kamu masih sekuat sebelumnya," jawab Inchara dengan cepat.
Dengan tenang, Railene memilah dan menganalisis. Dia mendapati perbedaan antara Kaho dan Alan. Jika Alan tidak dapat dibaca sama sekali dari masa lalu bahkan pikirannya, Kaho hanya memiliki salah satunya yang berfungsi. Meskipun Railene tidak dapat membaca masa lalunya, tapi dia dapat membaca pikirannya. Kata-kata yang sampai ke telinga batinnya juga menggema dengan nada akrab yang hangat.
"Ketemu." Hanya itu.
Tapi, ada yang aneh. Kaho hampir kosong selama beberapa menit dan hanya satu kata itu yang memancar dari pikirannya. Sisanya, itu tenang tanpa fluktuasi apapun.
Casting akhirnya dimulai. Railene hanya diam memperhatikan dan sesekali berbicara dengan Inchara. Mereka sibuk menganalisis keanehan ini dengan banyak spekulasi. Railene tidak yakin, tapi dia memiliki tebakan di dalam hatinya.
"Chara, apakah menurutmu ini ditentukan karena daya tarik orang lebih menarik dariku?"
"Aku tidak tau. Tapi, Rail, kamu lebih cantik daripada tante itu," nada suara Inchara masih sepolos biasanya. Sudut bibir Railene berkedut sesaat karena hal-hal yang menjadi perhatian Inchara berbeda dari yang ia maksud.
"Bukan itu, Chara. Maksudku aura dan temperamennya,"
__ADS_1
Inchara terdiam sesaat. Sepertinya memikirkan kebenaran itu. "Ah, ini juga aku tidak tau. Railene, aku tidak bisa merasakan perbedaan itu," kata Inchara kemudian.
Railene berhenti dan diam sebentar. Sepertinya memang ada hal seperti itu. Inchara bukan manusia dan asal usulnya sendiri adalah hal yang tidak diketahui. Bagi Railene, asal usul Inchara adalah hal terkuat dan dia pasti tidak akan merasakan hal-hal yang memiliki energi lebih lemah darinya. Railene juga tahu bahwa Inchara tidak pernah takut akan apapun. Dia seperti bukan makhluk fana dan hanya memiliki fungsi sebagai penjaga dan pengawas. Hal-hal di balik Inchara masih misterius dan itu adalah sesuatu yang tidak dapat ia tembus.
"Aku tau. Aku merasakannya. Nona Kaho dan Alan punya aura yang kuat dari masing-masing temperamen. Tapi, mereka punya perbedaan dasar yang menonjol," kata Railene menganalisis.
"Perbedaan apa?"
"Alan punya dua pelindung dalam dirinya maupun di luar dirinya, dan itu memperkuat aura dia setiap kali bertindak. Tapi, Nona Kaho cuma punya satu dan itu hal yang murni berasal dari dirinya sendiri. Chara, menurutku mereka bukan orang biasa. Aku nggak tau hubungannya apa, tapi mereka punya latar belakang yang nggak gampang," kata Railene dengan nada serius.
"Apa mereka berhubungan dengan ibumu?" Inchara membaca maksud Railene dan mengatakan tebakan yang dipikirkan Railene. Dia punya banyak ide dan tebakan, tapi ini adalah salah satu yang dia pikirkan berdasarkan beberapa kecocokan.
"Railene, apa pendapatmu?"
"Aku nggak punya pendapat. Itu sangat cocok dan bagus," kata Railene singkat dengan gaya acuh tak acuhnya yang biasa.
Didi juga mengangguk. Dua juri lain yang duduk di samping Didi juga mengangguk. Mereka adalah penentu karakter dan asisten penulis naskah.
Railene melihat pandangan Kaho jatuh padanya dengan ramah. Masih ada senyum yang akrab dan membuat Railene memiliki spekulasi yang lebih kuat daripada sebelumnya. Railene balas tersenyum ringan dan tidak memperlihatkan keanehan yang sedang dipikirkannya.
Setelah beberapa kata hangat dan menyanjung dari para juri, Kaho keluar dari ruangan tanpa keraguan apapun. Dia kembali melirik Railene yang kebetulan mengikuti pandangannya keluar. Railene mendengar suara batin Kaho saat ini dengan kejutan yang hampir mencapai titik tertegun.
"Dia sangat mirip dengan Hannah," katanya. Dan Railene jatuh ke dalam kontemplasi.
__ADS_1
...
Alan sedang menunggu di lobi gedung tempat casting. Dia mendengar bahwa penjurian akan selesai dalam waktu lima menit dan dengan sabar menunggu Railene keluar dari ruang juri. Dia tidak bertemu Kaho dan tidak tahu kegemparan sebelum dia datang, dia hanya duduk sendirian. Beberapa kali orang-orang yang lewat memandang dan berbisik. Tentu saja membahas betapa tampannya Alan terlihat.
Dia sendirian dan menarik perhatian. Itu membuat Alan agak tidak nyaman, bagaimana pun dia lebih suka bersembunyi dan sering menyamar menjadi biasa saja saat keluar. Tapi, khusus hari ini, dia tidak ingin menyamar dan bahkan berharap bahwa Railene akan melihat penampilannya yang terbaik.
Seharusnya dia tidak sendirian saat ini, tapi bersama Gery. Tapi, sayangnya pemuda satu itu sedang dalam semi-final turnamen basketnya. Alan tahu seberapa inginnya Gery bertemu Railene. Suasana hati Gery kacau dan dia cemburu pada Alan. Tapi, sebelum dia bisa mengeluh dan bahkan menangis ingin ikut, anggota tim basketnya sudah menyeretnya pergi. Alan melihat kebencian di mata Gery saat itu juga dan dia tertawa hampir terbahak-bahak. Antara kasihan dan merasa lucu.
Kembali saat ini, lima menit berlalu dan sekelompok anggota juri keluar dari ruangan. Alan berdiri hampir seketika dan menemukan Railene berjalan di samping asisten sutradara sambil bermain ponsel. Pada saat yang sama, dia bisa melihat bahwa gadis itu dihormati oleh orang-orang sekitarnya.
Beberapa orang berpisah dan tersisa Railene yang berjalan menuju pintu lobi. Alan menghampiri pada saat yang sama. Dia mendekat dan memanggil namanya hampir seketika.
"Railene!"
Railene menoleh dan mendapati pemuda yang mematahkan kekuatan pikirannya untuk pertama kalinya. Dia agak heran melihat pemuda itu ada di sini. Alan adalah penulis cerita dan bukan gilirannya untuk tampil di kru untuk proses casting. Dia tidak yakin apa yang dilakukan pemuda itu di sini, dia tidak dapat melihat pikirannya dan hanya bisa bersikap ramah.
"Kakak Alan, kamu di sini," ujar Railene berhenti.
Alan berdiri di sampingnya dan tersenyum. "Aku ada perlu sama kamu, bisa bicara sebentar?" katanya dengan ramah dan hangat. Sangat tampan.
***
Jangan lupa like dan komentar.
__ADS_1
Have a nice day!😊