
Yang dibicarakan tidak tahu apapun di belakangnya. Railene mengikuti Johar dan bertanya akan makan siang dimana. Dia sudah lapar dan sejak tahu porsi makannya yang besar, Railene berusaha menahannya sejak menit-menit terakhir rapat pemegang saham.
"Baba akan menghadiri perjamuan di Hotel x. Apa kamu mau ikut?" Tanya Johar yang kini sudah menggendong Railene untuk mempercepat jalannya. Dia menuju lift dan turun dengan sekertarisnya yang menyusul buru-buru. Saka masih berkeringat dingin namun mengikuti bosnya dengan tenang. Sesekali melempar lirikan pada Railene.
"Perjamuan? Perjamuan apa?" Tanya Railene seolah tidak tahu. Dia memang belum pernah menghadiri sebuah perjamuan konglomerat sejak dilahirkan kembali. Jika dia mengangguk saja tanpa bertanya, itu justru akan dianggap aneh. Maka dari itu ia berinisiatif mengajukan pertanyaan begitu.
"Itu acara Ulang Tahun teman bisnis Baba. Dia mengundang beberapa rekan bisnis untuk merayakan sekaligus membangun hubungan baik kerja sama," ujar Johar menjelaskan dengan mudah.
"Apa di sana ada makanan?"
"Tentu. Di sana ada banyak makanan, kamu tinggal pilih aja. Nanti Baba ambilkan."
"Berapa banyak yang diundang? Apa Tante Jean juga datang?"
"Ada banyak yang diundang. Juga, seharusnya ada Nona Jean di sana."
"Kalo begitu, Railene ikut!"
Setelah berseru dengan semangat, Railene masih tetap di gendongan Kakeknya yang sedang tertawa. Pria berusia lima puluh tahunan itu menuruti keinginan cucunya dan meminta Saka menyiapkan mobilnya. Railene minta turun dan dan berjalan di lobi. Ia juga tidak perlu berganti baju karena sudah memakai pakaian kasual yang cocok untuk pesta.
Itu adalah dress berwarna hitam corak putih dengan potongan lengan pendek dan memiliki renda di sisinya. Ada pita di sepanjang pinggang yang menambah kesan anggun dan berkelas pada gaunnya. Ujung roknya jatuh dan berkibar jika ia melakukan gerakan memutar. Itu dicocokkan dengan sepatu flat putih yang sederhana namun sangat pas jika disandingkan dengan dress itu.
Railene menggerai rambut hitam sepunggungnya yang sangat halus dan hanya menyelipkan satu jepitan di sisi kiri rambutnya. Penampilannya sangat segar, muda, dan sesuai dengan kulit putih bersihnya yang bersinar. Railene tampak seperti boneka berjalan dengan penampilan itu. Cantik dan menggemaskan.
Kembali kepada saat ini, dia memasuki mobil di samping Kakeknya dan berceloteh sepanjang perjalanan. Terkadang ia mengajak bicara Saka atau sopir perusahaan. Membuat suasana dalam mobil lebih hidup.
Lima belas menit berlalu. Lalu lintas sangat lancar jadi mereka sampai dengan cepat. Johar, Saka, dan tentunya Railene turun di depan sebuah Hotel bintang lima yang terlihat cukup mewah. Ketiganya berjalan dengan tenang dan memasuki hotel.
__ADS_1
Acara perjamuan diadakan di lantai lima. Setelah menyerahkan undangan, Johar membawa Railene dengan Saka mengikuti di belakangnya ke aula perjamuan. Suasana mewah dengan kebisingan yang elegan langsung menyambut ketiganya.
Railene memandang situasi di sekitarnya dengan helaan napas panjang. Sudah berapa lama ia absen dari acara seperti ini? Suasana di dalam sini membuat Railene mau tidak mau bernostalgia. Beberapa rekan yang dulu ia kenali hadir di sana. Banyak orang di masa lalu yang ia kenali dengan baik. Bahkan diantaranya terdapat orang-orang yang dulu pernah berkonspirasi merencanakan kematiannya.
Railene sudah tahu dan dalam hatinya memiliki gelombang ketidaknyamanan. Lima tahun setelah kelahirannya kembali, ia memutuskan untuk mencari tahu tentang apa yang ditinggalkannya di belakang. Bagaimana nasib perusahaannya dan keluarganya. Siapa saja yang masih menjadi lawan dari pihaknya. Ia mencari tahu semua. Pencarian ini berhubungan dengan muncul dan hilangnya kembar Kinoka yang membuatnya mengingat masa lalunya.
Orang-orang yang berkonspirasi adalah Pamannya yang paling muda dengan Jeco Grup yang bergerak di bidang perhotelan. Kecelakaan yang merenggut nyawanya merupakaan kesengajaan yang ditutup-tutupi demi kejayaan pamannya sendiri. Laki-laki ambisius itu berencana memonopoli perusahaan ayahnya dengan membunuhnya. Merasa bahwa dia di masa lalu hanyalah gadis biasa yang kebetulan sangat cerdas dalam manajemen. Apalagi sejak ayahnya dijebloskan ke penjara, keluarga dari ayahnya menjadi semakin tak terkendali.
Untungnya, pamannya itu tidak berhasil menguasai perusahaan karena Railene di masa lalu sudah memindahkan jabatan CEO untuk Ferdinan Kinoka. Dalam kasus meninggalnya yang tiba-tiba, Ferdinan mencari kebenarannya namun tidak memiliki bukti eksplisit yang memberatkan Jeco Grup maupun pamannya. Railene cukup tahu dengan keadaan itu dan masih bersyukur karena perusahaan itu masih terkendali dan tidak jatuh ke tangan pamannya yang rakus.
Ayahnya sendiri, telah dibebaskan dari penjara dan memiliki kesehatan yang buruk. Dia menderita demensia dan selalu menggumamkan nama ibunya. Railene tahu itu dari berita yang menyebar. Ayahnya sudah begitu tertekan secara mental. Di hatinya hanya memiliki satu nama yang abadi, yaitu ibunya. Railene sendiri hatinya dingin setelah mengetahui itu. Namun, perlahan kebenciannya mereda. Lagi pula, ayahnya mendapat hal yang setimpal. Dia menderita dalam kesendiriannya di hari tuanya.
Kembali di perjamuan, Railene menggandeng tangan sebelah tangan Johar dan menyingkirkan kenangan masa lalunya. Menunduk sebentar untuk mengatur hatinya dan kembali bersikap ceria serta penasaran. Tidak ada yang memperhatikan perubahan ekspresi itu karena semua orang sibuk dengan bisnis masing-masing.
"Baba, apa boleh makan sekarang?" Tanya polos Railene setelah melihat banyaknya makanan di meja-meja yang cukup tinggi. Matanya nyalang bergerak ke sana kemari hanya untuk melihat betapa menggugah seleranya semua makanan di sana untuk perutnya yang kelaparan.
"Oke, Baba!" Railene bersikap hormat lalu menarik tangan Saka ke stand-stand makanan. Johar memperhatikan sebentar dan tersenyum sebelum melangkahkan kakinya menuju pusat perhatian di aula.
Railene sudah sibuk mencoba-coba makanannya dan meminta Saka mengambilkan beberapa yang tak dapat digapai tangannya. Dia duduk di kursi dan mulai makan dengan gembira. Mengabaikan berbagai tatapan yang terkadang terpaku padanya. Rata-rata bingung dan bertanya-tanya sebelum mereka menahan gemas di hati masing-masing.
Melihat Saka, beberapa mengenalinya sebagai sekertaris Johar Wisanggeni, diantara mereka ada yang mendekat.
"Tuan Saka?" Sapa seorang lelaki berjas abu-abu dengan penampilan maskulin berciri khas rambut tipis di janggutnya.
Saka menoleh sedangkan Railene masih di dunianya sendiri. Tidak terlalu memperhatikan apa yang dibicarakan dua orang di sampingnya. Namun sesekali ia mendengar namanya disebut. Demi sopan santun, ia menoleh dan mendapati wajah yang sedikit familiar.
"Om Bram?" Gumam Railene yang terdengar samar di telinga lelaki itu.
__ADS_1
Si lelaki menolehkan kepalanya dan tersenyum seketika saat melihat Railene duduk dengan nyaman dan menghadap sepiring besar spageti. Ia melambaikan tangannya dan mendekati Railene.
"Halo, Railene. Kita ketemu lagi," sapa Bram lumayan ramah.
Railene menjadi sadar bahwa penglihatannya benar. Ya, lelaki di depannya adalah Bram, sosok asing yang beberapa waktu lalu mampir ke rumahnya dan berbincang akrab dengan Bundanya. Pria asing yang entah mengapa cukup tidak asing dan sedikit familiar baginya. Mengingatkannya pada seseorang yang entah siapa.
***
Chit Chat Rebirth :
Railene : Hayoo tebak apa hubungannya Om Bram sama aku di masa depan?
Saya : Apa dia Sugar Daddy-mu? Kamu kan-- Awww, kenapa saya dipukul sih, Bunda Diza?
Diza : Kamu bikin anak kecil tercemar. Apa kamu tau istilah Sugar Daddy?
Saya : Apa itu? Ayah gula, kan? Ayah yang ngasih manisan semacam permen dan kawan-kawannya. Benar, kan?
Diza : ...
Railene : ... Apa yang kalian bicarakan?
Diza : Lupakan, ayo pulang.
Saya : Apa saya salah ngomong?
***
__ADS_1
Jangan lupa like-nya. Terima kasih.😊