Rebirth Of A Genius Woman

Rebirth Of A Genius Woman
54. Pencarian Bakat


__ADS_3

Seminggu berjalan dengan lancar. Railene memiliki tambahan bodyguard yang mengikutinya kemana-mana. Beberapa anak perempuan mendekatinya untuk mengeruk informasi tentang si kembar. Kebanyakan bertanya bagaimana Railene dan dua orang itu saling mengenal satu sama lain. Maka, Railene hanya menjawab bahwa kedua orang itu adalah kakaknya. Kakak baptis yang memaksakan persaudaraan di saat pertama kali mereka bertemu tiga tahun lalu.


Ternyata wajah tampan mereka yang setara dengan Ben memiliki daya pikat yang kuat. Terutama si ramah Arkan. Karena Ben adalah tipikal laki-laki dingin yang hanya tersenyum pada Railene, tidak banyak yang menunjukkan ketertarikan padanya sejak awal meskipun dia sangat tampan. Sekarang Arkan ada di tengah-tengah mereka. Tentu saja banyak yang tertarik untuk berteman.


Archi hampir sama seperti Ben. Namun, dia tidak dingin. Hanya sosok jauh yang tidak tersentuh. Dia akan menjawab pertanyaan jika diperlukan, namun tidak berinteraksi dengan yang lain selain Arkan dan Railene. Bahkan Ben jarang dilirik oleh anak muda itu.


"Rail, kamu mau ikut audisi itu?" Arkan bertanya dengan ceria.


Saat ini Railene, Ben, dan si kembar sedang berada di kantin. Mereka membicarakan tentang pengumuman di papan buletin tentang audisi pencarian bakat dari sebuah agensi terkenal. Audisi ini konon merupakan bentuk kerja sama sekolah dengan pihak agensi dan yang pertama mengajukan adalah pihak agensi sendiri.


Railene tidak tahu banyak karena tidak pernah berkontribusi di industri hiburan. Dulu, perusahaannya pun hanya bergerak di bidang properti dan gedung. Jadi, mendengar acara semacam ini membutuhkan partisipasi siswa sekolah menengah dan SD, Railene tidak terlalu yakin tujuan aslinya.


"Apa yang Kakak tau tentang audisi ini?" Railene bertanya karena penasaran.


Melihat Railene sedikit penasaran, Arkan langsung memberitahu informasi yang dimilikinya. Jaringan sosialnya begitu luas bahkan sejak masuk sekolah pertama kali. Jadi, untuk mendengar banyak hal tentang apapun yang terkenal di kalangan siswa, ia bisa menjelaskan dengan lancar.


"Ini audisi pencarian untuk kategori akting, model, dan penyanyi. Katanya ini diadakan serempak di beberapa sekolah. Yang lulus kategori akting katanya bakal dipilih untuk main film sama sutradaranya. Terus yang model dan penyanyi bakal melewati seleksi di agensi mereka. Ini dibuka untuk umur 7-15 tahun. Sampai sekarang udah banyak yang daftar, terutama yang suka nyanyi." Arkan menjelaskan dengan baik.


Ben memperhatikan juga. Meskipun masih tidak menyukai keduanya, sikapnya sudah lebih membaik dan mulai menerima kehadiran kedua orang itu di sekitar Railene. Ia menoleh untuk melihat Railene sedikit tertarik.


"Apa kamu mau ikut salah satu dari itu, Rai?" Tanya Ben kemudian.

__ADS_1


Railene menggeleng, "Belum tau. Apa ada keuntungan lain ikut audisi ini? Selain main alat musik, aku nggak terlalu bisa nyanyi atau bidang lainnya." Railene menjawab jujur.


"Sebenarnya keuntungan itu bakal didapat setelah masuk agensinya. Mereka yang dipilih sebagai artis agensi bakal sering izin dari sekolah dan tur keliling kota. Selain itu, mereka bakal punya manager sendiri kemana-mana." Arkan menambahkan informasi yang ia tahu.


"Bukannya itu buruk ya kalau sering izin sekolah?" Tanya Railene heran.


"Aku pikir begitu. Tapi, karir itu juga menjamin masa depan. Mungkin itu sepadan," ujar Arkan masih membangun konsepsinya.


Railene terdiam dan memikirkannya juga. Ia menoleh pada Ben yang sepertinya juga sedikit penasaran dan tertarik. Kemudian melihat Arkan dan Archi.


"Aku pikir kalian bertiga memenuhi syarat. Kak Archi dan Ben bisa jadi model. Kak Arkan mungkin bisa mencoba akting. Apa kalian tertarik mendaftar?" Tanya Railene dengan binar bahagia. Seperti melihat potensi ketiganya, Railene ingin tahu apa yang mereka pikirkan.


"Aku nggak akan!" Archi berkata tegas. Menolak mentah-mentah ide itu. Railene sudah menduga dan sesuai karakter Archi, memang anak itu tidak akan ikut hal-hal semacam ini. Menjadi pusat perhatian bukanlah gayanya.


"Apa menurutmu aku bisa berakting, Rail? Kalau begitu aku akan ikut. Walaupun cita-citaku masih ingin menjadi ultraman, aku akan ikut akting!" Arkan bereaksi paling antusias.


Railene tertawa mendengar cita-citanya. "Kamu bisa jadi ultraman kalau kamu masuk industri hiburan. Pastikan kamu jadi tokoh utama film aksi ultraman kalau mau jadi ultraman," ujar Railene sambil tersenyum geli.


"Benarkah? Itu lebih bagus hehe... aku akan mendaftar nanti. Apa kamu ikut Rail?" Tanya Arkan dengan antusias. Ini mempengaruhi keputusan Ben untuk ikut modeling juga, jadi Arkan masih ingin adik baptisnya mengambil jalur yang akan dia pilih.


"Aku akan tanya Bunda dulu. Aku nggak bisa daftar tanpa izin Bunda."

__ADS_1


Jawaban Railene berarti bahwa dia ingin mencobanya. Maka Ben memiliki senyum di wajahnya. Dia akan meminta izin ayahnya juga. Arkan bahkan tertawa bahagia dan bilang akan meminta Mama Papanya setuju dengannya.


Hanya Archi yang mengangkat bahunya. Ia tidak tertarik sama sekali dan memang tidak akan mencobanya meskipun saudaranya memaksa. Tapi, untunglah saudara kembarnya cukup puas dengan kehadiran Railene. Ia tidak mempermasalahkannya bahkan jika ia tidak ikut.


Railene juga tidak memaksa karena mengerti karakter Archi dengan baik. Bocah itu tidak akan cocok dengan menjadi pusat perhatian. Ia bisa membayangkan bagaimana gugupnya bocah itu bahkan jika hanya diperhatikan secara intens oleh satu orang asing.


"Kapan audisinya?" Tanya Railene karena ia tidak tahu dan belum melihat papan buletinnya. Ia juga sedang malas membaca masa lalu beberapa saat Arkan.


"Dua hari lagi. Kamu bisa ngomong sama Bunda kamu dalam dua hari ini. Kalaupun ngga bisa dalam dua hari, itu nggak apa-apa. Audisi diadakan selama tiga hari berikutnya. Jadi kamu punya waktu, total lima hari." Arkan menjelaskan dengan tepat.


Railene mengangguk dan setuju. Ia memikirkan banyak hal di kepalanya. Itu hanya rencana-rencana tentang situasi yang mungkin akan dihadapinya di masa depan.


Ketika Railene telah memutuskan untuk terlibat dengan Selena dan mulai menyelidiki asal-usul dan misinya, ia telah merencanakan untuk membangun koneksi lain. Mungkin inilah yang ia tunggu untuk mempermudah mobilisasinya tanpa dicurigai oleh keluarganya. Dia dapat dengan mudah bertemu dengan dunia luar jika memasuki industri hiburan.


Memikirkan audisi itu, Railene berpikir tentang mana yang lebih baik ia pilih untuk debutnya. Apapun yang ia pilih, ia tetap akan dipromosikan dan menjadi terkenal. Selebriti kecil, akan memungkinkan melekat pada namanya ketika orang-orang mendengarnya.


Itu akan merepotkan, tapi tidak banyak cara lain yang lebih baik untuk ia pikirkan. Jalur lain tidak memberikan akses seluas industri hiburan ini. Railene berpikir bahwa mengorbankan sedikit ketenarannya untuk menutupi banyak hal di belakang punggungnya. Itu akan berguna.


***


Jangan lupa like dan komentar. Terima kasih.

__ADS_1


Have a nice day!😊


__ADS_2