Rebirth Of A Genius Woman

Rebirth Of A Genius Woman
20. Mengajaknya Bermain


__ADS_3

Sepertinya akhir-akhir ini Railene terlalu menurut dan menikmati dunianya sendiri hingga benar-benar bosan karenanya. Itu membuat otak pintarnya bekerja untuk sebuah rencana yang datang dari sisi lain kelicikannya. Dia ingin mengajak seseorang bermain dengannya. Seseorang yang selalu berbaik hati membuat Railene bermain sendirian dan bebas berkeliaran kesana kemari.


Sudah seminggu Railene selalu dikeluarkan dari kelas karena ketiduran. Semuanya berkat seorang gadis yang sedikit lebih tua darinya. Namanya Claudya. Gambaran sosok gadis pencemburu dengan penampilan polos yang membosankan. Khas sosok yang menjengkelkan dan selalu ditempatkan pada posisi paling lemah sehingga orang-orang mudah percaya.


Sayangnya upaya gadis itu memprovokasi orang lain untuk memusuhi Railene masih tidak berhasil. Berkali-kali gadis itu jengkel ketika perlakuan teman-teman sekelasnya pada Railene semakin menjadi dan begitu perhatian.


Railene terlihat seperti bayi susu yang baru dilahirkan dan menjadi adik perempuan nasional di kelasnya. Murni, berharga, dan sangat menggemaskan. Menjadi pusat perhatian dan selalu menjadi puncak kecantikan serta kepintaran dimana pun ia berada.


Claudya membenci Railene dengan semua keunggulan yang dimiliki gadis itu. Dia begitu cemburu dan menginginkan perhatian yang sama. Karena keinginan itu, dia berusaha membuat orang lain percaya bahwa yang mengagumkan bukan hanya Railene saja. Mencoba segala cara untuk membuat guru-guru memujinya, melaporkan kejahilan atau kecerobohan kecil Railene sehingga membuatnya dikeluarkan dari kelas.


Hampir setiap saat dia tidak menyerah untuk membuat Railene terjebak dalam masalah. Namun, sayang seribu sayang. Railene adalah Railene. Gadis berusia delapan tahun itu adalah yang terbaik dalam memanfaatkan banyak hal. Bahkan dengan semua hukuman yang Railene jalankan karena laporannya, tidak membuat teman-teman sekelas membencinya. Justru semua orang di kelas lebih menyanjung Railene. Gadis kecil itu sudah pintar dan perlu belajar di luar hingga bisa mengeksplorasi seluruh sekolah bahkan menghafal letak setitik debu di suatu tempat.


Bukan hinaan yang Railene terima, namun sebuah sanjungan yang lebih menjura dengan agung. Meninggalkan Claudya yang bungkam dalam kemarahan. Dia yang berumur 11 tahun harus kalah dari bocah susu berumur delapan? Claudya menjadi sangat tidak senang dan semakin membenci Railene.


Claudya marah, namun ia belum menemukam cara untuk menjatuhkan Railene dan membuat gadis kecil itu menderita. Sehingga dalam beberapa hari, dia hanya melakukan kebiasaan kecilnya yang melaporkan kecerobohan Railene yang tidur di kelas. Teman-teman sekelasnya tidak menyukai Claudya karena mereka berpikir bahwa Claudya tidak bisa mentoleransi adik kecil mereka yang begitu mengantuk dan butuh lebih banyak tidur. Banyak yang membenci Claudya karena gadis itu membuat Railene selalu dalam masalah.


Sayangnya, Railene tidak pernah keberatan dengan semua itu. Gadis delapan tahun itu akan tersenyum dengan cerah ketika diusir keluar oleh sang guru. Membuat teman-teman sekelas bimbang. Apakah niat Claudya baik karena membuat Railene tersenyum dengan bahagia dan terlihat menantikan hukuman? Mereka tidak bisa memutuskan dan tidak mencampuri Claudya. Selama adik kecil mereka tersenyum dengan bahagia, mereka tidak akan mencegahnya.


...


"Apa kamu merencanakan sesuatu Rai?" tanya Ben saat Railene berjalan ke arahnya dengan membawa kotak bekal. Saat ini kedua orang itu sedang berada di taman sekolah dekat kantin. Memakan bekal bersama saat istirahat.

__ADS_1


"Ah? Rencana? Kenapa kamu mikir gitu?" Tanya Railene heran. Bagaimana bisa teman seperjuangannya ini tahu tentang apa yang otak kecilnya pikirkan?


Ben menyipit ke arah Railene dan tahu bahwa gadis kecil itu sedang mengujinya sedikit untuk mengaku. Dia berakhir dengan menghela napas tipis. Mengangkat bahu dan mulai berucap.


"Kamu selalu bergumam kalo punya rencana. Terutama rencana untuk ngerjain orang," ujar Ben langsung menjelaskan.


Railene takjub sejenak. Apakah Ben begitu peka hingga mampu menyadari kebiasaan kecilnya dengan sangat teliti? Ah, tapi tiga tahun dalam kebersamaan bukanlah waktu yang sebentar. Railene mengangguk kecil dengan alibi itu.


"Aku mau main sama Kak Clau. Kira-kira dia suka nggak ya permainan menyusun?"


Railene menjawab dengan tenang dan mulai membuka kotak bekalnya. Dia makan sosis guritanya dengan wajah riang. Senyumnya mengembang ketika mengakui bahwa resep mandiri Bundanya adalah hal yang baik.


"Apakah iblis kecil ini akan membuat gadis singa itu mengamuk?"


Ben membenarkan letak kacamatanya dan berdehem singkat. Dia tau siapa Claudya. Gadis yang selalu berusaha mendekatinya dan sangat suka membuat Railene dihukum oleh guru.


Ben tahu Claudya membenci Railene. Ben juga tahu bahwa gadis itu bukan tipikal yang mudah menyerah dan sering cemburu dengan keunggulan orang lain. Apalagi Railene yang menjadi sangat menonjol dimana pun ia berada. Claudya pasti sangat iri dan membenci Railene setengah mati.


Lalu tiba-tiba, baru saja ia mendengar kalimat paling menegangkan dalam hidupnya. Bagaimana mungkin gadis kecil yang sudah ia anggap adiknya ini bisa begitu santai bersikap pada pembencinya? Apakah dia benar-benar tidak peka dan tidak menyadari kecemburuan yang menyala dari Claudya saat mereka bertatapan?


"Permainan menyusun? Sejak kapan hukuman membereskan buku-buku di perpustakaan menjadi nama permainan yang terdengar menyenangkan?"

__ADS_1


Ben membatin dengan tangisan. Diam-diam ingin membuat dirinya terlibat untuk melindungi Railene dari penyerangan mental atau fisik Claudya. Namun, sebelum keinginannya terkabul, sebuah suara polos membuatnya cemas dalam kebekuan.


"Aku mau main berdua aja sama Kak Clau. Kamu nggak perlu nemenin," ucap Railene masih sama riangnya. Bahkan gadis itu sudah menghabiskan setengah dari kotak bekalnya dalam beberapa menit.


Sedikit salah fokus, Ben berpikir bahwa perut Railene adalah blackhole kecil yang menyerap segalanya masuk ke dalamnya. Pasalnya Railene memang memiliki porsi makan yang besar. Dan tubuhnya tetap mungil seperti itu. Tidak gendut sama sekali. Kemana hilangnya semua makanan itu? Hanya Railene dan Tuhan yang tahu.


"Gimana kamu ngajak Claudya main?" Tanya Ben pada akhirnya. Mencoba membaca kerusuhan apalagi yang akan dibuat gadis kecil di sampingnya itu. Dia tahu dia tidak akan bisa mencegahnya, makanya ia hanya ingin mengetahui apa yang ingin Railene lakukan meskipun ketakutan dalam hatinya masih besar.


Railene mengangguk-angguk kecil. Wajahnya terlihat begitu riang dan senang. Sangat yakin bahwa rencananya kali ini akan berhasil.


"Dia nggak ngerjain PR hari ini. Oh, mungkin dia bisa keluar dan main sama aku, kan?" Retoris Railene karena ia berencana tidur lagi kali ini.


Ben membuka matanya lebar. Claudya yang ia kenal adalah sosok yang rajin mengejakan tugas sekolah. Dia memiliki motto untuk tidak membuat catatan bermasalah selama ada di sekolah. Jadi ia sedikit skeptis bagaimana Railene yakin bahwa gadis itu tidak mengerjakan PR hari ini. Di pelajaran matematika dan guru yang bisa dibilang tidak cukup ramah.


"Kenapa kamu begitu yakin?"


"Dia emang nggak ngerjain PR, kok!" Railene terkikik dan Ben menghela napas panjang.


***


Hai, maaf baru update. Nantikan update selanjutnya besok. Terima kasih atas dukungannya dan yang masih menunggu cerita ini. Kritik dan saran saya terima dengan tangan terbuka.😊

__ADS_1


__ADS_2