Rebirth Of A Genius Woman

Rebirth Of A Genius Woman
33. Producer Man


__ADS_3

Seperti yang dikatakan oleh Ben pada Railene. Keduanya memasuki bioskop dengan dua orang pengawal mengikuti. Itu adalah Paman Tam dan pengawal Ben yang bernama Richard. Richard memiliki postur tubuh yang tinggi namun tidak setinggi Paman Tam. Dia adalah pria berusia 30-an yang sudah mengabdi pada keluarga Ben selama bertahun-tahun lamanya.


Kedua pria itu berjalan di belakang Nona dan Tuan Muda yang bergandengan tangan memandang sekeliling mall. Dalam pemandangan banyak orang, dua bocah itu terlihat seperti kakak beradik yang akur. Railene dengan sejuta pesona imutnya adalah adik berharga yang dilindungi oleh bocah tampan Ben. Keduanya menonjol apalagi dengan seragam sekolah yang terkenal di kalangan kelas atas. Orang-orang mengenal seragam itu dengan baik. Itu adalah Sekolah Dasar dan SMP bergengsi yang memiliki peminat paling tinggi setiap tahunnya.


Beberapa ada yang mengambil foto diam-diam karena merasa lucu dengan pemandangan itu. Tapi, tidak ada yang berani mendekat melihat penampilan garang dua bodyguard di belakang kedua bocah itu. Dengan ini, mereka hanya bisa melihat dari kejauhan.


Railene dengan senyum bahagia tidak mempermasalahkan sekitarnya. Yang ia ingin lihat hanyalah film aksi yang baru saja rilis. Itu merupakan film luar negeri dan bukan masalah untuk Railene. Ia tidak peduli siapa aktor atau aktris yang memainkannya, ia hanya menikmati film-nya.


"Apa kamu udah pesan tiketnya?" Tanya Railene mendongak ke arah samping kirinya.


Ben menunduk sedikit dan mengangguk sambil tersenyum. "Om Richard udah pesan buat kita berempat, sekarang kita beli popcorn sama minumannya aja gimana? Kamu mau es krim?" Tawar Ben kemudian.


Railene mengangguk dan langsung menarik Ben menuju ke bagian stand makanan. Dia memesan satu box popcorn keju dan es krim. Tidak peduli dengan makanan yang lainnya. Paman Tam membawakan nampan milik kedua bocah itu dan memasuki pintu bioskop yang baru saja dibuka.


Karena memesan tiket VIP, keempatnya duduk di bagian paling strategis dan cocok untuk menonton film. Tidak lama, keduanya sibuk menonton. Railene tenggelam dalam dunianya dan menikmati es krimnya sesekali. Sedangkan Ben, ikut berfantasi. Seperti kebanyakan anak laki-laki yang suka dengan tokoh pahlawan, Ben mengikuti film dengan seru-seruan yang menggambarkan alurnya. Mereka terus seperti itu selama dua jam film berlangsung.


...


Di sisi lain, tepat di aula mall, acara untuk influencer diadakan. Itu setara dengan para artis yang populer di kalangan kaum muda. Banyak produser berkumpul dan beberapa menjadi pengamat. Salah satunya adalah seorang pria bernama Jack.


Gambaran seorang produser kelas kakap dengan tampilan necis dan menarik. Menjadi poin tambah untuknya adalah kekayaan dari agensi dan wajah tampannya. Ia juga merupakan sutradara dari film-film yang beberapa kali tampil di layar lebar internasional. Di sampingnya adalah seorang perempuan yang telah menjadi sekertarisnya selama bertahun-tahun.


"Banyak yang memiliki penampilan, tapi tidak ada yang semegah untuk karakter Tamara. Haah, aku tidak mau menyerah pada para aktris pendatang baru cilik yang sok cantik itu. Kita kekurangan talenta," ujar Jack dengan jengah. Ia masih mengenakan kacamata hitamnya dan menyembunyikan pandangannya yang redup.

__ADS_1


Sekertaris di sampingnya tersenyum kecil. Sangat mengerti bagaimana tampilan yang dimaksud Jack. Ia juga sering melihat bagaimana sikap dan sifat para pendatang baru. Apalagi yang masih kecil dan diarahkan oleh para orang tua yang serakah. Sementara artis cilik veteran sudah terlalu dikenal dan merupakan tampilan yang itu-itu saja. Mereka sudah dikaitkan dengan karakter yang menempel. Sulit untuk mengubah karakter untuk dicocokkan dalam film yang sedang mereka garap.


"Standarmu terlalu tinggi. Tidak banyak anak-anak yang memiliki karakter kuat di usia muda. Kebanyakan dari mereka pasti mendapatkan pendidikan yang baik atau berasal dari keluarga aristokrat. Tidak membutuhkan tampilan di entertainment untuk menjadi terkenal," sahut sekertaris dengan nada santai.


Itu biasa. Keduanya sudah lama saling mengenal dan seperti sepasang sahabat yang tidak terpisahkan. Meskipun memiliki keluarga masing-masing, keduanya masih bersahabat dengan baik. Itu poin yang membuat kerja sama mereka begitu kompak dan saling memahami.


Jack tidak menanggapi kalimat sekertarisnya. Ia sudah mengerti konsep sekuler di masyarakat ini. Kebanyakan dari keluarga kaya dengan karakter matang, pasti sudah dipersiapkan untuk warisan turun temurun keluarga. Kebanyakan berupa bisnis atau profesi ahli. Alih-alih menengok entertainment yang berseliweran, lebih menguntungkan bagi mereka untuk tampil di majalah bisnis atau bersaing dengan para pembekal di masa depan.


Menurunkan pandangan, Jack menghela untuk terakhir kali. Meninggalkan acara influencer yang sedang naik daun dalam acara amalnya. Hanya kedok. Ketika beramal, seharusnya tidak tertuju pada orang yang lebih mampu. Itu hanya berupa sensasi yang dibesar-besarkan untuk meraih banyak pendukung di belakang mereka. Jack membenci hal-hal yang berbau sensasi. Ia lebih menyukai kompetensi dan bakat.


Keduanya berjalan bersisian, melewati sekelompok orang yang baru saja keluar dari bioskop.


Di pintu bioskop Railene dan Ben keluar dengan wajah puas. Keduanya kembali menjadi pusat perhatian. Alalagi ketika Ben dengan berisik sibuk mengagumi karakter pahlawan dalam film. Keduanya berjalan bersisian. Kali ini tidak bergandengan karena Ben terlalu atraktif dan begitu banyak menggunakan gestur tangan.


"Hmm, itu konyol," komentar Railene jujur seperti biasanya.


"Ah, kamu nggak asik. Mana bisa tiba-tiba jadi konyol?"


"Itu kamu. Sejak dulu."


Railene tidak peduli dan mengunyah permen jeli yang baru saja dibukakan oleh Paman Tam. Keempatnya berjalan menuju restoran terdekat untuk makan. Di perjalanan mereka yang sedikit ribut karena Ben, banyak orang memperhatikan termasuk di dalamnya adalah Jack.


Di balik kacamatanya, pria itu menatap lekat ke arah perginya rombongan kecil itu. Dia diam di tempat, membuka setengah mulutnya dan menutup kembali. Tanpa mengatakan apa-apa pada sekertarisnya, dia diam-diam mengikuti kelompok Railene menuju salah satu restoran keluarga. Sekertarisnya yang mengerti jalan pikiran Jack setelah melihat dua bocah tadi, langsung mengikuti tanpa bertanya.

__ADS_1


Keduanya duduk tepat di belakang kelompok Railene. Memesan makan dan mengawasi dari dekat. Mirip paparazi yang sedang menguntit idolanya. Mata Jack tak pernah lepas dari memandang kedua bocah itu, terutama Railene. Gadis kecil yang memiliki aura kuat, tenang, dan kemisteriusan di sisi lain yang tidak bisa dimengerti. Persis gaya yang sedang dia cari untuk karakter dalam film barunya.


"Selidiki gadis kecil itu. Dia dari sekolah internasional dan sepertinya merupakan seseorang yang berasal dari keluarga taipan. Target kita adalah mengejarnya," ujar Jack dengan getaran bersemangat. Sekertaris yang duduk di depannya hanya mengangguk dan tersenyum kecil. Ikut tersentuh dengan momentum karena kehadiran gadis kecil itu memang tidak bisa ditolak.


***


Chit Chat Rebirth :


Railene : Apa lagi ini? Kenapa tiba-tiba muncul Om-om penguntit?


Jack : Nak, bukannya kamu sopan kepada yang lebih tua?


Ben : Jangan berharap sikap itu ada pada Railene. Aku yang lebih tua dari dia aja sering ditindas. Sabar ya Om!


Railene : Kapan aku nindas kamu?


Ben : Berhari-hari di masa lalu, kamu nindas aku, Rai.


Saya : Cukup. Sana bubar, saya mau tidur.


***


Jangan lupa like dan komentar. Have a nice day!😊

__ADS_1


__ADS_2