
Railene terdiam ketika melihat cincin di depannya. Simbol, jenis bahan, dan kekuatan aura yang muncul di sekitarnya membuatnya sangat luar biasa. Bentuk simbol yang dikenalnya terukir dengan corak keemasan di tengah satu-satunya berlian kebiruan samar. Sepanjang badan cincin terdapat ukiran ulir seperti tanaman rambat yang mengelilingi berlian. Cincin itu tidak besar dan terlihat feminim seperti kebanyakan cincin perak pada umumnya. Yang membedakan hanyalah detail pola yang sangat teliti. Terlihat mahal dan berkelas.
Railene juga mengingat penjelasan Alan. Cincin Ingatan adalah benda yang menyimpan ingatannya tentang segala misteri yang menjadi penentu dalam hidupnya. Benda yang sangat penting baginya yang sekarang hampir buta terhadap semua misteri yang ada dalam hidupnya.
Railene memiliki banyak spekulasi dan tebakan tentang asal-usulnya. Dia mengira jiwanya yang dikenai takdir dan tidak ingat apa-apa karena suatu hal atau bisa jadi tubuh ini yang memiliki takdir tertentu hingga siapapun jiwa di dalamnya akan memiliki takdir yang sama. Tapi, menurutnya kemungkinan pertama lebih mungkin. Cincin Ingatan adalah buktinya.
Raga tidak menyimpan ingatan, hanya jiwa yang memilikinya. Itu artinya, semenjak dia terlahir kembali di tubuh orang lain, dia telah memasuki takdirnya. Dan jiwanya benar-benar terpilih untuk melakukan sesuatu yang belum dia ketahui pasti apa itu.
Kembali ke saat ini, Railene meraih cincin itu dan kalung miliknya terasa sejuk sejenak sebelum kembali seperti biasa. Reaksi ini persis seperti ketika dia memegang gelang kaki dari petunjuk buku Ghost Gipsy sebelumnya. Dia akhirnya yakin bahwa Alan adalah sekutunya. 100% yakin.
"Kamu tadi bilang bahwa ada empat jenis perhiasan yang harus aku miliki, apa kamu tau fungsi benda-benda itu?" Tanya Railene mengingat penjelasan Alan tentang fungsi Cincin Ingatan.
"Aku nggak tau banyak. Tapi, kamu harus tau itu dengan sendirinya. Kecuali fungsi Cincin Ingatan, catatan leluhurku nggak pernah menyebutkan fungsi benda-benda Orang Pilihan. Kamu Orang Pilihan itu, seharusnya kamu tau saat waktunya tau." Alan berkata dengan serius.
Railene terdiam sebentar dan kembali bertanya tentang sesuatu.
"Apa aku harus nunggu sampai umur 40 tahun kayak yang Kak Alan bilang biar tau semua fungsi dan tujuan benda-benda ini ada?" Railene bertanya dengan nada penasaran, setengah pahit karena sedikit tidak rela rasa ingin tahunya harus menunggu sampai puluhan tahun.
Alan tersenyum kemudian dan dengan ketidaktahuannya, dia mengungkapkan dengan jujur.
"Aku kurang tau soal itu. Tapi, Railene, kamu bisa mengikuti petunjuk yang ditinggalkan untukmu. Dan mungkin aku bisa membantumu tentang itu," ujar Alan dengan senyum menenangkan kemudian.
__ADS_1
"Petunjuknya ada di dalam buku Ghost Gipsy. Kakak tau tentang itu?" Tanya Railene murni penasaran.
Alan mengangguk yakin lalu berkata, "Ghost Gipsy adalah kakek buyutku. Keluarga kami adalah keluarga Penjaga sekaligus Pemberi Petunjuk yang diutus langsung. Ghost Gipsy cuma nama pena."
Railene terkejut. Ini informasi yang sangat besar baginya. Dia kehilangan petunjuk Ghost Gipsy dan keberadaan orang ini setelah dia memasuki Ruang Memori. Dia ingat bahwa seseorang bernama Ghost Hunter Vetrov telah meninggal pada tahun 2005. Dan ia ingat dengan jelas percakapan lima orang sebelum pemakaman dimulai bahwa Ghost Hunter memiliki cucu buyut yang masih sangat kecil. Jika dihubungkan dengan pernyataan Alan, maka cucu buyut yang dimaksud adalah Alan(?) Dan di tahun kematian kakek buyutnya, Alan terlahir. Itu akan pas ketika dia mengingat usia Alan adalah 19 tahun.
"Apakah kakek buyutmu adalah Ghost Hunter Vetrov?"
"Ya," kata Alan sambil mengangguk positif.
Railene dan Alan saling memandang. Tapi, pikiran Railene mengelana panjang. Hal-hal dalam hidupnya..., mengapa begitu melelahkan untuk dipikirkan?
"Kak Alan, mungkin ke depannya aku butuh bantuanmu lebih sering. Aku mungkin bakal repotin Kak Alan di waktu-waktu tertentu. Apa itu nggak apa-apa?"
"Itu nggak masalah. Sebenarnya tujuan utama keluargaku adalah bantuin kamu menyelesaikan misi. Aku juga nggak tau banyak karena belum belajar semua catatan leluhur karena dulu kupikir keberadaan orang-orang seperti kamu terlalu fantasi. Apalagi kita hidup di dunia modern, susah buat percaya hal-hal di luar sains." Alan menjelaskan dengan jujur.
Railene mengangguk paham. Dia tahu itu dan dulu dia juga orang seperti Alan. Dia tidak mempercayai segala sesuatu yang tidak bisa dijelaskan secara nalar atau akal sehat. Tapi, ketika dia dilahirkan kembali, dia mau tidak mau harus mempercayainya.
"Oke, makasih buat hari ini. Aku perlu mencerna beberapa informasi dan cari tau lebih banyak hal. Untuk rencanaku yang membutuhkanmu, aku kabari lain kali."
"Oke, nggak masalah."
__ADS_1
...
Railene berpisah dari Alan dan Gery yang enggan melihat kepergiannya. Dia kembali ke rumah dengan mobil pribadinya. Sopir keluarganya yang menjemputnya dan dia merasa harus istirahat yang cukup untuk melakukan pemanasan otak lagi tentang semua hal yang baru diterimanya.
Dia menutup matanya di dalam mobil, terlihat seolah sedang tidur, tapi hanya dia yang tahu bahwa jiwanya telah lama berada di Alam Jiwa.
Railene dan Inchara berdiri di antara rak dalam perpustakaan. Railene sedang mencari buku yang sekiranya terlewat sehingga dia bisa mencari tahu tentang benda-benda yang ada di tangannya saat ini. Inchara yang telah mengikuti Railene memutuskan untuk menjelaskan dan membujuknya.
"Rail, belum ada buku baru yang muncul dan kamu udah baca semuanya. Benda-benda itu memang milikmu tapi kegunaannya mungkin tidak tercatat di buku apapun. Kamu harus cari tahu sendiri," ujar Inchara.
Railene akhirnya berhenti mondar-mandir dan berbalik. Melihat ke arah Inchara dengan alis berkerut. Wajahnya sedikit pasrah dan matanya sedikit redup karena lelah.
"Rail, istirahat dulu. Kamu selalu bisa menemukan sesuatu dari mimpimu sendiri. Kekuatan utamamu berhubungan dengan psikis, itu tidak mudah dilatih, jadi jangan sampai terlalu lelah," kata Inchara membujuk ulang Railene. Dia meraih tangan Railene dan menyeretnya menuju ruang tengah.
"Chara, ayo kita mulai ulang dalam tiga hari. Selama tiga hari ini, aku bakal istirahat sebentar. Urusan tentang beberapa hal yang berhubungan dengan Orang Pilihan akan aku tunda dulu. Kamu bisa bantu aku mengawasi petunjuk baru dan jangan lupa kasih tahu aku apapun itu."
Railene menghela napas panjang. Dia memikirkan saran Inchara dan merasa itu masuk akal. Dia juga merasa lelah secara mental. Dalam beberapa bulan kebuntuan, dia merasa sangat tertekan dan tidak memiliki kualitas ketenangan pikirannya yang biasa. Jadi dia butuh istirahat.
Inchara mengangguk setuju. Railene pun keluar dari Alam Jiwa dan mengajukan cuti sehari kepada Jack. Dia berencana untuk "malas" selama sehari. Setidaknya untuk memulihkan ketenangan pikirannya.
***
__ADS_1