Rebirth Of A Genius Woman

Rebirth Of A Genius Woman
98. Tempat Misterius


__ADS_3

Railene dan rombongan keluar dari hotel sementara setelah makan siang. Dengan koper dan barang bawaan masing-masing ketiganya menaiki mobil yang dipesan oleh Maria. Karena telah beberapa tahun tinggal di sini, Maria fasih berbahasa dengan orang lokal dan kebanyakan menyatakan tujuan dan negosiasi tempat.


Naik mobil lokal, ketiganya menuju daerah di ujung lain Hulhumale untuk menaiki kapal menuju tempat tinggal Master Hacker. Orang ini memiliki preferensi yang aneh dan menyebarkan tempat tinggalnya di beberapa titik yang berdekatan. Hanya saja, Railene tidak ingin menebak-nebak. Dia sudah ingin mempelajari keterampilan meretas tingkat lanjut. Bukannya dia tidak mencoba-coba, tapi dia tidak memiliki guru yang membimbingnya dengan benar. Dia tidak ingin mendapatkan masalah dan yang paling tepat adalah menemukan guru untuk mengajarinya.


Dalam beberapa jam perjalanan, ketiganya berpindah kendaraan empat kali dan harus naik kapal dua kali. Mereka tiba di tempat fan sudah hampir malam. Setelah memasuki hotel yang disewa untuk setengah bulan, ketiganya berkendara sendiri dengan mobil yang disewa dari hotel dan menuju pusat bar yang hidup dan penuh kehidupan malam.


Menghentikan mobilnya di salah satu tempat itu, mereka memasuki salah satu gang yang gelap dan sempit. Ada sekitar lima puluh meter jarak antara keramaian dan jalur gang yang sunyi.


"Apa kamu yakin di sini tempatnya? Ini agak kayak film detektif, kan?" Tanya Ben melihat sekitar dengan aneh. Mendapati bahwa gang ini cukup kering dan tidak memiliki apapun yang menyenangkan.


"Kamu ikut dan diam." Railene tidak ingin berbicara dengan kakaknya yang agak cerewet ini. Berkali-kali mereka berpindah dan semuanya tidak lepas dari pertanyaan Ben dimulai dari "apakah kamu yakin" yang berulang. Itu terdengar agak menjengkelkan di telinga Railene. Meskipun dia tahu bahwa pikiran Ben bahkan lebih berisik dari mulutnya, dia bisa memblokir dan memilih untuk tidak mendengarkannya sepanjang jalan.


Ben mendapat teguran langsung terdiam. Membuat gerakan menutup resleting di bibirnya. Maria di belakang dua anak itu hanya tersenyum kecil. Terbiasa dengan kekonyolan lelaki yang dingin di luar dan panas di dalam ini.


Dalam semenit, ketiganya mencapai ujung gang. Hanya terdapat sebuah tembok dengan satu lubang seperti loket di tembok itu. Sejajar dengan dada dan memiliki instruksi kata aneh di penutupnya. Lubang itu hanya selebar kotak kacamata dengan penutup lempengan logam kuning kecokelatan. Seperti lubang surat di pintu rumah masyarakat Eropa tahun 2000-an.


"Jalan buntu. Mungkin kita salah jalan?" Ben bersuara lagi.


Railene tidak menanggapi dan malah merogoh tas kecil yang dia bawa berisi laptop dan peralatan elektroniknya. Dia mengeluarkan sebuah surat dengan amplop berperangko langka di atasnya. Segelnya masih tertutup rapi dengan logo kata yang mirip dengan yang ada di lubang loket di tembok.


Railene ingat kata-kata yang ditinggalkan Selena dalam surat perpisahannya. Jika sampai di titik dimana ia menemukan logo yang sama dengan segel surat ini, maka dia harus menyerahkan atau memasukkannya ke dalam lubang yang tersedia. Ada tiga tempat yang bisa dilakukan dengan transaksi ini. Namun, hanya ada satu lubang yang memberikan izin akses. Itu tidak dapat ditebak yang mana karena berubah setiap hari.


Sekarang dia menemukan lubang yang dimaksud dan berencana untuk memasukkan surat itu ke dalam loket. Dia masih percaya pada kekuatan keberuntungannya. Dimana ia berada, ia akan beruntung.

__ADS_1


Jadi, tanpa ragu-ragu Railene mendorong suratnya dan berhasil membuangnya ke dalam lubang loket itu. Suara engsel sedikit memecahkan keheningan di sekitar. Lalu itu hilang diganti kesunyian selama satu menit penuh.


"Rail... ini-"


Sebelum kata-kata Ben selesai, sebuah celah terbuka di tembok di sampingnya yang hampir membuatnya terperanjat jatuh. Dia pindah ke sisi Railene dan menyaksikan sebuah celah tembok membentuk pintu. Mereka samar melihat cahaya redup dari balik pintu dan kemudian melihat lorong dengan cahaya redup di dalamnya.


"Astaga, bikin kaget!" Ben berbisik hampir mengumpat.


Railene dan Maria saling memandang lalu mereka berjalan masuk. Mengabaikan Ben yang protes dan meminta untuk berhati-hati.


"Hei, jangan sembarangan masuk, siapa tau ini jebakan? Kita sekarang ada di luar negeri, Rail. Kita nggak bisa jamin kalau ini bakal aman." Ben meraih tangan Railene dengan raut khawatir.


"Kak, kamu percaya deh. Ini jalan yang bener. Ayo masuk. Percaya aja sama aku," kata Railene tidak mengalah dan menyeret Ben masuk ke dalam.


"Ayo masuk." Railene bersuara dan tidak memperdulikan pintu yang tertutup. Dia tahu bahwa dia sudah benar dan semua yang terjadi sesuai dengan isi surat Selena.


Dalam surat itu, Selena mengatakan bahwa akan ada pintu yang terbuka setelah seseorang di balik loket membaca surat yang dikirimkan. Ini menandakan persetujuan tuan rumah untuk menerima tamu yang ingin bertemu. Terkadang metode ini digunakan oleh klien yang membutuhkan bantuan dari tuan rumah. Setelah bisa masuk, maka Railene harus melewati lorong dan sampai pada satu pintu dengan kata sandi yang sudah dihafalnya berkat pemberitahuan Selena.


Benar saja. Setelah mereka berjalan di lorong beberapa meter, dia menemukan pintu kayu dengan kata sandi di bawah kenop. Railene mengurusnya dan bunyi bip kecil terdengar tanda pintu terbuka. Dia mendorong pintu dan melihat sebuah tangga setinggi dua meter menuju ruangan di bawahnya.


Sekilas ruangan itu terlihat biasa dan sederhana dengan perabot yang juga sederhana. Hanya ada satu meja konferensi bundar, beberapa kursi yang mengelilingi, televisi, layar proyektor, dan aksesori elegan di dinding. Lantainya berlapis karpet lembut berwana abu-abu dan ada satu rak sendal di dekat tangga.


Railene turun terlebih dahulu dan membiarkan Inchara keluar menyelidiki sekitar. Di ruangan itu terlihat hangat dengan lampu terang di langit-langit. Ada pintu di dekat layar proyektor yang Railene yakin menuju ruangan lain.

__ADS_1


Ketiganya turun dan mengganti sepatu mereka dengan sandal di rak sesuai dengan perintah dalam bahasa Inggris di atas rak itu. Mengamati sekeliling, Railene mendapati Inchara kembali dengan wajah bingung. Railene bertanya melalui telepati.


"Ada apa?"


"Ada rumah di belakang pintunya, ruang tamu, dapur, sama tiga kamar yang dua lainnya diisi penghuni. Ada laki-laki setengah baya di salah satu ruang berisi komputer dan cctv. Ruang di sebelahnya adalah kamar tidur gaya victoria. Ngomong-ngomong, laki-laki tua tua itu mengamati kita melalui cctv." Inchara menjelaskan dengan jujur dan Railene sampai pada kesimpulan bahwa orang tua itu memang tinggal sendiri di tempat ini.


Dari ciri yang disebutkan Inchara, Railene dapat melihat bahwa orang tua itu sedikit mirip hikkikomori.


Beberapa detik mereka berdiri di ruang itu, pintu kayu dekat layar proyektor terbuka dan menampilkan sosok pria tua dengan jaket bomber dan celana pendek. Dia menggunakan sandal hotel putih yang sepertinya sudah lama sekali dipakai.


Pria setinggi 1,7 meter itu sedikit kurus dengan janggut tidak tercukur dan rambut panjang abu-abu yang diikat asal-asalan. Wajahnya adalah karakter orang Eropa dengan hidung mancung, alis tebal, dan iris kebiruan.


"Murid Bulan?" Tanya pria tua itu dalam bahasa Inggris. Suaranya berat dan nadanya agak tidak menyenangkan.


Railene mengangkat alis bingung lalu membaca pikirannya. Dengan senyum kecil di wajah cantiknya dia menjawab, "Ya, kamu adalah Mr. Greg?" Tanya Railene dengan memperhatikan wajah pria itu yang menjadi lebih ramah.


***


Hai hai


Jangan lupa like dan komentar


Have a nice day!😊

__ADS_1


__ADS_2