Rebirth Of A Genius Woman

Rebirth Of A Genius Woman
45. Membutuhkan Pantai


__ADS_3

Beberapa hari berlalu. Railene dengan bosan bermain piano di ruang musiknya. Beberapa partitur berserakan di sekitarnya.


Sosok kecilnya duduk dengan tenang di depan piano. Alisnya yang tebal berkerut samar. Jemarinya terus menyentuh tuts dengan cepat. Seseorang yang menyaksikan ini dan mendengar nada minor yang sangat dalam itu akan memiliki kesan yang baik tentang adegan pertumpahan darah.


Nada yang sesuai dengan suasana hatinya.


Itu ribut.


Penuh gemuruh.


Satu tingkat lagi, dia akan mencapai amarahnya.


Detik sebelum peperangan memuncak dan hancur, ponselnya yang terletak di lantai berbunyi nyaring. Railene dengan tiba-tiba menghentikan jarinya. Itu mengambang konstan dan berangsur tenang. Tidak setegang sebelumnya.


Menghembuskan napas kecil, Railene turun dari kursinya dan meraih ponselnya dari bawah lipatan partitur yang lusuh. Ia melihat nama Susan di layar ponselnya. Mengangkat alis, Railene menjawab panggilan itu.


"Tante Susan?" Suaranya agak kecil dan lemah. Itu terdengar menyedihkan dan segera suara di seberang menanyakan dengan panik.


"Railene? Apa kamu baik-baik aja? Kamu kenapa? Kenapa suaramu hilang? Apa kamu sakit? Tunggu aku, lima belas menit lagi sampai," ujar Susan dengan cepat dan tanpa menunggu jawaban, menutup panggilan.


Railene menjauhkan ponsel dari telinganya dan mengerutkan alis bingung. Dia mendengar nada panik Susan, tidak punya ide tentang apakah itu perlu? Namun, mengetahui bahwa Susan akan ke sini, suasana hatinya sedikit terangkat.


Sambil berjalan ke bawah, dia bergumam sendiri.


"Ada apa sama kebanyakan orang tua itu? Mereka makin aneh," komentarnya yang hanya dapat didengar Inchara.


"Aku bukan orang tua, aku tidak tau," katanya dengan percaya diri.

__ADS_1


Railene berdecak samar, "Aku nggak tanya kamu!" gumamnya dengan kesal.


Dalam seharian ini mood Railene turun drastis. Pertama, Bundanya memiliki jadwal operasi penuh dan ada kelahiran prematur hari ini, jadi dia tidak akan bertemu dengannya seharian penuh. Kedua, kakek dan neneknya mengadakan perjalanan bisnis penting dalam jangka waktu satu minggu terhitung dari tiga hari lalu. Ketiga, semua teman bermainnya pergi entah kemana. Ben sibuk dengan mengunjungi sepupunya di Denpasar, Jean telah terlibat dalam kerja sama dengan perusahaan besar dan sangat sibuk, dan tetangganya memiliki urusan masing-masing. Railene akan mengajak para maid bermain namun mereka sekaku robot yang hanya digerakkan oleh perintah. Pengawal keluarganya bahkan lebih buruk lagi.


Untunglah Susan segera menelepon sebelum dia mengamuk dan membuat lagu baru. Dia mendengar bahwa Susan sedang berada di luar kota untuk menghadiri seminar. Tidak tahu bahwa akan kembali hari ini. Mungkin Diza meneleponnya dan memintanya untuk menemani Railene sementara dia tidak bisa pulang dengan cepat.


Baru-baru ini Railene belum tertarik membaca buku lagi. Bahkan jika itu hobinya, dia akan memiliki jeda untuk merefresh dengan hal lain. Dia sudah mengonsumsi puluhan buku dalam dua hari ini dan tidak bisa melanjutkan karena matanya sedikit lelah. Dia ingin istirahat hari ini dan pergi bermain. Siapa yang tahu bahwa pada akhirnya ia ditinggal sendiri di rumah.


Untungnya situasi sepi ini akan segera berakhir. Dia berencana menyeret Susan untuk jalan-jalan dan menghibur diri sendiri. Dia berjalan ke ruang tengah dan menonton televisi sambil menunggu Susan.


Lima belas menit kemudian, derap langkah sepatu melewati aula ruang tamu dan langsung menuju ruang tengah. Susan sudah seperti hantu selama bertahun-tahun keluar masuk di rumah ini. Tidak perlu lagi ada ketuk pintu atau segala kecanggungan pada pemilik rumah. Dia sangat terbiasa dan selalu menerobos sesuka hati.


Railene dengan senyum kecil menunggu Susan mencapainya.


"Railene? Apa kamu baik-baik saja?" Begitu mencapai Railene, Susan berjongkok di depan sofa dan meraih kedua lengan gadis kecil itu.


Setelah memastikan Railene mengangguk dan bahkan ada senyum kecil yang menggantung di bibirnya, Susan menghela napas lega. Ia beralih mencubit gemas kedua pipi Railene san tertawa senang. Setelahnya dia berpindah dan duduk di samping Railene.


"Iya. Semua orang sibuk," ujar Railene mengakui singkat.


Susan semakin merasa bersalah karena datang terlambat. Seandainya dari pagi ia bisa sampai lebih cepat, ia tidak perlu membuat permata kecil ini kesepian. Dia sudah mendengarkan Diza bahwa akhir-akhir ini Railene terlalu banyak membaca buku dan khawatir akan mencapai keadaan jenuh yang melelahkan. Itu sesuai perkiraan karena hal seperti ini tidak hanya terjadi sekali. Sejak kecil, Railene mengalami hal ini berulang kali. Keluarga dan orang-orang sekitarnya tahu kebiasaanya. Maka sesorang harus menemaninya dan mengajaknya keluar untuk liburan.


"Ya ampun..., keponakanku," sahut Susan lalu memeluk Railene dramatis. Railene tidak terlalu nyaman dipeluk dengan kepalanya dibekap jadi dia dengan cepat membebaskan diri.


"Apa Tante Susan baru pulang?" Tanya Railene melihat pakaian Susan dan menyadari bahwa raut wajahnya juga sedikit lusuh.


"Ah, iya. Akhirnya pekerjaan selesai. Hari ini sampai besok bebas. Apa kamu mau ke pantai? Nanti kita nginep di penginapan dan besok baru pulang lagi. Gimana mau nggak?"

__ADS_1


Susan langsung antusias menjawab. Alih-alih membiarkan Railene sedih, dia lebih suka menggunakan tenaga dan waktunya untuk berlibur dengan Railene. Toh, secepatnya dia bisa benar-benar rileks. Dia bahkan berencana berjemur dan membiarkan Railene bermain membangun istana pasir.


"Oke, tapi kayaknya Tante Susan perlu mandi dulu deh. Bau soalnya!" Railene segera berlari menghindar setelah berkata demikian. Ia menyadari bahwa Susan sedikit memaksakan dirinya, jadi dia memintanya menyegarkan dirinya dulu agar mereka bisa cepat beristirahat saat sampai pantai nantinya.


"Sembarangan kamu ya, masa aku dibilang bau. Sini kamu, jangan lari!" Susan bergerak pura-pura mengejar Railene yang sudah menaiki tangga dengan tawa bahagia.


Susan tersenyum puas dan beralih menuju kamar tamu yang biasa ia tempati untuk mandi dan bersiap.


...


Di suatu tempat yang hanya berupa kabut.


Dua sosok berjubah dengan ikat berpilin di dahinya sedang mengamati cermin dengan seksama. Tidak ada kerutan atau ekspresi yang terlihat. Itu tenang dan tenang.


"Apa akhirnya dia akan mulai hari ini? Bagimana pun orang yang mencarinya adalah pijakan yang sempurna." Sosok lali-laki berpendapat.


Di sebelahnya, sosok perempuan dengan penampilan serupa mengangguk kecil.


"Bagaimana pun tugas utamanya adalah untuk keluarga itu. Dia akan membangun jaringan di dunianya dan mulai bergerak dalam bayangan. Dia pantas dan cerdik," komentarnya persuasif.


Keduanya hening beberapa saat. Perlahan tapi pasti, keduanya tidak memiliki jejak perbedaan pendapat. Hanya ada ketenangan dan sedikit ekspresi penantian.


"Aku berharap dia bisa mencapai hal-hal itu sesuai waktu yang ditentukan. Hanya berkisar kurang dari dua tahun sebelum petunjuknya benar-benar hadir." Sosok perempuan menambahkan. Si laki-laki mengangguk setuju.


Keduanya tidak mengobrol lagi dan meninggalkan tempat itu untuk kemudian kabut segera menyelimutinya.


***

__ADS_1


Jangan lupa like dan komentar. Terima kasih untuk para pembaca yang masih setia membaca sampai episode ini.


Have a nice day!😊


__ADS_2