Rebirth Of A Genius Woman

Rebirth Of A Genius Woman
87. Garis Akrab


__ADS_3

Railene pulang ke rumah bersama Ben dan Inchara. Namun, kali ini dia dipenuhi keheningan yang murung. Ben yang akan bercerita dan berkomentar tentang karya yang baru saja dia setujui, langsung bungkam. Inchara juga tidak mengatakan apa-apa dan masuk ke dalam Alam Jiwa.


Railene sendiri masih memikirkan pertemuannya dengan Alan hari ini. Sosok laki-laki 18 tahun, hampir 4 tahun lebih tua darinya. Sosok tampan seperti dewa yang tidak dapat dia lihat masa lalu dan isi pikirannya. Untuk pertama kalinya dia mengalami hal ini. Semuanya belum terjawab.


Dia menghembuskan napas kesal. Bingung dan dia ingin bertanya, tapi dia tidak tahu harus bertanya kepada siapa. Mungkin Inchara, tapi itu rencana nanti. Dia tiba-tiba ingat bahwa dia harus membaca dua buku tersisa untuk mengetahui petunjuk yang harus dia cari.


"Rail, kamu kenapa?" tanya Ben dengan hati-hati.


Railene menggeleng. "Aku cuma lagi mikirin sesuatu," katanya kemudian menghela napas panjang.


Ben melihat Railene yang mulai memejamkan mata, tanda tidak ingin bicara lagi. Jadi, dia hanya diam dan menikmati perjalanan pulang diam-diam juga. Sesekali bicara melalui pesan bersama Arkan atau Archi di grup obrolan mereka.


Railene sendiri memasuki Alam Jiwa, hanya jiwanya saja. Dia melihat Inchara yang berguling-guling di ruang utama. Melihatnya masuk, Inchara berdiri dan mengitarinya.


"Rail, kamu mau lanjutin baca petunjuk selanjutnya?" tanya Inchara mengiringi Railene menuju perpustakaan. Railene mengangguk dengan suasana hati yang penasaran. Walaupun belum sepenuhnya melupakan pertanyaannya tentang keanehan Alan, dia tetap fokus pada petunjuk yang dia cari.


Kemudian sebelum masuk, dia melihat Inchara. Gadis cantik polos itu memandang Railene, menunggu sesuatu atau kata-kata yang akan diucapkan Railene kepadanya. Dia berdiri dengan patuh dengan penampilan manis dan polosnya.


"Chara, kamu tau, kan yang terjadi hari ini?" tanya Railene mengusap pipi Inchara lembut.


"Uhuh, tentang laki-laki aneh yang bisa melihatku dan tidak bisa dibaca pikirannya? Apa yang harus aku lakukan?" respon Inchara karena mengerti pikiran yang menggangu Railene.


Railene mengangguk, "Tolong cari tau sebab akibatnya, mungkin teman-temanmu tau," kata Railene dengan tugas seperti PR untuk Inchara.


"Oke oke, aku cari tau dulu." Inchara menepuk pelan tangan Railene dan kabur ke ruangannya sendiri. Ruang khusus yang berisi perlengkapan dan peralatan khusus milik Inchara.

__ADS_1


Railene menghela napas dan memasuki perpustakaan. Dia mengambil buku hijau bersampul keras dan digembok itu. Mencocokkan kunci dengan lubang gembok, Railene memutarnya tanpa basa-basi. Suara "klik" berurutan berbunyi tiga kali.


Saat terbuka, Railene melihat satu buah tali rantai yang panjang dengan liontin giok berwarna biru di dalamnya. Liontin giok itu tidak sederhana, terlihat seperti ukiran garis-garis yang ia kenali. Namun, Railene masih diam karena memiliki rasa kearkabraban dari tali rantai berliontin giok itu. Sekilas ukurannya tidak sepanjang kalung dan mungkin hanya muat untuk pergelangan tangan atau kaki. Dan Railene mengenali bentuk dan ukiran giok itu untuk ke sekian kalinya.


Railene menyentuh lehernya dan menemukan kalung dengan pola yang sama. Kalung milik ibu kandungnya yang sudah meninggal saat dia lahir ke dunia. Railene berdiam dengan renungan panjang. Mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dan mengapa semuanya seperti kebetulan?


Sebenarnya, siapa identitas ibu pemilik tubuh ini? Railene sangat bingung.


...


"Apa? Kamu menemukannya?" Tanya seorang pemuda berambut cokelat yang memakai baju basket penuh keringat. Di sebelahnya, ada seorang pemuda lain yang dikenali dengan nama Alan.


Kedua orang itu duduk di tepi tribun lapangan basket kompleks. Keduanya adalah tetangga dan sahabat sejak masih bayi. Pemuda berambut cokelat itu bernama Gery dan merupakan salah satu generasi kedua kaya berlabel setengah fakboy. Meskipun tidak setampan Alan, keduanya adalah penarik pesona yang sangat kuat karena begitu indah dari fitur tubuh dan wajah.


"Dimana?" Tanya Gery lagi.


"Terus terus, gimana?"


"Nggak gimana-gimana. Dia keluar dan ngilang gitu aja pas aku mau tanya sesuatu," jawab Alan dengan nada yang tak berdaya. Walaupun karakter temperamen Alan terlihat dingin dan sulit didekati, faktanya berbeda sama sekali. Alan adalah tipe orang cerdas yang lembut dan toleran. Yang paling mengesankan adalah kesetiaan dan rasa tanggung jawabnya sangat tinggi.


"Siapa namanya? Mungkin aku bisa bantu selidiki dan kamu bisa ketemu lagi buat tanya sesuatu?" Gery adalah tipe penolong tanpa syarat dan tidak sayang uang. Dia bisa memberikan apapun pada seseorang yang berharga baginya. Dalam kasus hubungan persahabatan dan persaudaraan mereka, Gery telah menganggap bahwa Alan adalah orang terbaik di sekitarnya, sahabat sekaligus saudara yang melengkapinya.


"Itu nggak perlu. Aku bakal kerja sama dalam film bareng dia bulan depan. Dan kalau misal mau ketemu, aku tinggal datang ke perusahaan," ujar Alan.


"Oke, kamu udah nunggu sampai saat ini," kata Gery menghibur.

__ADS_1


"Aku tau," ujar Alan menepuk bahu sahabatnya.


Pembicaraan mereka adalah tentang apa yang ditemui Alan tadi saat di perusahaan. Tepatnya, dia membicarakan tentang Railene, si pemilik dari sesuatu yang dititipkan seseorang padanya. Hidup Alan tidak misterius, tapi orang-orang di sekitar dan keluarga besarnya menyimpan sejuta rahasia yang sangat dalam dan tidak dapat digali olehnya. Dan perannya sendiri adalah sebagai pewaris sekaligus penjaga dari hal-hal yang disebut misterius ini. Namun, syarat yang harus dia penuhi adalah menemukan orang dengan sebuah identitas yang sangat sulit ditemui.


Dia menerima tugas itu sejak usianya menginjak sepuluh tahun. Dia baru menemukan sosok itu setelah delapan tahun menunggu dan mencari dimana-mana. Sejujurnya dia tidak putus asa dan sangat sabar dalam penantian itu, hanya saja dia merasa rumit ketika hal-hal yang tidak ia ketahui baik atau tidaknya akan diserahkan padanya begitu dia memenuhi syarat untuk menjadi pewaris. Alan tidak takut gagal, juga tidak takut untuk berhasil. Dia hanya merasa ini lebih rumit dan ada banyak sebab akibat di dalamnya.


"Yah, kamu bisa temuin dia lagi besok," kata Gery kemudian berdiri dan mengambil bola. Dia akan berlatih basket lagi untuk turnamen basket di kampus tempatnya belajar.


Alan mengangguk mengiyakan. Dia bukan orang menyukai olahraga berat terlalu sering. Meskipun dia menguasainya, dia lebih suka diam daripada bergabung untuk memulai kegiatan yang banyak berkeringat.


Ketika hampir berjalan menjauh, Gery kembali lagi dengan wajah penasaran.


"Kamu bilang dia bakal kerja sama di film bulan depan. Berarti dia artis?" Tanya Gery seakan baru sadar akan hal itu.


Alan mengangguk dengan tenang. Gery membulatkan matanya dan tiba-tiba gugup saat menyadari tempat dimana perusahaan Alan baru saja bekerja. Dia adalah salah satu penggemar aktris yang berasal dari perusahaan itu.


"Siapa?"


Alan menyadari rasa pemasarannya dan tertawa, "Itu Railene, idolamu," kata Alan ringan.


Gery langsung membatu dengan wajah kosong.


***


Hai hai, maafkan baru update. Kesibukan UAS memang bikin stress dan saya terus-terusan mager buat nulis karena kebanyakan nugas hiks.

__ADS_1


Oh ya, jangan lupa like dan komentar.


Have a nice day!😊


__ADS_2