
Sementara Railene mulai berkutat dengan komputernya di rumah, Alan sebagai objek sedang bermain game dengan sahabat karibnya. Beberapa bungkus makanan berjejer di atas meja. Banyak junkfood yang dipesan Gery dan dilahap oleh pemuda bersemangat itu. Sedangkan Alan, dia lebih teratur dan hanya memiliki satu gelas susu setengah penuh dan bungkusan bekas cokelat.
Keduanya duduk di sofa panjang dengan penampilan yang berbanding 180 derajat satu sama lain. Game berakhir satu menit kemudian dan keduanya menghela napas lega. Mereka baru saja bertarung dengan lawan online yang sangat kuat.
"Lan, kapan kita berkunjung ke kru lagi?" Tanya Gery tanpa image yang biasanya dia tampilkan di depan para gadis.
Alan meliriknya dengan cemberut. "Kamu sangat bosan, kan? Kenapa nggak datang sendiri? Aku sibuk sama tugas kuliah beberapa hari ini. Ada kuis minggu depan yang harus aku siapin," ujar Alan lalu bangkit menuju meja belajarnya.
Dia membuka laptopnya dan menampilkan sebuah naskah setengah jadi yang baru mulai ia tulis beberapa minggu lalu. Pekerjaan sampingannya sebenarnya adalah penulis lepas di majalah kampus, namun beberapa bulan terakhir, dia mulai menyukai naskah sebuah film. Dalam banyak penelitiannya, Alan sangat memperhatikan simbol kekuatan yang dibawa oleh wanita. Ya, Alan adalah seorang penganut feminisme, khususnya jika itu menyangkut gender perempuan. Itu juga yang membuatnya berbeda dari kebanyakan pria lainnya.
Gery sendiri bukan seseorang yang hanya memiliki satu pandangan, dia berubah-ubah dan menerima banyak hal. Itulah mengapa keduanya akur. Dan saat ini, ketika Gery melihat Alan terbengong di depan naskah dari hasil karyanya, dia menghampiri dengan tenang.
"Kadang ya..., belakangan aku ngerasa kalau kamu lebih fanatik daripada aku!" komentarnya tiba-tiba.
"Hah?!" Alan mengangkat kepalanya dan memandang Gery dengan alis bertaut. Tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan orang ini.
"Tentang Railene. Kenapa kamu sering cari tahu segala sesuatu tentang dia akhir-akhir ini?"
Alan menghela napas panjang dan mengangkat bahu dengan nada pasrah. "Dia objek tugas dari leluhur. Tapi, dia lumayan bikin aku pusing karena informasinya hampir nggak ada yang relevan dalam lima tahun terakhir. Untuk tau kebiasaan dan hal rahasia dari dia hampir ketemu jalan buntu. Itulah kenapa aku nggak bisa langsung kasih hal-hal yang dititipin leluhurku." Alan berkata dengan jujur.
Dalam hal latar belakang keluarga, Keluarga Alan dan Gery memiliki banyak kesamaan. Namun, banyak juga perbedaan yang memisahkan sehingga tidak dapat saling dikaitkan. Alan adalah generasi langsung dari tradisi yang ada di keluarganya. Jadi, dia harus menjadi pewaris segala macam yang menjadi rahasia keluarga. Namun, Gery tidak begitu. Gery berasal dari keluarga samping yang tidak berhubungan langsung dengan garis warisan leluhur. Jadi, meskipun Gery mengerti beberapa hal, dia tidak tahu sedetail Alan mengetahuinya.
__ADS_1
"Kalau gitu cari tau langsung! Ayo ke lokasi syuting. Dia tokoh utama naskahmu, kan?" kata Gery dengan bersemangat.
Alan memutar matanya malas. Sangat tahu tentang apa yang lebih Gery inginkan dari sekedar membantunya mencari kebenaran. Gery adalah fans Railene yang lumayan berdedikasi sehingga dia seringkali dapat tahu banyak kegiatan Railene dari pengumuman sederhana di instagram atau sosial media lain. Agak menakjubkan ketika Gery si playboy dapat memiliki informasi berguna dan relevan itu dari pengumuman idolanya.
Alan memikirkan ide Gery dan dia sedikit tidak yakin. Dia memang penulis naskah film itu dan sudah seharusnya ada di lokasi syuting untuk mengantisipasi jika ada kendala dengan adegan dan perlu mengubah naskah. Tapi, Alan masih tidak ingin ke sana karena dia merasa kurang enak entah dari mana asalnya. Seperti belakangan, dia diintai oleh seseorang yang akan membuatnya tunduk. Dia memiliki firasat seperti itu dan aneh menurutnya.
Menatap layar laptopnya yang berisi kebuntuan, Alan berdecak kesal. Ada beberapa hal dalam pikirannya yang membuatnya ingin melihat Railene selain untuk menyelesaikan tugas. Itu lebih seperti dia penasaran akan sesuatu tentang Railene. Pikiran ini muncul seiring berlalunya waktu dalam sebulan ini. Membuatnya tidak berdaya dan merasa ini adalah hal yang akan menjadikan dia tidak stabil secara emosional.
Tetapi tetap saja, dia tidak dapat memuaskan rasa penasarannya. Apalagi jika Railene benar-benar orang yang dia cari dan merupakan pewaris barang yang akan dia berikan, statusnya dan Railene akan lebih tidak sejajar. Bagaimana pun di tahu hal-hal yang diturunkan dalam keluarganya. Railene adalah poros dan keluarganya adalah para abdi yang menyertai.
"Jangan banyak alasan, deh. Kamu sebenernya nggak ngapa-ngapain, kan, selain nulis naskah?" Gery berujar lagi dan Alan memandangnya dengan kesal.
"Aku pikirin dulu!" katanya kemudian.
"Besok ke sana. Mumpung nggak ada mata kuliah besok. Oke?!" Gery tidak menyerah dan memberi alternatif yang murah hati.
"Aku pikirin du-"
"Oke, besok jam 9 berangkat!" Gery memotong perkataan Alan dan dengan sembrono membuat keputusan sendiri.
Alan hanya diam dan menyaksikan kepergian Gery dengan wajah rumit. Sahabat yang sedari kecil bersamanya itu akan menjadi menyebalkan di saat-saat tertentu, terutama sekarang. Alan menghela napas panjang dan membangun kembali kepercayaan dirinya. Dia tidak bisa ragu-ragu dan menyusahkan dirinya sendiri lagi.
__ADS_1
Mengambil kotak tempat benda titipan itu ditempatkan, Alan memutuskan untuk mencoba lagi besok. Dia ingin tahu apakah sebelumnya dia salah lihat atau memang benar begitu adanya. Dia tahu Railene cerdas dan bahkan mungkin lebih pintar darinya. Kewaspadaannya tinggi karena Railene juga anak-anak kaya dari kalangan kelas atas yang hampir setara dengan pilar perekonomian negara.
"Railene Aristokelly..., aku harap tugas ini segera selesai dan memang kamu yang aku cari."
Alan memasukkan kembali kotak berisi hal titipan itu dan kembali menemukan ide cerita untuk naskah dramanya lagi. Dia diam-diam menyetujui ajakan Gery dalam hatinya tanpa dia sadari.
...
"Sejarah keluarganya panjang sekali. Dia berasal dari keluarga aristokrat yang sudah ada sejak ratusan tahun. Chara, apa kamu yakin dia adalah petunjuk paling berguna?" Tanya Railene setelah melihat profil Alan.
"Aku yakin. Rail, kamu bisa percaya pada intuisiku. Orang ini memiliki sesuatu yang ditujukan untukmu," kata Inchara dengan nada biasanya.
Railene memandang Inchara di sebelahnya dan menghela napas sedikit. Dia tersenyum dan memeluk Inchara.
"Aku percaya kamu. Tapi sekarang aku nggak bisa cari tahu apa yang dia miliki dengan informasi ini aja. Kita harus ketemu langsung. Minggu depan udah cuti, seharusnya aku bisa nemuin dia di kampusnya." Railene berkata dengan wajah tenang. Ekspresinya serius dan Inchara mengangguk mengikuti pendapat Railene.
***
Hai, masih inget cerita ini?
Maap ya ngilang mulu..., selanjutnya bakal ngilang lagi sih, mulai sibuk di dunia nyata soalnya.
__ADS_1
Oh ya, jangan lupa like dan komentar.
Have a nice day!😊