
Sekarang Railene, Arkan, dan Tamara berada di lantai 7 gedung perusahaan. Di depan mereka ada lima orang yang memiliki penampilan relatif sama. Meskipun begitu, kelima orang itu memiliki tempramen dan pengaturan yang berbeda-beda.
Railene diam dan mendengarkan perkenalan mereka. Dia juga menganalisis dari penglihatan magisnya. Meneliti masa lalu kelima orang itu dan mendapatkan kesimpulan besar.
"Nama saya Kenzi Renata, 24 tahun. Saya lulusan S1 universitas ibukota. Saya memiliki pengalaman dua tahun menjadi asisten dan mengikuti dua aktris cilik berbeda selama 11 bulan dan 13 bulan," kata seorang perempuan dengan ciri khas rambut pendek sederhana dan terlihat memiliki sedikit kecerobohan.
"Saya Diana, saya memiliki sertifikat profesional sebagai asisten selama enam tahun. Saya pernah bekerja dengan tiga artis remaja," ujar sosok lain. Seorang perempuan dengan ciri khas dewasa dan sedikit memiliki ketegasan di wajahnya.
"Perkenalkan, saya Ghani. Saya belum pernah menjadi asisten artis dan saya baru saja lulus dari universitas provinsi. Saya berusia 22 tahun," kata sosok laki-laki yang tampak bersemangat. Persis sosok yang baru masuk dunia kerja.
"Saya Maria, 26 tahun. Saya sudah bekerja menjadi asisten artis cilik selama lebih dari tujuh tahun," perkenalannya singkat. Perempuan dengan mata jernih yang berdedikasi. Dia memiliki ketegasan yang banyak dan terlihat rahasia dengan kepatuhan.
"Nama saya Vincent. Saya berusia 28 tahun dan berpengalaman di industri hiburan sebagai asisten selama 7 tahun," ujar pria dengan cambang rapi di garis rahangnya. Dia tampan dan memiliki aura dewasa. Seperti terlihat dapat diandalkan.
Di antara lima orang di depannya. Railene tertarik dengan identitas Maria. Sekilas perempuan itu terlihat biasa saja, namun saat mendalaminya Railene menemukan karakter yang sangat cocok dengan tugasnya. Asisten sejati. Sosok yang menjaga dan mengatur dengan benar setiap jalan yang akan diambil oleh seorang artis atau atasannya.
Maria adalah sosok yang cerdik. Dia hampir mirip Selena dengan kisah hidup yang berat dan penuh luka. Maria ditinggalkan oleh kedua orang tuanya yang meninggal. Dia yatim piatu di usia 5 tahun. Pamannya datang menjemput dan merawatnya hingga remaja. Sayangnya, pengalaman bersama pamannya juga tidak menyenangkan. Dia diperlakukan seperti pembantu.
Maria juga kehilangan jejak kehangatan sejak memasuki keluarga pamannya. Dia dipukuli ketika melakukan kesalahan kecil, dibiarkan kelaparan sebagai hukuman, bekerja dengan keras di usia yang masih sangat kecil. Meskipun dia disekolahkan, semuanya tidak berjalan lancar. Dia dikucilkan, dibully dengan parah bahkan hampir meninggal karena dikunci di kamar mandi semalaman.
Hingga perlahan Maria memiliki banyak hal traumatis dalam hidupnya. Menjadi sosok tanpa pendapat. Tidak membantah dan memperlakukan dirinya sendiri sebagai bawahan abadi. Tidak memiliki kehangatan sosok manusia dan matanya hampir tidak memiliki jejak fluktuasi apapun. Kosong dan datar.
Railene seperti melihat jejak dirinya sendiri pada Maria. Maria adalah dirinya di kehidupan pertama yang memiliki kisah berbeda. Dia dulu mati rasa seperti Maria. Membiarkan dirinya sendiri kedinginan karena jejak kehilangan yang tidak bisa diganti.
__ADS_1
"Apa kamu sedih?" Tiba-tiba pertanyaan Inchara bergema di kepalanya.
Railene menjawab dengan senyum kecil, "Dia seperti aku di kehidupan pertamaku. Tapi, dia sangat kuat dan tetap berdiri tegak dalam hidupnya. Chara, aku ingin menyelamatkan orang ini," ujarnya dalam kepalanya.
"Hmm, itu bagus. Dia juga orang yang bisa menjaga rahasia dan sangat setia. Kamu juga bisa bekerja sama dengan dia tentang misimu sendiri!" Inchara terdengar bersemangat.
Railene juga telah memutuskan dan melalui prosedur tanpa tanya jawab.
"Kak Tamara, aku mau Kak Maria sebagai asistenku," kata Railene berbisik kepada Tamara.
Tamara dengan alis terangkat sedikit bertanya. Dia berspekulasi bahwa gadis kecil seperti Railene pasti terpengaruh oleh gaya pembawaan seseorang. Dia melirik Maria yang menenangkan dan dewasa. Sosok yang akan dengan mudah dipilih karena sikap yang dapat diandalkan.
Dengan penampilan dan permintaan Railene, Tamara setuju. Lalu dia beralih pada Arkan yang sudah mengobrol dengan kelima asisten itu. Memulai tanya jawab yang kebanyakan berisi pertanyaan konyol.
"Apa kamu bakal melarangku main game?" Pertanyaan itu diajukan untuk Ghani.
"Itu tergantung waktunya. Untuk syuting dan persiapan dengan naskah, kamu harus fokus. Aku akan menyita ponselmu kalau kamu bermain game di saat-saat penting," ujar Vincent dengan nada dewasa dan sedikit senyum profesional di wajahnya.
"Oke..., terus apa kamu bakal melarangku makan coklat dan semua makanan ringan?" Tanya Arkan lagi.
"Kamu boleh makan sesuai porsi yang sehat," ujar Vincent tenang.
"Tapi kan makanan ringan nggak sehat," kata Arkan dengan polos. Dia seperti bolak-balik dan menguji air. Seperti menentukan dengan bertanya dan memasang jebakan. Namun Vincent tidak terjebak.
__ADS_1
"Kalau gitu jangan makan makanan ringan," ujar Vincent ringan.
"Kamu mengorbankan kesenanganku?" Arkan menyipit dengan pasif.
"Demi kesehatanmu. Banyak makanan sehat yang enak dan kamu bisa membuat kesenanganmu sendiri dari main game di waktu luang," kata Vincent dewasa.
Railene dan Incahra sudah bergosip dalam bilik pikiran. Membicarakan betapa aktifnya Arkan menjebak orang-orang dewasa itu dengan pikiran sederhana yang dikecohkan. Tentu saja Arkan sangat cerdas. Meskipun kepribadiannya seperti keceriaan sederhana yang mudah disenangkan, tapi preferensinya dalam memilih kubu sangat teliti. Dia cerdik dan ramah. Seperti buaya darat kelas bangsawan. Terhormat dan tampan tanpa noda.
Selama lebih dari tiga puluh menit akhirnya asisten dari masing-masing anak itu ditentukan. Railene dengan Maria dan Arkan dengan Vincent. Kedua orang itu sudah bicara macam-macam dan penuh dengan kesederhanaan yang menjebak. Sepertinya Arkan ketagihan mendengar setiap jawaban Vincent dan menempel padanya seperti kotoran membandel. Untung Arkan sangat tampan dan nada sikapnya menyenangkan. Kalau tidak, Railene yakin bahwa Vincent sudah dari tadi meninju pipi bersih Arkan.
Railene dan Maria sendiri memiliki pembicaraan yang tenang. Maria akan menanggapi dengan baik dan benar. Cara uniknya bicara tidak pernah melewati batas bahkan setelah Railene menurunkan sikap santai dan kekanakkannya. Maria tetap pada batasan asisten dan artis, tidak hangat meskipun responsif.
Dia tidak mempermasalahkannya toh Maria sudah terbiasa seperti itu selama bertahun-tahun. Akan sangat sulit mengubah kebiasaan dan tingkah laku seseorang yang seperti Maria. Dia juga menghormatinya dan mencoba selangkah demi selangkah. Mencoba menyelamatkan Maria dari mati rasa yang dulu pernah ia alami.
Tanpa sadar, keempatnya mengobrol ringan dan melupakan Tamara yang tersenyum kikuk. Baru satu jam yang lalu dua anak itu terjerat dan memihaknya dengan banyak obrolan. Sekarang dia diabaikan seperti patung manusia di sudut ruangan. Mau tak mau dia pasrah.
Tapi karena waktu untuk casting sudah dekat. Dia memutus harmoni itu dan mengirim keempat orang itu ke dalam mobil untuk menuju lokasi syuting.
***
Hai hai... iya maaf lagi. Ngilangnya saya adalah murni kemalasan hehe... maaf ya...
Semoga saya bisa melanjutkan dalam kemalasan yang berharga ini.
__ADS_1
Terima kasih untuk yg masih setia baca. Jangan lupa like dan komentarnya. Saya usahakan update rutin dan nggak kelamaan.
Have a nice day!😊