Rebirth Of A Genius Woman

Rebirth Of A Genius Woman
122. Buklet


__ADS_3

Railene mendekat dan berhasil melihat wujud dari benda yang terlindung itu. Ternyata itu adalah sebuah peti kotak yang sangat biasa, akan tetapi entah bagaimana memiliki aura yang luar biasa. Railene memiliki firasat bahwa benda inilah yang dia cari.


Dia mengambil peti kotak yang berukuran seperti box organizer dengan panjang 60cm, lebar 40cm, dan tinggi sekitar 20cm. Kayu itu sangat berat namun Railene dengan mudah mengambilnya. Kotak itu tidak memiliki kunci tapi terdapat sebuah bulatan kecil yang terbuat dari giok di atasnya.


"Apakah ini pakai kekuatan spiritual juga?" Railene bertanya sendiri. Dia tidak tahu, tapi selalu dapat mencobanya sendiri.


Kemudian dia meletakkan tangan kanannya di atas giok dan benar saja, setelah dia menyalurkan energi spiritualnya, kotak ini bereaksi. Hanya saja, tidak seperti penghisap kekuatan di pintu sebelumnya. Kotak langsung terbuka ketika bertemu kekuatan spiritualnya. Seperti "mengenali" kekuatan spiritnya.


Railene membukanya dan seketika menemukan sebuah buklet yang terbuat dari kulit binatang di dalamnya. Tidak ada kata-kata di atasnya. Bentuk buklet seperti lembaran kulit binatang yang dijahit menggunakan tali rami. Satu-satunya yang Railene temukan ketika melihatnya adalah bahwa buklet itu memiliki simbol pengenal yang selama ini sering dia lihat di semua petunjuk tentang Orang Pilihan.


Railene mengeluarkannya dari kotak dan melihat ukuran buklet sebesar 50×30cm. Agak terlalu besar dan tekstur kulit binatang masing terasa berbulu dan kasar. Railene dapat mengenali bahwa itu adalah kulit harimau asli karena corak hitam panjang di atas bulu-bulu putih. Ya, lebih tepatnya itu adalah harimau putih.


"Buklet ini terlalu besar dan kasar. Sepertinya udah tua banget, " ujar Railene bergumam sendiri. Dia akan membukanya ketika kesadarannya tiba-tiba terguncang dan seketika pemandangan di depannya berubah lagi.


Dia teduduk di tengah ruang spiritual dengan Inchara yang berjongkok di depannya. Mengerjap beberapa kali, Railene merasakan sedikit pusing yang jarang terjadi. Setelah beberapa detik pulih, dia membuka matanya lagi.


"Lene, kamu baik-baik aja, kan?" Inchara bertanya dengan wajah berkerut.


"Ya, aku nggak apa-apa. Tadi barusan ada apa?" Railene bingung dengan perubahan yang tiba-tiba ini dan bertanya pada Inchara.


Inchara duduk di depannya dan menjelaskan sedikit demi sedikit.


"Setelah kamu menyalurkan kekuatan untuk mengendalikan dimensi kalung, koneksi antara kamu dan aku terputus. Aku tidak bisa liat keadaan kamu di dalam sana dan bahkan pikiran batin tidak bisa terhubung. Terus kamu hampir kehabisan energi tadi, jadi aku bantuin kamu mengumpulkan spirit di ruangan dan menyalurkannya ke kamu. Dan karena ini hampir pagi aku memutuskan buat bangunin kamu," ujar Inchara bercerita dengan runtut.


"Telepati kita sempat terputus? Aku nggak ngerasain itu...," ujar Railene bergumam. Dia benar-benar tidak merasakannya dan karena dia pikir ruangan itu terlalu aman untuknya, jadi dia tidak mengecek segala sesuatu yang berkaitan dengan dunia luar dimensi.

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Selama kamu baik-baik aja. Apa yang kamu dapatkan di dalamnya?"


Inchara melihat kebingungan Railene yang jarang dan menghiburnya untuk tidak terlalu memikirkannya.


Railene juga berhenti untuk memikirkan apa yang terjadi dan teringat tentang buklet yang ikut terbawa di tangannya. Buku besar dan tebal itu menjadi lebih jelas di bawah pencahayaan ruang spiritual.


"Aku dapat buklet ini, aku nggak tahu isinya apa. Kekuatan menyerap isi bukuku nggak berfungsi untuk buklet ini. Jadi, mari kita baca nanti. Sekarang hampir pagi dan waktunya buat balik ke dunia nyata. Aku akan ngecek itu lagi nanti. Chara, aku akan keluar dulu. Tolong taruh ini di perpustakaan." Railene menyerahkan buklet ke arah Inchara.


"Oke," ujar Inchara menerimanya dan seketika tubuh Railene menghilang.


Railene muncul lagi di kamar asrama EPS.


Dia menghela napas panjang dan rasa pusing akibat perpindahan tadi sudah tidak terasa. Tapi, banyak petunjuk yang dia dapatkan dari dimensi kalung itu. Misteri secara bertahap akan terkuak.


"Rail, apakah kamu menemukan cerita legenda di dalam dimensi?" Inchara tiba-tiba muncul dan bertanya pada Railene.


"Ya, sebuah legenda dari puluhan ribu tahun lalu. Dan aku mungkin bisa menebak beberapa konten yang ada di dalamnya." Railene berkata dan bersiap dengan analisisnya.


"Apakah kamu bisa menceritakannya?" Tanya Inchara penasaran.


"Ini adalah cerita sebuah suku yang bertahan dari serangan luar dan membalikkan keadaan untuk menang. Tapi, mereka memiliki elemen spiritual yang mengikuti secara alami. Ada yang disebut Sang Spirit atau kekuatan Alam dimana kubu itu membentuk utusan untuk memberantas kekacauan yang terjadi. Dan aku rasa, Orang Pilihan adalah para utusan itu karena di akhir cerita itu, setelah kejahatan dikalahkan, utusan yang ada kemudian mati. Ini mirip konten aturan Orang Pilihan, Chara. Hidup Orang Pilihan akan semakin pendek ketika kekuatan menjadi lebih kuat dan kemudian akan mati setelah kekacauan dibereskan." Railene berspekulasi pada tebakannya.


"Sebuah suku? Apakah itu Omen-Tune?" Inchara bertanya lagi.


Railene menggelengkan kepalanya. "Aku nggak tahu. Ada banyak tulisan dan simbol yang nggak aku mengerti karena itu bukan bahasa dunia modern sama sekali," ujarnya dengan menghela napas panjang.

__ADS_1


"Kalau suku itu Omen-Tune, mungkin aku bisa membantumu menerjemahkan. Setidaknya aku dilahirkan untuk tahu semua asal-usulku begitu aku menyentuhnya." Inchara tersenyum dan menenangkan Railene agar gadis itu tidak terburu-buru.


Railene balas tersenyum dan mengangguk. "Oke, Chara lebih tau daripada aku," katanya kemudian tertawa.


Tok tok!


Suara ketukan pintu memutus pembicaraan keduanya. Inchara pun masuk lagi ke Alam Jiwa dan Railene bangkit dari tempat tidur menuju pintu. Membuka pintunya, dia melihat Diza dengan pakaian rapi di depan pintu. Railene tersenyum dan memanggil Diza dengan hangat.


"Bunda ada apa?" Tanya Railene sedikit heran.


Mendengar pertanyaan Railene, Diza mengangkat alis. "Apakah kamu baru aja bangun?" Tanya Diza balik.


Kemudian Railene sadar dan melihat ke arah Arloji Diza. Pukul 8 pagi. Dia kesiangan. Sadar jika dia bangun lebih lambat hari ini, Railene beralih ke mode membuat alasan.


"Ah, aku mungkin sedikit capek. Aku baru bangun. Aku mau siap-siap sekarang!" kata Railene sambil panik seketika.


Diza tersenyum pengertian. "Jangan buru-buru, Bunda mau menemui kepala sekolahmu dulu untuk prosedur asrama dan sebagainya. Kamu nanti bisa makan dulu dan nyusul, gimana?" Tanya Diza dengan nada hangat.


"Oke, Bunda. Maaf aku ngerepotin Bunda lagi...," ujar Railene sambil cemberut.


Diza hanya tertawa dan menghibur Railene. Setelah Diza pergi, Railene menutup pintu dan menghela napas lega. Sebuah kebohongan yang salah lagi.


"Hampir saja...,"


...****************...

__ADS_1


__ADS_2