
"Apa yang mau Nona bicarakan?" Tanya Railene masih dengan senyumannya.
Wanita itu menatap Railene ke dalam matanya yang gelap dan jernih. Ia sedikit tenggelam sebelum mendengar suaranya. Baik tatapan mata maupun nada suaranya, itu menyimpan misteri dan wanita itu merasa gadis di depannya telah melucuti semua yang ada pada dirinya. Mata itu, seolah tahu segalanya.
"Sebelumnya namaku Selena. Boleh aku tau namamu?" Selena segera bertanya dan memulai percakapan normal.
"Railene."
Railene mengenali tatapan berbahaya di mata Selena. Tidak ada yang bisa sembunyi dari penglihatan batinnya yang dapat membaca masa lalu. Bahkan jika seseorang amnesia dan melupakan masa lalunya, Railene masih dapat melihatnya meskipun tidak lengkap.
Menatap Selena dengan tenang, Railene sangat tahu sifat dasar yang ada pada wanita di depannya. Dan ada satu bagian rumpang yang dilupakan oleh Selena tentang masa lalunya. Ini adalah teka teki rumit yang bahkan tidak dapat diingat Selena meskipun dia mencoba mengingatnya. Hal-hal inilah yang membentuk Selena seperti sekarang. Sosok yang kuat dan berbahaya namun masih rentan terhadap kekuasaan. Dia memiliki banyak hal, tapi kekuasaan bukan salah satunya.
"Ini tentang yang terakhir kali kamu katakan waktu perjamuan, saya perlu ruang dan waktu yang tepat untuk membicarakannya," kata Selena langsung.
Railene sudah menebak ini dan tidak terkejut sama sekali. Dia berdiri diam dan memperhatikan sebentar sekitarnya. Melihat sepertinya Susan akan bangun dan mencarinya, ia memberikan alamat dan waktu yang tepat kepada Selena.
"Villa tepi pantai, lantai dua kamar nomor tiga dari Selatan. Ada balkon di sana. Kakak bisa ke sana jam satu malam." Railene berucap dengan lugas dan jelas.
Senyumannya tidak memudar. Ia tahu bahwa Selena terlatih dan cukup baik dalam segi fisik. Menaiki balkon di lantai dua bukan masalah yang besar untuk peserta pasukan khusus seperti Selena.
Selena menyadari ini dan menyipitkan mata. Dugaannya semakin kuat bahwa Railene memang tidak biasa sama sekali. Semua kalimatnya, pemahamannya yang baik, dan segala kemisteriusannya bukan hal yang lumrah dimiliki anak seusianya. Caranya mengatakan sangat tenang, dewasa, dan seperti hal biasa. Itu tidak cocok dengan wajahnya yang imut dan kekanakkan.
Meskipun Selena merasa begitu, ia tetap mengangguk dan berdehem singkat. Ia pergi menjauhi pantai dan menuju satu-satunya restoran di tepi pantai. Railene sendiri melihatnya menjauh dan menghilangkan senyumannya. Ada kilatan rumit yang membuatnya mengingat masa lalu di kehidupan pertamanya. Dan itu berhubungan dengan Selena.
Nasib Selena, jauh lebih kejam daripada nasibnya di kehidupan pertama.
"Setiap orang punya cara untuk hidup. Chara, menurutmu Kak Selena bisa terlepas dari masa lalunya dan menemukan apa yang hilang?" Tanya Railene sambil berjalan menuju tempat Susan.
"Aku tidak tau. Aku belum pernah hidup dan tidak memahami caranya jadi manusia," ujar Inchara polos.
__ADS_1
Railene tertawa kecil. Ia bertanya pada sosok yang salah. Kemudian dengan tulus ia meminta maaf pada Inchara.
"Entah kenapa aku tidak suka permintaan maafmu. Itu seperti ditusuk oleh sesuatu, entah apa."
Railene tidak mengatakan apa-apa lagi dan kembali bermain pasir sambil melihat matahari terbenam.
...
Malam harinya, Railene terjaga setelah tertidur pukul delapan malam. Dia dibangunkan oleh Inchara sebagai alarm hidupnya. Itu sudah menjadi kebiasaan sehari-hari sejak ia tahu fungsi Inchara tidak hanya sebagai petunjuk, tapi ia lebih seperti sistem yang memudahkan kehidupannya.
Setelah memastikan Susan tidur dan tidak akan terbangun hanya karena bisikan, Railene dengan tenang menunggu kedatangan Selena.
Pukul 12.58.
Dia membuka kunci balkon dan membiarkan angin laut berhembus masuk. Melambai-lambaikan horden dengan efek magis yang sedikit dramatis. Railene memegang segelas susu di tangannya. Itu minuman yang hangatkan beberapa saat lalu.
Railene menggunakan pakaian hangat dan duduk di atas tempat tidurnya dengan patuh. Menonton film kartun yang tadi ia download sehingga dapat ia tonton secara offline. Ia tidak ingin terdeteksi menggunakan internet oleh Bundanya di tengah malam begini. Lagi pula kebiasaan tidurnya bahkan lebih awal.
Tepat pukul satu malam, derak samar terdengar dari balkon. Sosok tinggi berpakaian hitam menyibak horden dan menutup pintu balkon. Selena datang dan karena angin malam terlalu dingin dan kuat, ia tidak membiarkan Railene merasakannya lebih jauh.
Memasuki ruangan yang remang, ia bisa melihat Railene yang sedang menonton dan memegang segelas susu di tangan kanannya. Jika dilihat dari pemandangan ini, Selena tidak memiliki ide lain selain melihat seorang gadis kecil polos yang tidak tahu apa-apa tentang dunia. Namun, mengingat hal-hal yang dia alami sendiri karena gadis kecil di depannya, Selena memiliki dua perbandingan yang bertentangan.
Apakah gadis kecil yang terlihat polos ini benar-benar tahu segalanya?
Dia berdiri di depan pintu yang tertutup. Memandang Railene dan sekelilingnya waspada. Merasakan tidak adanya ancaman, dia perlahan berjalan mendekat.
Railene akhirnya mengangkat wajahnya. Matanya yang gelap jernih bertemu dengan sepasang mata tajam berbahaya milik Selena. Dia kemudian tersenyum kecil. Mematikan video kartunnya, dia memepersilahkan Selena untuk duduk di kursi tak jauh dari tempat tidurnya.
Selena duduk dengan anggun. Auranya masih kuat dan tebal oleh sejenis ketajaman dan bahaya. Hanya saja, Railene tidak merasakan hal-hal itu dan tidak repot terkena beban mental. Setelah beberapa saat terdiam, dia memulai pembicaraan.
__ADS_1
"Apa yang mau Kakak tau?" Tanya Railene langsung.
Selena sedikit mengangkat alis karena gadis di depannya mengubah caranya memanggil. Tapi ia tidak keberatan dan segera menjawab cepat, ringkas, dan dingin. Namun, itu penuh pertimbangan dan seperti mengharapkan akan mendapatkan jawaban yang sesuai.
"Aku mau tau semuanya," ujar Selena.
Railene tersenyum kecil, "Tanyakan satu per satu. Bagian mana yang butuh penjelasan?" Tanyanya kemudian.
Selena menyipitkan matanya. Tidak berharap bahwa dia hanya akan memberikan informasi tentang apa yang ia minta saja. Cerdas dan kuat. Karakter yang tidak mudah dihadapi.
"Bagaimana kamu tau siapa aku dan apa yang kulakukan malam itu?" Tanya Selena berkompromi.
Railene tidak langsung menjawab. Alisnya terangkat sedikit dan memandang Selena dengan ekspresi biasanya. Senyum kecilnya bertahan dan itu terlihat misterius.
"Sebelum aku ngasih tau Kakak, kenapa kita nggak bikin kesepakatan dulu?"
Railene turun dari tempat tidurnya dan berjalan menuju kursi yang ada di depan Selena. Terpisahkan meja kecil bundar yang estetik. Dia tersenyum dengan sembrono seperti telah merencanakannya dengan matang.
Selena menyipit. Dia melihat gadis di depannya sama sekali tidak seperti anak kecil pada umumnya. Ia meletus dalam kedinginan. Tapi, ia benar-benar penasaran.
"Kesepatakan apa itu?" Tanyanya pada akhirnya.
Railene tersenyum lebih lebar.
***
Jangan lupa like dan komentarnya.
have a nice day!😊
__ADS_1