
Diza mempersilahkan Bram naik mobilnya untuk mengemudi. Bram menangkap kunci dengan senyuman lebar. Dia segera meletakkan kopernya di bagasi belakang lalu duduk di kursi kemudi.
Bram menjalankan mobil dari parkiran rumah sakit menuju bandara dengan pelan. Berharap waktu berhenti sejenak untuk menikmati momennya bersama Diza. Diza tidak terlalu merasakan euforia Bram. Bagaimana pun, dia telah lama tidak memiliki hubungan yang sesuai dengan perasaan Bram saat ini padanya. Jadi, meskipun terkadang ada yang aneh di hatinya, dia tidak menganggapnya serius.
"Apa yang kamu lakukan di Milan?" Tanya Diza memecah keheningan. Nada suaranya murni penasaran.
Bram menoleh sedikit dengan sedikit helaan napas. Merasa sulit sejenak karena nada normal Diza. Seolah dia tidak kehilangan apa pun dengan kepergiannya untuk sementara. Tapi, meskipun begitu dia menjawab dengan kooperatif.
"Ingat proyek pembangunan mall baru yang aku ceritakan? Aku pergi ke sana buat mengurus hal-hal yang diperlukan. Satu bulan cukup buatku," kata Bram.
"Apa kamu tiran bisnis? Pembuatan mall barumu bukannya masih di tahap awal? Itu butuh waktu berbulan-bulan buat proses berjalan lancar. Aku nggak yakin waktu satu bulan bakal cukup," ujar Diza sedikit mengernyit. Agak skeptis mendengar rencana bisnis Bram yang terburu-buru dan singkat.
Bram tertawa dengan ekspresi jenaka. Bagi orang-orang sepertinya yang hanya memiliki satu bidang spesialisasi, hal-hal yang dilakukan di bidang itu dapat dilakukan dengan cepat dan sukses. Bram sadar bahwa Diza terbiasa dengan standar gandanya sebagai dokter dan wanita bisnis. Dia membagi banyak waktu dengan keadaan yang situasional. Fokusnya rumit dan hal-hal yang bukan prioritas pasti akan dilakukan dengan perlahan.
"Anggap aja begitu. Kenapa, apa kamu iri?" Tanya Bram bercanda.
"Nggak juga. Aku lebih suka membantu persalinan daripada mengurus berkas-berkas real estate," ujar Diza mengangkat bahu.
Keduanya mengobrol hingga sampai bandara. Bram menghentikan mobilnya di depan pemberhentian. Tidak turun untuk sementara dan diam sambil memandang ke kerumunan di sekitar mobil. Diza melihat Bram diam dan menoleh untuk bertanya.
"Apa ada sesuatu yang tertinggal?" Tanya Diza melihat dahi Bram yang sedikit mengerut.
Bram menggeleng dan menghela napas. Menoleh ke Diza dan memandang matanya. Diam selama tiga detik sebelum mengatakan hal yang ingin dia sampaikan.
"Ini tentang temanku. Dia menyukai seorang teman yang baru-baru ini dekat dengannya karena urusan bisnis. Lebih tepatnya jatuh cinta. Dia tahu rahasia orang yang disukainya, bahkan dia berbagi sedikit aib dengan orang itu. Sama-sama punya kekurangan. Tapi, dia nggak merasa itu masalah. Dia pengin mengungkapkan perasaannya ke temannya itu. Menurutmu apa temannya bakal menerima dia?" Tanya Bram.
Diza terdiam selama beberapa detik. Dia mengangkat alisnya sedikit lebih tinggi. Merasa bahwa ada beberapa keakraban dari kisah teman yang diceritakan Bram.
"Itu tergantung keadaan. Kalau orang yang disukai temanmu itu nggak welcome sama pendekatan dia, itu sia-sia. Tapi, kalau ada sedikit timbal balik, mungkin bisa dicoba. Dan sejujurnya aku nggak terlalu ngerti masalah begini," kata Diza mengangkat bahu.
Bram terdiam menatap Diza. Rahangnya mengetat sejenak karena gugup dan gemas oleh ketidakpekaan Diza. Dia kemudian mengalihkan perhatian ke depan.
__ADS_1
"Gimana..., kalau aku ngomongin tentang kita?" desis Bram lemah.
"Hah?"
Diza mencondongkan tubuh ke samping karena gagal mendengar kalimat Bram. Bram berdehem gugup namun menguatkan dirinya menatap Diza. Tangannya mengepal dengan keringat di telapak tangannya.
Dia akhirnya memperjelas kalimatnya.
"Gimana kalau aku lagi ngomongin tentang kita?" Bram berhenti dan melanjutkan. "Teman yang kubicarakan adalah aku, dan orang yang disukainya adalah kamu. Gimana kalau begini? Kalau aku minta kamu jadi kekasih atau istriku, apa kamu bakal menerimanya?"
Diza membeku di tempat. Tiba-tiba lonjakan dengungan di kepalanya bergema. Dia tidak merespon tepat waktu. Terpana karena menyadari fakta yang tidak dia duga sebelumnya.
"Apa?" Diza berbisik dalam pertanyaannya. Masih membeku di kursinya.
Bram tersenyum. "Aku menyukaimu. Mencintaimu. Apa kamu mau jadi istriku?" Tanya Bram lagi.
Diza membuka mulutnya tanpa suara. Benar-benar terkejut karena keadaan. Pikirannya kosong dan dengan sigap hendak menolak. Bram segera menghentikannya.
Bram langsung keluar dari mobil. Membuka bagasi dan mengambil kopernya. Dia berjalan ke bandara dan melambaikan tangan dengan senyum tulus ke arah Diza yang masih tidak bereaksi. Dia berharap perempuan yang disukainya itu akan mempertimbangkan lamaran tidak sopannya itu.
"Astaga, apa yang barusan dia bilang?" Diza membatin linglung. Tidak bereaksi bahkan sampai pesawat Bram lepas landas.
...
"Rail, kurasa ada kejadian besar hari ini." Suara Inchara tiba-tiba menginterupsi bacaan Railene.
"Hah? Kejadian besar apa?" Tanya Railene tanpa menutup buku.
"Liat waktu sekarang. Bukannya Bunda Diza tidak pernah terlambat pulang tanpa ngabarin? Sekarang udah jam pulang kerja dan jarak rumah sakit dari rumah tidak memakan waktu lama. Kalaupun macet, itu tidak separah jalan utama. Apa yang kira-kira terjadi?"
Railene berhenti membaca. Dia menutup buku dan berjalan menuju balkon. Melihat halaman rumah luas dan gerbang yang masih tertutup. Belum ada tanda-tanda Diza akan segera pulang.
__ADS_1
"Apa yang mungkin terjadi?" Tanya Railene tidak pasti.
Dia berjalan kembali ke kamarnya dan mengambil ponselnya. Membuka nomor Diza dan meneleponnya. Dalam dering ketiga, sebuah suara menjawab dari seberang.
"Halo, sayang?"
Suara Diza terdengar gugup dan bergetar. Railene menyadarinya dan mengerutkan kening bingung. Segera ia bertanya tentang kekhawatirannya.
"Bunda dimana? Apa ada masalah? Kenapa belum sampai rumah?" Tanya Railene bertubi-tubi.
"Oh, maafin bunda. Sebentar lagi sampai rumah, apa kamu sudah selesai syuting? Jangan lupa mandi, bunda sampai lima belas menit lagi," ujar Diza di seberang telepon.
"Oke, hati-hati, Bunda," kata Railene lalu menutup telepon. Alisnya masih berkerut dengan bingung.
"Chara, kenapa suara Bunda aneh?"
"Mungkin dia kelelahan setelah bekerja. Lebih baik kamu bantu menyiapkan makan malam dengan para maid. Nanti Bunda Diza sampai dan bisa langsung makan malam bersama," ujar Inchara dengan nada polos biasanya.
Railene yang memikirkan berbagai kemungkinan hanya bisa menghela napas. Mungkin Inchara benar, Diza hanya kelelahan dan baru saja mendapatkan pasien yang cukup berat keadaannya. Terkadang Diza memang agak sentimental terhadap bayi dan ibunya sejak Railene menjadi putrinya. Ya, mungkin begitu.
Sementara Railene membantu menyiapkan makan malam dan membuat minuman sendiri untuk Diza, Diza sedang mengatur hatinya untuk tenang. Dia pulang dengan keadaan yang berantakan secara mental, tapi entah mengapa ada sedikit rasa penantian yang menghadiri hatinya.
Sejujurnya, Diza bingung.
***
eaaa eaaa, sesi lamaran Om Bram yang nggak romantis terjadi di mobil Diza dan nangkring di depan bandara. Tidak sopan.
Oke, maaf baru update karena kesibukan dunia nyata... tapi makasih buat yang masih nunggu cerita ini.
Jangan lupa like dan komentar.
__ADS_1
Have a nice day!😊