
"Ini pembicaraan rahasia. Apa kamu mau nginap di rumahku? Aku bisa memberitahumu tentang ini," kata Railene dengan provokatif. Dia tahu bahwa pembicaraan ini akan sangat panjang. Lagipula dia membutuhkan koneksi Xiaoxiao untuk mengetahui keberadaan Inchara. Railene tidak akan berhenti mencari tahu sebelum menemukan jawaban atas hilangnya Inchara yang tiba-tiba.
Railene memperhatikan kesenangan muncul di mata Lu Shizu. Meskipun dia juga merasa aneh karena mereka bahkan hanya memiliki 15 pertemuan total selama ini, tapi mereka akrab dengan cepat. Perasaan persaudaraan antara Railene dan Lu Shizu membuat mereka cepat menemukan kecocokan. Railene berpikir ini mungkin yang dikatakan sebagai persahabatan sosialis karena memiliki kesamaan nasib.
"Shizu, sebelumnya kamu nggak ngasih tau siapa pun, kenapa tiba-tiba kamu cerita ke aku?" Tanya Railene yang penasaran. Berdasarkan nalurinya, Lu Shizu harusnya merasakan koneksi yang samar antara mereka.
"Aku juga bingung, tapi aku ngerasa kalau cerita ke Kakak, aku bisa tau sesuatu yang berguna." Lu Shizu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Oke, itu bukan masalah. Lain kali jangan ceritakan ke orang lain, ini rahasia besar kita."
"Oke oke, aku mau telfon Mama dulu. Oh, aku nggak bawa baju ganti," ujar Lu Shizu dengan random. Sepertinya Railene menemukan kesamaan antara Lu Shizu dan Arkan. Kedua orang itu suka sekali mengalihkan pembicaraan dengan random. Bukan kesengajaan, ini lebih seperti otak mereka bekerja untuk merespon banyak hal di saat yang sama dan harus memilih yang harus diselesaikan terlebih dahulu. Maka setelah obrolan tentang keanehan mereka berhenti di "menginap bersama", Lu Shizu dengan cepat merespon untuk rencana selanjutnya. Meskipun terkesan berbelok, ini cukup masuk akal.
"Kamu nggak perlu bawa baju ganti, kayaknya ada pakaianku yang belum pernah kupakai dan muat sama kamu. Nanti kita langsung pulang ke rumahku aja," kata Railene membebaskan kekhawatiran Lu Shizu.
"Oke!" Lu Shizu berseru girang.
Mereka sampai di taman hiburan dan masuk setelah membeli tiket permainan VIP yang bebas antri.
"Rail, Shizu, apa kalian pernah ke taman bermain sebelumnya?" Tanya Arkan saat mereka menuju ke permainan Boom Boom Car.
"Aku belum pernah," kata Railene sambil memperhatikan sekitar.
"Ah, aku pernah pergi sama Papa Mama. Tapi, itu udah lama," kata Lu Shizu dengan gembira. Melihat ke sana kemari dengan keinginan tercermin di mata jernihnya.
"Humm, itu bagus buat kalian berdua. Kami udah sering ke sini dan hampir coba semua permainannya, tenang aja, kami punya rekomendasi yang bagus," kata Arkan dengan percaya diri.
"Oke, ikut kamu," kata Railene patuh.
__ADS_1
Mereka berempat dengan tiga bodyguard di belakang, menjadi pusat perhatian. Penampilan mereka sangat bagus dan cantik. Mudah untuk diperhatikan dan difoto bagaikan selebriti di mana-mana. Railene dan yang lainnya cukup terbiasa dengan ini dan menikmati permainan mereka sendiri.
Mereka mencoba banyak permainan dengan seru. Karena masalah tinggi badan Lu Shizu yang kurang, semua orang tidak mengambil permainan seperti rollercoaster ataupun permainan yang membutuhkan syarat tinggi badan minimal. Lu Shizu sedih untuk sementara, tapi mereka kembali bersenang-senang dengan banyak permainan lainnya.
Sore hari datang dengan cepat. Mereka pulang secara terpisah setelah membeli banyak permen dan souvenir topeng karakter. Railene tentunya bersama Lu Shizu yang sudah diizinkan untuk menginap di rumahnya.
Saat sampai di rumah, Diza belum pulang karena urusan konferensi di luar kota. Hanya ada kakek dan neneknya yang menyambut mereka pulang. Makan malam dengan ramah dan riang, keduanya masuk kamar untuk beristirahat.
Setelah berbenah dan membersihkan diri, Railene dan Lu Shizu duduk berhadapan dengan memeluk bantal.
"Jadi kamu mulai ketemu Xiaoxiao di mimpi waktu umur 6 tahun dan muncul di hutan itu?" Tanya Railene mengulang konklusi mereka di mobil tadi.
Lu Shizu mengangguk.
"Xiaoxiao pertama manggil namaku, tapi dia sendiri nggak tau dia siapa. Jadi, setelah yang kedua kalinya kami ngobrol, aku ngasih dia nama Xiaoxiao. Dia pernah bilang kalau ada orang yang datang ke hutan dan ngomong sama dia. Xiaoxiao cuma dengerin mereka dan ngasih tau aku tentang sesuatu tentang petunjuk-petunjuk. Aku nggak ngerti awalnya, sampai suatu hari Xiaoxiao ngomong tentang harta karun di belakang rumahku. Karena aku nggak tau tempat yang tepat, aku belum menemukannya sampai sekarang, tapi aku bisa nebak kalau Xiaoxiao pasti ngasih tau sesuatu yang bisa bantu aku jawab pertanyaannya," kata Lu Shizu.
"Apa kamu pernah dengar suara Xiaoxiao saat bangun?" Tanya Railene dengan penasaran.
Railene termenung sejenak. Proses pertemuan dan penunjukan jalan antara dia dan Lu Shizu sedikit sama, namun perbedaannya terletak pada apa yang mereka cari. Saat itu, Railene juga diberi petunjuk dalam mimpi, saat Railene dan Inchara belum dapat bertelepati di waktu sadar. Dia juga mencari petunjuknya saat itu tanpa bertanya banyak karena merasa bahwa itu akan memberitahunya tentang sesuatu.
"Apa Xiaoxiao menyebutkan sebuah nama atau sesuatu?" Tanya Railene lagi. Dulu, Inchara memberinya sebuah petunjuk bernama Ghost Gypsy. Harusnya kali ini Lu Shizu juga memilikinya.
"Oh, dia suruh aku buat cari surat botol kuno dengan nama Axe di atas tutupnya. Katanya itu terkubur di belakang rumahku dan harus digali dari dalam peti harta karun," kata Lu Shizu dengan lugas.
Railene kemudian menyadari ini. Ada perbedaan antara dia dan Lu Shizu. Orang yang dicari dan petunjuk yang dicari kemungkinan besar isinya adalah identitas yang sangat ingin diketahui oleh Lu Shizu tentang Xiaoxiao dan kekuatannya. Atau mungkin berisi perjalanan hebat seperti miliknya. Dia tidak yakin seratus persen, tapi ini memang mengonfirmasi bahwa Lu Shizu adalah Orang Pilihan seperti dia.
"Shizu, Xiaoxiao udah ngasih kamu petunjuk, yang harus kamu lakukan adalah mencari peti harta karun itu. Apa kamu pernah nyoba nyari itu?" Tanya Railene.
__ADS_1
Lu Shizu menggeleng. "Belum, karena aku pikir Xiaoxiao itu hantu, jadi aku nggak berani nyari tau," katanya dengan cengiran kecil.
Lalu dia melanjutkan, "Jadi aku harus cari harta karun itu, Kak? Tapi, halaman belakang rumahku terlalu besar, aku nggak tau harus gali dimana," ujarnya dengan sedih.
Railene menghiburnya dengan mencari celah petunjuk. "Apa belakang rumahmu itu perbatasan hutan?"
"Iya, Kakak tau darimana?" Lu Shizu melihat Railene dengan kagum.
"Hanya nebak. Kalau gitu, kamu cari jenis pohon yang kamu sukai dan lihat yang paling berbeda, coba gali di sekitarnya dan siapa tau kamu bisa nemu itu," kata Railene menebak.
Dia menebaknya demikian karena petunjuk yang dia temukan dulu berhubungan dengan hal yang paling dia sukai, yaitu buku. Jika dia menebaknya dengan benar, Lu Shizu pasti memiliki ketertarikan pada tanaman melihat dari kebiasaan Lu Shizu sehari-hari. Gadis kecil itu selalu berbicara dengan pohon saat syuting di lokasi syuting. Lain waktu, Lu Shizu akan membelai bunga dan bernyanyi di dekat mereka. Seperti sangat menyukai tanaman.
"Oke, aku bakal minta bantuan Papa besok," kata Lu Shizu bersemangat.
"Kamu bisa meminta tolong ke mereka, tapi lakukan alasan lain, seperti kamu mau mengubur harta karunmu sendiri," kata Railene dengan petunjuk.
"Harta karun? Apa mainan juga harta karun?"
"Itu bisa jadi," kata Railene.
"Oke kalau gitu," ujar Lu Shizu bersemangat.
Railene tersenyum dan kemudian mengatakan tujuannya. Karena dia sudah mengonfirmasi status Lu Shizu, dia ingin meminta bantuannya. Tentang Inchara yang hilang.
"Hmm, Shizu, boleh aku minta tolong?"
***
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentar.
Have a nice day!😊