
Railene mengambil cutinya. Hanya satu hari dan dia benar-benar memutuskan untuk merilekskan diri. Dia tenggelam di dunia fiksi dari novel baru yang dibeli oleh Ben. Di sampingnya Ben yang mengurus beberapa berkas dokumen perusahaan, tidak menganggu kegiatan adiknya.
Inchara juga hadir saat ini. Bersandar di punggung tegak Ben dan membaca dongeng putri duyung dan kuda laut ajaib. Penciptanya adalah teman karate Railene, Dea. Ternyata gadis penyuka wajah tampan dan cantik itu dapat membuat banyak cerita dongeng yang anehnya itu tidak masuk akal tapi memiliki banyak nilai moral dan laku di pasaran. Kebetulan Inchara adalah golongan penggemar buku-bukunya.
"Chara, menurutmu kalau aku ikut Railene belajar di sekolah itu, bisa nggak ya?" Tanya Ben diam-diam ketika dia telah selesai meninjau dokumen. Dia menoleh kepada Inchara yang bersantai di punggungnya dan sesekali melirik Railene yang setia membaca novelnya dengan wajah damai.
"Tidak. Kata Railene itu sekolah khusus dan cuma murid undangan terpilih yang bisa masuk setiap tahunnya. Tapi, masih mungkin kalau kamu daftar di universitas sekitarnya. Meskipun agak, jauh, tapi setidaknya masih di negara yang sama, kan?"
Inchara menjawab dengan rasional. Berkat mengikuti Railene selama bertahun-tahun, dia perlahan memahami esensi masuk akal manusia biasa. Tingkat integrasinya tidak tinggi, tapi cukup untuk membuatnya bergaul dan membuat saran ringan sesekali. Lagipula pemikirannya dipengaruhi oleh Railene sedikit banyak karena mereka terhubung secara mental.
"Huft, itu masih sama aja. Kita nggak bisa satu sekolah," ujar Ben dengan nada sedih.
Sejak dia tahu Railene mendapat tawaran pergi ke sekolah jenjang universitas yang jarang diketahui orang lain namun sangat hebat, dia sedih hanya dengan memikirkannya. Sekolah jenius, yang tidak bisa dia masuki itu juga dipilih oleh Railene yang pada awalnya memutuskan pergi ke universitas lain bersamanya. Sayangnya, godaan memasuki EPS begitu besar bagi semua manusia yang sangat haus ilmu seperti Railene. Dia tahu sedikit tentang EPS. Sekolah yang berbeda sama sekali dengan semua hal yang dipelajari di universitas biasa.
EPS adalah sekolah kategori luar biasa. Hampir semua lulusannya bukanlah orang biasa ketika mereka keluar. Orang-orang di sana adalah elit yang benar-benar berbakat dan pintar. Siapapun yang bersekolah di sana akan mengikuti kurikulum pendidikan fleksibel namun di luar pengetahuan lulusan SMA. Tidak ada guru resmi, hanya para pembimbing yang akan menyediakan waktu dan tempat mereka untuk berkembangnya daya cipta dan pembelajaran luar biasa muridnya.
Oleh karena itu, bahkan jika Ben memaksa masuk dengan investasi, dia yakin dia tidak akan pernah bisa mengikuti kurikulum di sana. Itu benar-benar mengerikan untuknya yang hanya "lebih pintar" dari orang-orang pada umumnya. Dan sedihnya lagi, sekolah yang dekat masih berjarak puluhan kilometer jauhnya dari satu sama lain. Ben benar-benar tidak bahagia.
__ADS_1
"Railene juga tidak akan berubah pikiran, Ben. Apalagi Bunda Diza udah setuju," kata Inchara menanggapi.
"Hmmm, aku tahu. Kita mungkin bakal jarang ketemu setelahnya. Aaa, rasanya nggak enak banget!" Ben mulai mengeluh lagi.
Railene sebenarnya mendengarkan semua percakapan keduanya sedari tadi. Dia memiliki keinginan egois dan tidak mempetimbangkan Ben ada di dalamnya. Dia tahu itu membuat kakaknya sedih, tapi dia harus keras kepala. Tujuan hidupnya dan beberapa hal membutuhkan pemisahan di antara keduanya. Dia memiliki masalah besar tentang identitas dan kemungkinan bahaya tugasnya sendiri. Hanya dengan berpisah dia bisa fokus dan mengatur kegiatannya sendiri.
"Kita bakal ketemu seminggu sekali atau dua kali. EPS nggak begitu ketat sama muridnya tentang belajar. Selama aku bisa ngikutin apa yang kupilih, itu nggak masalah," Railene menutup bukunya dan menghibur Ben.
"Oke oke, sebenarnya nggak masalah juga, toh kemungkinan ada banyak kesibukan kita masing-masing." Ben menjawab dengan rasa bersalah dan berpura-pura dewasa begitu tahu Railene mendengar percakapannya dengan Inchara.
Railene melihat rasa bersalah itu dan tidak mempermalukannya lagi.
"Oke, aku chat mereka dulu. Kayaknya bakal kegirangan." Ben menjawab dengan campuran sedih dan bahagia. Sedih karena kalimat pertama Railene dan senang karena Railene masih perhatian serta akhirnya memahami esensi liburan yang sesungguhnya.
Railene tersenyum ringan dan melirik Inchara, bayi penasaran. Setelah mendengar pantai, Inchara menjadi antusias. Sejak dia menjadi manusia, Railene tidak pernah membawanya ke pantai. Meskipun agak menyedihkan, tapi Inchara masih memiliki harapan yang bahagia saat ini. Berkat banyak buku yang dibacanya, dia tahu bagaimana pantai, tapi hampir tidak pernah merasakannya langsung. Karena selama hampir lima tahun, Railene tidak pernah pergi ke pantai untuk dikunjungi saat ingin bepergian. Jadi, Inchara masih tidak tahu penampakan asli pantai sebenarnya.
Railene juga menyadari ini dan merasa bahwa keputusan pergi ke pantai itu benar. Sesekali itu tidak masalah meskipun dia tidak terlalu menyukai pantai saat tumbuh dewasa. Tapi, masih cukup menyegarkan untuk sekedar bersantai.
__ADS_1
"Chara belum pernah ke pantai, kan? Kita bakal main di pantai nanti. Kebetulan aku mau cek villa baru yang Papa kasih ke aku minggu lalu. Ke kota S dari kota D nggak terlalu jauh. Nanti bisa beli sesuatu di jalan buat barbeque pas malam-malam." Railene membuat rencana sambil meletakkan bukunya di rak.
Ben dan Inchara yang mendengarnya seketika segar. Merasa ide Railene sangat bagus dan bisa diwujudkan. Segera ketiganya bersiap untuk liburan. Teman setia mereka Arkan dan Archi pun masih sama bersemangatnya ketika Ben mengajak mereka.
Dan segera kelima remaja dengan empat manusia dan satu non-manusia berkumpul. Menuju pantai dengan berbagai macam amunisi persiapan bersenang-senang.
...
"Jadi begitu..., kerja bagus. Ketika Orang Pilihan itu mengetahui semuanya, tujuan kita hadir akan terlihat. Kamu awasi dan bantu dia ketika dia memintanya. Mungkin nggak lama sebelum tanda bahaya dunia bermunculan."
Seorang kakek tua sedang mengelus kucing kesayangannya di samping taman rumah keluarganya. Di dekatnya, Alan duduk dengan wajah serius setelah melapor. Setelah menyerahkan benda yang seharusnya diserahkan, Alan melaporkan hal itu keesokan harinya pada sang pemberi tugas, yaitu Kakeknya sendiri.
"Kakek, sebenarnya bahaya apa yang bakal kita hadapi?" Tanya Alan yang masih memiliki banyak pertanyaan karena sebelumnya kurang rajin mengunjungi warisan leluhur.
"Ck, baca buku-buku itu dengan bijak! Sejak dulu kamu sama malasnya dengan ayahmu. Kalau kamu baca buku-buku itu sejak awal, kamu nggak akan menanyakan pertanyaan bodoh itu!"
Mood sang kakek tiba-tiba berubah. Alan menjadi ciut seketika mengingat upaya malasnya di masa lalu karena menganggap buku-buku leluhur itu tidak berguna sama sekali. Sekarang dia agak menyesalinya dan memutuskan kabur dari hadapan kakeknya. Enggan menanggung kemarahannya.
__ADS_1
"Menyedihkan!" Gumamnya sambil keluar dari rumah mewah milik sang kakek.
...****************...