Rebirth Of A Genius Woman

Rebirth Of A Genius Woman
38. Ratu Arcade


__ADS_3

Ujian Nasional untuk kelas enam SD berlangsung selama tiga hari. Hanya ada tiga mata pelajaran yang diujikan dan itu satu untuk masing-masing hari. Para siswa dengan banyak versi hasil keluar di hari terakhir ujian.


Kebanyakan lega dan beberapa ada yang menghela napas kesal. Beberapa dengan tenang keluar tanpa beban, seperti yang dilakukan oleh Railene dan Ben. Keduanya sedang berjalan bersama menuju lobi. Ben dengan bersemangat menceritakan proses ia mengerjakan ujian. Railene menanggapi sesekali dan terkadang mengangguk-angguk. Sikap alaminya jika ia bersama dengan semua orang.


Keduanya berjalan menuju mobil jemputan Railene. Ben ingin menumpang karena memiliki janji untuk membawa Railene mencoba semua permainan di Timezone. Railene tidak keberatan. Toh, dia suka bersenang-senang karena memiliki waktu luang.


Paman Tam membawa mobil dengan tenang. Mengawasi keduanya seperti biasa dan membiarkan mereka bermain sesuka hati. Tugasnya hanya menjaga keamanan dan melaporkan kegiatan Railene kepada Diza setelah pulang. Dia juga mengatur kenyamanan Railene sehingga gadis itu tetap tersenyum bagaimanapun keadaanya.


Keduanya sampai di mall dan mengganti baju di kamar mandi. Paman Tam berjaga di luar dan menunggu dengan sabar. Railene dan Ben berganti cepat dan kembali berjalan bersisian. Bergandengan tangan seperti biasanya.


"Rai, ayo main tembak-tembakan setelah ini. Terus hoki meja, game balap, terakhir main basket. Setelah itu kita ke tempat trampolin dan coba tebak gaya." Ben mengajak dengan ide tiba-tibanya.


Railene mendengar itu cukup menarik. Dia mengangguk setuju dan dengan ceria mengikuti Ben. Suasana hatinya sedang baik karena semuanya berjalan dengan baik hari ini.


Keduanya segera menukar dengan kartu gesek dan berdiri di masing-masing kubu menembak. Railene yang cukup pendek menaiki pijakan yang tersedia dan mulai menggesekkan kartunya. Ben melakukan hal yang sama.


Permainan ini sederhana. Penembak yang dimainkan harus menembak lawan yang terlihat dan dengan cepat memusnahkan yang terlihat. Tembakannya harus cepat dan tidak boleh lengah atau musuh akan menembak balik hingga pemain kalah dalam permainan. Pemain juga harus mengikuti alur yang ada.


Ben dan Railene memulai dengan wajah yang serius seolah sedang membayangkan di medan perang. Untuk urusan ambisi menang dan kalah dalam permainan, keduanya sama-sama memilikinya. Railene selalu mencoba menantang dirinya sendiri. Mencoba banyak hal dan menguasainya dengan baik. Sedangkan Ben sedikit terobsesi pada kemenangan dan akan kesal jika kalah. Uniknya, ini hanya berlaku saat ia memainkan game sama. Karenanya, dia sering menghabiskan banyak waktu untuk game dan menantang terus menerus sampai menang. Itu cukup merepotkan namun menyenangkan.

__ADS_1


Keduanya larut dalam permainan dan Paman Tam berdiri di belakang mereka. Mengawasi dengan tenang. Banyak orang memandang ke arah dua bocah itu dan tidak bisa menahan senyum karena gaya menembak Railene yang keren. Tapi, karena tubuhnya masih kecil, itu memiliki efek lucu dan polos.


Seperti biasa, intuisi dan refleks Railene menjadi semakin cepat setelah berlatih karate selama kurang lebih satu bulan lamanya. Dia menjadi tajam dalam beberapa indera. Tentu saja ini tidak serta merta hanya karena latihan karate. Tapi, pelatihan fisiknya memberikan keseimbangan batinnya.


Railene menajam dan gesit.


Meskipun hanya permainan biasa, ia tampil baik dan serius. Wajahnya sedikit memiliki senyuman yang menandai kesenangan. Railene menyukai tantangan dan bersenang-senang di atasnya.


Beberapa menit berlalu dan hasilnya telah keluar. Railene memenangkan ronde pertama dan Ben bersungut-sungut tidak terima. Ia meminta mengulangi permainan karena merasa ada yang kurang. Railene menyetujuinya dan memberikan kesempatan dua kali untuk Ben bisa menang darinya.


Lalu, seperti yang dapat ditebak, Railene masih menjadi pemenangnya bahkan setelah tiga ronde permainan. Ben, masih terobsesi, namun dia menyerah karena permintaan Railene untuk segera berpindah permainan. Mereka tidak bisa menguasai terlalu lama mesin penembak ini. Ada banyak yang ingin mencobanya dan mesin ini berjumlah terbatas.


Keduanya bersiap di masing-masing kubu. Ben berwajah serius, sedangkan Railene berwajah acuh tak acuh. Ada senyum kesenangan yang menghiasi wajah cantiknya. Beberapa orang terpaku menonton dari kejauhan.


Permainan dimulai. Ben memulai dan dengan penuh tenaga mengarahkan pin yang gesit itu ke gawang Railene. Sayangnya itu terblokir dengan cepat dan sepersekian detik Railene menyerang tanpa ampun. Ben bergerak menghalangi namun masih kurang cepat. Pin masuk ke gawang Ben dan poin pertama untuk Railene.


Permainan berlanjut dan beberapa menit skor terlihat. Railene unggul 3 poin dari Ben dan menjadi pemenangnya. Ben menjadi semakin kesal namun hanya bisa menerima kenyataan. Hanya dengan Railene dia bersikap mudah mengakui kekalahan seperti ini. Biasanya dia akan begitu sengit jika lawannya adalah orang lain.


"Rai, kamu bener-bener kejam. Nggak ngasih aku kesempatan gitu? Kamu harusnya sedikit ngalah buat teman baikmu!" Ben merengek sepanjang mereka berpindah ke stand balap mobil.

__ADS_1


Railene lebih dulu duduk dan menggesekkan kartu. Tertawa kecil karena kalimat Ben. Dia menyeringai dan mematahkan Ben sekali lagi.


"Ini kompetisi. Nggak ada yang namanya mengalah untuk teman dalam kompetisi. Ayo cepat mulai!" Railene dengan sembrono duduk dengan siap. Meski pendek, kakinya masih mencapai bawah dan kepalanya masih dapat melihat layar. Stirnya menjadi hal yang lumayan untuk Railene.


Ben memasang wajah sedih lalu duduk di kursi samping Railene. Ikut bersiap dan memilih dengan cepat. Tidak protes karena dia tahu dengan baik sikap Raielne. Keduanya melihat layar dan memulai dengan sengit.


Kali ini Railene agak kesulitan karena stir dan layar agak terlalu tinggi. Namun, ia masih dapat menyiasatinya dengan baik. Railene memiliki gerakan yang besar karena tubuh kecilnya. Namun, mobilnya masih stabil. Ben sendiri tidak begitu banyak memuat gerakan besar. Mudah berbelok-belok tapi sedikit terpeleset di tikungan tajam. Keduanya memiliki kecepatan dan respon yang cepat.


Untuk yang terakhir, Railene benar-benar memenangkan permainan. Ia mengetuk stir dengan senyum kecil. Melirik ke arah Ben yang sepertinya kehilangan setengah tenaganya. Wajahnya menunduk dengan kepala yang dia letakkan di atas stir. Terlihat menyedihkan karena kalah dari seseorang yang ia anggap adiknya sendiri.


"Kenapa?" Railene bertanya dengan heran. Tidak biasanya Ben begitu terpuruk karena kekalahannya.


"Kamu terlalu banyak menang. Kapan kamu membiarkanku menang? Huh, awas aja ya. Kali ini pasti kamu nggak bakal menang. Ayo ke ring basket!" Ben berdiri tiba-tiba dengan wajah yang tegas.


Railene mengangkat sebelah alis heran. Namun, kemudian ia berjalan mengikuti Ben ke permainan lempar bola basket. Paman Tam mengekori keduanya dengan membawa tiket-tiket yang dimenangkan dua bocah itu.


***


Like dulu, okey?

__ADS_1


Scroll lagi kalo udah like.


__ADS_2