Rebirth Of A Genius Woman

Rebirth Of A Genius Woman
68. Misi #2


__ADS_3

Selena dan Railene sudah berada di toko es krim sejak lima belas menit. Railene berhasil memesan dua gelas es krim dengan rasa favoritnya dan makan dengan damai. Selena yang sedang menyamar dengan pakaian kasual, hanya memperhatikan. Dia tidak terlalu menyukai es krim dan hanya bermain ponsel sambil memperhatikan kode timnya.


"Kapan dia sampai?" Tanya Railene lalu memasukkan satu sendok besar es krim ke mulutnya. Wajahnya berbinar bahagia.


Selena melirik jam tangannya dan membuka mini maps digital. Melihat satu titik merah ada di jalan raya sekitar tiga kilometer dari mall, Selena memperkirakan waktu. Seharusnya jika tidak ada kecelakaan atau hal-hal yang menghambat, target akan sampai di depan mereka dalam waktu sepuluh menit.


"Sepuluh menit," ujar Selena datar.


Railene mengangguk-angguk. Dia tidak merasakan keseriusan misi ini ketika ada es krim di depannya. Tapi yang ia tahu, dengan es krim dan kenaikan mood, kemampuannya bekerja lebih optimal. Dia tidak memberitahu Selena karena hal-hal ini tidak terlalu penting. Ini hanya pendongkrak sederhana. Sepertinya dia akan kecanduan gula suatu saat nanti.


Dalam sepuluh menit, sekelompok elit membuka jalan untuk satu orang dengan penampilan hitam flamboyan. Seorang pria dengan garis rahang tegas dan tato "never die" di lehernya berjalan dengan aura mengintimidasi. Khas seperti para penguasa dunia gelap. Ada satu garis luka di alisnya, hampir menyentuh kelopak matanya. Sepertinya bekas pertarungan dalam kekejaman yang tidak diketahui manusia biasa.


Railene mendapat sinyal dari Selena dan mengikuti kepala pria itu. Namanya Maverick Hudson, di dunia gelap dia sering dipanggil dengan nama julukan "Morpheus" yang berarti Dewa Mimpi. Dia adalah pengedar narkoba terbesar dan satu-satunya barang kesukaannya adalah Morphin. Dia tidak memakai narkoba, tapi sangat menyukai untuk memberi ekstasi dan rasa sakit bagi orang gila. Sejenis manusia dengan psikopatiknya sendiri.


Morpheus segera berlalu dan meninggalkan kerutan samar di dahi Railene. Orang seperti ini, Railene baru pertama kali mengetahuinya. Karena bahkan ketika dia adalah pengedar narkoba terbesar, pengendaliannya terhadap stabilitas internasional sangat baik. Lagipula, interpol juga sangat sulit menangkap orang ini dalam transaksi. Tidak heran dia bisa berlarian begitu lama dan bahkan memiliki basis pabriknya sendiri bahkan markas besar paling berbahaya miliknya.


"Apa kamu mendapatkan semuanya?"


Pertanyaan Selena membuyarkan pikiran Railene.

__ADS_1


Railene mengangguk dengan ekspresi rumit. Dia menyadari bahwa pekerjaan Selena sangat menantang dan jaminan dari setiap tugasnya melibatkan nyawa. Hidup yang sulit dan terkekang oleh takdir. Railene tidak bisa membayangkan kesulitan itu.


"Aku dapat semuanya. Tapi, aku butuh es krim lagi. Ingatan orang itu sangat pahit dan amis, menjijikkan." Railene berujar dengan wajah serius.


Sejenak Selena tidak yakin apakah Railene adalah tipikal gadis yang suka makan bahkan setelah terserang secara psikologis bayangan menjijikkan. Apakah dia masih memiliki ***** makan? Selena hanya mengkhawatirkan pikirannya selama sedetik dan bangkit untuk memberi es krim dengan pikiran tertuju pada orang tadi.


Selain hal-hal di permukaan dan database terbatas dari orang itu, Selena tidak memiliki informasi lain. Hanya dugaan-dugaan berdasarkan rasionalitas saja yang dipertahankan. Dia tidak tahu seberapa menjijikkan ingatan pria itu. Ia hanya berharap untuk mendapatkan informasi dan bukti untuk penangkapan orang itu.


Selena kembali dengan dua gelas es krim lagi. Railene makan dengan cepat satu gelas es krim dan wajahnya berangsur membaik. Selena yang melihatnya memiliki dugaan bahwa gadis kecil di depannya ini membutuhkan sokongan gula untuk energi mentalnya. Itu cukup bagus. Dia menduga itu karena setiap kali bertemu Railene, dia akan mendapati gadis itu memegang hal-hal manis. Seperti susu, permen, yogurt, dan es krim.


"Morpheus cuma nama julukan. Dia meninggalkan nama aslinya selama puluhan tahun dan menggunakan nama Morpheus selama lebih dari 20 tahun. Nama aslinya Maverick Hudson. Bidang perdagangannya adalah narkoba dan senjata perang. Dia sangat menjijikkan, aku nggak akan menyebutkannya, nanti aku kirimkan rincian lengkap untuk laporan. Dan satu lagi, ada proyek berbahaya yang sedang dia garap. Satu tempat dimana semua rahasianya terkubur adalah tepat di bawah gereja ortodoks Serbia di Dubrovnik Kroasia. Ada jalan rahasia di bawahnya dan itu langsung menuju ke bawah pelabuhan Port Authority Zadar, Kroasia."


...


Pukul sepuluh malam, Railene sudah berada di balkon kamarnya lagi. Informasi yang ia peroleh hari ini membuka matanya pada dunia. Meskipun ia tahu ada dunia gelap yang kejam dan hina, dia belum pernah menelusuri apalagi mengerti isi kekejaman macam apa dan apa saja yang terjadi. Dia tidak menyangka sampah semacam Maverick hadir di muka bumi dengan tangan menjijikkannya menjadikan itu uang untuk diputar dalam hal bejat.


"Rail, apa kamu baik-baik aja?" Tanya Inchara yang mengamati Railene dalam ruang batinnya.


"Nggak, aku nggak baik-baik aja. Aku meragukan hidup," kata Railene sambil menghela napas.

__ADS_1


Dia berjalan kembali ke kamarnya dan menutup pintu balkon. Merangkak ke atas tempat tidurnya dan masuk selimut. Membenamkan kepalanya ke bantal dan terus bergumam tidak jelas. Tiba-tiba dia mendongak dan berkata dengan idenya sendiri.


"Seberapa kuat kekuatan mentalku? Apa aku bisa memanipulasi ingatanku sendiri? Setidaknya biar hal-hal menganggu kayak Morpheus nggak ada di ingatan luarku," ujar Railene dengan nada suara yang sarat harapan.


"Kamu belum bisa melakukannya dan jangan melakukannya dulu atau kamu bakal mengacaukan ingatanmu sendiri. Rail, hati-hati," ujar Inchara menjawab dengan cemas. Takut Railene akan benar-benar melakukan metode itu.


Railene menghela napas kecewa lagi. Seandainya dia bisa lebih kuat. Seandainya kekuatan mentalnya benar-benar mencapai kekuatan terkuat. Dia harus banyak berlatih.


"Huh, ini menyebalkan," gumam Railene lalu tertidur setelah berguling-guling selama lima menit.


Inchara di alam batinnya mengangkat alis bingung. Meskipun dia belum menjadi manusia, dia bisa merasakan perasaan manusia dan mulai mengikuti tingkah laku manusia. Dia dan Railene hampir selalu memiliki konsep yang sama karena panutan Inchara satu-satunya adalah Railene. Namun, dia seringkali kebingungan karena kerumitan pikiran Railene.


Inchara pun memutuskan untuk memenuhi kebiasaannya. Berkeliling alam batin dengan kesadarannya hanya untuk menemukan satu bola kristal petunjuk berisi informasi buku Ghost Gypsy kedua. Inchara seketika bersemangat dan membacanya dalam diam.


***


Hai hai... maaf ya jarang update karena siboek.


Jangan lupa like dan komentar.

__ADS_1


Have a nice day!😊


__ADS_2