Rebirth Of A Genius Woman

Rebirth Of A Genius Woman
30. Jejak Berasap, Omen-Tune, Misi Perjalanan Taffy


__ADS_3

Latihan pertama Railene berjalan lancar. Itu tidak semelelahkan seperti apa yang dikatakan oleh Ben tentang latihan pertama. Bagi Railene, hal-hal yang diajarkan oleh pelatih dan semua bentuk latihan masih dapat ditolerir dengan mudah.


Saat pulang, dia mendapati tatapan meratap Jefri. Sampai kelas latihan berakhir, dia tidak melirik Jefri sama sekali. Ia benar-benar mengabaikan bocah laki-laki itu dan menahan tawa setiap saat.


Sesekali ia mengobrol dengan Dea. Gadis sepuluh tahun itu ternyata begitu menyenangkan untuk diajak berbincang. Dea adalah tipikal gadis riang yang suka hal-hal lucu. Terlepas dari apapun kepribadian atau status seseorang. Bisa dibilang, dia adalah seseorang yang menyukai kecantikan dan penampilan yang baik. Itu adalah tipe yang banyak ditemui Railene pada teman-teman sekolahnya juga.


Hanya ada satu yang membedakan Dea dengan orang lain. Dea bukan orang yang suka merendahkan bahkan ketika penampilan seseorang itu tidak menarik. Dia akan mengabaikannya, tapi tidak akan menyimpan ketidaksukaan. Tidak menarik bukan berarti pusat kebencian. Itu yang dikatakannya.


Latihan hari itu selesai dalam dua jam. Pelatih membubarkan para murid pelatihan pada pukul empat sore. Memberitahu instruksi latihan selanjutnya adalah dua hari lagi. Dan jadwal pemula sedikit berbeda dengan jadwal senior. Di pertemuan selanjutnya ia tidak akan berbarengan dengan Ben.


Railene mengantarkan Ben pulang ke rumahnya. Setelah itu Railene pulang ke rumahnya sendiri. Itu cukup jauh dari tempat pelatihan dan memakan waktu 20 menit.


Saat masuk gerbang, Railene yang duduk di bangku depan melihat ada seseorang yang baru saja masuk mobil lain dan melaju keluar gerbang rumahnya. Alisnya mengerut bingung karena tidak mengenali mobil yang baru saja keluar. Itu bukan mobil teman-teman Diza maupun kolega Kakeknya. Railene baru melihatnya sekarang dan tidak bisa menahan rasa penasarannya karena melihat Diza bahkan mengantar sosok itu dengan sedikit keramahan. Sesuatu yang jarang ditunjukkan Diza kepada orang lain selain dirinya dan keluarga.


"Paman Tam, itu siapa?" Tanya Railene pada akhirnya. Bertanya pada pria yang menjadi bodyguard sekaligus sopir Railene.


"Saya kurang tau, Nona. Nona bisa menanyakan kepada Nyonya," ujar Paman Tam dengan nada lembut. Menjawab Railene lalu keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Railene.


Railene turun dan berlari kecil ke arah Diza yang masih berdiri di depan pintu.


"Bundaaa!" Suaranya yang ceria kembali. Ia melupakan hal-hal yang tidak penting dan masuk ke pelukan Diza.


Diza menyambut dengan kehangatan dan tersenyum lebar. Memeluk Railene dan menggendongnya. Diza memperhatikan sejenak seragam karate Railene dan tersenyum sekali lagi. Itu lucu dan menggemaskan di matanya.


Pengawal gerbang dan Paman Tam yang menyaksikan tidak bisa menahan senyum. Railene selalu membawa kebahagiaan kemana pun gadis itu hadir. Tidak ada seorang pun yang bisa mengabaikannya karena ketika ada dia, seluruh perhatian hanya akan tertuju kepadanya seorang.

__ADS_1


"Kesayangan Bunda udah pulang. Gimana hari pertama latihannya?" Diza membawa masuk Railene dan membenarkan letak syal di leher putih Railene. Ia melihat sedikit bahwa bekasnya lukanya hampir hilang.


"Tadi seru banget Bunda. Temen-temen Railene tambah banyak. Ada yang langsung meluk Railene, namanya Dea, umurnya sepuluh tahun tapi Railene nggak dibolehin manggil dia Kakak. Terus ada juga yang namanya Kak Jefri, kata Dea dia playboy...," kata Railene dan ia terus bercerita dengan ceria.


Diza sesekali menanggapi dengan tawa dan senyum tulus. Setiap kalimat dan kata-kata Railene membawa pengalaman unik yang berbeda. Railene selalu menceritakan teman-temannya dengan ciri khas yang ia lihat dan dengar dari orang lain. Kemudian ia menyimpulkan sendiri sesuai apa yang sebenarnya orang itu miliki.


Keduanya mengobrol dengan seru, membawa kehangatan ke seluruh penjuru kediaman Aristokelly. Para pekerja bahagia tinggal di kediaman ini, apalagi ketika Railene, Nona Muda satu-satunya keluarga ini berada di rumah. Suasananya menjadi sangat hidup dan ramai. Meskipun kadang pendiam, tapi Railene selalu memiliki cara bersenang-senang sendiri. Membawa kehangatan kemana pun ia pergi.


...


Railene sedang merenung di atas tempat tidurnya. Ia baru saja selesai mandi dan berpakaian. Sedang menunggu makan malam.


Ada yang mengganjal di pikirannya saat ini. Itu tentang buku yang terakhir kali ia temukan dan bahasa yang digunakan. Railene tidak pernah menyangka akan menemukan sebuah bahasa dan aksara tidak dikenali. Di tengah renungannya, ia berbincang dengan Inchara.


"Apa kamu udah bisa baca?" Railene bertanya karena tadi tidak sempat menanyakannya.


"Ah, benar juga. Lene, aku bisa membaca!"


Suara Inchara penuh kebahagiaan. Railene di sisi lain diam dengan menghela napas tipis. Tersenyum kecil karena merasa itu lucu. Bagaimana Inchara tidak menyadarinya saat ia sendiri bisa membaca sebuah tulisan?


Ini seringkali terjadi pada Inchara. Eksistensi itu selalu saja tidak menyadari apa yang terjadi padanya. Dan ketika Railene menyadarkan, Inchara akan terkejut sendiri karena baru menyadarinya.


"Oke, Chara... mari fokus pada bahasan ini. Tulisan seperti apa yang kamu liat?"


Railene mencoba menginvestigasi dan mencocokkan sesuatu. Petunjuk tentang buku itu berasal dari Inchara. Jika benar bahwa mereka berdua memiliki semacam hubungan yang belum dapat ditentukan, maka sumber petunjuk untuk Railene saat ini adalah Inchara. Ia berharap bahwa tulisan yang dilihat Inchara sesuai dengan apa yang tertulis di buku Ghost Gypsy.

__ADS_1


"Itu berbentuk lurus-lurus dengan ujungnya yang melengkung. Ah, itu mirip tulisan di buku yang kamu temukan!"


Railene melebarkan kelopak matanya. Tiba-tiba ia merasa bersemangat. Ia turun dari atas tempat tidurnya dan berjalan menuju meja belajarnya. Duduk di kursi dan meraih buku bersampul kuning kusam itu, lalu membukanya pada halaman pertama. Meskipun sampulnya memiliki aksara China, itu tidak membentuk satu pun aksara yang dipelajari Railene selama ini. Dia sudah menghafal kamus China sebelum bisa berbicara dengan lancar. Namun, dia tidak mengenali huruf-huruf itu karena sepertinya sengaja dibuat untuk tidak dikenali.


"Bisakah kamu membaca ini?" Tanya Railene pada Inchara.


Hening beberapa saat. Railene menanti dengan mata jernihnya penuh harap. Ia sangat berharap bahwa Inchara benar-benar dapat mengerti dan memahaminya dengan baik.


"Lene, judulnya cukup menakutkan," ujar Inchara pada akhirnya.


Railene mengerutkan kening. Menjadi sangat penasaran karena nada suara Inchara seperti bergetar. Ada jejak dingin yang terasa dari nada suaranya. Mencekam seperti benar-benar terbenam dalam ketakutan.


"Apa judulnya?" Tanya Railene.


Hening lagi. Kali ini sedikit lebih lama. Railene menunggu dengan kerutan di dahinya. Matanya yang jernih menyipit tajam.


"Jejak Berasap, Omen-Tune, Misi Perjalanan Taffy."


Inchara menyebutnya. Railene mengerutkan kening. Sedikit mengerjap bingung. Apa barusan?


"Dimana kamu menemukan judulnya menyeramkan?"


"Lene, aku tidak menemukan hal-hal yang kumengerti. Ini mengerikan! Bukannya ini sangat misterius?"


Ujung bibir Railene berkedut. Inchara... memang aneh. Dia tidak menyangkalnya lagi.

__ADS_1


***


Keep swipe!


__ADS_2