
Pertandingan karate untuk pemula memiliki total 21 orang yang mengikuti. Untuk kelas berat badan Railene sendiri, ada 6 orang total dengan Railene di dalamnya. Itu sangat sedikit karena rata-rata usia peserta yang dikirim oleh dojo, berada di atas kisaran 10 tahun.
Railene melihat lawan-lawannya. Ada 4 anak berusia 10 tahun dan satu berusia 9 tahun. Meskipun kisaran berat badan mereka sama, Railene tidak berani meremehkan lawan yang sedikit. Memang bahwa bebannya sedikit lebih ringan dari kakak-kakak seniornya, tapi Railene juga merasa bahwa itu tidak semudah yang terdengar. Dia tahu bahwa mereka pasti berlatih sama kerasnya atau mungkin lebih keras darinya. Dengan latar belakang dojo dan kepribadian yang berbeda, Railene dapat menganalisis kekuatan di antara lawannya.
Terkadang melirik sisi tribun dan pengawasan ratusan penonton membuatnya sedikit bersemangat. Dia terbiasa berpidato dan berbicara di depan umum terutama saat rapat para pemegang saham. Tapi, ini pertama kalinya ia terlibat dalam perlombaan fisik dan seluruh orang melihat gerakannya. Jika itu di masa lalu, Railene akan enggan dan bahkan kaku. Namun, sekarang jelas berbeda. Dia biasa berlatih dan bahkan bergerak dalam pertarungan kecil saat latihan di dojo. Terlihat oleh rekan-rekannya yang menyemangati satu sama lain untuk mengalahkan lawan. Itu cukup mengasikkan.
Pertandingan resmi dimulai setelah upacara pembukaan. Para peserta duduk di kubu dan menonton. Railene memperhatikan pertandingan dengan serius dan gilirannya tidak akan jauh dari sekarang. Pertandingan di urutkan dari pemula dan kelas berat badan tertinggi ke terendah. Ada tiga lapangan matras yang digunakan.
Dari dojonya, Laura yang pertama maju melawan seorang perempuan berwajah garang. Tatapannya dingin dan penuh dendam, lalu dia mendengar para senior di belakangnya membicarakan asal usul perempuan itu. Sedikit terkejut karena ternyata mereka juga bisa bergosip tentang orang-orang di dojo lainnya.
"Hei, dia yang tahun lalu ikut tunamen provinsi kan? Seingatku dia masih sabuk kuning, sekarang kayaknya meningkat lagi," kata senior A.
"Itu wajar. Peningkatan dalam beberapa minggu bisa tercapai kalo niatnya kuat. Dia mungkin begitu, liat aja mukanya, dia ngeliat orang lain seolah semuanya musuh dia. Ckckck...," ujar senior B menanggapi.
"Hahaha bener juga. Tapi dia kuat banget, kupikir Laura sama dia setara," kata senior C.
"Ngomong-ngomong dia terkenal ya? Siapa, sih?" Tanya Jefri tiba-tiba menyela rumpian para perempuan. Tidak terganggu, para senior itu menyeretnya ikut bergosip.
__ADS_1
"Kamu nggak tau, dia Sarah. Dulu dia suka ikutan yang tawuran-tawuran gitu. Padahal masih SMP. Terus denger-denger jadinya dimasukin Dojo sama orang tuanya." Senior A memberi informasi konstruktif yang agak lengkap dan menimbulkan imajinasi aneh di antara para gosipers.
"Tau dari mana?" Tanya senior B penasaran.
"Temenku yang satu Dojo sama Sarah. Katanya sih satu dojo tau semua tentang dia," ujar senior A.
"Ya ampun, cantik-cantik galak!" komentar Jefri dengan nada yang menyayangkan.
Railene yang sedari tadi mendengarkan hanya bisa menahan tawa. Agak berkedut di sudut bibirnya. Dia sekarang mengerti kenapa informasi panas bisa diteruskan begitu cepat. Karena ada orang-orang bersemangat seperti teman kakak senior A, orang luar bisa tahu situasi orang dalam. Ini sedikit mengerikan. Diam-diam Railene bersyukur karena tidak membuat track record buruk selama 9 tahun hidupnya.
Railene menghela napas panjang. Gosip memang tidak bisa sepenuhnya dipercaya. Dan mungkin orang-orang memperburuk suatu berita atau informasi karena iri hati. Railene sadar akan hal ini.
Melihat papan skor, dia sedikit senang ketika timnya membawa kemenangan. Laura kembali ke bangku dan disambut teman-temannya. Railene ikut mengulurkan tangan dan memberi selamat dengan senyuman. Laura yang kikuk menghadapi teman-temannya menjadi sedikit malu. Dia memasang wajah poker tapi ada kesenangan dangkal di matanya.
Pertandingan berlanjut, hingga tiba giliran Railene. Lawannya adalah gadis berkuncir kuda berusia 10 tahun. Dia bersiap dengan pemanasan kecil dan memakai perlengkapan kepala dan badan. Memasukkan pelindung gigi dan mendapat pelukan dari teman-teman timnya.
"Ayo Railene, kamu pasti bisa. Perhatikan dan fokus. Jangan terkecoh dan tetap tenang, oke?" Instruksi sensei terdengar di telinganya. Dia mengangguk yakin dan matanya penuh antisipasi.
__ADS_1
Dia berdiri di sisi lapangan dan melihat sekeliling. Mencari keberadaan Diza dan Bram. Setelah menemukannya, dia mengangguk dengan keyakinan. Dia bisa melihat bahwa Diza bahkan lebih gugup daripada dia. Wajahnya mungkin dingin dan sedikit berkerut, tapi tangannya menggenggam sandaran ujung celana di lututnya dengan gugup. Dia masih takut Railene akan terluka.
Railene tersenyum menenangkan dan masuk lapangan. Mendengarkan penjelasan wasit, dia saling memberi hormat kepada gadis yang menjadi lawannya. Dia bisa melihat sekilas bahwa gadis kecil itu masih terpesona melihatnya dalam tiga detik lalu berusaha fokus. Railene merasa agak curang karena dia memiliki pesona charming yang begitu kuat sejak lahir. Dia tahu ini kekuatan batinnya dan sedihnya lagi, dia belum mampu mengendalikannya.
Pertandingan dimulai. Railene bergegas maju dan menyerang dengan teknik yang sudah diajarkan. Jurusnya sederhana dan mudah, tapi Railene tangkas dan mempesona. Lawannya mengelak dan menyerang balik, agak kewalahan dan sedikit hijau.
Memanfaatkan tendangan yang datang, Railene menahan kakinya dan menjatuhkannya. Railene mendapatkan poin. Menyerang lagi, keduanya cukup sengit bertarung. Gadis yang awalnya gugup karena melihat pesonanya kini sudah terbiasa dan dengan cepat menanggapi pertarungan seimbang. Hanya saja, Railene lebih tangkas dan di awal sudah mengantongi beberapa poin lebih banyak. Dia menang dengan mudah setelah dua menit habis.
Setelah saling memberi hormat, agak terengah Railene kembali ke samping lapangan. Mendengar sorak-sorakan teman-teman satu timnya dan tidak bisa menahan tawa. Ikut bergembira dengan keberhasilannya yang kecil. Tapi, Railene tahu bahwa itu tidak terlalu luar biasa dibandingkan prestasinya yang lain. Meskipun begitu, dia memikirkan prosesnya dan tidak bisa tidak mendesah puas. Tentu saja tidak mudah untuk mencapai sesuatu. Dia hanya merasa sedikit rumit tapi kebahagiaannya lebih mendominasi.
Masih ada pertandingan lagi setelah istirahat dalam satu putaran. Lawannya nanti adalah gadis kecil berambut pendek yang berusia 9 tahun. Gadis kecil itu telah memenangkan pertandingan dengan hasil telak dan cukup kuat. Memandangi lawan, Railene berharap dia bisa menang kali ini.
***
Jangan lupa like dan komentar.
Have a nice day!😊
__ADS_1