
Ada empat orang yang duduk di meja makan saat ini. Suasananya agak kaku dan canggung. Entah siapa yang memulainya, mereka makan malam dengan damai.
Diza yang beberapa kali dilirik Railene sepertinya menjadi sedikit gugup. Dia belum mengatakan apapun perihal Bram dan lamarannya. Dia menyukai Bram, tapi masih ragu untuk bersama karena dia memiliki Railene dan masih agak khawatir dengan reaksi putra Bram. Dia hanya tidak menyangka bahwa di hari yang sama dengan mampirnya Bram, dia akhirnya mengetahui hubungan Ben dengan Bram.
Diza pernah bertemu Ben beberapa kali dan memiliki kesan baik pada anak laki-laki itu. Salah satu teman yang paling sering diceritakan Railene juga adalah Ben. Dan baru sekarang dia tahu bahwa anak laki-laki itu memiliki hubungan darah dengan Bram. Diza sendiri tidak keberatan karena baru tahu tentang ini, toh dia sendiri yang selalu menolak untuk mampir ke rumah Bram dan bertemu anaknya.
"Apa kamu main setelah pulang latihan?" Tanya Bram tiba-tiba ke arah Ben yang masih menyelidiki Bram dan Diza.
Menanggapi papanya, Ben mengangguk. "Besok lusa turnamennya dimulai, aku ngajarin Railene beberapa trik." Ben bicara dengan jelas.
"Oh benar. Besok lusa turnamen karate tingkat kota. Apa Railene juga ikut dalam turnamen?" Tanya Bram lagi dengan ramah.
Railene mengangguk dengan senyum kecilnya. Menjawab dengan nada ceria yang biasa. Dalam hatinya, dia memikirkan banyak hal dan bahkan berdiskusi dengan Inchara. Gosip keduanya adalah tentang hubungan antara Diza dan Bram. Sambil melanjutkan makan, Railene mengobrol dengan Inchara.
"Perkembangan ini agak terlalu cepat. Tapi, aku bisa liat kalo Om Bram ini sangat serius sama Bunda. Gimana, Chara? Apa kamu liat sesuatu yang aneh?"
"Umm, Rail. Kukira persepsi kita hampir sama. Apa yang kamu rasakan dan liat, aku mendapatkan hal yang sama. Jadi, aku juga berpikir bahwa pria itu baik-baik aja," ucap Inchara dengan nada kekanakkannya yang biasa.
Railene bergumam dan setuju. "Chara, aku punya firasat bahwa sebelum kenaikan kelas, aku bakal jadi saudara tiri sama Ben. Tapi, kayaknya Ben udah tau kalau Om Bram punya orang yang dicintai. Dan sekarang dia akhirnya jelas siapa orangnya. Ini kayak drama, kan? Kisah cinta CEO duda beranak satu?"
Inchara tertawa di alam batinnya. Entah kenapa kosa kata Railene terdengar lucu dan aneh. Dia sendiri sama tidak mengertinya dengan Railene tentang cinta antara pasangan. Railene belum pernah jatuh cinta bahkan sejak kehidupan pertama. Tapi, dia memahami perasaan kasih sayang itu. Agak halus meskipun dia tidak mengerti spesifiknya.
"Itu mungkin. Tapi, Rail, apa kamu bakal baik-baik aja?"
__ADS_1
"Tentang Om Bram?"
Inchara bergumam setuju. Railene terdiam dan menanggapi dengan positif. Meskipun masa lalu kehidupan pertamanya sangat buruk, dia telah lama meleburkan ketidaknyamanan tentang sosok "ayah" di matanya. Melihat banyak orang yang bahagia dalam pernikahan, sedih karena perpisahan, dan drama lainnya, Railene perlahan menyadari bahwa tidak semua pria akan sama seperti ayahnya. Dia tahu itu dan bahkan sangat sadar tentang itu.
"Untuk Om Bram, kupikir aku bakal baik-baik aja. Selama Bunda bahagia dan nggak memiliki kekhawatiran kayak di masa lalu, aku baik-baik aja dan bahkan ikut senang," ujar Railene dalam hatinya. Dia memang senang untuk Bundanya.
Makan malam berlanjut dan suasana harmoni dibangun. Semua orang pun tahu bahwa ada hal-hal yang tersembunyi di permukaan. Tapi jelas bahwa itu tidak cocok untuk dikatakan saat ini.
...
Hari turnamen akhirnya tiba. Railene mempersiapkan sejak pagi bersama Diza yang telah mengambil cuti. Untung saja jam praktik Diza tidak ada hari ini. Jadi untuk pekerjaan dan laporan biasa, sudah dikerjakan hari-hari sebelumnya.
"Sayang, apa kamu yakin mau ikut ini?"
Diza menggenggam tangan kecil Railene dengan cemas. Ada nada khawatir dalam suaranya. Railene yang untuk ketiga kalinya mendengar ini, menghela napas tidak berdaya. Bundanya pasti sangat mengkhawatirkannya.
"Hummm, oke. Bunda liat kamu di samping," kata Diza pada akhirnya.
Railene tersenyum dan mengangguk. Keduanya berangkat bersama dan datang ke dojo. Anggota total yang mengikuti ada sekitar 16 orang. Rencana mereka adalah menaiki bus untuk datang ke kota sebelah. Itu tidak memakan banyak waktu karena hanya akan memakan waktu tiga puluh menit dengan bus. Railene mengikuti timnya di dalam bus dan membiarkan Diza mengikuti di belakang dengan mobil.
Saat sampai di dojo, Railene langsung ditarik Ben untuk duduk bersama. Mengalahkan yang lain dalam hal kecepatan. Railene berpamitan pada Bundanya dan kebetulan mereka melihat Bram bersama. Jadi keduanya memutuskan untuk memakai mobil bersama untuk menonton pertandingan.
Bus berangkat beberapa menit kemudian. Railene yang duduk di dekat jendela, ditarik oleh Ben untuk bergosip. Anak laki-laki yang ramah hanya kepada Railene itu langsung membahas orang tua mereka tanpa tedeng aling-aling.
__ADS_1
"Aku nggak nyangka kalo Papaku suka sama Bunda kamu. Rail, apa kamu tau hal ini?" Tanya Ben dengan nada yang agak aneh tapi ada sedikit kegembiraan di dalamnya.
"Aku tau waktu liat Om Bram pertama kali di rumah. Ben, apa kamu suka kalau Om Bram nikah lagi?"
"Ah, asalkan itu bikin Papa seneng, aku baik-baik aja. Lagian, aku udah lama nggak punya ibu. Kamu gimana?"
"Aku juga nggak masalah. Aku juga berharap Bunda bisa bahagia, tapi kayaknya dia belum bikin keputusan, deh." Railene menggambarkan dengan helaan napas tak berdaya.
"Yah itu mungkin perlu banyak waktu untuk memikirkannya. Tapi, aku harap itu bisa jadi kenyataan!" Suara Ben yang ceria terdengar sangat senang.
"Kenapa?"
"Karena kita bisa jadi saudara setelahnya. Kamu tau, kamu bisa manggil aku Kakak nanti. Juga, Arkan sama Archi nggak bakal bisa memonopoli kamu lagi," ujar Ben dengan cengirannya. Railene terkekeh sejenak dan mengerti kecemburuan Ben terhadap anak kembar yang selalu membuntutinya di sekolah.
Mereka bicara dengan gembira dan akhirnya bus sampai di tujuan. Railene memandang kerumunan orang yang mengantri di depan stadion. Kerumunan penonton dengan minat yang sama atau mungkin keluarga peserta. Railene tiba-tiba merasakan jantungnya berdegub dengan penantian.
Peserta dan orang tua dipisahkan. Railene tidak bisa segera melihat Diza setelah turun. Dia langsung dibawa ke dalam ruang ganti dan bergabung bersama Laura beserta kakak senior perempuan yang saling menyemangati saat memasang seragam lengkap. Meskipun agak cemas dengan Diza yang pasti sedang khawatir saat ini, tapi dia tahu bahwa ada Bram yang akan membujuk Diza untuk tenang dan menghiburnya.
"Oke, untuk turnamen hari ini, semoga Tuhan memberkati dan memberikan kemenangan terbaik bagi tim kita. Semangat!"
Kalimat sakral dipimpin oleh kakak senior tertua dan membuat Railene merasa ini sangat penting dalam hidupnya. Pertandingan pertama dan awal karir bela dirinya. Dia menantikannya.
***
__ADS_1
Hai maaf telat, jangan lupa like dan komentar.
Have a nice day!😊