
Pagi berikutnya, Railene telah bersiap dengan laptop lamanya dan tas kecil berisi ponsel dan dompet. Kali ini dia hanya datang dengan Ben ke depan pintu setelah Maria mengantar mereka ke tujuan dengan selamat. Maria memiliki pertemuan penting dengan temannya di daerah sini dan akan bertemu dalam beberapa jam ke depan.
Railene tidak memiliki masalah dan membiarkan Maria bersosial sendiri.
Dia dan Ben kemudian memasuki sebuah pintu di belakang hotel dan menggunakan kartu akses untuk masuk. Pintu terbuka dan penampilan isinya berbeda dari lorong yang pertama kali dia masuki. Ini langsung menuju dapur dengan perabotan lengkap dan mewah. Ada berbagai jenis alat dapur dan membuat Railene ingat bahwa pemilik rumah ini memang seseorang yang suka memasak. Dia juga kolektor pelatan canggih memasak untuk memuaskan estetikanya.
Dapur itu sendiri sangat luas dan memiliki meja pantri yang lengkap. Dekorasinya modern dengan dominasi warna putih dan cokelat. Preferensi S tentang dapur, Railene mengakuinya bahwa itu memang keren dan luar biasa. Mungkin dapur ini adalah impian setiap koki di dunia.
Tidak berlebihan mengatakan itu karena memang dapur adalah ruang paling luas di rumah bawah tanah S.
Melintasi dapur yang mewah, Railene berbelok menuju pintu dan memasuki ruang tamu yang disebutkan oleh Inchara saat pertama kali datang ke tempat ini. Itu cukup luas dengan pencahayaan lampu berwarna hangat. Terdapat sofa kulit panjang dan tunggal, meja kayu sederhana yang diisi tumpukan buku dalam bahasa asing, kabinet di salah satu sisi berisi botol-botol anggur yang mahal. Sisanya lengang dengan karpet bulu corak harimau di bawah meja.
Railene belum melihat siapa pun tapi dia tahu bahwa ada S berada di ruang kerjanya sedang bermain game dengan kawan mancanegara anonimnya. Selena pernah berkata padanya bahwa S memiliki banyak hobi yang berubah-ubah setiap musim. Kecuali memasak, hobi acaknya hanya bisa bertahan paling lama satu tahun.
Ben di sampingnya melihat ke kanan dan ke kiri. Bersandar di tembok dekat kabinet anggur dan mengulas dengan cibirannya. Sepertinya masih dendam dengan S setelah semalam.
"Huh, lelaki tua itu juga suka anggur. Ck, hidupnya boros banget," komentarnya dengan mata tidak senang. Ben berkata demikian seolah seseorang yang menghabiskan jutaan rupiah untuk mengupgrade motor secara gila-gilaan bukanlah dia.
Railene hanya menggelengkan kepalanya dan menuju pintu ruang kerja S. Mengetuk pintu untuk membuat S berhenti bermain game dengan anak-anak muda mancanegara itu. Railene tahu bahwa S menyadari kedatangan mereka, hanya saja game yang baru-baru ini digemarinya tidak bisa ditinggalkan.
Railene tidak mengetuk lagi setelah sekali. Dia tidak tergesa-gesa untuk mengganggu hobi orang lain. Apalagi S adalah gurunya yang belum secara resmi mengajarinya. Dia juga tahu tidak enaknya diganggu saat sedang asiknya bermain.
__ADS_1
Ben lelah berdiri dan duduk di sofa sembarangan. Tidak peduli belum dipersilakan oleh tuan rumahnya. Railene yang tahu bahwa S akan memakan waktu lama untuk bermain memilih ikut duduk. Hanya duduk dan tidak menyentuh benda-benda di sekitarnya.
Inchara juga keluar dan mengobrol dengan ketiganya.
"Apakah kamu akan tetap menunggu?" Tanya Inchara dengan polos.
Ben ikut berbicara lebih dulu. "Rail, kenapa kamu nggak manggil orang tua itu?"
"Tunggu sebentar. Lagian aku yang butuh ajarannya," ujar Railene mengangkat bahu, tidak peduli jika harus menguji kesabarannya lagi dan lagi. Sejak mendapatkan omelan S kemarin, Railene menurunkan garis bawah emosinya dan dengan sabar mendengarkan. Dia tahu bahwa yang dikatakan S sangat informatif dan benar.
"Ck, oke oke...," ujar Ben berkompromi.
Inchara diam dan duduk di samping Railene. Mengamati Ben yang sebal dan Railene yang dengan santai bermain ponsel.
Railene dikenal memiliki banyak sekali gelar dan dia tidak repot-repot mengingatnya.
Setelah berselancar selama beberapa menit, pintu di belakang sofa terbuka. Railene, Ben, dan Inchara menoleh hanya untuk mendapati S yang masih mengenakan baju tidur satin berwarna cokelat. Ekspresinya agak buruk dan segera Railene tahu bahwa S telah kalah berkali-kali dan menyerah untuk sesaat.
"Mr. Smith." Railene menyapa ringan sambil berdiri.
Pria setengah baya itu bergumam samar dan berjalan menuju pintu dapur sambil mengatakan perintah pertama pembelajarannya.
__ADS_1
"Untuk sekarang bacalah semua buku di atas meja. Ada beberapa bahasa yang mungkin kamu tidak tahu, kamu bisa menerjemahkannya sendiri. Jangan menggangguku untuk semantara," katanya dengan malas sambil melambai. S memasuki dapur dengan hidmat dan terdengar suara samar dari dapur. Mungkin dia akan memasak.
"Oke," jawab Railene singkat lalu mulai duduk dan membaca dua tumpukan buku tebal dan tipis yang berjumlah tidak kurang dari 14 jenis.
"Apakah hanya begitu? Hey, ini nggak ada bedanya kayak kamu nggak punya guru, kan? Cuma baca buku? Kamu bisa beli bukunya dan pulang, belajar sendiri." Ben bersungut-sungut dengan terbuka. Menepuk-nepuk buku di atas meja dengan canggung dan dia tampak marah tetapi hati-hati.
Inchara menertawakan Ben dan membalas dengan santai. "Semua buku itu tidak dijual. Teman-teman orang tua itu yang menulisnya. Juga ada buku miliknya di sana," kata Inchara. Dia mengetahuinya karena ingatan Railene dan Inchara secara alami terhubung. Apa yang diketahui Railene dari ingatan S, secara alami akan diketahui oleh Inchara juga.
Ben tertegun sejenak dan berdecak kesal. Merasa tidak nyaman karena tuduhannya. Meskipun dia tidak menyukai pria tua itu, Ben masih memiliki kebenaran etika dan moralitas yang dipelajarinya sejak dia kecil. Dia merasa kesal dan bersalah di saat bersamaan dan menjadi sediam batu.
Railene tersenyum dan menghibur. "Kamu mendingan ikut baca sama aku, siapa tau kamu bisa ngajarin aku setelah liat isi buku," kata Railene yang sudah mulai membaca bersama Inchara.
Ben mendengarnya dan termotivasi dalam sekejap. Dia ikut membaca dengan cermat dan mencoba memahami isinya. Dia tidak paham, bukan karena bahasanya, tapi karena dia tidak memiliki dasar mempelajari metode meretas sejak awal. Dia menjadi pusing dan melihat Railene dengan cemburu. Adiknya terlalu pintar, sedangkan dia sebagai kakak terlalu tidak mengerti apa-apa, dia merasa tidak berguna. Ditambah rekan karib yang biasanya begosip dengannya (Inchara) terlihat mengerti dengan buku yang dia baca.
Dia menghela napas putus asa. Terlihat menyedihkan seperti kucing di pinggir jalan yang ditinggalkan orang-orang.
***
Hai...
Jangan lupa like dan komentar.
__ADS_1
Have a nice day!😊