Rebirth Of A Genius Woman

Rebirth Of A Genius Woman
16. Begitu Yang Begini


__ADS_3

Hai, maaf terlambat. Selamat membaca...


...


Setelah kejadian kemarin, Railene tidak diizinkan bermain dengan Syam selama beberapa hari. Hukuman untuk laki-laki itu juga karena ceroboh membawa Railene ke dalam masalah yang ia sebabkan sendiri. Railene tidak masalah, toh dia sekarang sedang seru-serunya ikut sang kakek ke perusahaan keluarga milik mereka.


Diza mengizinkan karena ia juga tidak bisa menemani Railene sementara waktu. Ada konferensi yang harus ia hadiri di luar kota bersama beberapa rekan dokternya. Dan Syam sendiri dilarang untuk datang ke rumah untuk menemui Railene karena laki-laki itu sedang berada dalam hukuman. Membuat Syam pasrah dan menurut daripada ditambah lagi masa hukumannya.


Saat ini gadis cilik itu sedang duduk di sofa ruangan kakeknya. Memainkan game peperangan yang hits di kalangan anak muda. Ternyata memainkan itu sangat seru dan mengurangi stres. Pantas saja banyak anak-anak yang ketagihan. Termasuk di dalamnya adalah Railene.


Tanpa memperhatikan sang kakek yang sedang pusing menghadapi berkas-berkas yang harus ditandatangani, Railene hanyut dalam dunia game. Seru-seruan kecilnya sesekali terdengar. Membuat sang kakek kadang terkekeh melihat tingkah cucunya.


"Lari...,"


"Ya kena!"


"Musuhnya banyak banget!"


"Aaa... ke kiri ke kiri!"


"Yeay!"


Pemberitahuan game pun berbunyi. Tanda satu babak terlewati dengan baik. Tim Railene memenangkan battle. Dengan kemenangan mutlak dan hanya memberikan musuh menyerang 5 kali saja. Sisanya dibabat habis oleh Railene. Anggota timnya sangat bersyukur karena kehadiran Railene.


Tidak ada satu pun diantara orang-orang itu yang tahu bahwa seseorang dibalik akun yang diberi nama Second Life adalah gadis kecil berusia lima tahun. Setiap kali permainan dimulai, Railene tidak pernah mengekspos siapa sebenarnya dirinya. Ia mencapai level tinggi di permaninan hanya dalam kurun waktu seminggu. Membuat orang-orang berpikir bahwa pemilik akun Second Life pernah bermain sebelumnya dan hanya menggunakan akun baru. Mereka juga mengira bahwa sosok di baliknya adalah seorang pemuda yang sangat jago dalam strategi.

__ADS_1


Kenyataannya sangat berbanding terbalik. Jika mereka tahu yang menjadi teman mereka atau musuh mereka hanyalah seorang anak kecil berusia lima tahun, pasti tidak ada yang tidak shock diantara mereka. Normalnya usia lima tahun masih belum bisa menjadi pro dalam permainan game seperti itu. Membedakan mana musuh atau teman saja mungkin dia kesulitan. Tapi beda halnya dengan Railene si gadis genius itu. Di kehidupan keduanya ini, ia sudah berjanji akan mempelajari apapun yang dulu belum sempat dipelajari.


Game hanya salah satunya. Sisanya ia akan melakukannya satu per satu. Toh, dia masih lima tahun dan baru memasuki sekolah selama seminggu.


"Railene," panggil sang kakek, Johar.


Railene menoleh dan meletakkan tabletnya. Ia berlarian kecil mendekati sang kakek dengan gaya khasnya yang imut. Gadis kecil itu menaiki pangkuan kakeknya dan duduk di sana dengan menghadap ke arah meja yang penuh berkas.


"Apa kamu lapar? Kalau lapar Baba panggilin Jacob buat menemani kamu ke kantin." Johar memberitahu Railene yang sedang membaca-baca berkas milik perusahaan yang pernah mengkhianatinya dulu. Ternyata mereka mengajukan kerja sama ke perusahaan kakeknya dengan cara yang sama.


Kekesalan muncul di wajah Railene. Ia kemudian menoleh ke arah Johar sambil mengetuk dagunya. Berpikir harus bagaimana mencegah kerja sama antara perusahaan ini dengan orang dibaliknya.


"Baba, ada yang mau datang?" Tanya Railene kemudian. Johar yang sudah biasa ditanyai begitu hanya mengangguk.


Railene mengerutkan kening. "Apa mereka mau mengajukan kerja sama? Ini berkasnya, kan?" Tanya Railene kemudian. Johar sangat tahu bahwa cucunya memang genius, tapi memang terkadang ia sedikit terkejut dengan ketanggapan Railene.


"Baba, jangan setuju! Mereka jahat!" Railene sedikit berseru dan membuat Johar kaget.


Ada satu hal yang hanya diketahui oleh keluarganya. Railene memiliki insting yang sangat tajam. Dimanapun Railene merasa nyaman, pasti tempat itu aman. Dimanapun Railene mengatakan tidak mau datang dengan banyak alasan, pasti akan ada hal buruk yang terjadi di sana. Begitu juga dengan banyak hal seperti saat ini.


Ketika Railene mengatakan bahwa seseorang jahat, berarti orang itu memiliki hal dan niat tersembunyi di baliknya. Johar sedikit terkejut karena berkas yang akan ditandatangi olehnya itu memiliki nilai yang cukup besar. Ada sesuatu yang membuat bawahannya menyerahkan berkas ini untuk ditandatangani. Sesuatu yang direncanakan dengan baik karena perusahaan mereka sedang naik dan mencapai 10 besar perusahaan terbesar.


"Kenapa Railene bilang mereka jahat?" tanya Johar sambil mengelus puncak kepala Railene.


"Mereka suka bohong," ujar Railene memandangi berkas itu. Ada banyak sekali tipu daya di sana. Jika perusahaan kakeknya ini menerima perjanjian kerja sama ini, maka ketika rugi, kakeknya tidak bisa menuntut mereka. Melaporkan ke hukum pun tidak akan ada gunanya. Kelicikan yang sangat menyebalkan.

__ADS_1


"Yaudah, nanti Baba bicarakan sama teman-teman Baba. Sekarang, Railene makan siang sama Om Jacob dulu ya?" Johar membujuk dengan lembut. Ia sudah memutuskan akan menyelidiki berkas ini dan perusahaan pengirim.


Melihat niat di wajah kakeknya, Railene diam-diam merasa lega. Ia pun mengangguk dan turun dari pangkuan kakeknya. Mengambil tabletnya dan menunggu Jacob datang.


Tak berapa lama muncullah sosok laki-laki berusia 40-an yang langsung menghadap Johar.


"Tolong temani Railene makan siang di kantin." Johar segara memberi perintah.


Jacob mengangguk dan tersenyum ke arah Railene. Pria itu kemudian menggendong Railene yang kembali masuk ke dalam game. Berceloteh lagi dan terkadang membuat Jacob terheran-heran.


Mereka menuju ke kantin perusahaan. Memesan makanan yang biasanya Railene makan. Membiarkan orang-orang yang melihat gemas sendiri di tempat. Mereka rata-rata adalah pegawai yang sudah biasa melihat gadis kecil itu ada di perusahaan.


Terkadang ada yang mendekat untuk menjilat, tapi Railene mengabaikannya karena enggan berdrama palsu bersama orang-orang itu.


Ada beberapa yang bersikap sesuai kepribadian yang suka anak-anak, mereka mendekati dan berbicara lancar dengan Railene. Tentu saja Railene menyambutnya dengan baik. Mereka tidak menjilat dan bersikap apa adanya. Membuatnya tidak perlu repot-repot berdrama.


"Om, kenapa sepi?" tanya Railene saat menyadari bahwa kantin perusahaan tidak seramai biasanya. Hanya beberapa orang yang makan di tempat-tempat terpisah.


"Ada rapat besar, Nona. Kakek Nona meminta semua divisi dan karyawan untuk berkumpul membahas sesuatu," ujar Jacob menjawab dengan baik.


Railene berpikir sejenak. Dalam hati bertanya-tanya tentang apakah kakeknya itu sudah menyadari bahwa ada mata-mata perusahaan lain di sini? Railene sudah tahu sejak awal karena bagaimana mungkin berkas yang seharusnya tidak terpilih dalam filter bisa masuk ke antrian penandatanganan? Itu sedikit mencurigakan bahwa ada yang sengaja meloloskannya atau mungkin saja kecerobohan. Tapi, menurut Railene ini mengenai alasan pertama. Urusan bisnis memang mengerikan dan penuh tipu muslihat.


***


Hai, jangan bosan untuk like dan komentarnya. Kritik dan masukan saya terima dengan tangan terbuka. Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2